Tuesday, November 24, 2015

Cheating During Pregnancy

Seumur hidup, apa yang paling sulit saya kalahkan? Selain rasa malas, saya paling  nggak tahan dengan yang namanya rasa penasaran.

Dan hamil, yang berarti secara hormonal memang tidak stabil. Maka penyakit malas dan penasaran makin menjadi-jadi.

Kalau banyak kawan-kawan yang pernah hamil mengeluhkan nafsu makan tak terbatas, dan berat badan yang meningkat tajam.   Mqka apa yang terjadi pada saya bisa dibilang anomali. Hingga menginjak minggu ke-36, berat badan saya hanya nambah 7 kg, itu pun proporsi terbesarnya tentu di perut. Tanpa melihat perut saya, orang tak akan mengira kalau saya hamil. Pernah sih ngidam pengen makan makanan A atau makanan B, tapi cukup sekali mencicipi, dan saya sudah puas. Paling nah terasa agak signifikan saya jadi demen makan dan minum yang manis-manis.

cheating during pregnancy


Nah buat mengontrol, saya berusaha ngemil sehat dengan makan buah-buahan saja. Kebetulan selama hamil ini, memang saya tergila-gila makan buah. Buah apapun jadi demen.

Kembali ke rasa penasaran tadi, dari berbagai literatur dan omong-omongan orang, saya menyimpulkan ada beberapa makanan yang gak boleh dimakan: tape, kambing, sate (atau produk bakar-bakaran), lele, kopi, nanas, dan durian.

Dan setelah melewati 36 minggu (penuh dengan drama, mual, dan muntah-muntah), saya cheating hampir di semua makanan yang saya sebutkan tadi. Tape ubi saya makan saat beli es doger (kan mubazir kalau gak dimakan).  Lele pernah makan dua kali, di awal kehamilan dan kemarin di trimester 3. Nanas, saya makan  sedikit saat beli rujak (lagi-lagi karena sayang mubazir), Kambing saya makan dalam bentuk gulai, yang memang enak banget di  warung milik orang Madura gak jauh dari rumah. Padahal sebelum hamil, saya gak terlalu doyan makan kambing. Tapi selama hamil, sering banget kepikiran gulai kambing sebagai menu makan malam. Lalu sate dan ikan bakar, juga pernah beberapa kali saya coba selama hamil.  Setelah makan tentu ada rasa bersalah. Namun mau bagaimana lagi, rasa penasaran memang sulit untuk dibunuh. Durian saya berani makan dalam bentuk selai durian asli.

Last but not least, yang temptation nya yang paling gede adalah kopi. Saya memang bukan penikmat kopi pekat. Nescafe latte atau cappuccino sebenarnya sudah cukup. Di trimester 1 dan trimester 2, saya masih kuat menahan godaan gak minum kopi. Paling kalau malam minggu, saya dan suami nongkrong di Warung Kopi, saya yang Cuma pesan teh susu, akan terus-terusan memandang penuh binar pada kopi susu milik suami. Yang biasanya saya akhiri dengan mencicipi beberapa sendok.

Pernah sekali ngidam ke Starbucks, dengan pertimbangan sayang dedek di dalam perut, saya cuma pesan Matcha Ice, yang rasanya gak jauh beda dengan matcha dalam kemasan botol yang banyak dijual di toko-toko retail (saya lupa mereknya apa).

Dan akhirnya di trimester 3, pertahanan bobol juga. Saya nekat beli latte, cappucina, atau kopi susu dalam kemasan. Duh pada saat itu rasanya nikmat banget minumannya.

Sunday, November 22, 2015

Pembayaran Mudah Saat Belanja Online *

Tahun 2015 saya mulai dengan pindah domisili, dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Hal pertama yang saya rasakan begitu pindah ke Pulau Kalimantan adalah harga sandang yang mahal. Pun tak banyak pilihan yang bisa dijadikan opsi.

Jadilah setahun belakangan, meminjam istilah seorang teman, saya jadi ratu belanja online. Mulai dari sepatu, tas, seprai, jilbab, dan terutama baju saya beli online. Pilihan banyak, harga pun lebih murah. Apalagi belakangan  persaingan e-commerce fashion semakin ketat. Kalau sudah begitu, berarti promo-promo dan voucher diskon semakin banyak bertebaran.

Bulan April lalu, alhamdulillah saya positif hamil. Dan sekarang sudah mau masuk 36 minggu.  Selain persiapan fisik dan mental, tentu harus pula bersiap-siap peralatan perang buat si Laut. 

Awalnya sih kepikiran belanja di toko bayi paling nge-hits di kota ini. Namun biarpun paling nge-hits, sewaktu kunjungan pertama, saya agak kecewa.  Pasalnya, harga barang-barangnya berbeda dan tentu saja lebih mahal dari survey harga di internet. Wajar sih, karena bagaimanapun harus diperhitungkan juga biaya distribusi dari Pulau Jawa.

Sebagai emak-emak cerdas (dan perhitungan), setelah mengkalkulasikan lebih lanjut, saya akhirnya memutuskan untuk belanja online.

