Saturday, April 30, 2016

Bukalapak VS Tokopedia



Cerita kegagalan saya mecoba bikin usaha setahun yang lalu bisa kawan baca di artikel ini.  Nah jadi sekarang, selain meng update ke media social, saya lebih banyak berjualan di dua marketplace : Tokopedia dan Bukalapak.


Terus terang berjualan menjadi lebih mudah sekaligus lebih sulit karena ada marketplace.  Lebih mudah, pertama karena traffic nya tinggi, jadi gak perlu lagi bikin akun di socmed tertentu, dan mencari follower yang banyak. Kedua, karena saya tidak berinteraksi langsung kepada pembeli, meskipun ada fitur pesan /kotak masuk, tapi untuk transaksi jual beli sendiri pedagang tinggal terima pesanan, kirim, dan uang cair. 

Kenapa  saya malas berinteraksi langsung dengan (calon) pembeli? Yang pernah jualan online pasti pernah ngerasain yang namanya di PHP pembeli. Mulai dari minta diskon, ongkir yang kemahalan, minta dikirim dengan kurir tertentu, sampai minta nomor rekening bank tertentu untuk menghindari biaya transfer antar bank. Setelah capek capek chatting, menghabiskan pulsa kalau pakai sms,  menghitung ongkir dari tiap kurir, eh ujung-ujungnya cuma dapat balasan : “oh klo gitu nanya-nanya dulu aja ya sist”. Weleh…weleh…

Bahkan di marketplace pun, “perihal nanya-nanya dulu ya sist” ini sering terjadi lewat fitur pesan pribadi. Dan berdasarkan pengalaman, hanya  1 pembeli yang melakukan transaksi dari 10 pembeli yang bertanya. 

Di sisi lain, berdagang menjadi lebih sulit. Persaingan sudah berdarah-darah. Harga sudah dijual murah, ternyata ada saja pedagang yang menjual barang lebih murah. Weleh..weleh….

 Belum lagi jumlah reseller dan dropshipper yang bukan main banyaknya. Produk yang dijual harus hebat betul agar bisa muncul di halaman pertama pencarian.   

Belakangan, seorang teman bertanya bagaimana caranya membuka toko di kedua marketplace tersebut.  Pertama-tama, tentu saja menginstall aplikasi tersebut di handphone.  Setahun yang lalu, saya memulai upload foto dan produk lewat PC, ternyata lebih ribet. 

Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman saya berdagang di Bukalapak dan Tokopedia. Dari segi aplikasi,  saya lebih suka Bukalapak : simple, ringan, gak gampang interrupt, dan loadingnya lebih cepat. Di Tokopedia, barangkali saya yang gak pernah meng-update aplikasinya, sehingga loading lama dan sering interrupt. 

cara berjualan di tokopedia
View product di Tokopedia, dan jangan lupa klik Promosi, agar produk kawan bisa ditemukan dan tak harus menunggu hingga lebaran monyet


Soal traffic, saya curiga kedua marketplace ini selain mengandalkan pembeli, juga mengandalkan traffic penjual. Di Tokopedia, ada fiture promosi, dimana pemilik toko bisa mempromosikan satu produk selama satu jam.  Produk yang dipromosikan akan muncul lebih sering dipencarian dan tampil di halaman muka. Fitur promosi ini gratis. Jadi mau tidak mau, pemilik toko harus rajin-rajin berkunjung ke tokopedia tiap beberapa jam sekali untuk terus mempromosikan produknya. 

Sedangkan di Bukalapak, pelapak dapat mem-push produknya, yang fungsinya juga agar produk muncul di halaman muka atau lebih mudah diketemukan pembeli. Pelapak harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli paket push. Atau tiap kali transaksi berhasil, pelapak otomatis akan memperolah satu push gratis yang bisa digunakan kapanpun.
Belakangan, saya juga mengamati di Bukalapak memberi tanda khusus (warna tertentu) bagi pelapak yang sudah tidak login lebih dari 2 minggu. Hal ini tentu membuat ragu  pembeli yang melihat warning tersebut. ‘Jangan-jangan pelapak ini sudah tidak jualan lagi’, begitu mungkin pikiran calon pembeli. Sehingga mau tidak mau, sebagai pelapak tetap harus rajin-rajin login, dan bersama-sama meramaikan traffic marketplace ini.  

Dari segi fitur di aplikasi, tokopedia lebih ‘ribet’, namun juga lebih menguntungkan. Misalnya, setiap pemilik toko bisa memiliki beberapa etalase. Jadi kalau saya mau jual buku dan jual kopi, saya bisa bikin dua etalase. Di Bukalapak, tidak ada system etalase. Jualan produk berbeda, tetap tambil bersama-sama di pajangan produk selama pelapak hanya memiliki satu akun.  

Di Tokopedia, fitur berbagi produk (share) mengizinkan pemilik toko  mentautkan gambar produk dari tokopedia ke  akun instagram atau facebook. Hal ini sangat memudahkan kalau Kawan juga memiliki akun socmed untuk berjualan, dan sangat membantu kalau Kawan berjualan melalui system reseller atau dropshipper. Di Bukalapak, setahu saya, fiture berbagi produk (share) ini hanya mengizinkan pelapak berbagi link produk di bukalapak ke akun media social yang ditautkan. 

