Monday, November 13, 2017

#jadibisa Tetap Sabar dengan Traveloka

Tidak terasa, posting serial Where will you stay? yang saya tulis sudah mencapai angka 20 sekian. Belakangan, cerita mengenai pengalaman saya menginap di hotel agak menurun. Bukan apa-apa, memang frekuensi perjalanan saya tak sebanyak beberapa tahun sebelumnya.

Kenapa sih saya repot-repot menulis serial Where will you stay? Tak lain, tak bukan karena ada sensasi tersendiri ketika menginap di hotel atau tempat sejenisnya.  Sensasi senang, karena menginap di hotel berarti liburan. Sensasi jenuh, karena menginap di hotel bisa juga berarti tugas ke luar kota yang terus menerus. Dan adakalanya sensasi rindu, karena menginap di hotel berarti jauh dari rumah dan penghuninya.  

Kalau saya memesan hotel dalam rangka jalan-jalan atau bepergian dengan alasan pribadi,tentu faktor harga jadi yang paling penting.
booking hotel di traveloka
Aplikasi yang simpel dan loading yang cepat

Nah, memesan hotel lewat aplikasi atau website tertentu, harganya jauh lebih ekonomis ketimbang langsung memesan di hotel. Seandainya Kawan memesan hotel secara langsung, umumnya Kawan akan dikenakan publish rate. Apalagi kalau Kawan datang langsung ke hotel di hari H.

Sementara kalau Kawan memesan lewat website atau aplikasi, apalagi jauh-jauh hari, Kawan bisa mendapatkan harga promo atau diskon. Kalau mau dihitung, beda harga promo dan harga resmi bisa sampai ratusan ribu.

 Sebagai orang yang dulu pernah malang melintang di dunian per-traveling-an, saya cukup cekatan dalam memesan hotel dan pesawat. Bahkan keluarga dekat, seperti kakak-kakak, abang ipar, hingga suami, selalu menyerahkan tugas memesan tiket pesawat dan hotel ke saya.

Meskipun sekarang saya sudah jarang travelling, namun karena tugas itulah saya masih rutin memesan hotel dan tiket pesawat. Sebagai emak-emak satu anak yang juga bekerja, satu yang sangat saya perhitungkan adalah aplikasi yang membuat saya #jadibisa tetap sabar, gak bikin pusing dan ribet. Apalagi kalau yang mau berangkat liburan saya sekeluarga. Memilih dan memesan hotel hanya satu variabel dari serangkaian variabel lain yang harus saya siapkan demi liburan keluarga yang berkesan dan membahagiakan.
booking hotel di traveloka
Riwayat booking hotel dari masa ke masa

 Nah, Traveloka menyediakan apa yang menjadi kebutuhan saya tersebut.  Saya #jadibisa tetap sabar, Saya #jadibisa menghemat uang dan tentu saja saya #jadibisa menghemat waktu dengan Traveloka.

Satu yang pasti, aplikasi Traveloka ini sangat simpel dan mudah digunakan, ringan (tidak memakan space besar di memori), dan loadingnya cepat. Kan yang namanya pesan hotel, sama seperti belanja. Harus melihat-lihat dulu beberapa produk, baru kemudian menentukan pilihan. Kalau menggunakan aplikasi Traveloka, saya #jadibisa membandingkan tanpa harus kehilangan kesabaran. hehehe

Enaknya lagi, di Traveloka, harga yang tercantum adalah harga final, jadi saya gak perlu lagi menghitung-hitung persentase pajak dan harga akhir pemesanan hotel. Saya #jadibisa gak pusing memikirkan berapa harga akhir yang harus saya bayar.

Wednesday, October 18, 2017

Cara Memusnahkan Obat Kadaluarsa di Apotek

Sudah lama tak menulis di blog, dan sudah lebih lama lagi tak menulis tentang obat. Padahal menulis really heals mypains and my galau. Hehehe.

Jadi, beberapa waktu lalu, setelah stok opname di apotek, saya menemukan berbagai obat kadaluarsa. Dan yang namanya obat kadaluarsa gak bisa dibuang begitu saja, tapi harus dimusnahkan. Terus terang 80% dari teori yang saya dapat semasa kuliah sudah menguap atau mungkin tertindih dengan memori-memori yang lebih baru. Setelah tanya sana sini mengenai pemusnahan obat, terutama bertanya ke teman-teman kuliah dulu yang sekarang kerja di BPOM, akhirnya saya bisa memusnahkan obat sesuai dengan aturan.

Jadi kalau obat yang akan dimusnahkan itu tidak mengandung psikotropika, narkotika, dan atau prekursor, maka sebagai apoteker kita bisa memusnahkan obat tersebut di apotek dengan hanya menggunakan saksi minimal satu orang asisten apoteker yang sudah memiliki STTK.

cara memusnahkan obat kadaluarsa di apotek


Bagaimana cara pemusnahan obat tersebut ?. Nah obat-obat yang saya musnahkan tersebut  merupakan obat sediaan padat, sehingga saya hanya butuh menggerus hingga halus lalu dilarutkan dengan air dan dibuang ke dalam wastafel atau pembuangan air. Kemasannya jangan lupa digunting sekecil mungkin. Bagaimana kalau sediaan obat tersebut berupa cairan?. Sama saja, buka kemasan obat, lalu buang cairan di tempat pembuangan air. Metode ini dapat kita lakukan kalau : jumlah obat yang dimusnahkan tidak banyak, dan tidak ada kekhawatiran akan mencemari lingkungan.

Sebenarnya ada cara lain yang dianjurkan teman sejawat saya, yakni menitipkan obat kadaluarsa tersebut ke puskesmas atau dinkes setempat untuk dimusnahkan. Namun dari hasil pencarian saya di google, ini hanya berlaku untuk masyarakata umum yang punya stok obat kadaluarsa. Tidak berlaku untuk apotek. Ini hanya hasil cross-check saya di google. Saya belum memastikan apakah apotek memang tidak boleh menitipkan obat kadaluarsa di instansi pemerintahan.

Kenapa obat harus repot-repot dimusnahkan?. Alasan utamanya : karena kekhawatiran kalau obat dibuang begitu saja, akan disalahgunakan. Misalnya diketemukan pemulung, diganti kemasan, lalu dijual lagi. Lah wong, botol bekas aja reusable kok. Apalagi obat yang harganya lebih mahal. Nah, prinsip pemusnahan obat ini : aman, sesuai aturan, dan tidak mencemari lingkungan. Kalau memusnahkan obat dalam jumlah besar dan dilakukan oleh distributor, BPOM, atau pabrik obat tentu saja cara pemusnahannya akan beda. Ya gak mungkin juga menggerus 3000 pil sekaligus.

Saturday, September 30, 2017

Pulau Pamutusan dan Pulau Pasumpahan di Sumatera Barat

Lebaran 2017 lalu, ceritanya saya pulang kampung ke Jambi. Mumpung libur panjang lebaran, jadilah kami jalan-jalan sekalian. Sebenarnya saya agak males ke Padang karena kudu jalan darat lebih kurang 12 jam, entah karena semakin tua, atua karena frekuensi jalan-jalan sudah berkurang, rasanya jalan darat naik mobil  lebih dari 3 jam itu melelahkan sekali. Apalagi saya bawa anak kecil. Agak ragu juga bawa Amni naik mobil 12 jam. Karena Amni masih jarang diajak perjalanan jauh.

Semula rencananya mau ke Belitung, tapi transportasinya agak ribet. Kalau dari Jambi harus nai mobil sekitar 5 jam menuju Palembang, terus naik pesawat ke Bangka, kemudian naik kapal ke Belitung. Bayangkan betapa repotnya?  Belum lagi kalau bawa mobil dari Jambi, di Palembang dititipkan dimana? Kalau naik travel dan gak bawa mobil, kok yam akin repot. Karena rombongan kami lebih banyak jumlah anak kecilnya ketimbang orang dewasa.  

Ya sudah, ujung-ujungnya ke Padang (lagi). Kali ini, tujuan utama wisata ke pantai, yakni ke pulau-pulau yang ada di Daerah Painan. Sisanya sempat mampir juga ke Bukit Tinggi yang ramainya luar biasa dan malah gak bisa ngapa-ngapain karena terlalu macet.

naik kapal ke pulau pamutusan dan pulau pasumpahan
Pengalaman pertama Amni naik kapal dengan jarak lumayan jauh


Singkat cerita, pagi itu kami sudah bersiap di lobi hotel menunggu dijemput guide. Memang saya memesan paket wisata sekaligusn yang mencakup : sewa kapal, makan, peralatan snorkeling, foto underwater, dan guide. Jangan bayangkan pulau-pulau tersebut ramai dengan fasilitas lengkap seperti Gili Trawangan.  Untuk makan saja, guide kami membawa nasi bungkus dari Padang. Memang ada beberapa pulau yang sudah dilengkapi resort. Kalau tidak mau menginap di resort, Kawan bisa juga bawa tenda dan menginap sambil camping.

Untuk biaya nya, dihitung per orang. Dewasa sekitar 240 rb, saya lupa persisnya berapa. Kalau anak-anak di bawah 12 tahun bayar setengah, sementara kalau di bawah dua tahun boleh gratis. Dalam satu kawasan  ini terdapat beberapa pulau diantaranya Pulau Pasumpahan, Pamutusan, Swarnadipa, dan Pualu  . Kawan bisa memilih paket 2 pulau atau 3 pulau. Dari Hotel yang ada di pusat Kota Padang ke daerah Painan tempat menyebrang kapal lumayan jauh, butuh waktu berkendara sekitar 1 jam karena memang cukup macet. Saya mulai menyebrang hampir pukul 10 pagi, dan kembali sekitar pukul 4 sore.

Saya sengaja memilih dua pulau, yakni Pulau Pamutusan dan Pasumpahan,  biar agak santai. Itupun rasanya masih kurang. Kalau mau puas, barangkali Kawan harus menginap.

Pulau Pasumpahan di Pesisir Sumatra Barat
Salah satu sudut Pulau Pasumpahan, Sumatra Barat
berenang di pulau pasumpahan padang sumatra barat
Amni excited berenang di Pulau Pasumpahan

Wednesday, September 20, 2017

Memoar Masa Kecil

         


Apa pekerjaan yang paling saya impikan?

Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, Full time housewife.

Karena sewaktu kecil, apa yang paling saya impikan?. Iya, pulang ke rumah dan mendapati ibu memasak di dapur, wangi makana tercium dari aroma dapur, dan saya akan makan masakan ibu. Sesuatu yang dalam ingatan saya, belum pernah saya dapati. Saya hanya tinggal di rumah hinggan SMP, setelah saya merantau, hingga saat ini. Empat belas tahun, usia saya saat itu. Mengejar, hmmm..apa yang dalam konteks peradaban manusia, disebut sebagai cita-cita.
Hingga dalam keluarga besar atau relasi keluarga besar saya jarang muncul. Hingga suatu saat ibu mengenalkan saya: “Ini anakku yang bungsu, ia jarang kelihatan, ia besar di perantauan”.

Itulah mengapa saya begitu menginginkan menjadi ibu rumah tangga. Saya mungkin tidak akan bisa kembali lagi ke masa lalu. Satu-satunya yang tidak mungkin di dunia ini. Tapi saya kan masih bisa memperbaiki masa depan. Suatu saat saya ingin membesarkan anak dengan cara saya sendiri. Kenangan, kebahagiaan, dan keceriaan, sesuatu yang seharusnya diperoleh anak-anak di sudut manapun di dunia ini. Entah sebagaimanapun kerasnya hidup yang kelak akan mereka lalui ketika dewasa.

memoar masa kecil
little of mine



Ini catatan saya tulisa tahun 2013 lalu. Alhamdulillah Allah Maha Baik. Saya sudah tidak bekerja full time, hanya partuh waktu, punya waktu banyak untuk keluarga, terutama untuk anak yang masih berusiah 20 bulan. Masih menyusui, sehari-hari cukup banyak waktu untuk menemani ia main.  Beberapa waktu lalu, sempat terpikir untuk bekerja full time lagi. Mengejar ambisi dan citac\-cita yang belum tercapai. But somehow, saya menemukan note yang saya tulis tahun 2013 silam. Sepertinya Allah mengingatkan saya kembali, apa yang pernah menjadi harapan saya beberapa tahun yang lalu. Sesuatu yang seharusnya harus saya sangat syukuri hari ini.

Alhamdulillah wa syukurillah.


Samarinda, September 2017  

Sore di KLCC

   Pulangdari Batu Caves, istirahat di hotel, mandi, dan meninabobokan si Amni. Alhamdulillah, anaknya malah sibuk main sendiri di kamar. Tapi masa planning jalan sore ditunda?. Jadi meski Amni Cuma tidur sebentar sekali, kami tetap bersiap, mandi, dan keluar hotel sekitar pukul setengah 6. Mampir makan dulu di daerah belakang Mesjid India (Citin Hotel ini letaknya persis di samping Mesjid India).  Biasanya pengalaman makan di food court belakang Mesjid India ini selalu menyenangkan. Namun waktu itu, kayaknya saya yang salah pilih menu dan penjual. Jadi ikannya keran, dan makannya gak konsen Karena Amni rewel  gak mau duduk dan sibuk mengejar kucing ke sana kemari. 

                Selesai makan, saya menuju Stasiun Mesjid Jamek untuk ke KLCC. Lupa melewati berapa stasiun. Sebenarnya lebih gampang naik uber atau grab. Apalagi suami sudah beli kartu provider Malaysia. Tapi doi malah lebih surat naik LRT. Mumpung di Malaysia. Kalau di Indonesia kan gak ada yang kayak gtu.
                Nah begitu sampai KLCC ini, saya lupa menuju jalan keluar yang mana. Jadi bukannya ke Mall Suria KLCC, kami malah sampai ke AVENUE K mall. Dan setelah keliling  di Avenue K ini, saya baru menyadari kalau saya salah  mengambil arah saat keluar stasiun KLCC. Memang hari jumat sore itu ramai sekali. Berhubung masih weekday, bertepatan dengan jam pulang kerja.
suasana sore di KLCC petronas tower kuala lumpur malaysia
Suasana sore di KLCC yang selalu memukau


Biarpun sudah berkali-kali ke KLCC dan melihat langsung Petronas Tower, tapi saya tetap suka suasana di KLCC ini terutama saat menjelang senja.

