Tentang Saya dan Kontak

Tuesday, August 8, 2017

Cerita Rumah Pertama Kami

Tulisan ini saya tulisa Oktober tahun 2016 lalu. Saya ikut sertakan dalam sebuah perlombaan.  Alhamdulillah, gak ada kabar apapun saya terima setelahnya.  Jadi ketimbang sia-sia sama sekali, ada baiknya saya upload di blog pribadi. Setidaknya jadi bahan sharing. Setelah mencari pasangan hidup yang susahnya bukan main. Ada banyak hal lain di dunia ini yang juga mudah ditemukan, namun sulit untuk dipaskan. Seperti mencari asisten rumah tangga dan rumah.

Tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya untuk mencari, menemukan, dan akhirnya mendapatkan rumah pertama untuk keluarga kami.

Setelah menikah tahun 2014 silam dan memiliki anak.  Kami memang masih tinggal di rumah kontrakan. Ada keinginan untuk membeli rumah, tapi masih di angan-angan.  Baru pada bulan Maret tahun 2016, saya iseng mencari tahu berapa harga rumah sederhana di pinggir kota Samarinda yang barangkali sanggup kami beli. 

Kami memang tak punya uang cash. KPR adalah cara yang paling mungkin bagi kami untuk memiliki rumah.  Saya mendapati beberapa rumah tipe 36 dan 40 yang terletak pinggir kota,  cicilannya tak sampai dua kali lipat kontrakan kami per bulan. Saya kemudian menghitung-hitung simpanan yang kami punya. Beberapa waktu lalu tabungan kami memang cukup tekuras. Suami baru keluar rumah sakit karena DBD, dan saya baru melahirkan.  Saya mengkalkulasikan dengan simpanan logam mulia dan deposito yang kami miliki.  Setidaknya dengan sedikit tambahan pinjaman uang kepada saudara/keluarga, kami bisa membayar uang muka rumah. 

Saat itu juga, saya langsung mengontak suami. Tak sampai 15 menit, suami langsung mengiyakan dan menargetkan tahun 2016 ini kami bisa membeli rumah.  Namun mencari rumah yang cocok ternyata  tak lebih sulit dari mencari pasangan hidup.  Ada saja kurangnya.  

Rumah pertama yang disurvei suami  adalah rumah take over. Rumah siap huni, perkakas boleh diambil, uang muka terjangkau, cicilan sisa 13 tahun. Sayangnya, penjual lebih suka kalau kami membelinya ‘di bawah tangan’. Artinya kami meneruskan cicilan tanpa ada balik nama. Suami sudah termakan rayuan,  tapi saya bersikukuh harus balik nama dulu. Kebetulan, ipar saya seorang developer local, ketika kami menunjukkan foto rumah tersebut. Ipar saya langsung bilang bahwa rumah tersebut tipe 27 yang dikembangkan menjadi tipe 45.  Entah mengapa pemiliknya tak jujur soal ini. Dan kami langsung mencoret rumah itu dalam daftar wishlist. 

Tak sulit mencari informasi di jaman sekarang. Saya melihat dari satu iklan ke iklan lain lewat internet, Dan karena suami sibuk, sedangkan saya lebih banyak punya waktu luang, maka saya lah yang menghubungi satu per satu agen property. Entah sudah berapa puluh orang yang sudah saya kontak. Entah berapa puluh iklan yang saya dan suami lihat. Dan selalu saja ada yang tidak pas. 

 Di bulan Mei, bahkan saya sempat ngambek. Saya marah, saya capek, sampai ada drama nangis-nangis. Saya bilang pada suami bahwa pada harus ada deadline, dan ada skala prioritas aspek mana yang jadi pertimbangan kami dalam memilih rumah.  Deadline-nya, akhir mei kami sudah menentukan rumah yang mana dan mengajukan proposal kredit ke bank. Paling lambat akhir September kami harus pindah rumah.

