Wednesday, July 12, 2017

Dua Mata Pisau Berbelanja Online

Dapatkah Kawan memberikan satu orang kenalan yang akrab dengan dunia internet namun belum pernah sekalipun  berbelanja online? .

Dunia terus berubah, Now, you can buy (almost) anything by online shopping.

Beberapa tahun lalu, berbelanja online terasa cukup menakutkan. Bagaimana kalau saya ditipu? Bagaimana mungkin mentransfer uang ke seseorang yang belum dikneal dan emngharapkan ia dapat mengirimkan barang ke alamat kita?.

Namun lama kelamaan, berbelanja online semakin jamak dilakukan.  
Awalnya terasa sangat menyenangkan, membantu, dan memuaskan.
Tapi kini, saya merasa sudah dalam fase kecanduan. Dua minggu kurir gak datang mengantarkan sesuatu ke rumah, rasanya ada yang hilang. Kalau bosan, jenuh atau saat senggang, saya akan membuka aplikasi belanja online, melihat-lihat dan akhirnya tergoda untuk berbelanja.  

Berbelanja online seolah menjadi candu

Sekarang saya berandai-andai, seandainya saya tidak memiliki akses untuk berbelanja online seperti 10 tahun yang lalu, barangkali saya tidak akan berbelanja sebanyak ini.

hal minus belanja online, kecanduan belanja online, belanja online versus offline, online shopping, berhenti online shopping, pengalaman kecanduan online shopping
Keep Calm and Stop Shopping

Saya mencoba memilah variabel yang menyebabkan saya berbelanja online:
1.       Barangnya tidak dijual di kota tempat tinggal saya
2.       Baragnya ada dijual di sini, tetapi harga di toko online lebih murah
3.       Barangnya ada dijual di sini, tapi di toko online variasinya lebih banyak
4.       Barangkali barangnya ada dijual di sini, tapi saya tidak tahu belinya di toko mana.

Sedangkan dari segi urgensi kebutuhan, sebenarnya barang-barang yang saya beli bukanlah kebutuhan primer. Kalau tak saya beli, saya tak akan mati atau masih dapat saya beli barang substitusinya di sini.
Hanya sejenis: kosmetik, baju, tas, aksesoris elektronik, perlengkapan bayi, dan sebagainya. Barang-barang yang kalau tak saya beli pun, saya masih punya back-up barang serupa dengan manfaat sama.
Masalahnya, tiap minggu saya akan menksrining barang-barang apa saja yang saya ingin dan atau butuhkan.  Saya cari secara online , dan (pasti) dapat saya temukan.  Dengan harga yang tentu saja menggiurkan.  Dan akhirnya godaan berbelanja itu datang lagi.


Belum lagi gempuran iklan. Buka facebook, buka instagram, buka portal berita, muncul iklan barang-barang yang kita inginkan. Akhirnya ter-klik, akhirnya terbuka, dan akhirnya masuk keranjang belanja.
SUdah berbulan-bulan saya mencanangkan stop berbelanja online. Setidaknya dalam kurun waktu tertentu.  Saya merancang tidak berbelanja online selama sebulan. Dan ya, saya selalu gagal.

Setelah lebaran ini, berhubung kantong sudah kembali fitri, maka ada baiknya saya kembali memulai STOP BELANJA ONLINE, setidaknya dalam satu bulan ke depan. Aamiin.

Dengan niat lebih kuat. Dengan analisis lebih sebelum bertindak  (berbelanja) , kalau saya tidak punya akses internet, saya tidak akan berbelanja sebanyak ini, dah hidup saya akan baik-baik saja.
Cheers J

Samarinda, Juli 2017.


No comments: