Friday, February 26, 2016

Another Drama : Baby Blues Syndrom

Emang drama apalagi yang terjadi setelah melahirkan dengan selamat, normal, dan sehat? .

Well, dear all…
this is not the end of the journey.

Saya sudah diperingatkan oleh beberapa teman, sebelum hamil, selama hamil, dan diingatkan lagi setelah melahirkan. Apakah saya mengalami baby blues syndrome? Dan Bagaimana gejala baby blues syndrome yang saya alami?.

Setelah mengalami melahirkan dan punya anak, kalau saya bilang sih, baby blues syndrome itu normal. Normal terjadi pada siapapun wanita normal itu.

Bagaimana tidak? Perpaduan ritme aktifitas sehari-hari yang seketika berubah, lelah mengurus anak, sakit dan kondisi fisik yang belum fit setelah melahirkan, fluktuatif perubahan hormon, belum lagi perubahan fisik yang berkaitan dengan (bagian sensual) tubuh, dan bagi muslim masa nifas berarti tak menjalankan ibadah sholat 5 waktu. Fisik, psikis, mamupun spiritual mengalami perubahan drastis.  Maka siapapun pasti akan shock. 

baby blues, syndrom

Ada gitu yang gak mengalami baby blues sydnrom? Barangkali ada. Mungkin terjadi pada segelintir perempuan, yang dianugrahi Tuhan yang Maha Kuasa perpaduan sempurna: melahirkan lancar, cepat, dan tak merasakan sakit luar biasa, suami yang pengertian dan tahu caranya membantu istri yang baru melahirkan, anak yang tak rewel, tahu dan cakap menangani newborn, kondisi fisik yang tak berubah banyak (tetap cantik dan bohay), dukungan keluarga mau membantu, dan punya waktu luang untuk membantu, asi yang lancar, punya deretan asisten rumah tangga dan baby sitter yang siap melayani. Ditambah mental stabil luar biasa, rajin yoga, meditasi atau sejenisnya yang konon katanya bikin jiwa lebih tenang. Ya, segelintir perempuan yang dianugrahi kesempurnaan(kira-kira) seperti itu.

Saya sendiri mengalami baby blues syndrome kira-kira lebih dari satu minggu. Namun satu minggu pertama adalah yang paling berat.  Perasaan denial, sensitive, dan mood yang naik turun seperti rollercoaster.

Gejalanya? Murung dan suka tiba-tiba nangis, terutama di kamar mandi.  Oh ya, saya bahkan sempat merasa gak sayang sama anak sendiri. Aneh. Karena saya senang sama balita dan anak-anak. Untungnya cuma sekitar 1-2 hari. Setelah si dedek intense menyusu,  perasaan denial itu hilang.
Ajaib. Mungkin juga karena oksitosin yang mengalir seiring dengan proses menyusui itu sendiri.  Rasanya menyenangkan sekali.

Menyusui bisa jadi mekanisme yang sudah diatur Tuhan untuk merancang kedekatan ibu dan anak.
Dan kini saya pun bisa memahami jika ada perempuan yang merasa tak sayang dengan bayinya. Saran saya: kontak fisik. Cinta bagaimanapun harus ditumbuhkan. Satu cara yang paling ampuh, ya kontak fisik. Tak peduli cinta sama anak atau sama pasangan.

 Lalu bagaimana saya menghilangkan baby blues syndrome? Well, saya gak punya tips nya :p. 

Saturday, February 20, 2016

Kangen Kuala Lumpur

Udah lama gak jalan-jalan.

Kenapa?

Barangkali karena prioritas hidup berubah, karena keadaan yang gak mendukung (tahun lalu lagi hamidun, sekarang punya bayi 1 bulan), atau memang karena kesempatan yang belum ada. Somehow, saya tahu fase menjalani hidup dengan jalan-jalan (yang impulsive) sudah terlewati.