Di sini juga banyak penjual fish eye dadakan. Fish eye sangat membantu agar Tower Petronas keliahtan semua, apalagi kalau berfoto nya menggunakan kamera handphone. Sebenarnya saya juga bawa kamera DSLR. Tapi tak ada satupun diantara saya dan suami yang sangat pro menggunakan kamera DSLR. Bahkan kamera DSLR ini lebih banyak tersimpan di dalam lemari rumah. Amni heboh banget mau loncat di kolam air mancur di tempat banyak wisatawan berfoto. Kalau sudah liburan dengan anak kecil memang jangan berharap banyak untuk bisa foto berbagai gaya, kalau gak ada yang bantuin.
Untungnya, mas-mas penjual fish eye sempat membantu foto bertiga beberapa kali. Oiya, kalau kawan berniat beli fish eye nya jangan lupa ditawar ya.
foto keluarga dengan latar petronas tower di kuala lumpur malaysia
Akhirnya ada foto bertiga 

Saturday, September 9, 2017

Jalan-Jalan Sekeluarga ke Kuala Lumpur : Off To Batu Caves

Melanjutkan cerita jalan-jalan ke sekeluarga Agustus lalu. Hari pertama liburan, bangun agak siang. Badan terasa masih remuk redam karena perjalanan yang melelahkan.  Setelah sarapan, saya masih balik ke kamar, sekedar istirahat dan browsing, mau jalan kemana hari ini?.
Sebenarnya saya pengen ke Putra Jaya (yang akhirnya sampai pulang pun gak sempat jalan ke Putra Jaya). Tapi Suami lebih tertarik ke Batu Caves. Saya pun belum pernah ke Batu Caves, meskipun sudah sering ke Kuala Lumpur.
Batu Caves Kuala Lumpur
Batu Caves, Kuala Lumpur

Batu Caves Kuala Lumpur Malaysia
Batu Caves, Kuala Lumpur 

Ke Batu Caves ini bisa jadi objek wisata mandatory saat ke Kuala Lumpur. Transportasi umum tersedia, dan masuknya gratis pula. Dari Hotel kami jalan kaki ke Stasiun Mesjid Jamek dan naik LRT tujuan ke KL Central. Di KLT Central tinggal naik tiket KTM dengan tujuan stasiun terakhir di Batu Caves. Ongkosnya sekitar 3 RM per orang.  Memang kereta KTM ini berangkatnya tidak sesering LRT. Jadi saya sudah melewati pintu tiket dan sampai di peron.  Karena jadwal keberangkatan masih 45 menit lagi, kami mengisi perut dulu dengan makan di McDonalds.  Nah pas balik mau melewati pintu otomatis, ternyata tiket sudah tidak bisa digunakan. Untungnya ada bapak-bapak petugas yang mempersilakan masuk lewat pintu samping.
Perjalanan menggunakan komuter membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sampai di stasiun, objek Batu Caves nya udah keliatan kok. Amni senang sekali karena banyak banget burung dan monyet. Kalau mau sampai puncak, pengunjung harus menaiki 300 anak tangga. Well, karena bawa anak kecil (dan kareana malas capek), kami hanya menikmati foto-foto, sembari amni kalap mengejar burung ke sana kemari. DI sini juga banyak penjual souvenir, kelapa muda, dan berbagai cemilan khas india. Ada juga taman dan kolam ikan, sayangnya untuk masuk berbayar. Karena tak terlalu menarik, kami hanya melihat-lihat dari luar.
 Karena tidak naik tangga, sekitar pukul 3 sore saya sudah sampai di hotel. Saatnya Amni untuk tidur siang.
Anak mengejar burung di batu caves

Wednesday, September 6, 2017

Family Holiday Ke Kuala Lumpur

Finally, liburan juga. Setelah terakhir liburan jauh pas bulan madu ke Lombok. Terus kenapa dipilih ke Kuala Lumpur (lagi)?. Ya gak ada alasan khusus sih. Tujuan saya memang hanya ingin memperawani passport suami dan anak. Dipilih Kuala Lumpur, karena tourism friendly dan gak semahal Singapore. Apalagi Amni sudah berusia 1,5 tahun.  Usia yang sangat pas untuk di ajak liburan jauh. Pertama, irit, karena Amni masih duduk dipangku. Setelah usia 2 tahun harus beli satu tiket ekstra lagi. Kedua, masih repot sih, tapi gak kebangetan. Soal makanan, Amni sudah makan makanan dewasa. Terus terang, saya bukan ibu yang suka repot bawa mpasi dan segenap peralatan. Saat berangkat saya hanya bawa bekal abon, keju, sedikit snack, dan buah jeruk. Gak perlu stok makanan banyak-banyak. Kami berlibur di tengah kota.  No need to worry. Di Kuala Lumpur ada banyak sekali convenience store.

Saya pun tak perlu repot membawa stroller. Saya hanya membawa baby carrier yang tak banyak terpakai, karena Amni udah tak betah lama-lama di baby carrier. Anak usia satu setengah tahun sedang gemar mengeksplorasi sambil jalan dan berlari.

Soal itenirary pun gak ada yang khusus. Kami memang hanya sekedar keliling-keliling di Kuala Lumpur. Tak ada target mau kemana. Lokasi jalan-jalan diplih at the same day berdasarkan browsing sana sini.  Kalau sudah capek, atau Amni sudah rewel, ya kami mencari tempat istirahat, biasanya yang dipilih adalah  tempat makan. Sekedar beli cemilan atau minuman. Santai dan yang penting happy.

But theres no such a perfect holiday. Yang jadi sedikit minus adalah keteledoran saya memilih jadwal pesawat dari Jakarta menuju KL. Pesawatnya terlalu malam apalgi ditambah delay, sehingga lama sekali menunggu di Bandara Soekarno Hatta. Total kami menghabiskan lebih dari 15 jam waktu perjalanan dari rumah hingga sampai ke hotel.
Ikon Bandara Sepingga Balikpapan Kalimantan Timur
Ikon Bandara Sepingga Balikpapan

Pagi hari pukul 07.00 saya berangkat dari Samarinda menuju Balikpapan. Perjalanan darat Samarinda-Balikpapan memakan waktu sekitar 3 jam. Jadwal pesawat dari Balikpapan ke Jakarta sekitar jam 11an. Sampai di Jakarta, ditambah menunggu bagasi, naik shuttle bus, lalu pindah  ke terminal 2, makan siang, dan menukar uang di money changer. Selesai kira-kira jam 2an WIB.  Seharusnya saya bisa memilih pesawat dengan keberangkatan pukul 5 sore. Tapi saya sudah terlanjur membeli tiket maskapai KLM dengan jadwal keberangkatan pukul 18,.45.  We wait too long in bandara. Ditambah, pesawat KLM ke Kuala Lumpur mengalami keterlambatan.  Saya lupa boarding jam berapa, yang jelas sampai di Kuala Lumpur sekitar pukul 10 malam waktu setempat. Dan perjuangan masih berlanjut menunggu bagasi dan mengantri imigrasi.  Hampir pukul 11 malam akhirnya saya bisa meninggalkan airport. Satu-satunya pilihan adalah dengan naik taksi. Bukan karena gak ada moda transportasi umum, tapi karena kami sudah terlalu lelah. Ongkos taksi sekitar 85 RM menuju hotel di daerah Dataran Merdeka. Quite expensive, mengingat kalau naik airport bus cuma habis 10 RM per orang.