Saya lalu menyusun faktor penentu kami membeli rumah : harga, lokasi, akses ke rumah, luas tanah, rumah ready atau rumah indent.  Dan dengan dana terbatas, tentu kami harus menyingkirkan salah satu atau salah dua faktor penentu tersebut.  


Rumah kedua yang kami survey. Harga cocok, luas tanah sempit, akses dan lokasi bagus, namun harus indent.   Awalnya kami setuju mentransfer uang tanda jadi. Namun urung, karena pemiliknya developer lokal, dan tak ada kepastian kapan rumah akan mulai dibangun. 
Rumah ketiga yang kami survey. Rumah ini harga diatas budget, luas tanah sempit, lokasi dan akses bagus.

Lalu rumah ketiga, keempat, dan seterusnya. Ada saja yang kurang. Namun sesuai target, akhir Mei kami (terpaksa) membuat keputusan dan awal Juni kami mulai dari menyiapkan berkas dan survei bank dengan bunga rendah, menyiapkan dokumen pengajuan kredit bank hingga wawancara, yang kesemuanya juga sempat membuat drama dan gonjang ganjing di keluarga kami.  
Awalnya pilihan jatuh pada suatu rumah A dengan kriteria : luas tanah cocok, harga cocok, lokasi dan akses bagus. Pengajuan ke Bank A, kami ditolak karena alasan administrasi. Lalu kami coba bank B, setelah pengajuan berkas dan proses wawancara, KPR tetap belum bisa diproses karena ternyata SHM rumah tersebut belum jadi. Tanahnya masih dalam proses pemecahan.

rumah, rumah kpr, rumah pertama, mencari rumah kpr, pengalaman mencari rumah kpr samarinda, pengajuan kpr, cara pengajuan kpr, rumah di samarinda, rumah sungai kunjang samarinda
Alhamdulillah, rumah pertama kami


Kami mencoba alternative rumah lain, Rumah B. Rumah ini luas tanah cocok, harga cocok, lokasi bagus, namun akses jelek. Pengembang berjanji akan memperbaiki akses jalan ke rumah.  Kami coba ke bank C, lagi-lagi ditolak karena alasan administrasi.  Suami saya bahkan sempat down karena alas an ini.  

Kami lalu mencoba pengajuan rumah B ini ke bank D. Bank ini terkenal dengan proses KPR yang mudah. Kali ini persyaratan property yang tidak memenuhi. Rumah tersebut  terletak di jalan buntu. 
Saya lalu ingat ke rumah kedua yang kami survey.  Iseng-iseng saya coba menghubungi pemiliknya. Bertanya apakah rumah masih tersedia dan negosiasi harga. 

Ternyata rumahnya belum terjual dan pemiliknya setuju mengurangi harga. Sekali lagi kami mencoba. Kalau sampai di Bank D ini pengajuan KPR kami ditolak, mungkin kami harus  mencoba alternative lain. Kami perlu membeli tanah dan membangun rumah, barangkali. 

Singkat cerita, awal Agustus, kami diberitahu pihak bank D bahwa KPR kami disetujui. Karena rumah sudah siap huni,  maka kurang dari dua minggu,  tepat 17 agustus lalu kami sudah pindah ke rumah baru.   Semua sesuai target.  

Alhamdulillah. 

Samarinda, 1 Oktober 2016.

Friday, July 28, 2017

Where Will You Stay ? # 26

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Midtown Samarinda

Meski terseok-seok, tak ada salahnya terus melanjutkan serial where will you stay.
Seperti biasa, ini review pribadi berdasarkan pengalaman pribadi, dan saya gak dibayar.

