Thursday, September 17, 2015

Nasib dan Asumsi

Jika kawan sering membaca cerita Abu Nawas, cerita-cerita jenaka nan satir dari Nasruddin ini bernuansa hampir sama. Seperti pula Abu Nawas, tak ada yang tahu siapa sebenarnya Nasruddin Hoja.

Namun Abu Nawas dan Nasruddin jelas dua orang yang berbeda. Abu Nawas berlatar belakang penyair, sedangkan Nasruddin diyakini adalah seorang mullah/guru/ulama bermazhab Imam Hanafi yang berasal dari Turki.

Saya sendiri mulai mengenal cerita-cerita Nasruddin sejak SMP secara tidak sengaja. Cerita Nasruddin cukup mudah dinalar, namun tetap mengandung humor yang dalam.

 Kemarin, karena sudah kehabisan buku bacaan di rumah, iseng saya mampir ke perpustakaan daerah.  Di sinilah saya menemukan sebuah buku lama berisi kumpulan cerita Nasruddin Hoja yang lumayan lengkap. 

 Meski sudah lama tak membacanya, cerita-cerita Nasruddin tetap memukau. Selera satirnya tak ada yang bisa mengalahkan.
Ada satu cerita dalam buku tersebut, mengenai seseorang yang bertanya apa sesungguhnya nasib, dan Nasruddin menjawab dengan sangat ‘mengena’. 

“Nasib adalah asumsi-asumsi. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan dengan baik, tetapi kenyatannya tidak begitu. Itulah yang disebut nasib buruk. Sekarang, kau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi ternyata tidak terjadi. Itu nasib baik namanya.
Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi. Dan engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi. Engkau punya asumsi bahwa masa depan itu tidak bisa ditebak, ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib. “ (Nasruddin Hoja)

Begitulah, seringkali kita mengkotak-kotakkan nasib itu sendiri. Apa yang disebut nasib baik, apa yang disebut nasib buruk, hanya dari satu sudut pandang saja, dan lebih parah lagi, kita kerap menggantungkan hidup pada nasib itu sendiri, dan malah berhenti memperjuangkannya.

buku cerita jenaka nasrudin hoja

Thursday, September 10, 2015

Menatap Birunya Langit

Ketika masih muda, kita pasti pernah mendongak ke atas, menatap langit dan lalu menerka-nerka seberapa banyak misteri yang ada di dunia. menerka-nerka akankah kita mampu menaklukan dunia. bertanya-tanya  kapankah tiba saat untuk menaklukan dunia.

Perlahan menerobos kehidupan. Ada kalanya kegagalan datang, mimpi hancur, dan mata hanya bisa terkulai menatap ke bawah. Menatap tanah, tempat dimana manusia akan kembali, tempat dimana jasad hanya akan jadi santapan belatung.

Dan adalah dunia dengan fatamorgananya yang menyilaukan, memaksa manusia untuk terus memandang ke depan, terpukau, dan melupakan dunia di atas maupun di bawahnya. jangankan untuk menatap dan merenungi, bahkan mengingatpun rasanya tak sudi.

Apa yang dapat ditawarkan dunia saat ini ? , yang terselimuti kebohongan, yang terkamuflase kenyamanan semu, dan akhirnya memaksa manusia menyesal di ujung hidupnya.

Saya hanya takut kelak akan menjadi manusia seperti itu
lupa akan langit, lupa akan tanah.

Saya tak ingin suatu saat saya lupa,
Ketika kecil saya terkonyol-konyol menghitung bintang
Saya terbayang-banyang pangeran yang hidup di bulan.
Tersepoi-sepoi angin laut yang membawakan senja keemasan di setiap sore pada masa kecil saya
Hujan yang turun saya tatap dengan mulut ternganga bagai melihat sirkus.
Rintik-rintik hujan yang selalu berusaha saya genggam
Angin subuh yang selalu membawakn harum susu hangat dari dapur ibu
dan segala bayang-bayang yang dihadirkan semesta untuk saya.

Saat itu saya ingin cepat-cepat dewasa
menikmati keindahan dunia, dan menyibak semua sensasi indah
menyibak seberapa banyak bintang
seberapa luas lautan
seberapa hebat angin pagi
seberapa banyak rintik hujan yang akan turun

Rupanya,
Ketika telah dewasa
Langit  saya lupakan
Senja selalu terlewatkan di tengah keramaian
Bintang tak lagi saya hiraukan
Hujan pun hanya merepotkan

Saya tak lagi menghiraukan hidup yang ingin saya ungkap
Menjadi dewasa terkadang amat menakutkan
bersikap egois dan memperebutkan... bukan mainan lagi, bukan rintik hujan lagi, bukan susu buatan ibu, bukan kasih sayang kakak, bukan pelukan hangat ayah.
Tapi hal-hal semu yang jauh lebih merepotkan :
pasangan
kedudukan
uang
pamor
nilai ujian
pekerjaan
jabatan
menatap birunya langit di pantai depok




Yogyakarta. 2 Juli 2008
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...