Wednesday, August 30, 2017

Perlengkapan Pengajuan SIA dan SIPA

Saya jarang banget menulis tentang obat, perapotekan, atau seputar dunia apoteker. Entahlah. Kadang-kadang saya memang  suka lupa kalau saya ini apoteker.
                Jadi setelah di sumpah  tahun 2009 silam, saya baru akan memanfaatkan ijasah  apoteker saya sebagai penanggung jawab. Nah, artikel ini melanjutkan postingan lama tentang perpanjanganSTRA.  Alhamdulillah postingan tersebut banyak peminatnya. Terbukti, page view(s) nya sudah mencapai ribuan. Sekarang , tak ada salahnya saya berbagi pengalaman saat mempersiapkan saya  dokumen-dokumen untuk pengajuan Surat Ijin Apotek (SIA) dan Surat IJin Praktek Apoteker (SIPA). 

Jadi, SIA dan SIPA ini satu kesatuan. Sehingga dokumen yang dipersiapkan satu kesatuan juga. Namun, untuk pengajuan SIA dan SIPA berbeda-beda untuk masing-masing daerah.  Kalau di Kota Samarinda, SIA dan SIPA di terbitkan di Dinas Kesehatan. Ada juga pengalaman teman saya di Magelang dan Rantau Prapat, Sumatera Utara. Di sana, Pengurusan SIPA dan SIA dilakukan di Badan Perijinan dan Penanaman Modal (BP2T) dengan rekomendasi dari dinas kesehatan setempat.

Untuk SIPA tidak ada kejelasan masa berlaku, sementara untuk SIA sampai 5 tahun. Kalau SIA sudah tidak berlaku, ya SIPA nya otomatis tidak berlaku juga.

Karena dokumen-dokumen yang dipersiapkan lumayan banyak. Maka saya kelompokkan menjadi beberapa kelompok  agar menyiapkan lebih gampang.  

Kelompok pertama, ini terutama diperlukan kalau kawan sebagai apoteker yang bekerja sama dengan Pemilik/ Pengelola Sarana Apotek (PSA). Sebagian dokumen ini bisa kawan minta ke PSA Apotek dan sebagian merupakan perlengkapan apotek. Yaitu:
1.       SIUP dan SITU yang masih berlaku
2.       Sertifikat Higyene Sanitasi (HS)
3.       FC NPWP PSA
4.       FC KTP PSA
5.       Surat Perjanjian Kontrak (jika bangunan apotek sewa), atau Sertifikat tanah dan imb jika bangunan apotek milik pribadi.
6.       Perlengkapan Apotek : etiket obat oral, etiket obat luar, kartu stok, kwitansi apotek, kopi resep, surat pemesanan obat, narkotika, psikotropika, serta prekursor.

Kelompok 2, dokumen yang perlu kawan persiapkan dengan bantuan komputer, perlu di print, dan tentu saja ada beberapa dokumen yang perlu materai. 

1. Denah Apotek 
2.Hasil Stok Opname terakhir di apotek (untuk yang perpanjang atau apotek yang sudah berdiri) 
3. Daftar Asisten Apoteker yang memiliki STTK. Berisi nama asisten apoteker, nomor KTP, alamat,dan nomor STTK. 
4. FC Surat perjanjian kerjasama apoteker dan PSA (yang dibuat di notaris) 
5. Daftar Terperinci Alat Perlengkapan Apotek 
6. Surat Pernyataan akan mematuhi peraturan perundang-undangan dan etika profesi (bermaterai) 
7. Surat Pernyataan tidak bekerja di Instansi lain (bermaterai) 
8.Surat Pernyataan Pemilik Sarana Apotek tidak terlibat pelanggaran peraturan undang-undang obat (bermaterai) 
9. Surat Keterangan pengangkatan sebagai Apoteker Penanggung Jawab Apotek oleh PSA 
10Surat Permohonan SIPA dan SIA 

Saturday, August 26, 2017

Tempat Makan (Enak) di Samarinda #1*

Ayam Goreng Surasama
Alamat : Jln. Pasundan, Samarinda
Jln. Pangeran Suryanata, Samarinda.
Harga makanan :  Kisaran 8K - 20k

Gak terasa, sudah dua tahun lebih saya menetap di Samarinda.  Samarinda ini bukan kota kecil. Lah wong, ibukota Provinsi kok. Tapi berhubung 10 tahun sebelumnya saya menetap di Pulau Jawa, ya kadang merasa kesulitan, terutama akses mendapatkan pilihan barang dan ragam kuliner.

Di sini tempat makan banyak, tapi variasinya yang sedikit. Apalagi kalau mau dibandingkan  dengan Yogyakarta, dimana saya menetap 6 tahun, dan Jakarta dimana saya pernah menetap selama 4 tahun. Apalagi saya yang orang Sumatra ini, kadang kangen makan pempek, yang mana di sini ada, tapi rasanya biasa dan mahal. Suka makan nasi padang, yang mana, di sini warung makan padang yang enak rasanya cuma ada satu merek. Kadang pengen sarapan nasi uduk dan lontong sayur khas padang, yang mana saya belum pernah ketemu satu pun.

                Jadi tempat makan enak di postingan ini, ya menurut versi saya yang memang lidahnya belum menyatu dengan menu banjar atau Kalimantan yang didominasi rasa manis. Dan walaupun suami saya orang Kalimantan, Alhamdulillah, seleranya mirip dengan selera saya. Apalagi saya dan suami memang hobi jajan makanan di luar. Kadang kami kebosanana, mau makan di warung makan yang mana lagi. Tak banyak referensi di website. Ada sih, kebanyakan review di instagram. Saya juga pernah melihat review urutan restoran menurut tripadvisor, ternyata juga banyak yang gak sesuai ekspektasi.  Karena itu saya  bikin postingan ini. Semoga membantu dan bisa jadi bahan referensi.

                Kembali ke review makanan. Warung makan ini cukup baru, kayaknya baru setahunan.  Menu andalannya ayam gorem bumbu lengkuas.  Enak, ayamnya lembut, bumbu terasa banget, dan yang bikin tambah enak itu sambelnya. Sambelnya di lidah saya terasa sangat pedas.  Kalau makan di tempat boleh diambil sesuka hati. Yang bikin saya jadi sering makan Ayam Goreng Surasama ini, karena punya anak balita. Kalau di bawa ke warung makan padang, suka bingung dia mau dikasih makan apa. Lauk goreng-gorengan di Warung Padang cenderung digoreng kering banget dan keras.
                Banyak juga saya lihat yang makan di sini rata-rata keluarga dengan anak kecil. Ayam Surasama ini memang bisa jadi pilihan. Apalagi kalau sudah bosan dengan ayam goreng  di restoran fastfood. Harganya pun lebih murah. Pelayanan cepat. Ada pilihan lauk lain, kayak ikan lele dan ikan nila.  Belakangan, di Ayam Goreng Surasama ini juga ada menu nasi goreng. Saya pernah mencoba sekali. Dan rasanya mengecewakan.  Lebih enak nasi goreng buatan saya J. Oiya, ayam goreng surasam ini juga sudah tersedia di Go-Food.
warung ayam goreng lengkuas surasama samarinda
Ayam Goreng Surasama- Samarinda


Wednesday, August 23, 2017

Where will you stay?* #28

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bad, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Geo, Kuala Lumpur
Alamat : Jalan Hang Kasturi No.7, City Centre, Kuala Lumpur (Tepat di Seberang Central Market).
Phone : +60320322288

Saya pindah ke hotel ini, setelah tiga malam sebelumnya menginap di Citin Hotel,Mesjid Jamek, Kuala Lumpur.  Satu-satunya yang agak mengecewakan di Citin Hotel adalah saya dapat kamar yang gak ada jendelanya.

pemandangan dari kamar hotel Geo Kuala Lumpur
View dari kamar Geo Hotel

Karena  kali ini adalah liburan sekeluarga,  kami tentu punya banyak waktu luang untuk sekedar tidur-tiduran di kamar sembari melihat-lihat pemindangan Kuala Lumpur. Maka malam terakhir di Kuala Lumpur kami putuskan untuk pindah hotel.  Pilihan hotel kami masih sama : budget hotel di tengah kota.