Memang, meskipun post di blog ini sudah ratusan, dan semua saya tulis setulus hati, tanpa ada copy paste tulisan dari manapun, tapi terus terang saya tak pandai mengelola blog, terutama dalam hal memonetize blog menjadi uang. Tak ada income apa-apa yang pernah saya dapat dari blog. Poor me :D

kamar, midtown, hotel, standard, samarinda, ranjang, review
Kamar- Midtown Hotel Samarinda


kamar tidur midtown hotel samarinda
Kamar- Midtown Hotel Samarinda


Back to the post. Ngapain tinggal di Samarinda, terus nginap di hotel (yang bukan tipikla resort). Ya, gak ada alasan yang lebih masuk akal, selain karena gratis. Hehehe.
Hotel ini masih terbilang baru. So, kamar, lobi, ruang makan, kolam renang, semuanya masih keliatan keren. Midtown Hotel Samarinda ini, bukan hotel budget, tapi berbintang 4 juga bukan.
Sedikit di atas budget, sebab ada kolam renang, meski gak terlalu besar. Kamarnya lebih spacious ketimbang hotel budget, kasur empuk, bantal ada 4, meskipun lantai kamar tidak dilapisi karpet. Wifinya juga kencang.

review kamar mandi midtown hotel samarinda
Kamar Mandi - Midtown Hotel Samarinda

Sunday, July 16, 2017

Morning Routine(s)

Perlukah ritual pagi?. Well, saya adalah morning person. Saya gak bisa begadang, tapi bangun pagi sekali untuk mengerjakan hal-hal yang butuh kerja otak dan konsentrasi. Seperti menulis, belajar, merancang kegiatan, melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, dan sebagainya.

Dulu sekali, sewaktu masih kecil dan tinggal di kampung di Sumatra, kebiasaan bangun subuh ini bermula karena keadaan. Sekitar 4 kali dalam seminggu, listrik padam mulai magrib hingga menjelang jam 11 malam. Jadi otomatis, jika ingin belajar dan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), saya harus menunggu listrik menyala. Karena tidak kuat tidur terlalu malam, maka saya memilih bangun subuh sekali ketika listrik sudah menyala, untuk belajar.

Lama kelamaan, otak saya  seperti otomatis bekerja lebih baik ketika subuh atau dini hari. Berlanjut ke sekolah menengah atas hingga kuliah yang memang perlu memeras otak, kebiasaan belajar subuh dan bukan mala mini tidak pernah hilang.

Untungnya, sebagai muslim, memang gak ada alasan untuk bangun di atas jam 6. Kita punya ritual pagi yakni sholat subuh.  Kebiasaan saya, setelah sholat subuh, saya akan merancang list-to do hari ini dan melakukan berbagai kegiatan produktif.

Dua tahun belakangan, agak mess up, semenjak menikah dan terlebih punya anak. Karena malam anak saya masih suka bangun dan saya masih menyusui, jadi sering masih suka ngantuk. Belum lagi, suami saya berangkat kerja jam 6. Minimal harus memulai buka kunci rumah, nyiapin sarapan, matilkan lampu, dan sholat subuh. Semuanya menyita waktu. Belum kalau pagi, anak saya masih suka rewel dan nangis kalau ditinggal menyiapkan sarapan.

Ketika drama pagi-pagi sudah selesai, biasanya saya akan take a nap dulu, karena masih ngantuk dan kalau dipaksakan malah susah berkonsentrasi.

Anyway, tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat diri, karena saya mau mengembalikan lagi kebiasaan morning routine yang diisi dengan kegiatan produktif dan berpikir lebih banyak. Satu-satunya jalan, ya saya harus bangun lebih pagi. Bangun jam 4 subuh pada tiap hari kerja, target saya untuk Bulan Juli ini.
Tujuannya apa? Sebab saya mau me-maintenance tubuh dan pikiran agar gak tumpul. Bukankah hidup harus adan improvement? Setidaknya dalam hal kualitas.

Wish me luck, guys!  


Samarinda, Juli 2017

Wednesday, July 12, 2017

Dua Mata Pisau Berbelanja Online

Dapatkah Kawan memberikan satu orang kenalan yang akrab dengan dunia internet namun belum pernah sekalipun  berbelanja online? .