Sedangkan dari sisi stok barang, jika saya berjualan di Bukalapak, dan menuliskan bahwa stok barang hanya 1, setelah barang terjual maka otomatis barang tersebut tidak akan tampil lagi di pajangan produk pelapak. Sedangkan di Tokopedia, ketika barang sudah terjual, meskipun saya hanya menuliskan bahwa stok barang cuma 1, barang akan tetap berada di etalase. Inilah sebabnya di Tokopedia saya seringkali menerima pesan dari calon pembeli menanyakan apakah stok barang ready, yang ujung-ujungnya menjadi kasus  ‘nanya-nanya dulu aja ya sist’. Weleh-weleh…
cara berjualan di bukalapak
Mobile aplikasi Bukalapak



Well, begitulah pengalaman dan pengamatan saya selama menjadi pelapak dan pemilik toko (online). Semoga tulisan ini membantu teman-teman semua yang ingin memulai usaha (online). Dan semoga kita semua dijauhkan dari kasus ‘nanya-nanya dulu aja ya sist’.  Weleh…weleh…..

Saturday, April 23, 2016

Pening di Penang dan Singapore

Perjalanan-perjalanan yang saya ceritakan dalam blog ini kebanyakan terlihat gampang, menyenangkan, impulsive, penuh kejadian tak terduga, tapi ujung-ujungnya happy ending. Yes! Im th lucky one, indeed.

Namun Untung dalam cerita Donald Bebek pun pernah mengalami ketidakberuntungan.  Apalagi saya yang bukan bernama untung.

Short trip gateaway saya ke Penang bisa dikatakan sebagai satu bab perjalanan saya yang penuh dengan ketidakberuntungan.

Niat saya ke Penang bermula setelah membaca artikel yang menggambarkan betapa nikmatnya duduk-duduk sambil ngopi di Penang.  Tidak hanya pria, perempuan pun bisa tergoda. Lalu saya tergoda.  Kenapa tak saya coba sendiri ngopi-ngopi cantik di Penang. Tentu lebih nikmat ketimbang hanya membaca dari sebuah tulisan.  

Awal trip sudah dimulai dengan kejadian gak enak. Dua teman membatalkan keberangkatan karena urusan kerjaan. Anggota rombongan tinggal saya dan seorang kawan.  Jadwal penerbangan pun berubah, seharusnya pagi, namun di-reschedule oleh maskapai menjadi sekitar jam 7 malam.

Saya tiba di Penang sudah hampir pukul 10 malam. Keteledoran pertama, salah masuk hostel. Rupanya di Love Lane -sebuah jalan dimana terdapat banyak hostel di Penang- ada dua hostel bernama mirip. Dengan langkah gontai saya dan kawan berjalan menuju hostel yang seharusnya.  Saya kemudian bertemu dengan  dua backpacker cewek dari Indonesia yang juga salah hostel. Namun mereka terbalik. Datang ke hostel yang sudah saya book. Padahal menginap di hostel pertama yang saya datangi.

Setelah check-in, saya keluar cari makan. Ketemu lagi dengan kedua backpacker tadi. Kami berkenalan singkat, lalu janjian besok mau jalan bareng.  Pulang makan, bukannya tidur, saya malah bergundah gulana bersama kawan saya  hingga baru tertidur hampir subuh. Maka janji jalan bareng dengan kenalan baru tersebut tinggal janji (yang sampai saat ini tak pernah lunas). Saya dan keman saya bangun kesiangan. Dan lalu sarapan sambil menyalahkan masing-masing. Kata teman saya, tercoreng sudah nama baik kami sebagai backpacker. Pelajaran pertama: jangan berjanji dengan orang yang baru dikenal.

 Tak punya rencana mau pergi kemana – lah wong tujuan awal Cuma ingin menikmati kopi, saya dan kawan  lalu menyewa sepeda motor. Berbekal brosur wisata gratis, kami menjelajahi beberapa tempat yang menjadi rekomendasi di brosur tersebut. Barangkali salah kami yang terlalu menggampangkan sesuatu. “Ini cuma Penang kawan, Cuma pulau kecil dan gak bakal tersesat”. Maka sepanjang siang itu saya luntang lantung berkeliling lebuh-sebutan jalan dalam bahasa melayu- dan menjelang sore ke Pantai Batu Ferringhi. Menuju pantai ini butuh waktu hampir 1,5 jam berkendara motor. Padahal saya dan kawan hanya berbekal peta dari brosur wisata dan mengikuti petunjuk arah di jalan. 

 Saat pulang, mungkin keberuntungan saya tertinggal di pantai. Saya sudah sampai di jalan utama dan tinggal mencari jalan Love Lane yang lebih cocok disebut gang karena kecil dan terselip. Memang, tadi malam  saya dan kawan yang tak pandai membaca peta ini, juga tak memperhatikan sekitar.  Semacam mengingat gedung atau warung  makan sebagai penanda. Mana pula ada banyak jalan satu arah. Bertanya ke mas-mas ginuk bermata sipit yang kebetulan stop di samping motor saya di lampu merah yang hanya menjawab dengan gelengan kepala. Untung pada putaran kelima kali di Jalan satu arah yang sama, saya melihat sebuah hotel besar. Dan samar-samar saya ingat tadi malam saya melihat gedung serupa saat menikmati nasi goreng di dekat hostel. Syukurlah, saya tak jadi mampir ke kantor polisi untuk bertanya.

fort cornwallis, penang, singapore, backpacker
Foto yang diambil dengan kamera pocket
pantai baru ferringhi, penang, pulau penang
Pantai Batu Ferringhi, Pulau Penang
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...