Monday, February 16, 2015

Takaran Ketakutan untuk Sebuah Perubahan

Meninggalkan pekerjaan dan karir yang sudah empat tahun saya jalani. Pindah ke sebuah pulau yang belum tentu saya akan mendapatkan pekerjaan sebaik di Jakarta. Tinggal di kota yang kemewahan fasilitasnya tentu tak sebaik ibukota negara. Memulai kehidupan sosial yang baru. Mencari lagi teman-teman yang cocok. Tak punya saudara dan sanak keluarga. Semata-mata untuk mengikuti suami. Bagaimana jika pernikahan saya yang baru 3 bulan ini tak berjalan mulus? Bagaimana kalau ternyata nanti saya tidak bahagia dan merindukan kebebasan dan karir saya?

Jejeran rangkaian pertanyaan dan pernyataan tersebut menanamkan rasa takut pada saya.

Saya akan hidup bersama dengan orang yang saya sayangi dalam susah dan senang. Memiliki anak-anak yang lucu. Tak lagi tidur sendirian. Punya kebahagiaan dalam berkeluarga. Memulai pekerjaan baru. Mengenal orang-orang baru. Mengenal pulau lain di Indonesia. Punya tujuan hidup yang lebih spesifik dan dalam jangka panjang. Mengejar mimpi saya yang lain, seperti mulai menulis buku dan merintis usaha. Tinggal di kota dimana sore hari saya masih bisa jalan-jalan keliling naik motor dan tidak terjebak macet.

Jejeran rangkaian fakta dan harapan menggairahkan untuk orang yang selama empat tahun terjebak dengan rutinitas pekerjaan.

Perasaan yang campur aduk. Begitulah saya memulai tahun 2015 ini. Memiliki dan memulai dengan segala sesuatu yang baru dalam hidup saya. Tempat tinggal, kota tinggal, teman tidur, rutinitas, lingkungan sosial, bahasa, kendaraan, bahkan hingga seprai pun baru. Ada Bahagia. Ada ketakutan. 

Namun bukankah ketakutan adalah satu-satunya hal yang membawa manusia untuk bertahan hidup?. Takut kelaparan,  maka manusia berjuang menukar waktu dengan segala cara untuk mendapatkan uang. Manusia berdoa dan beribadah, karena takut akan siksa neraka dan kehidupan setelah mati. Lalu serangkaian usaha mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi adalah usaha-usaha untuk menghindari kesengsaraan, penderitaan, dan kematian yang mengintai persepsi manusia pada umumnya.

Ketakutan-ketakutan membawa manusia bertahan hidup dari hari ke hari.

Dan meski begitu, ketakutan harus ditakar dalam kadar tertentu. Ia ibarat tuas, ketakutan adalah faktor yang akan mengaktifkan keberanian. Keberanian untuk menghadapi hidup, membuat pilihan, menjalani pilihan itu, dan  menghadapi segala kemungkinan yang datang selanjutnya.

Beberapa bulan terakhir saya menjalani hal tersebut. Memutuskan sesuatu dan kemudian berhadapan dengan ketakutan. Untungnya, waktu memiliki kekuatan yang sekaligus menjadi kelemahannya,  waktu tidak akan pernah bisa diputar kembali.  Bayangkan ada berapa juta keputusan kecil hingga keputusan besar yang batal diputuskan jika waktu bisa diputar kembali?. Maka apapun konsekuensi dan rintangan yang menerpa, tak mungkin berbalik arah. Hanya ada satu kata: Terus Hadapi!

Ketakutan sekaligus  keberanian.  Mengerikan sekaligus menggairahkan. Kerap manusia berhadapan pada banyal hal dikotomi di dunia ini Dan perubahan besar dalam kehidupan adalah satu hal yang menakutkan sekaligus menggairahkan hidup.  Sekali lagi, pandai-pandai lah menakar dua hal dikotomi tersebut.  Sedikit ketakutan membawa kehati-hatian, banyak kegairahan membawa semangat, kerja keras, insting yang terpancing, dan segala prilakua aktual yang dijalani manusia.