Dunia terus berubah, Now, you can buy (almost) anything by online shopping.

Beberapa tahun lalu, berbelanja online terasa cukup menakutkan. Bagaimana kalau saya ditipu? Bagaimana mungkin mentransfer uang ke seseorang yang belum dikneal dan emngharapkan ia dapat mengirimkan barang ke alamat kita?.

Namun lama kelamaan, berbelanja online semakin jamak dilakukan.  
Awalnya terasa sangat menyenangkan, membantu, dan memuaskan.
Tapi kini, saya merasa sudah dalam fase kecanduan. Dua minggu kurir gak datang mengantarkan sesuatu ke rumah, rasanya ada yang hilang. Kalau bosan, jenuh atau saat senggang, saya akan membuka aplikasi belanja online, melihat-lihat dan akhirnya tergoda untuk berbelanja.  

Berbelanja online seolah menjadi candu

Sekarang saya berandai-andai, seandainya saya tidak memiliki akses untuk berbelanja online seperti 10 tahun yang lalu, barangkali saya tidak akan berbelanja sebanyak ini.

hal minus belanja online, kecanduan belanja online, belanja online versus offline, online shopping, berhenti online shopping, pengalaman kecanduan online shopping
Keep Calm and Stop Shopping

Saya mencoba memilah variabel yang menyebabkan saya berbelanja online:
1.       Barangnya tidak dijual di kota tempat tinggal saya
2.       Baragnya ada dijual di sini, tetapi harga di toko online lebih murah
3.       Barangnya ada dijual di sini, tapi di toko online variasinya lebih banyak
4.       Barangkali barangnya ada dijual di sini, tapi saya tidak tahu belinya di toko mana.

Sedangkan dari segi urgensi kebutuhan, sebenarnya barang-barang yang saya beli bukanlah kebutuhan primer. Kalau tak saya beli, saya tak akan mati atau masih dapat saya beli barang substitusinya di sini.
Hanya sejenis: kosmetik, baju, tas, aksesoris elektronik, perlengkapan bayi, dan sebagainya. Barang-barang yang kalau tak saya beli pun, saya masih punya back-up barang serupa dengan manfaat sama.
Masalahnya, tiap minggu saya akan menksrining barang-barang apa saja yang saya ingin dan atau butuhkan.  Saya cari secara online , dan (pasti) dapat saya temukan.  Dengan harga yang tentu saja menggiurkan.  Dan akhirnya godaan berbelanja itu datang lagi.

Sunday, April 16, 2017

Berlayar di Sungai Mahakam, Samarinda



Kalau  Kawan mampir ke Samarinda dan ingin jalan-jalan, atau kalau Kawan di Samarinda, dan ingin jalan-jalan selain ke Mall, barangkali bisa mencoba Kapal Pesut Sungai Mahakam ini.
Info resmi mengenai kapal yang memang dikhususkan untuk pariwisata ini juga sudah banyak beredar di media sosial. 

Jadwal:
Sabtu-Minggu
Pagi  09.00- selesai
Sore 16.00- selesai
Biaya:  25.000/pack.
Rute : 1.  Jembatan Mahkota II
2.  Jembatan Mahakam (Arah ke Big Mall).
Lokasi : Pelabuhan Di Depan Kantor Gubernur Kaltim, Tepian.
Kontak :  081346246210

kapal pesut, mahakam, sungai, wisata, jalan-jalan, samarinda
Kapal Pesur Mahakam, foto diambil dari KlikSamarinda

 And the bad thing, di sini yang resmi dan yang terjadi di lapangan, hampir tidak pernah sama. Awalnya saya ingin mengikuti trip pagi. Pukul Sembilan pagi hari minggu, sudah mandi, berpakaian rapi, dan tak lupa membawa bekal si Amni. Tiba di lokasi, pelabuhannya tutup. Tak ada tanda-tanda kapal akan berangkat (lah wong kapalnya saja nggak ada). 