Dan alasan utama saya dan suami akhirnya memilih Geo Hotel karena kami terkesan dengan lokasinya yang sangat strategis. Persis di seberang Central Market. Hotel Geo ini juga diapit terminal  Pasar Senin, dimana banyak bus-bus yang entah menuju kemana, juga starting point Bus GO KL Purple Line. Tepat di samping sisi lain Hotel ini ada LRT Stasiun Pasar Seni. Meskipun Kalau dibandingkan dengan LRT Stasiun Mesjid Jamek, saya lebih suka Stasiun Mesjid Jamek. Di Kala weekend, antrian beli tiket LRT Pasar Seni ini luar biasa, belum lagi karena masih tahap perbaikan, stasiun LRT Pasar Seni ini mengandalkan udara terbuka alias gak ada AC nya.

Kamar hotel Geo Kuala Lumpur
Lemari besar -Kamar Geo Hotel

View Kamar Hotel Geo Central market
Kamar Geo Hotel


Where will you stay?* #27


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bad, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Citin Hotel Mesjid Jamek, Kuala Lumpur

Alamat :  Mesjid India, Lorong Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur City Centre (tepas di seberang Mesjid Jamek, ada jalan yang diisi badzar, kebanyakan jilbab, pakaian, dan kosmetik).

Agustus 2017 ini saya kembali ke Kuala Lumpur.  Alhamdulillah dalam rangka liburan keluarga. Berangkat naik KLM, ternyata pesawatnya delay. Belum lagi antrian di imigrasi yang lumayan panjang. Alhasil kami sampai di hotel hampir pukul 12 malam.

Citin Hotel ini letaknya agak nyelip. Sebenarnya dulu sewaktu ke KL saya pernah memperhatikan hotel ini. Tapi karena sudah terlalu lelah, saya biarkan saja sopir taksi yang mencari. Sayangnya si sopir taksi ini gak tahu lokasi persis Citin Hotel. Pak Sopir hanya mengandalkan GPS. Karena letaknya di belakang badzar, kami sempat muter-muter. SI mbak GPS bilang sudah sampai, tapi kok hotelnya gak keliatan. Yang ada hanya deretan toko badzar yang telah tutup. Rupanya Citin Hotel terletak di belakang badzar itu.
kamar, hotel, citin, mesjid jamek, kuala lumpur, mesjid india, liburan, budget, keluarga
Amni di dalam kamar- sudah gak sempat foto kamar yang masih rapi

Overall, gak ada yang saya complain di Citin Hotel ini. Kebetulan saya dapat promo, kalau di rupiahkan sekitar 800 rb untuk 3 malam sudah termasuk makan pagi. Jadi memang nothing to complain. Dengan harga segitu, lokasi hotel ini sangat strategis, dekat banget dari Stasiun Mesjid Jamek. Apalagi selama liburan, kami sangat mengandalkan transportasi massal.

Sunday, August 20, 2017

Apa Obat Sariawan yang Paling Manjur ?

Sariawan itu penyakit ringan yang sangat mengganggu. Bikin susah makan, susah bicara, susah tidur, bahkan dalam kondisi diam saja bikin nyeri.

Anehnya, sariawan seringkali muncul tanpa sebab yang jelas.  Kemunculannya pun bisa berulang dan dapat menyerang siapapun. Siapa manusia dewasa di dunia ini yang belum pernah mengalami sariawan?. Anehnya lagi, siapa manusia di dunia ini yang rela ke dokter Cuma untuk konsultasi sariawan?.  Setidaknya kalau saya mikir puluhan kali mau konsul ke dokter ‘hanya karena’ sariawan.
Bagaiman jika terkena sariawan?. Rata-rata dari kita akan mencari sendiri obat yang diperlukan. Self medication atau swa medikasi istilahnya.

Berikut beberapa obat yang bisa Kawan pilih jika terserang sariawan. Mulai dari yang paling murah hingga malah. Saya sebut merek saja, jadi lebih gampang bagi Kawan kalau mencari obatnya ke Apotek atau drugstore. Tulisan ini juga bukan iklan. Pure pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki. Semoga membantu.

1. GOM. Ini obat pilihan pertama saya kalau sariawan. Bentuknya kecil, imut-imut dan harganya murah, hanya sekitar 5000-6000 rupiah.  Sensasi yang muncul saat dioleskan ke luka sariawan pun tak terlalu perih. Hanya perlu dua sampai tiga kali pakai, efeknya akan langsung terasa. Gom ini berisi boraks gliserin 10%.

Gom boraks gliserin obat sariawan
gom


2. Kenalog in oral base. Obat ini merupakan obat premium untuk sariawan. Karena harganya yang tergolong mahal dan efeknya yang sangat ampuh. Isi Kenalog in Oral base adalah Triamcinolone Acetonide yang masih masuk golongan kortikosteroid. Obat golongan kortikosteroid memang salah satu efeknya adalah meringankan inflamasi (peradangan).  Nah kenalog in oral base ini bekerja meringankan peradangan, berupa sariawan, yang terdapat di dalam mulut.  Selain bahan aktifnya, basis (bahan pembawa) pada Kenalog ini juga mampu mengurangi rasa sakit karena  mampu menutupi lesi(luka terbuka).  Basis pada kenalog ini terdiri dari gelatin (bovine), Pullulan, Sodium CMC dan Plastibase  55W.
Kenalog in oral base ini bentuknya berupa salep yang dioleskan pada tempat sariawan.  Tidak menyebabkan perih dan sangat ampuh. Saya pakai Kenalog ini kalau sariawan yang saya alami sangat parah  (sariawan terdapat di beberapa tempat), sariawan sangat besar dan terasa perih, atau sariawan datang  berulang dalam jarak singkat. Baru sembuh dua hari, sariawan muncul lagi. Harga obat ini lumayan menguras kocek, sekitar 60 sampai 70 ribu untuk 5 gram salep. Setidaknya kalau Kawan bandingkan dengan harga Gom yang tak sampai 10 ribu rupiah.

3. Enkasari. Ini obat sariawan ‘pemain lama’. Sesuai dengan slogannya, “ terbuat dari bahan-bahan alami”, Enkasari ini bisa dibilang ramuan yang terdiri dari beberapa ekstrak tanaman. Enkasari ini  berisi ekstrak akar kayu manis (Liquiritiae radix), daun saga (Abrus precatorius), dan daun sirih (Piper bettle folia).  Berbeda dengan obat sariawan yang dioleskan, Enkasari dapat ditelan. Selain mengobat sariawan, Enkasari juga memberi efek adem dan mengurangi panas dalam yang sering muncul bersamaan dengan sariawan. Secara ilmiah, Daun Saga dan akar kayu manis terbukti menyembuhkan panas dalam dan meredakan radang (sariawan menyebabkan peradangan di dalam mulut), sementara daun sirih berfungsi sebagai antiseptik.

kotak enkasari obat sariawan
Enkasari

kemasan enkasari obat sariawan


Tuesday, August 8, 2017

Cerita Rumah Pertama Kami

Tulisan ini saya tulisa Oktober tahun 2016 lalu. Saya ikut sertakan dalam sebuah perlombaan.  Alhamdulillah, gak ada kabar apapun saya terima setelahnya.  Jadi ketimbang sia-sia sama sekali, ada baiknya saya upload di blog pribadi. Setidaknya jadi bahan sharing. Setelah mencari pasangan hidup yang susahnya bukan main. Ada banyak hal lain di dunia ini yang juga mudah ditemukan, namun sulit untuk dipaskan. Seperti mencari asisten rumah tangga dan rumah.

Tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya untuk mencari, menemukan, dan akhirnya mendapatkan rumah pertama untuk keluarga kami.

Setelah menikah tahun 2014 silam dan memiliki anak.  Kami memang masih tinggal di rumah kontrakan. Ada keinginan untuk membeli rumah, tapi masih di angan-angan.  Baru pada bulan Maret tahun 2016, saya iseng mencari tahu berapa harga rumah sederhana di pinggir kota Samarinda yang barangkali sanggup kami beli. 

Kami memang tak punya uang cash. KPR adalah cara yang paling mungkin bagi kami untuk memiliki rumah.  Saya mendapati beberapa rumah tipe 36 dan 40 yang terletak pinggir kota,  cicilannya tak sampai dua kali lipat kontrakan kami per bulan. Saya kemudian menghitung-hitung simpanan yang kami punya. Beberapa waktu lalu tabungan kami memang cukup tekuras. Suami baru keluar rumah sakit karena DBD, dan saya baru melahirkan.  Saya mengkalkulasikan dengan simpanan logam mulia dan deposito yang kami miliki.  Setidaknya dengan sedikit tambahan pinjaman uang kepada saudara/keluarga, kami bisa membayar uang muka rumah. 

Saat itu juga, saya langsung mengontak suami. Tak sampai 15 menit, suami langsung mengiyakan dan menargetkan tahun 2016 ini kami bisa membeli rumah.  Namun mencari rumah yang cocok ternyata  tak lebih sulit dari mencari pasangan hidup.  Ada saja kurangnya.  

Rumah pertama yang disurvei suami  adalah rumah take over. Rumah siap huni, perkakas boleh diambil, uang muka terjangkau, cicilan sisa 13 tahun. Sayangnya, penjual lebih suka kalau kami membelinya ‘di bawah tangan’. Artinya kami meneruskan cicilan tanpa ada balik nama. Suami sudah termakan rayuan,  tapi saya bersikukuh harus balik nama dulu. Kebetulan, ipar saya seorang developer local, ketika kami menunjukkan foto rumah tersebut. Ipar saya langsung bilang bahwa rumah tersebut tipe 27 yang dikembangkan menjadi tipe 45.  Entah mengapa pemiliknya tak jujur soal ini. Dan kami langsung mencoret rumah itu dalam daftar wishlist. 

Tak sulit mencari informasi di jaman sekarang. Saya melihat dari satu iklan ke iklan lain lewat internet, Dan karena suami sibuk, sedangkan saya lebih banyak punya waktu luang, maka saya lah yang menghubungi satu per satu agen property. Entah sudah berapa puluh orang yang sudah saya kontak. Entah berapa puluh iklan yang saya dan suami lihat. Dan selalu saja ada yang tidak pas. 

 Di bulan Mei, bahkan saya sempat ngambek. Saya marah, saya capek, sampai ada drama nangis-nangis. Saya bilang pada suami bahwa pada harus ada deadline, dan ada skala prioritas aspek mana yang jadi pertimbangan kami dalam memilih rumah.  Deadline-nya, akhir mei kami sudah menentukan rumah yang mana dan mengajukan proposal kredit ke bank. Paling lambat akhir September kami harus pindah rumah.

Saya lalu menyusun faktor penentu kami membeli rumah : harga, lokasi, akses ke rumah, luas tanah, rumah ready atau rumah indent.  Dan dengan dana terbatas, tentu kami harus menyingkirkan salah satu atau salah dua faktor penentu tersebut.  


Rumah kedua yang kami survey. Harga cocok, luas tanah sempit, akses dan lokasi bagus, namun harus indent.   Awalnya kami setuju mentransfer uang tanda jadi. Namun urung, karena pemiliknya developer lokal, dan tak ada kepastian kapan rumah akan mulai dibangun. 
Rumah ketiga yang kami survey. Rumah ini harga diatas budget, luas tanah sempit, lokasi dan akses bagus.

Lalu rumah ketiga, keempat, dan seterusnya. Ada saja yang kurang. Namun sesuai target, akhir Mei kami (terpaksa) membuat keputusan dan awal Juni kami mulai dari menyiapkan berkas dan survei bank dengan bunga rendah, menyiapkan dokumen pengajuan kredit bank hingga wawancara, yang kesemuanya juga sempat membuat drama dan gonjang ganjing di keluarga kami.  
Awalnya pilihan jatuh pada suatu rumah A dengan kriteria : luas tanah cocok, harga cocok, lokasi dan akses bagus. Pengajuan ke Bank A, kami ditolak karena alasan administrasi. Lalu kami coba bank B, setelah pengajuan berkas dan proses wawancara, KPR tetap belum bisa diproses karena ternyata SHM rumah tersebut belum jadi. Tanahnya masih dalam proses pemecahan.

rumah, rumah kpr, rumah pertama, mencari rumah kpr, pengalaman mencari rumah kpr samarinda, pengajuan kpr, cara pengajuan kpr, rumah di samarinda, rumah sungai kunjang samarinda
Alhamdulillah, rumah pertama kami


Kami mencoba alternative rumah lain, Rumah B. Rumah ini luas tanah cocok, harga cocok, lokasi bagus, namun akses jelek. Pengembang berjanji akan memperbaiki akses jalan ke rumah.  Kami coba ke bank C, lagi-lagi ditolak karena alasan administrasi.  Suami saya bahkan sempat down karena alas an ini.  

Kami lalu mencoba pengajuan rumah B ini ke bank D. Bank ini terkenal dengan proses KPR yang mudah. Kali ini persyaratan property yang tidak memenuhi. Rumah tersebut  terletak di jalan buntu. 
Saya lalu ingat ke rumah kedua yang kami survey.  Iseng-iseng saya coba menghubungi pemiliknya. Bertanya apakah rumah masih tersedia dan negosiasi harga. 

Ternyata rumahnya belum terjual dan pemiliknya setuju mengurangi harga. Sekali lagi kami mencoba. Kalau sampai di Bank D ini pengajuan KPR kami ditolak, mungkin kami harus  mencoba alternative lain. Kami perlu membeli tanah dan membangun rumah, barangkali. 

Singkat cerita, awal Agustus, kami diberitahu pihak bank D bahwa KPR kami disetujui. Karena rumah sudah siap huni,  maka kurang dari dua minggu,  tepat 17 agustus lalu kami sudah pindah ke rumah baru.   Semua sesuai target.  

Alhamdulillah. 

Samarinda, 1 Oktober 2016.

Friday, July 28, 2017

Where Will You Stay ? # 26

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Midtown Samarinda

Meski terseok-seok, tak ada salahnya terus melanjutkan serial where will you stay.
Seperti biasa, ini review pribadi berdasarkan pengalaman pribadi, dan saya gak dibayar.