Sebulan telah berlalu sejak segala sesuatu masuk dalam hidup saya

Saya masih bernafas. Saya masih bisa tertawa. Berat badan terus naik. Masih berpikir waras. Masih tidur nyenyak. Masih bisa merancang rencana.  Dan terus menata hidup ke arah jarum normal.

Ketakutan itu masih ada. Namun saya terus berusaha belajar menakar ketakutan dan kegairahan dalam komposisi yang pas. Belajar banyak hal baru dalam kegairahan. Takut pada hal-hal baru dalam kehati-hatian. Dan terus memandang perubahan-perubahan yang terjadi sebagai sebuah petualangan hidup.


Yap! sebab hidup bergulir dari serangkaian perubahan-perubahan yang terus  terjadi tanpa bisa dihentikan. 
perubahan dan rasa takut pada kehidupan setelah menikah


Thursday, February 12, 2015

(On My Way) Getting A Better Life

As usual, saya mengalami cultrual shock, disorientasi tempat, sementara menjadi full time houswife. Mengalami disorientasi diri, penyesuain kebiasaan-kebiasaan lagi, dan sebagainya.

Life maybe isn’t easy anyway. Hidup bukan deretan tangga yang terus menerus naik ke atas. Tak pernah ada yang mengibaratkan hidup seperti itu. Semua orang bilang hidup layaknya roda yang berputar. There’s up and down.

Saya tak mau melewati ini dengan sia-sia belaka, dan lalu mengalami penurunan kualitas hidup, kualitas diri saya sendiri.

Menikah bukan berarti menjadi orang yang menurun kualitas dirinya. Menikah berarti memiliki hidup dengan kualitas yang lebih baik.

Sekarang saya sudah melepaskan pekerjaan saya, mungkin lebih dari pada itu saya telah menghancurkan dan melepaskan karir bagus saya dengan sendirinya. Saya lebih memilih keluarga, dan ya saya harus siap dengan segala konsekuensinya. Saya harus mendapat imbalan dan kompensasi lebih baik di sisi hidup saya yang lain. Saya tidak ingin pengorbanan saya sia-sia.

Begitulah, harapan saya, saya bisa melewati ini dengan baik lalu keluar sebagai pemenang.


Semoga.

Thursday, February 5, 2015

Memilih Penginapan yang Sesuai

Tak terasa Serial Where Will You Stay? Sudah sampai pada seri ke 20. Saya pribadi tak ada tujuan spesifik menuliskan serial ini. Sekedar berbagi informasi dan tentu saja dokumentasi ini memudahkan saya mengingat kebali tempat-tempat yang pernah saya kunjungi.

Tak bisa saya elakkan, karena sering menginap di hotel, mau tidak mau menjadikan saya pemerhati hotel kelas amatir.

 Hotel  dalam definisi luas ternyata dikotak-kotakkan lagi menjadi berbagai macam tipe.  Kawan dapat melihat dari embel-embel belakang nama penginapan tersebut: hotel resort and spa, budget hotel, hostel, guest house dan sebagainya.

Maka sampailah saya pada penelusuruan embel-embel nama belakang tersebut.  Saya memang sulit mengendalikan curiosity diri sendiri.

Rupanya tiap tipe penginapan menunjukkan spesifikasi yang berbeda. Mengetahui perbedaannya sangat membantu menentukan tipikal hotel mana yang ingin Kawan singgahi.

Guest House: Berdasarkan pengalaman, tipikal penginapan guest house cenderung mematok harga yang relatif lebih murah. Cocok kalau kawan berencana berlibur sekeluarga dengan jumlah anggota banyak. Memilih guest house sangat membantu menghemat budget.
Sesuai namanya, penginapan ini dirancang sedemikian homy. Kadangkala  pemilik guest house juga tinggal dalam gedung yang sama. Menjadi semacam berkunjung ke rumah orang dan menumpang menginap di kamar. Fasilitas seperti televisi, dapur, dan ruang tamu merupakan fasilitas umum yang dapat digunakan bersama.