 Maka saya hubungi kontak person yang  ada di iklan. Pesan saya dibalas. Sore ini ada trip. Maka sebelum pukul 16.00, saya sudah tiba di pelabuhan.  Terlihat banyak orang yang kelihatannya juga akan mengikuti trip.  Kapalnya belum keliatan, tapi pelabuhan nya dibuka. 

Tak ada loket pembelian tiket. Hanya Ada mbak-mbak yang membawa kertas dan pulpen dan dikelilingi beberapa orang.  Saya hampiri, dan benar ternyata, beli tiketnya sama si mbak ini. 

Saya diminta membayar  Rp. 115.000, dengan rincian dua dewasa 50.000 per orang, ditambah balita 15.000. Dan embel-embel penjelasan. Beberapa orang di samping saya langsung membayar tiket seharga 50.000/orang. Saya protes karena di iklan tertulis 25.000/orang. Si Mbak hanya menjawab, sore ini kapal langsung double trip, ke Jembatan Mahkota II dan langsung ke Jembatan Mahakam. 

Thursday, April 6, 2017

Hello World, Vlog Menjadi Trend, dan Blog yang Teralihkan



Hello World.

Bulan April sudah datang.

Frekuensi menulis semakin jarang. Durasi menulis terus terpotong. Inspirasi dan kualitas tulisan tak meningkat. Membaca buku dan tulisan panjang semakin sedikit.
Menengok blog ini juga tak sesering beberapa tahun yang lalu. Pengguna blog tak seramai beberapa tahuan sebelumnya. 

Bumi berputar.  Hampir semua orang punya vlog, Kebanyakan blogger pun sudah beralih menjadi vlogger. 
Perkara kemudahan memperoleh uang lewat youtube memang tak bisa dipungkiri.
Saya juga sempat tergoda membuat vlog ala ibu-ibu muda bersama anak semata wayang saya. Namun selalu tertunda, dan sekarang rencana tinggallah rencana. 

Saya juga salah satu penikmat vlog. Meski belum  pernah membuat vlog. Rasa-rasanya memang lebih mudah memahami sesuatu lewat gambar bergerak dan audio. Vlog jelas membuat ketagihan. 

Namun dibalik kemudahannya, terbesit di hatii saya, apa jadinya kalau semua orang, termasuk berita-berita, beralih ke video.  Haruskah kita meninggalkan komunikasi lewat tulisan?. 

blogging, vlogging, versus, vlogger, blogger, membaca bobo, perpustakaan


Anak-anak langsung dikenalkan video. Remaja belasan tahun yang lahir di akhir 90an dan awal 200an tengah menikmati hingar-bingar media sosial, tak terkecuali video  dan vlog. 

Belakangan, saya sendiri merasa kemampuan saya membaca menurun tajam. Membaca hanya seperti skimming. Membaca sekilas, memahami isi, dan selesai. Saya lupa menikmati tiap kata, kalimat, dan paragraf.