Memang, meskipun post di blog ini sudah ratusan, dan semua saya tulis setulus hati, tanpa ada copy paste tulisan dari manapun, tapi terus terang saya tak pandai mengelola blog, terutama dalam hal memonetize blog menjadi uang. Tak ada income apa-apa yang pernah saya dapat dari blog. Poor me :D

review kamar midtown hotel samarinda
Kamar- Midtown Hotel Samarinda


interior kamar  midtown hotel samarinda
Kamar- Midtown Hotel Samarinda


Back to the post. Ngapain tinggal di Samarinda, terus nginap di hotel (yang bukan tipikla resort). Ya, gak ada alasan yang lebih masuk akal, selain karena gratis. Hehehe.
Hotel ini masih terbilang baru. So, kamar, lobi, ruang makan, kolam renang, semuanya masih keliatan keren. Midtown Hotel Samarinda ini, bukan hotel budget, tapi berbintang 4 juga bukan.
Sedikit di atas budget, sebab ada kolam renang, meski gak terlalu besar. Kamarnya lebih spacious ketimbang hotel budget, kasur empuk, bantal ada 4, meskipun lantai kamar tidak dilapisi karpet. Wifinya juga kencang.

review kamar mandi midtown hotel samarinda
Kamar Mandi - Midtown Hotel Samarinda

Sunday, July 16, 2017

Morning Routine(s)

Perlukah ritual pagi?. Well, saya adalah morning person. Saya gak bisa begadang, tapi bangun pagi sekali untuk mengerjakan hal-hal yang butuh kerja otak dan konsentrasi. Seperti menulis, belajar, merancang kegiatan, melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, dan sebagainya.

Dulu sekali, sewaktu masih kecil dan tinggal di kampung di Sumatra, kebiasaan bangun subuh ini bermula karena keadaan. Sekitar 4 kali dalam seminggu, listrik padam mulai magrib hingga menjelang jam 11 malam. Jadi otomatis, jika ingin belajar dan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), saya harus menunggu listrik menyala. Karena tidak kuat tidur terlalu malam, maka saya memilih bangun subuh sekali ketika listrik sudah menyala, untuk belajar.

Lama kelamaan, otak saya  seperti otomatis bekerja lebih baik ketika subuh atau dini hari. Berlanjut ke sekolah menengah atas hingga kuliah yang memang perlu memeras otak, kebiasaan belajar subuh dan bukan mala mini tidak pernah hilang.

Untungnya, sebagai muslim, memang gak ada alasan untuk bangun di atas jam 6. Kita punya ritual pagi yakni sholat subuh.  Kebiasaan saya, setelah sholat subuh, saya akan merancang list-to do hari ini dan melakukan berbagai kegiatan produktif.

Dua tahun belakangan, agak mess up, semenjak menikah dan terlebih punya anak. Karena malam anak saya masih suka bangun dan saya masih menyusui, jadi sering masih suka ngantuk. Belum lagi, suami saya berangkat kerja jam 6. Minimal harus memulai buka kunci rumah, nyiapin sarapan, matilkan lampu, dan sholat subuh. Semuanya menyita waktu. Belum kalau pagi, anak saya masih suka rewel dan nangis kalau ditinggal menyiapkan sarapan.

Ketika drama pagi-pagi sudah selesai, biasanya saya akan take a nap dulu, karena masih ngantuk dan kalau dipaksakan malah susah berkonsentrasi.

Anyway, tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat diri, karena saya mau mengembalikan lagi kebiasaan morning routine yang diisi dengan kegiatan produktif dan berpikir lebih banyak. Satu-satunya jalan, ya saya harus bangun lebih pagi. Bangun jam 4 subuh pada tiap hari kerja, target saya untuk Bulan Juli ini.
Tujuannya apa? Sebab saya mau me-maintenance tubuh dan pikiran agar gak tumpul. Bukankah hidup harus adan improvement? Setidaknya dalam hal kualitas.

Wish me luck, guys!  


Samarinda, Juli 2017

Wednesday, July 12, 2017

Dua Mata Pisau Berbelanja Online

Dapatkah Kawan memberikan satu orang kenalan yang akrab dengan dunia internet namun belum pernah sekalipun  berbelanja online? .

Dunia terus berubah, Now, you can buy (almost) anything by online shopping.

Beberapa tahun lalu, berbelanja online terasa cukup menakutkan. Bagaimana kalau saya ditipu? Bagaimana mungkin mentransfer uang ke seseorang yang belum dikneal dan emngharapkan ia dapat mengirimkan barang ke alamat kita?.

Namun lama kelamaan, berbelanja online semakin jamak dilakukan.  
Awalnya terasa sangat menyenangkan, membantu, dan memuaskan.
Tapi kini, saya merasa sudah dalam fase kecanduan. Dua minggu kurir gak datang mengantarkan sesuatu ke rumah, rasanya ada yang hilang. Kalau bosan, jenuh atau saat senggang, saya akan membuka aplikasi belanja online, melihat-lihat dan akhirnya tergoda untuk berbelanja.  

Berbelanja online seolah menjadi candu

Sekarang saya berandai-andai, seandainya saya tidak memiliki akses untuk berbelanja online seperti 10 tahun yang lalu, barangkali saya tidak akan berbelanja sebanyak ini.

belanja online untung atau rugi
Keep Calm and Stop Shopping

Saya mencoba memilah variabel yang menyebabkan saya berbelanja online:
1.       Barangnya tidak dijual di kota tempat tinggal saya
2.       Baragnya ada dijual di sini, tetapi harga di toko online lebih murah
3.       Barangnya ada dijual di sini, tapi di toko online variasinya lebih banyak
4.       Barangkali barangnya ada dijual di sini, tapi saya tidak tahu belinya di toko mana.

Sedangkan dari segi urgensi kebutuhan, sebenarnya barang-barang yang saya beli bukanlah kebutuhan primer. Kalau tak saya beli, saya tak akan mati atau masih dapat saya beli barang substitusinya di sini.
Hanya sejenis: kosmetik, baju, tas, aksesoris elektronik, perlengkapan bayi, dan sebagainya. Barang-barang yang kalau tak saya beli pun, saya masih punya back-up barang serupa dengan manfaat sama.
Masalahnya, tiap minggu saya akan menksrining barang-barang apa saja yang saya ingin dan atau butuhkan.  Saya cari secara online , dan (pasti) dapat saya temukan.  Dengan harga yang tentu saja menggiurkan.  Dan akhirnya godaan berbelanja itu datang lagi.

Sunday, April 16, 2017

Berlayar di Sungai Mahakam, Samarinda



Kalau  Kawan mampir ke Samarinda dan ingin jalan-jalan, atau kalau Kawan di Samarinda, dan ingin jalan-jalan selain ke Mall, barangkali bisa mencoba Kapal Pesut Sungai Mahakam ini.
Info resmi mengenai kapal yang memang dikhususkan untuk pariwisata ini juga sudah banyak beredar di media sosial. 