Bed & Breakfast adalah hotel dengan fasilitas hanyalah tidur dan sarapan saja. Jadi tidak ada  fasilitas tambahan laiknya hotel seperti ruang pertemuan, ballroom, spa, dan sebagainya. Tentu semakin minimal fasilitas, harganya pun semakin minimal.

Budget Hotel. Beberapa tahun belakangan memang  hotel ini mengambil alih cukup banyak pasar pelancong. Apalagi seiring bertambahnya populasi middle –class dan mobilitas antarkota dan antarnegara  yang semakin mudah.  Bahkan jaringan hotel berbintang tak ketinggalan menelurkan konsep hotel budget.  Harga terjangkau, management hotel bagus, bukan pula hotel kelas Melati, kasur empuk, kamar pun bersih, sarapan cukup. Sangat fit untuk bussineess traveler yang memang hanya menumpang tidur, atau pelancong hemat, turis-turis berkeluarga, atau urusan kedinasan staf-staf pemerintahan. Semua memang hanya membutuhkan kamar bersih nyaman untuk tidur dan sarapan cukup. Dengan pangsa pasar cukup beragam, tak heran budget hotel bertebaran hampir di setiap sudut kota-kota besar.

Boutique hotel. Kalau kawan bosan dengan budget hotel yang punya interior minimalis atau bisa dikatakan sangat plain disertai luas kamar yang terbatas, namun Kawan tetap menginginkan harga yang terjangkau, Kawan bisa mencoba tipe boutique hotel. Tipe boutique hotel memiliki kelebihan interior yang lebih bagus dengan konsep tertentu.  Konsep interior unik di Boutique hotel malah kadang lebih  bagus ketimbang hotel bintang 4, tentu dengan rate harga kamar yang lebih murah. Terlebih kalau kawan bepergian dalam rangka urusan pribadi dan ingin menghemat pengeluaran.

Hostel.  Ciri khas tipe penginapan ini yakni tersedia kamar asrama. Artinya kawan akan tidur bersama pelancong lain dalam satu kamar. Hampir semua fasilitas di hostel digunakan bersama-sama. Hanya kasur tidur yang digunakan sendiri. Tentu, karena fasilitas yang di-share ini pula, menjadikan hostel pilihan penginapan paling murah. Pengunjung hostel didominasi para pelancong irit dengan alasan pribadi (backpacker).
Bagi kebanyakan backpacker, hostel ibarat rumah kedua.  Hostel menyediakan fasilitas umum semacam ruang bersantai, loker, televisi, buku-buku, dapur dan peralatan untuk memasak, kulkas, hingga jemuran baju. Semua kebersamaan itu menjadikan kebanyakan suasan hostel homy dan bersahabat.
Kalau Kawan bepergian sendiri dan dalam jangka waktu lama, hostel bisa jadi pilihan utama.

 Resort dan Spa. Kenapa di sebut resort?  Sebab penginapan jenis ini punya bangunan luas, lokasi mumpuni, serta memiliki fasilitas yang memanjakan pengunjung yang berlibur. Standard minimal resort dan spa yakni memiliki kolam renang luas dan spa. Lokasi juga menjadi syarat dan ketentuan berdirinya bangunan resort dan spa. Saat terbangun, pengunjung tentu ingin berlama-lama menikmati suasana dingin pengunungan, atau birunya laut dari sebuah resort dan spa.

Sebenarnya masih ada beberapa lagi tipe hotel. Namun berhubung menulis tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi dan hasil sedikit mengulik informasi di dunia maya. Pun beberapa tipe hotel di atas juga jamak Kawan temui. 
Semoga membantu Kawan memilih tipe penginapan yang diinginkan.


Selamat Menjelajah!

bingung memilih penginapan yang sesuai

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...