Wednesday, March 8, 2017

Diskonek, Fokus, Produktif, dan Podomoro Teknik



Jujur, pasti banyak dari kita yang ketagihan dengan internet. Entah untuk berselancar, baca berita, belanja online, dan akses sosmed.
Beberapa tahun belakangan, saya merasa waktu produktif saaya semakin tergerus karena keasyikan terhubung dengan internet. Terlebih, saya termasuk orang yang susah untuk menahan diri. Apalagi kalau berkaitan dengan rasa ingin tahu. Padahal terhubung dengan dunia maya sangat memuaskan rasa ingin tahu. Dan seperti lorong waktu, menelusuri dunia maya tak akan ada habisnya.
Entah berapa banyak waktu saya habiskan dalam sehari untuk berinternet. Kebanyakan, apa yang saya lakukan di internet adalah sesuatu yang ‘sia-sia’. Artinya, kalau saya tidak melakukan hal tersebut, sebenarnya hidup saya tetap akan baik-baik saja. Saya gak akan kelaparan, saya gak akan sakit, saya gak akan kehilangan uang, saya pun tetap akan tertidur nyenyak.
Selain waktu yang terbuang banyak, akibat lain yang saya rasakan adalah saya jadi sangat sulit berkonsentrasi penuh pada suatu hal dalam kurun waktu tertentu. I keep to check myphone over and over. Makanya saya merasa saya harus melakukan sesuatu. Target hidup saya gak akan tercapai kalau saya terus begini.
Awalnya saya hanya ingin mencari buku motivasi diri. Saya ke toko buku, dan menemukan satu buku berjudul Fokus karangan Leo Babauta. Sebenarnya buku ini tidak terlalu hebat. Sebuah buku motivasi standard yang tergolong tipis. Tetapi isi buku ini memberi gagasan pada diri saya. Ternyata masalah sulit berkonsentrasi ini banyak dialami manusia kini. Generasi yang sangat gampang terdistraksi (Age of Distraction). Buku ini menyarankan perlunya tidak terhubung internet selama beberapa jam setiap hari. Email yang terus masuk, notifikasi sosmed, stalking, membaca berita, chatting, forum tertentu merupakan sekian pengganggu dalam berkonsentrasi. Akibat banyaknya distraksi-distraksi ini, secara alamiah membuat fokus berkurang, dan waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan menjadi lebih lama.
Maka saya putuskan untuk mengurangi dua hal yang paling banyak menyita waktu saya. Sosmed dan belanja online. Saya uninstall facebook, tokopedia, path, dan instagram. Akun saya masih ada, tapi karena saya gak punya aplikasi lagi, otomatis frekuensi berkunjung ke layanan tersebut berkurang drastis. Saya malas kalau harus buka-buka browser. Kalau sedang ingin berselancar sambil menghibur diri, sekarang saya lebih banyak menghabiskan waktu di twitter dan youtube. Menurut saya, twitter lebih informatif dan waktu yang dibutuhkan untuk ‘melihat-lihat’ relative lebih singkat. Sedangkan untuk mengakses youtube, saya perlu memikirkan kuota internet yang terbatas.  
Alhasil, durasi saya memegang handphone saat ini jauh lebih singkat. Notifikasi di handphone juga jauh berkurang. Paling saya hanya menghabiskan waktu untuk browsing informasi tertentu. Sisanya, saya mencoba lebih banyak membaca buku.  


BUku Focus, Leo Babauta, Podomoro teknik, belajar fokus, fokus dan distraksi, fokus, fokus dan produktif,
Focus- Leo Babauta

Durasi menghabiskan waktu di dunia maya menurun tajam, namun tidak lantas saya menjadi produktif seketika. Ternyata mengembalikan konsentrasi dan fokus pada pekerjaan yang memerlukan kerja otak dengan durasi lama masih sulit saya lakukan. Tidak ada yang instan memang, apalagi kalau menyangkut kebiasaan.

Thursday, February 2, 2017

Ibu Rumah Tangga Harus Pelit Marah



Kenapa begitu mendengar kata ibu-ibu, stereotype yang terbayang adalah : galak, bawel, dan gampang marah ? . 