Jadwal:
Sabtu-Minggu
Pagi  09.00- selesai
Sore 16.00- selesai
Biaya:  25.000/pack.
Rute : 1.  Jembatan Mahkota II
2.  Jembatan Mahakam (Arah ke Big Mall).
Lokasi : Pelabuhan Di Depan Kantor Gubernur Kaltim, Tepian.
Kontak :  081346246210

kapal pesut mahakam samarinda
Kapal Pesur Mahakam, foto diambil dari KlikSamarinda

 And the bad thing, di sini yang resmi dan yang terjadi di lapangan, hampir tidak pernah sama. Awalnya saya ingin mengikuti trip pagi. Pukul Sembilan pagi hari minggu, sudah mandi, berpakaian rapi, dan tak lupa membawa bekal si Amni. Tiba di lokasi, pelabuhannya tutup. Tak ada tanda-tanda kapal akan berangkat (lah wong kapalnya saja nggak ada). 

 Maka saya hubungi kontak person yang  ada di iklan. Pesan saya dibalas. Sore ini ada trip. Maka sebelum pukul 16.00, saya sudah tiba di pelabuhan.  Terlihat banyak orang yang kelihatannya juga akan mengikuti trip.  Kapalnya belum keliatan, tapi pelabuhan nya dibuka. 

Tak ada loket pembelian tiket. Hanya Ada mbak-mbak yang membawa kertas dan pulpen dan dikelilingi beberapa orang.  Saya hampiri, dan benar ternyata, beli tiketnya sama si mbak ini. 

Saya diminta membayar  Rp. 115.000, dengan rincian dua dewasa 50.000 per orang, ditambah balita 15.000. Dan embel-embel penjelasan. Beberapa orang di samping saya langsung membayar tiket seharga 50.000/orang. Saya protes karena di iklan tertulis 25.000/orang. Si Mbak hanya menjawab, sore ini kapal langsung double trip, ke Jembatan Mahkota II dan langsung ke Jembatan Mahakam. 

Thursday, April 6, 2017

Hello World, Vlog Menjadi Trend, dan Blog yang Teralihkan



Hello World.

Bulan April sudah datang.

Frekuensi menulis semakin jarang. Durasi menulis terus terpotong. Inspirasi dan kualitas tulisan tak meningkat. Membaca buku dan tulisan panjang semakin sedikit.
Menengok blog ini juga tak sesering beberapa tahun yang lalu. Pengguna blog tak seramai beberapa tahuan sebelumnya. 

Bumi berputar.  Hampir semua orang punya vlog, Kebanyakan blogger pun sudah beralih menjadi vlogger. 
Perkara kemudahan memperoleh uang lewat youtube memang tak bisa dipungkiri.
Saya juga sempat tergoda membuat vlog ala ibu-ibu muda bersama anak semata wayang saya. Namun selalu tertunda, dan sekarang rencana tinggallah rencana. 

Saya juga salah satu penikmat vlog. Meski belum  pernah membuat vlog. Rasa-rasanya memang lebih mudah memahami sesuatu lewat gambar bergerak dan audio. Vlog jelas membuat ketagihan. 

Namun dibalik kemudahannya, terbesit di hatii saya, apa jadinya kalau semua orang, termasuk berita-berita, beralih ke video.  Haruskah kita meninggalkan komunikasi lewat tulisan?. 

blogging, vlogging, versus, vlogger, blogger, membaca bobo, perpustakaan


Anak-anak langsung dikenalkan video. Remaja belasan tahun yang lahir di akhir 90an dan awal 200an tengah menikmati hingar-bingar media sosial, tak terkecuali video  dan vlog. 

Belakangan, saya sendiri merasa kemampuan saya membaca menurun tajam. Membaca hanya seperti skimming. Membaca sekilas, memahami isi, dan selesai. Saya lupa menikmati tiap kata, kalimat, dan paragraf.

Wednesday, March 8, 2017

Diskonek, Fokus, Produktif, dan Podomoro Teknik



Jujur, pasti banyak dari kita yang ketagihan dengan internet. Entah untuk berselancar, baca berita, belanja online, dan akses sosmed.
Beberapa tahun belakangan, saya merasa waktu produktif saaya semakin tergerus karena keasyikan terhubung dengan internet. Terlebih, saya termasuk orang yang susah untuk menahan diri. Apalagi kalau berkaitan dengan rasa ingin tahu. Padahal terhubung dengan dunia maya sangat memuaskan rasa ingin tahu. Dan seperti lorong waktu, menelusuri dunia maya tak akan ada habisnya.
Entah berapa banyak waktu saya habiskan dalam sehari untuk berinternet. Kebanyakan, apa yang saya lakukan di internet adalah sesuatu yang ‘sia-sia’. Artinya, kalau saya tidak melakukan hal tersebut, sebenarnya hidup saya tetap akan baik-baik saja. Saya gak akan kelaparan, saya gak akan sakit, saya gak akan kehilangan uang, saya pun tetap akan tertidur nyenyak.
Selain waktu yang terbuang banyak, akibat lain yang saya rasakan adalah saya jadi sangat sulit berkonsentrasi penuh pada suatu hal dalam kurun waktu tertentu. I keep to check myphone over and over. Makanya saya merasa saya harus melakukan sesuatu. Target hidup saya gak akan tercapai kalau saya terus begini.
Awalnya saya hanya ingin mencari buku motivasi diri. Saya ke toko buku, dan menemukan satu buku berjudul Fokus karangan Leo Babauta. Sebenarnya buku ini tidak terlalu hebat. Sebuah buku motivasi standard yang tergolong tipis. Tetapi isi buku ini memberi gagasan pada diri saya. Ternyata masalah sulit berkonsentrasi ini banyak dialami manusia kini. Generasi yang sangat gampang terdistraksi (Age of Distraction). Buku ini menyarankan perlunya tidak terhubung internet selama beberapa jam setiap hari. Email yang terus masuk, notifikasi sosmed, stalking, membaca berita, chatting, forum tertentu merupakan sekian pengganggu dalam berkonsentrasi. Akibat banyaknya distraksi-distraksi ini, secara alamiah membuat fokus berkurang, dan waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan menjadi lebih lama.
Maka saya putuskan untuk mengurangi dua hal yang paling banyak menyita waktu saya. Sosmed dan belanja online. Saya uninstall facebook, tokopedia, path, dan instagram. Akun saya masih ada, tapi karena saya gak punya aplikasi lagi, otomatis frekuensi berkunjung ke layanan tersebut berkurang drastis. Saya malas kalau harus buka-buka browser. Kalau sedang ingin berselancar sambil menghibur diri, sekarang saya lebih banyak menghabiskan waktu di twitter dan youtube. Menurut saya, twitter lebih informatif dan waktu yang dibutuhkan untuk ‘melihat-lihat’ relative lebih singkat. Sedangkan untuk mengakses youtube, saya perlu memikirkan kuota internet yang terbatas.  
Alhasil, durasi saya memegang handphone saat ini jauh lebih singkat. Notifikasi di handphone juga jauh berkurang. Paling saya hanya menghabiskan waktu untuk browsing informasi tertentu. Sisanya, saya mencoba lebih banyak membaca buku.  


BUku Focus, Leo Babauta, Podomoro teknik, belajar fokus, fokus dan distraksi, fokus, fokus dan produktif,
Focus- Leo Babauta

Durasi menghabiskan waktu di dunia maya menurun tajam, namun tidak lantas saya menjadi produktif seketika. Ternyata mengembalikan konsentrasi dan fokus pada pekerjaan yang memerlukan kerja otak dengan durasi lama masih sulit saya lakukan. Tidak ada yang instan memang, apalagi kalau menyangkut kebiasaan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...