Kangen? pastinya. Seperti saya kangen masa kecil, seperti kangen masa-masa puber dan remaja, seperti kangen masa-masa kebebasan mahasiswa. Kangen masa-masa yang telah terlewati. Beberapa atau bahkan banyak manusia memang seperti itu. Ingin cepat-cepat mengakhiri fase tertentu dalam hidup. Dan segera merindukannya ketika telah berakhir.

Dan konon, kalau diperhatikan, hidup itu hanya rentetan fase-fase yang gak ada tombol pause nya.
Dan diantara rasa kangen jalan-jalan itu, belakangan saya kangen berat dengan Kuala Lumpur (KL). Kota ini memang yang paling banyak saya kunjungi. Tentu dengan pengecualian kota yang pernah saya tinggali (Jambi, Jakarta, Yogyakarta). Cap di passport saya paling banyak pass entry masuk Kuala Lumpur.  Lebih dari 10 kali. Belasan kali barangkali. Sampai saya hapal lokasi, toko tertentu, rumah makan, dan beberapa jalan di pusat kota.

kuala lumpur international airport di kuala lumpur malaysia
Bandara KLIA 2- Januari 2015


Memang ada banyak alas an saya mengunjungi Kuala Lumpur. Pertama kali dan selanjutnya berulang hampir tiap bulan karena menemani mendiang ibu berobat. Lalu saya pindah kerja, dan ternyata headquarter kantor saya di Petaling Jaya. Jadi saya beberapa kali bolak balik ke KL. Datang pagi pulang sore. Keliatannya keren? Gak kok, saya cuma membawakan laptop bos yang mau meeting di KL. Pernah juga dua kali saya mengikuti training di KL, dan alasan terakhir saya berkunjung ke KL tentu saja untuk  jalan-jalan.

Namanya traveler kere, saya berani bertaruh, alas an mengunjungi suatu tempat salah satunya  karena tiket pesawat (atau transportasi lainnya) murah. Dan semenjak Airasia beroperasi di Indonesia, tiket pesawat ke KL sering lebih murah ketimbang tiket kereta ke Yogyakarta dan jauh lebih murah ketimbang penerbangan ke daerah timur Indonesia. KL pun sering menjadi prioritas short-trip gateaway.

Emang gak bosan sama KL? Pernah sih saya merasa bosan kalau jarak antar kedatangan saya ke KL berdekatan. Tapi terakhir saya ke KL Januari 2015 lalu, sudah lebih dari setahun. Makanya saya kangen.   Sebenarnya gak ada yang istimewa banget di KL, seperti Bali misalnya. Tapi saya suka ambience-nya. Lebih tenang dan gak se-hectic Jakarta, orang-orangnya gak se-busy dan ‘galak’ kayak orang-orang di Singapor, banyak terdapat mesjid, gampang cari makanan halal, IMHO, kota yang liveable banget diantara kota-kota besar di Kawasan Asia Tenggara. Saking terkesannya, salah satu harapan saya kalau punya kesempatan tinggal di luar negeri, saya berharap bisa tinggal dan mengadu nasib di KL.

berfoto di mesjid jamek kuala lumpur malaysia
Mesjid Jamek- MAret 2014

Saturday, February 13, 2016

A Bless in Early Year

Selalu ada cerita dibalik peristiwa.

Begitupun cerita kedatangan buah hati kami.

Seperti yang sudah saya tuliskan pada posting sebelumnya, perkiraan lahir dari dokter sekitar 25 atau 26 Desember. Setidaknya sebelum tahun berganti.  Harapan saya, si dedek jadi hadiah luar biasa di tahun 2015. Rupanya takdir yang tertulis menggariskan kalau si dedek lahir ke dunia pada tahun selanjutnya. Somehow, sempat ketar ketir. Khawatir, karena semua orang bertanya dan mengkhawatirkan. Ya, saya garis bawahi SEMUA ORANG. Teman, sahabat, keluarga, rekan kerja. Pertanyaan bertubi-tubi dengan nada khawatir tersebut malah membuat ketakutan dan khawatir bertambah-tambah.  