Pertama, karena barang yang saya butuhkan cukup banyak. Saya hanya butuh sekali belnaja online di e-cpmmerce nge-hits. Barang-barangnya lengkap, pun variasi motif lebih beragam. Kedua, gak perlu capek-capek lagi ke sana kemari. Hamil membuat saya mager alias malas gerak. Cukup duduk manis di depan laptop.  Ketiga, tentu lebih hemat, apalagi memanfaatkan promo, diskon, penukaran  poin provider tertentu, dan sebagainya.

Sebagai emak-emak yang cerdas (dan perhitungan), dan malas gerak, tentu saja saya memilih pembayaran yang gak perlu repot-repot  ke ATM untuk transfer. Secara garis besar sih ada dua opsi. Pakai kartu kredit atau pakai kartu debit. Masalahnya, kalau pengen kontrolnya leboh bagus dan gak lupa diri, jangan keseringan menggunakan kartu kredit. Opsi lain, menggunakan kartu debit. Nah kalau yang ini lebih terkontrol, karena uang akan langsung terdebit dari tabungan.  Selama ini sih untuk kemudahan transaksi saya kerap menggunakan internet banking atau SMS Banking.

Baru tahu, padahal transaksi model ini sudah lama berlangsung, ada cara bertransaksi menggunakan kartu debit dengan lebih aman. Namanya Kartu Debit Online. Awalnya, saya agak terkecoh. Saya pikir layanan ini  sama dengan internet banking dan SMS banking. Eh ternyata, menggunakan layanan kartu debit online bisa dikatakan lebih ama. Pengguna gak perlu masuk ke akun internet bankingnya. Atau kalau gak punya akun internet banking pun sebenarnya gak apa-apa. Yang perlu di aktivasi hanya layanan SMS banking atau pendaftaran nomor telepon selular nasabah.

Saya sendiri sudah lama menggunakan BNI SMS Banking. Dua hal pokok transasksi untuk SMS Banking adalah transfer uang, cek saldo, dan isi ulang pulsa. Kebetulan, saya ada usaha sampingan jual beli tiket. Nah sebagai agen tiket, saya gak deposit uang. Kalau ada transaksi baru saya transfer uang ke agen travel saya. Kalau pesanan tiket lagi banyak, sehari bisa transfer berkali-kali.  Thanks God layanan BNI SMS Banking ini sangat membantu.

Nah belakangan, transaksi Kartu Debit Online ini memang lagi nge-hits. Malah sering merchant-merchant online memberikan promo atau diskon khusus transaksi Debit Online, yang tentu saja tidak boleh dilewatkan.  Again, sebagai emak-emak harus cerdas (dan perhitungan).

Cara kerja Debit Online ini hampir mirip dengan Kartu Kredit. Setelah berbelanja online, dan akan mengkonfirmasi pembayaran, untuk transaksi BNI Debit Online (BDO) pilih fitur pembayaran menggunakan Mastercard.  Setelah mengetahui jumlah total yang harus saya bayar, maka saya cukup mengetik REQ VCN (nominal). Misalnya total belanjaan dan ongkos kirim sejumlah 105.000 IDR, cukup ketik REQ VCN 105.000 lalu kirim ke 3346 (BNI SMS Banking). Setelahnya akan ada konfirmasi perintah memasukkan PIN.  Cara kerja ini persis sama dengan transaksi SMS banking.

Lalu saya akan mendapatkan VCN (Virtual Card Number) sejumlah 16 digit, disertai valid thru (bulan/tahun), serta 3 digit nomor CVC. Data ini persis dengan data yang harus dimasukkan saat Kawan menggunakan Kartu Kredit. Bedanya VCN hanya berlaku satu jam. Sehingga transaksi lebih aman.  Dan tentu saja memudahkan Kawan yang gak punya kartu kredit, namun ingin bertansaksi via Mastercard.

pengisian visual card number untuk transaksi BNI Debit online
Cara pengisian VCN untuk transaksi BNI Debit Online

Oh ya, jangan khawatir, ketika VCN dikirimkan ke ponsel, pembayaran tentu saja belum terdebit. Pembayaran hanya akan terdebit di tabungan ketika VCN sudah dimasukkan ke pembayaran E-Commerce eyang dimaksud, dan transaksi dinyatakan sukses. 

Jadi, mari jadi emak-emak cerdas (dan perhitungan) dengan berbelanja online :D

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blogging BNI Debit Online

Tuesday, November 17, 2015

Sebuah Usaha Pertama yang Gagal

Jadi, sekitar awal tahun 2015 lalu, saya berniat menjalankan usaha yang agak serius. Means ada bangunan atau toko offline nya.   Akhirnya setelah ngobrol-ngobrol dengan seorang teman, dan melihat kenyataan bahwa hanya ada satu toko buku di sini, dengan harga yang kalau dibandingkan harga di toko yang sama di Jakarta bedanya berkisar 10 rb- 30 rb.  Maka terbesitlah ide membuat toko buku online (yang harapannya bisa saya intergrasikan dengan cafĂ©)  offline.

Rencana awal yang indah. Memang.

