Tentang Saya dan Kontak

Friday, July 28, 2017

Where Will You Stay ? # 26

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Midtown Samarinda

Meski terseok-seok, tak ada salahnya terus melanjutkan serial where will you stay.
Seperti biasa, ini review pribadi berdasarkan pengalaman pribadi, dan saya gak dibayar.

Memang, meskipun post di blog ini sudah ratusan, dan semua saya tulis setulus hati, tanpa ada copy paste tulisan dari manapun, tapi terus terang saya tak pandai mengelola blog, terutama dalam hal memonetize blog menjadi uang. Tak ada income apa-apa yang pernah saya dapat dari blog. Poor me :D

kamar, midtown, hotel, standard, samarinda, ranjang, review
Kamar- Midtown Hotel Samarinda


kamar tidur midtown hotel samarinda
Kamar- Midtown Hotel Samarinda


Back to the post. Ngapain tinggal di Samarinda, terus nginap di hotel (yang bukan tipikla resort). Ya, gak ada alasan yang lebih masuk akal, selain karena gratis. Hehehe.
Hotel ini masih terbilang baru. So, kamar, lobi, ruang makan, kolam renang, semuanya masih keliatan keren. Midtown Hotel Samarinda ini, bukan hotel budget, tapi berbintang 4 juga bukan.
Sedikit di atas budget, sebab ada kolam renang, meski gak terlalu besar. Kamarnya lebih spacious ketimbang hotel budget, kasur empuk, bantal ada 4, meskipun lantai kamar tidak dilapisi karpet. Wifinya juga kencang.

review kamar mandi midtown hotel samarinda
Kamar Mandi - Midtown Hotel Samarinda

Sunday, July 16, 2017

Morning Routine(s)

Perlukah ritual pagi?. Well, saya adalah morning person. Saya gak bisa begadang, tapi bangun pagi sekali untuk mengerjakan hal-hal yang butuh kerja otak dan konsentrasi. Seperti menulis, belajar, merancang kegiatan, melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, dan sebagainya.

Dulu sekali, sewaktu masih kecil dan tinggal di kampung di Sumatra, kebiasaan bangun subuh ini bermula karena keadaan. Sekitar 4 kali dalam seminggu, listrik padam mulai magrib hingga menjelang jam 11 malam. Jadi otomatis, jika ingin belajar dan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), saya harus menunggu listrik menyala. Karena tidak kuat tidur terlalu malam, maka saya memilih bangun subuh sekali ketika listrik sudah menyala, untuk belajar.

Lama kelamaan, otak saya  seperti otomatis bekerja lebih baik ketika subuh atau dini hari. Berlanjut ke sekolah menengah atas hingga kuliah yang memang perlu memeras otak, kebiasaan belajar subuh dan bukan mala mini tidak pernah hilang.

Untungnya, sebagai muslim, memang gak ada alasan untuk bangun di atas jam 6. Kita punya ritual pagi yakni sholat subuh.  Kebiasaan saya, setelah sholat subuh, saya akan merancang list-to do hari ini dan melakukan berbagai kegiatan produktif.

Dua tahun belakangan, agak mess up, semenjak menikah dan terlebih punya anak. Karena malam anak saya masih suka bangun dan saya masih menyusui, jadi sering masih suka ngantuk. Belum lagi, suami saya berangkat kerja jam 6. Minimal harus memulai buka kunci rumah, nyiapin sarapan, matilkan lampu, dan sholat subuh. Semuanya menyita waktu. Belum kalau pagi, anak saya masih suka rewel dan nangis kalau ditinggal menyiapkan sarapan.

Ketika drama pagi-pagi sudah selesai, biasanya saya akan take a nap dulu, karena masih ngantuk dan kalau dipaksakan malah susah berkonsentrasi.

Anyway, tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat diri, karena saya mau mengembalikan lagi kebiasaan morning routine yang diisi dengan kegiatan produktif dan berpikir lebih banyak. Satu-satunya jalan, ya saya harus bangun lebih pagi. Bangun jam 4 subuh pada tiap hari kerja, target saya untuk Bulan Juli ini.
Tujuannya apa? Sebab saya mau me-maintenance tubuh dan pikiran agar gak tumpul. Bukankah hidup harus adan improvement? Setidaknya dalam hal kualitas.

Wish me luck, guys!  


Samarinda, Juli 2017

Wednesday, July 12, 2017

Dua Mata Pisau Berbelanja Online

Dapatkah Kawan memberikan satu orang kenalan yang akrab dengan dunia internet namun belum pernah sekalipun  berbelanja online? .

Dunia terus berubah, Now, you can buy (almost) anything by online shopping.

Beberapa tahun lalu, berbelanja online terasa cukup menakutkan. Bagaimana kalau saya ditipu? Bagaimana mungkin mentransfer uang ke seseorang yang belum dikneal dan emngharapkan ia dapat mengirimkan barang ke alamat kita?.

Namun lama kelamaan, berbelanja online semakin jamak dilakukan.  
Awalnya terasa sangat menyenangkan, membantu, dan memuaskan.
Tapi kini, saya merasa sudah dalam fase kecanduan. Dua minggu kurir gak datang mengantarkan sesuatu ke rumah, rasanya ada yang hilang. Kalau bosan, jenuh atau saat senggang, saya akan membuka aplikasi belanja online, melihat-lihat dan akhirnya tergoda untuk berbelanja.  

Berbelanja online seolah menjadi candu

Sekarang saya berandai-andai, seandainya saya tidak memiliki akses untuk berbelanja online seperti 10 tahun yang lalu, barangkali saya tidak akan berbelanja sebanyak ini.

hal minus belanja online, kecanduan belanja online, belanja online versus offline, online shopping, berhenti online shopping, pengalaman kecanduan online shopping
Keep Calm and Stop Shopping

Saya mencoba memilah variabel yang menyebabkan saya berbelanja online:
1.       Barangnya tidak dijual di kota tempat tinggal saya
2.       Baragnya ada dijual di sini, tetapi harga di toko online lebih murah
3.       Barangnya ada dijual di sini, tapi di toko online variasinya lebih banyak
4.       Barangkali barangnya ada dijual di sini, tapi saya tidak tahu belinya di toko mana.

Sedangkan dari segi urgensi kebutuhan, sebenarnya barang-barang yang saya beli bukanlah kebutuhan primer. Kalau tak saya beli, saya tak akan mati atau masih dapat saya beli barang substitusinya di sini.
Hanya sejenis: kosmetik, baju, tas, aksesoris elektronik, perlengkapan bayi, dan sebagainya. Barang-barang yang kalau tak saya beli pun, saya masih punya back-up barang serupa dengan manfaat sama.
Masalahnya, tiap minggu saya akan menksrining barang-barang apa saja yang saya ingin dan atau butuhkan.  Saya cari secara online , dan (pasti) dapat saya temukan.  Dengan harga yang tentu saja menggiurkan.  Dan akhirnya godaan berbelanja itu datang lagi.