Tentang Saya dan Kontak

Thursday, October 22, 2015

Short of Review

Oktober sudah hampir berakhir.  Akhir tahun selalu membangkitkan ide untuk mereview lagi apa yang terjadi satu tahun ini pada diri sendiri.

Waktu yang bergerak lambat, saya bahkan masih sering tak sadar menulis bahwa tahun ini adalah tahun 2014. Waktu juga bergerak tak terasa. Tiba-tiba November sudah di depan mata.

Melihat kembali 10 bulan belakangan, rasanya hanya membangkitkan rasa malu dan minder. Boleh jadi tahun ini adalah tahun bermalas-malasan untuk saya. Hampir gak ada hal produktif yang terjadi pada saya tahun ini, selain memproduksi anak (dan alhamdulillah berhasil).

Namun apapun yang terjadi dalam hidup, bukankah tetap harus disyukuri ? Saya menganggap tahun ini adalah bonus.

Bonus untuk lebih menikmati pengalaman kehamilan pertama, menikmati satu tahun pertama pernikahan yang masih (dan semoga selalu) dibuncahi rasa cinta dan sayang. Yang tiap harinya masih (dan semoga selalu) terasa indah.

Bangun pagi dengan kepala dipenuhi produksi hormon oksitosin. Another life’s experience, another  joyfull of life.

Sampai saya rasanya sudah tak menginginkan apa-apa lagi. Karena begini saja sudah bahagia. Sampai saya tiba pada satu kesimpulan, ya ternyata bahagia itu sederhana saja.  

Dan jika sudah bahagia, lalu apa ?. Berhubung hidup bukanlah sebuah garis lurus, maka setiap manusia dikaruniai rasa was-was dan khawatir.  Ada grafik yang tentu saja naik turun. Maka harus ada persiapan untuk menghadapi naik turun grafik  kehidupan.

Keteguhan hati kan tidak datang semata-mata dari zona aman.  Makanya saya harus mempersiapkan planning untuk tahun 2016. Kalau kata dokter kandungan saya, ibarat mau berangkat menuju petualangan baru, maka harus ada persiapan sebaik mungkin. Mental, do’a, kesehatan, serta perbekalan dan peralatan yang kira-kira dibutuhkan.

Yap, mari mempersiapkan diri untuk resolusi di tahun 2016!

Dan jangan lupa untuk berbahagia J


Samarinda, Oktober 2015 . 

Tuesday, October 13, 2015

A Note To First Anniversary of Wedding

Gak kerasa sudah tahun berlalu.

Iyalah, siapa sih yang bisa merasakan waktu.  

Saya malah lebih suka menyebutnya sebagai  ‘menjalani waktu’.

Kalau ada yang nanya, nikah itu enak gak?

Subjectively, I said better to be single. Yap, kalau bicara soal enaknya menjalani hidup yak.  Sebab menikah berarti juga menambah kewajiban. Siapa sih orang di dunia ini yang senang kewajibannya ditambah? Bagi orang yang orientasi hidupnya hanya seputar bagaimana memperoleh kesenangan dan kenyamanan, marrieage its not an easy way. Not at all.

Misalnya setahun belakangan  as a wife, maka semua keputusan, tindakan, omongan, kegiatan,  sampai ke perbuatan-perbuatan kecil harus memikirkan dan mempertimbangkan suami dan keluarga.

Tapi perlu dipahami, bahwa enak dan indah itu adalah dua hal yang tidak selalu berkorelasi positif.

Setahun belakangan, hampir setiap pagi bangun dengan oksitosin yang membuncah terus. Barangkali karena masih newly weds ya, tapi saya berdoa semoga seterusnya otak akan dipenuhi oksitosin pada orang yang sama. Bukankah oksitosin membuat segala sesuatu di dunia ini terasa indah?

Lalu, apa-apa yang jadi pertimbangan, menjadi keputusan bersama, dan dijalani bersama, terasa meaningful. Saya punya harapan untuk terus bertahan dan berjuang. Malah sekarang lebih hati-hati terhadap diri dan keluarga, menjaga kesehatan dan meminimalisir resiko-resiko lainnya. Ya, seperti yang saya bilang, jadi lebih banyak memikirkan orang lain ketimbang diri sendiri.

Terus yang jadi the best part of marriage, menurut saya, sekarang saya sudah tidak tidur  sendirian lagi (literally). Gak ngerasa sepi lagi (yes, I hate loneliness!).  Walaupun kadang pas tidur lagi berantem, but It much better than to be alone.

Well, marriage not make everything easier, but it makes everything possible and meaningful.


9 Oktober 2014- 9 Oktober 2015
satu setengah tahun yang lalu saat bertunangan