Katanya, terlalu lama di dalam kandungan bisa terjadi pengapuran. Apalagi kalau ketubannya tinggal sedikit. Bisa  membahayakan jabang bayi. Bahkan ada yang mengusulkan untuk segera di Caesar.

Hanya seorang teman yang sudah menjadi ibu dari dua orang anak menenangkan saya: “ Si dedek akan lahir ketika sudah tiba saatnya. Dia akan keluar pada waktunya”.  Dan satu lagi yang terlihat sangat tenang: dokter kandungan tempat saya rutin control. Sebut saja dokter A. Ia meyakinkan air ketuban saya masih banyak, kondisi calon bayi sehat, dengan posisi sudah masuk panggul. “ Sayang kalau harus dioperasi”, begitu kata si dokter.
“Kita tunggu saja, minggu depan kembali (baca: tanggal 6 Januari) kalau belum lahir juga. Jangan lupa gerakan bayi dihitung, harus lebih dari 12 kali dalam sehari”.

Dan seperti banyak peristiwa penting (dan tidak penting) dalam hidup. Ada saja drama yang membumbuinya. Tak terkecuali pada peristiwa sepenting melahirkan seorang manusia ke muka bumi.

 Hari minggu, tanggal 27 Desember, mendadak asma saya kambuh. Terparah selama hamil, bahkan terparah sepanjang tahun 2015. Sesaknya tak bisa diatasi lagi dengan beristirahat dan menggosokkan balsam hangat di sekitar dada. Terpaksa saya menggunakan inhaler, yang paling banyak saya gunakan hanya beberapa kali dalam setahun.  Bahkan kadang tak pernah tersentuh sepanjang tahun.

Senin pagi, nafas saya masih tersengal-sengal, tapi jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Kalau kejadian ini terjadi pada hari biasa, barangkali saya hanya akan beristiraht.  Namun ini adalah hari-hari menjelang melahirkan. Seperti semua perempuan normal, saya menginginkan kelahiran normal.  Asma kambuh tentu bisa menggagalkan planning tersebut.

Maka senin pagi, saya dan suami berangkat ke Samarinda Medika Citra (SMC), rumah sakit berjarak paling dekat dari rumah. Rencananya saya juga  akan melahirkan di rumah sakit yang sama. Jarak dekat, lumayan bagus, dan melayai pasien BPJS.

Pagi itu saya control ke poli kandungan. Adalah dokter B yang menjadi dokter kandungan stand by setiap hari di SMC. Niat awal, saya hanya ingin mengobati asma yang kambuh. Begitu masuk ruang periksa, saya di USG sepersekian detik.

“Sudah lewat waktu, kita induksi saja”, kata si dokter masih menuliskan sesuatu di catatan rekam medis. Dengan tak menatap wajah dengan pasiennya sama sekali, saya keluar ruangan dengan membawa selembar surat perintah rawat inap dan instruksi untuk menghubungi bagian administrasi untuk mencari kamar.
Kebingungan, tentu saja. Diinduksi sakitnya luar biasa, kata orang-orang. Maka, saya dan suami menelpon kesana kemari meminta pendapat keluarga, Semua orang panik, bertanya kenapa harus diinduksi. Semua orang menyarankan jangan sampai diinduksi.

Begitulah, akhirnya saya memutuskan pulang, lalu tidur siang dengan nyenyak. Sampai saya mendapatkan telepon.  “Ibu Rika dimana sekarang?.” Seseorang berbicara di seberang sana. Sepertinya seorang juru rawat. Saya beralasan saya pulang ke rumah sementara menunggu keluarga datang dari luar kota. “Baik ibu, nanti kalau sudah siap, langsung ke rumah sakit dan masuk kamar ya. Kamarnya sudah siap”.