Barangkali, kelelahanlah yang gampang menyulut amarah tersebut. Sebagai perempuan yang kini dalam fase  hidup : menjadi ibu dengan balita aktif luar biasa, saya gak ada penyangkalan sama sekali.  Kelelahan itu hakiki.
Saat ini,  saya punya pekerjaan dan saya gak pakai asisten rumah tangga  Suami paling bisa bantu bersih-bersih di hari sabtu-minggu. Jadi variable suami saya hilangkan saja, karena tidak berpengaruh secara signifikan.
Terus kalau kelelahan,kenapa gak pake ART?. Saya punya beberapa alas an:  1. Susah nyari ART yang bagus. Mencari ART aja susah, apalagi mencari ART yang kredibel. Sudah sering saya dengar cerita majikan maka hati, dan saya belum sanggup mengalami sendiri. . 2. Rasanya privasi akan berkurang kalau ada orang lain yang tinggal di rumah sendiri. 3. Saya gak kerja full time.
Atas dasar pertimbangan untung rugi tersebut, sekarang saya memilih gak punya ART. Entah lain waktu.
Lalu bagaimana cara mengakali kehidupan saya agar berjalan baik-baik saja? Kalau kerja, anak saya titipkan ke tetangga dekat rumah. Kalau saya gak sempat masak, ya tinggal beli makan. Urusan bersih-bersih rumah tak terlalu menajdi masalah. Syukur, rumah saya kecil, nyapu semua ruangan paling membutuhkan waktu tidak lebih dari 15 menit. Saya mencuci baju sendiri dengan bantuan mesin cuci. Sedangkan setrikaan sebagian besar saya laundry kiloan.  

Tapi punya ART atau gak punya ART, bedanya gak terlalu signifikan. Karena porsi terbesar yang menghabiskan banyak energi dan waktu ya mengurus, membesarkan, dan mendidik anak. 

Kembali ke soal kemarahan. Marah itu membutuhkan energi. Padahal Uang dan energi yang saya miliki terbatas, sementara kebutuhan akan uang dan energi tak terbatas. Sehingga saya harus eman-eman.
Jadi belakangan saya merasa saya sedikit lebih sabar. Bukan karena belajar yoga. Bukan karena belajar tassawuf. Bukan karena rajin ikut pengajian. Bukan.
 Tapi karena saya pelit. Saya gak rela menghabiskan sebagian energi saya untuk marah-marah. Sebab ada buanyak hal lain yang perlu saya lakukan. 

 Apakah gampang? Gak juga sih. Karena semakin lelah seseorang, semakin gampang ia tersulut emosi, dan semakin habislah energi nya. 

Biasanya saya lihat trigger atau pencetusnya apa. Kalau ternyata hal-hal non-substantif dan atau  hal-hal yang saya marah pun tetap tidak bisa saya ubah. Lalu buat apa marah? 

Marah karena paslon dukunganna diejek. Apakah hal tersebut penting?

Jadi haters di sosmed. Apakah hal tersebut penting?

Anak hambur-hambur barang di rumah. Dua hari dua malam ngomel sama anak usia satu tahun paling Cuma dijawab dengan duu..duu..wa…wa…

Sebel sama tukang parker di Indomaret yang tiba-tiba muncul. 

Ngomel sama laki yang suka taruh baju sembarangan

Marah karena dikasih kembalian receh semua.

Marah sama toko antagonis di sinetron yang gak insaf-insaf

Marah  sama teman yang suka broadcast pesan 

Marah sama koneksi internet yang lambat. 

Dan serangkaian deretan trigger kemarahan yang gak berimplikasi banyak dalam hidup, tapi energi buat marahnya cukup menyita dan seharusnya bisa dialihdayakan ke hal-hal lain. 

pengelolaan kemarahan, manage anger, keep calm
Ibu-ibu harus pelit marah

Wednesday, January 25, 2017

Resolusi 2017 dan Saya yang Gak Ngotot Lagi.

Well, tahun 2017 datang juga. A year when I turn to 30’s. 

Seperti biasa, selalu ada resolusi, harapan, semangat, dan tenaga baru tiap menghadapi tahun baru.  Asal Kawan tahu, saya tak pernah absen menuliskan resolusi dalam sebuah file khusus di laptop sejak tahun 2008. Pada tahun-tahun sebelum 2008, saya juga menuliskan resolusi. Namun tak konsisten tiap tahun, tak konsisten disimpan pada sebuah file, kadangkala hanya pada secarik kertas yang kemudian saya selipkan entah dimana, pun tak selalu saya evaluasi tiap tahun.

