Thursday, January 29, 2015

Masih Adakah?

Akan ada banyak peristiwa menanti. Namun, masih sempatkah mencatat kenangan?

Ada banyak hal yang belum selesai. Namun msh sempatkah menyelesaikan?

Ada banyak cerita yang belum berakhir. Namun masih sempatkah untuk mengakhiri?

Ada banyak cinta yang datang. Namun masih sempatkah untuk menyampaikan?

Ada begitu banyak mimpi yang diingini. Namun masih mampukah untum mewujudkannya?


23 November 2014

Sunday, January 25, 2015

Adaptation

Tak ada yang lebih menakutkan sekaligus menggairahkan selain sebuah perubahan besar dalam hidup.

Well, setelah lahir dan besar 17 tahun di Pulau Sumatra, merantau 10 tahun di Pulau Jawa, dan kini di awal tahun 2015, saatnya saya mencoba peruntungan  di Pulau Borneo.

Memiliki pengalaman beberapa kali untuk hidup dan memulai kehidupan yang benar-benar baru di suatu tempat yang juga baru, saya belajar cara cepat belajar menyesuaikan diri.

Begitulah, ibarah bunglon, maka saya adalah bunglon yang kaku. Hanya akan cepat menyesuaikan diri pada tempat yang saya anggap sesuai kriteria saya.

Berita buruknya lagi, saya tak punya cukup kekuatan untuk mengendalikan kemana takdir akan membawa saya. Maka saya harus mengaktifkan kepekaan semua sensor yang saya miliki untuk menyerap keadaan di lingkungan baru.

Memperhatikan cara bertutur, bahasa yang digunakan, pola interaksi, tingkat kesopanan, sampai pemilihan pakaian sehari-hari dari orang-orang yang saya temui. Saya tak suka orang-orang meluangkan waktu lebih banyak beberapa detik karena pakaian yang saya kenakan tak lazim dalam situasi tertentu.

Dan tentu saja beradaptasi secara geografis. Menghapal jalan dan memindainya dengan lebih teliti. Memperhatikan tiap-tiap bangunan dan toko.  Mana toko fotokopian dan alat tulis terdekat, paket pengiriman terdekat, rumah sakit terdekat, mall terdekat, pasar terdekat, bengkel terdekat, rumah makan, POM bensin, bank, hingga kantor-kantor pemerintahan.

Monday, January 19, 2015

Where will you stay?* #20


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Nagoya One di Batam, Kepulauan Riau

                Penampakan hotel ini dari luar terlihat cukup megah . Semacam hotel tua yang baru di renovasi. Masuk ke lobi dan lorong-lorong antar kamar, kelihatan baru dan bagus. Namun kesan bagus hanya cukup sampai di situ.

lobi hotel nagoya one batam
Lobi- Nagoya One Hotel, Batam

Kurang totalitas kalau saya bilang. Begitu masuk ke dalam kamar, ada bau yang menyeruak. Terlebih ketika saya masuk ke toiletnya. Seperti ada saluran yang bocor. Kakak saya yang menginap di kamar lain pun merasakan bau tak sedap yang sama.

                Tapi apa boleh dikata. Ongkos yang saya bayar hanya 300 ribu per malam, sudah termasuk makan pagi. Dari daftar situs pemesanan hotel, inilah hotel termurah yang saya temukan dengan jarak ke Nagoya Hills cukup dekat, sekitar 600 meter. Hotel ini menyediakan mobil shuttle gratis pada jam-jam tertentu menuju dan dari Nagoya Hills.

Sebenarnya ada cukup banyak hotel yang lebih dekat ke Nagoya Hills, sayang saya tak menemukan hotel itu di situs pemesanan online. Kalau kawan sudah pernah berkunjung ke Batam, pasti punya pengalaman bahwa yang termahal di kota ini adalah transportasi dalam kota. Tak ada taksi argo di sini.  Dahulu ada Taksi Blue Bird, tapi sepertinya sudah tak beroperasi lagi karena di boikot oleh sopir taksi abal-abal. Sebagai gambaran, jarak dekat yang jika menggunakan argo hanya sekitar 20 ribu, maka dengan naik taksi abal-abal di Batam, kawan bisa dikenakan 50 ribu.

Satu hal yang saya tangkap dari kesan saya berkunjung ke Batam: semua orang menginginkan keuntungan sebanyak-banyak dari pengunjung yang datang. Seolah semua pengunjung tersebut  datang membawa uang satu koper untuk dihabiskan semua di Batam. Maka ketimbang mempercayakan hotel yang akan saya inapi ke sopir taksi abal-abal, maka lebih baik saya memesan sendiri.

Beberapa hal yang saya perhatikan dari sarapan pagi standar di hotel berbintang dua : ada berbagai olahan telur, kue tradisional, sereal, coffee dan the, nasi goreng dan nasi putih, serta roti-rotian. Maka makan pagi di hotel ini di bawah standar rata-rata tersebut.

Ya kalau kawan hanya sekedar transit di Batam atau ada keperluan di sekitar Nagoya Hills, dengan memperhitungkan harga, bolehlah menginap di hotel  ini barang semalam.

hotel, batam, nagoya one
Kamar- Nagoya One Hotel, Batam

Kamar- Nagoya One Hotel, Batam


MY Hotel di Kuala Lumpur

Salah satu budget hotel yang terletak di Daerah Pudu, Kuala Lumpur.  Meski letaknya di tengah kota, , lokasi hotel ini tidak cukup bersahabat kalau kawan mengandalkan Light Rapid Transportation (LRT) selama berkunjung ke Kuala LUmpur. Untuk mencapai Halte terdekat yakni Halte Hang Tuah, butuh waktu sekitar 15 menit jalan kaki dengan peluh dan keringat bercucuran karena kontur jalan yang naik turun. Jarak yang kalau di Jakarta, pasti akan saya tempuh dengan naik ojek.

Ke Halte Pudu Raya pun, meski masih dalam satu kawasan pudu, sambil memanggul tas berat, akan membuat kaki hampir patah. Mungkin bagi backpacker dari Eropa yang terbiasa jalan kaki, bukan hal berat. Tapi kalau kawan yg berasal dari Indonesia, jika ke warung depan yg terletak di jalan besar saja sering naik motor sendiri atau ngojek, maka  letak hotel ini bisa dikatakan tidak strategis.

Satu pilihan trasnportasi lagi yakni: taksi. Ini juga menjadi hal yang tak mengenakkan di MY Hotel. Memang kemacetan di Kuala Lumpur bisa dikatakan nonsense kalau pembandingnya adalah kemacetan di Jakarta. Jalanan mulus, dan jarak antar tempat di pusat kota cukup dekat. Kawan paling hanya butuh 5-20 RM sekali naik taksi untuk bepergian di dalam kota. Sehingga banyak taksi yang menetapkan tarif tertentu dan menolak menggunakan argo.

hotel, MY, kuala lumpur
Kamar - MY Hotel, Kuala Lumpur