Barangkali, saya terlalu terpesona oleh konsep-konsep bisnis yang banyak diusung anak muda kini. Saya hanya melihat bagian luar, bahwa tiap bisnis yang berhasil, harus punya konsep yang unik. Saya lupa memikirkan bahwa ada sekian banyak angka yang harus dikalkulasikan agar bisnis tersebut terus berjalan dan meraup untung.

Saya melihat bisnis toko buku di kota ini sebagai ceruk (niche). Mulailah saya memikirkan nama, tagline, tujuan, visi dan misi usaha yang hendak saya geluti. Namun saya lupa menganalisis hal yang tak kalah penting dalam bisnis:  supply chain, BEP, dan hal-hal yang berbau angka.  Kelupaan saya memikirkan hal-hal terakhir ini yang juga barangkali menjadi barrier kenapa tak ada pemain bisnis buku di kota ini.
Setelah membuat logo, bikin berbagai akun di socmed, dan sempat berencana  membuat website resmi (yang domainnya sudah saya beli, namun hingga kini terbengkalai).  Mengapa tak saya selesaikan website nya? Belakangan setelah saya cermati, membuat website untuk toko online artinya jangkauan pasar saya menjadi lebih luas, hingga ke seluruh Indonesia.  Namun artinya saya juga harus bersaing dengan toko buku online lainnya yang lebih professional, koleksi bukunya lebih lengkap, atau telah bekerja sama dengan penerbit-penerbit dalam memasarkan buku (biasanya akan tertulis keterangan ‘Stok di gudang penerbit’) dan menawarkan begitu banyak diskon.  Saya akan kalah soal harga dan ongkos kirim, karena domisili saya di Kalimantan Timur.

Baiklah, kalau misalnya saya fokus ke pelanggan yang ada di Pulau Kalimantan. Rasa-rasanya dalam beberapa bulan menjalani usaha ini, saya tak melihat gejala antusiasme besar dengan jumlah customer banyak.  Siapa yang mau menghabiskan uang banyak untuk beberapa lembar buku ?. Saya sendiri sebagai penyuka kegiatan membaca, masih mempertimbangkan berkali-kali apabila harga buku yang ingin dibeli lebih mahal dari pakaian yang saya pakai.

Hingga kini, pembeli buku-buku saya  justru lebih banyak dari luar Kalimantan, terutama Pulau Jawa dan Sulawesi. Pernah juga sekali waktu saya mengirimkan buku hingga Pulau Sumatra, yang mana harga bukunya hampir sama dengan ongkos kirim.

Lalu seiring berjalannya waktu, saya kembali menemukan masalah. Cukup besar dan tak terpecahkan. Yap, masalah stok buku. Bisa saja saya kulakan buku bekas dengan harga murah dari pedagang buku di Blok M atau Senen. Ya, pernah sekali waktu saya lakukan. Ternyata yang jadi masalah adalah ongkos kirim. Karena kiriman barang tersebut masih kategori eceran (dibawah 50 kg), maka saya hanya punya pilihan kurir pengiriman JNE, Tiki, Wahana, atau Pos. Dan diakali bagaimanapun ongkosnya tetap terhitung mahal.

Begitulah that was my failed start up. Walaupun sebenarnya gak gagal-gagal amat. Cuma memang poinnya bukan pada keuntungan. Saya menganggap usaha yang pertama ini adalah bisnis berbasis hobi.  Saya akan tetap jualan buku, namun saya membeli buku bukan untuk niat berjualan.  Tinggal di Kalimantan membuat hobi saya membaca buku seakan terhambat. Harga buku-buku baru lebih mahal (dan tidak lengkap), tak ada pameran buku seheboh yang biasa saya datangi di Istora Senayan, dan tak ada surga kulakan buku bekas seperti di Blok M.  Jadinya sekarang  saya beli buku yang saya inginkan (bukan yang customer inginkan), dan saya jual buku yang ingin saya jual. Saya dapatkan dua kepuasan. Pertama, puas membaca buku. Dan setelah jadi pedagang jadi-jadian begini, saya merasa ada kepuasan kalau bisa jualan barang. Pun uang masih bisa diputar dan dibelikan buku lagi.

Sampai detik ini pun saya masih bertransaksi jual beli buku. Masih berpromosi di media sosial, dan belakangan saya lebih nyaman bertransaksi di bukalapak.com.  Gak riweh, gak mengalami tanya jawab dengan customer cerewet banget, habis pulsa kalau nanya nya via SMS, nawar gak karuan (padahal harga buku bekas juga under 50K), minta rekening bank tertentu (padahal buat transaksi online saya cuma satu akun rekening), capek menghitung ongkos kirim, dan (sering)  ujung-ujungnya batal belanja.

berjualan online lewat toko buku online
Hasil jerih payah yang tidak seberapa

Begitulah cerita kegagalan yang saya rasa harus saya bagikan.  Mudah-mudahan lain kali saya bisa bercerita dan berbagi soal kesuksesan usaha saya.

Oke, mari merancang bisnis (yang lebih baik) di tahun depan.

Wish  me luck!


Samarinda, November 2015 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...