Apakah saya lelah menulis resolusi, -yang ketika dievaluasi terwujud 50% saja rasanya sangat luar biasa?. Nope. Sampai saat ini saya masih setia menulis resolusi. Barangkali memang tergantung tipikal manusianya. Saya selalu mencatat hingga ke list things to do everyday. Sebab saya orang yang gampang tergoda dan sering lupa pada tujuan awal.  Punya catatan mengenai apa yang harus saya lakukan tiap hari sangat membantu saya untuk terus produktif dan fokus.

Berkebalikan dengan suami saya. Ketika saya tanya, “sudah buat resolusi 2017 belum ?”.
Suami “ emangnya PBB, harus  bikin resolusi?”. Saya cuma bisa ketawa.  Beberapa karakter suami memang bertolak belakang dengan diri saya. Saya ngotot, ambisius dan selalu punya target. Sedangkan suami cenderung selow dan membiarkan hidup mengalir apa adanya.
Bicara soal ngotot, ada kejadian di Januari ini  yang membuat saya tiba-tiba sadar bahwa sekarang saya gak se-ngotot dan sekeras kepala seperti dulu.

Jadi ceritanya awal Desember kemarin saya mulai kerja sebagai penanggung jawab di sebuah sarana kesehatan. Namun berhubung ijin kerja saya baru dikeluarkan Dinkes Per Awal Januari lalu, ketika saya terima gaji, yang sudah telat 15 hari yang sengaja memang belum saya ambil karena gak enak.  Eh ketika saya ambil, owner nya Cuma ngomong: gajinya gak full ya. Karena ijinnya belum keluar, Desember lalu masih menggunakan ijin penanggung jawab yang lama, jadi gajinya dibagi dua.”

Saya sudah mencium aroma yang  gak bagus. Tapi herannya saya diam aja, dan gak protes.  Setelah saya ceritakan sama suami, malah suami yang marah. Saya pun konfirmasi ke penanggung jawab yang lama, dan benar saja dia hanya digaji sampai November 2016.  Yap!, saya tahu saya kena jebakan batman.  Saya protes ke owner nya hanya mental sendiri. Capek di saya, sisa gaji tetap gak dibayar.

resolusi 2017dan saya yang gak ngotot lagi


But the good things, ketika saya melihat ke dalam diri, saya gak semarah seperti biasa kalau saya diperlakukan tidak adil. Ya Cuma ngomong sama diri sendiri : insyaAllah nanti diganti rezeki nya sama Allah.   

Monday, January 23, 2017

Satu Tahun Paling Berharga

Apa hal yang paling membahagiakan ketika menjadi orangtua? Bisa jadi, salah satunya dengan melihat perkembangan anak.

Amni, anak pertama saya, lahir pada 5 Januari 2016. Melihat kembali tahun 2016 ini, berarti melihat perkembangan Amni di tahun pertama kehidupannya.

Beberapa hari setelah lahir, Amni mengalami mengalami menstruasi. Saya sempat khawatir, namun ternyata hal ini  normal terjadi karena pengaruh hormon kehamilan ibunya. Masalah kedua, Amni mewarisi  bakat alergi kedua orangtuanya. .

Karena terlahir cukup mungil (BB 2,4 kg), oleh dokter anak, Amni diresepkan susu formula untuk bayi Berat Badan Lahir Kurang (BBLR).  Setelah diberikan sufor, Amni diare dan kulitnya memerah. Ternyata Amni alergi susu sapi. Dokter kemudian menyarankan untuk menghentikan pemberian sufor. Dan sisi positifnya, Amni memperoleh full ASI di awal kehidupannya.

tahap satu tahun pertama kehidupan bayi