Tentang Saya dan Kontak

Friday, December 18, 2015

Novel Karya Jonas Jonasson

The Girl Who Saved the King of Sweden ini adalah buku Jonass Jonasson yang pertama kali saya baca.
Terpukau. Itu kesan pertama yang saya dapatkan.

Tak sia-sia, saya memesan jauh kepada seorang kawan yang berdomisili di Yogyakarta untuk membelikan dan mengirimkannya ke Kalimantan.

Satu yang melekat dari tulisan Jonas Jonasson: SATIR.

Novel ini jelas bukan novel bergenre komedi, namun siapapun yang membacanya saya yakin pasti tersenyum dan tertawa berkali-kali ketika membaca buku ini.

Novel ini mengemas cerita tentang seorang gadis miskin yang berasal dari Afrika yang memiliki stok keberuntungan tak terbatas.  Tak ada drama. Novel ini bercerita cepat, dan berhasil membuat saya tak beranjak untuk berhenti membaca.

buku, novel jonas jonasson
The Girl Who Saved The King of Sweden - Penulis: Jonas Jonasson

Akibat pesona karyanya, saya sampai penasaran tentang siapa sebenarnya Jonas Jonasson. Yup, doi  memang mantan jurnalis berkebangsaan Swedia yang beralih profesi menjadi penulis. Dan ternyata  mantan istrinya adalah orang Indonesia. Tak heran, pada novel lain yang terbit lebih dulu, yakni The 100 Years Old Man Who Climbed The Window and Disappeared, Indonesia (Bali) termasuk salah satu setting cerita pada novel tersebut.

Saya berhasil mendapatkan buku  The 100 Years Old Man Who Climbed Out The Window and Disappeared, bersama beberapa buku lainnya dari sebuah Toko Buku Online di Bogor.

Mengapa buku-buku yang saya peroleh harus jauh-jauh di pesan sampai ke Pulau Jawa?. Sebenarnya di sini ada 2 Cabang Gramedia. Namun koleksinya memang tidak selalu lengkap, harganya pun lebih mahal ketimbang gramedia di Pulau Jawa.Sedangkan kalau beli buku online, biasanya ada diskon hingga 20% dari harga normal buku di toko buku.

Makanya di sini, saya ke Gramedia biasanya sekedar cuci mata sembari melihat-lihat koleksi buku-buku terbaru. Nanti baru me-list buku yang benar-benar saya inginkan dan memesan secara online.

Kembali ke novel Jonass-Jonasson, ternyata di buku The Old Man Who Climbed The Window and Disappeared, saya mendapati banyak sekali kesamaan. Tak hanya gaya bercerita, namun juga bumbu-bumbu utama dalam novel ini.

buku, novel, jonas, jonasson
The 100 year old man who climbed out of the window and disappeared - penulis: Jonas Jonasson

Tokoh utama yang cerdas, berasal dari kaum miskin, namun selalu beruntung. Nuklir, bom, fasisme, Cina, Raja Swedia, Kepala Negara, Penerjemah, Komunis, dan masih banyak lagi.   Tak sampai separuh buku, saya sudah tertidur. Ceritanya masih brilian. Jonas Jonasson mengemas 100 tahun sejarah dunia, terutama politik dalam kacamata seorang laki-laki tua berusia 100 tahun bernama Alan Karsslon.

Namun kalau mau diumpakan, kedua novel Jonas Jonasson ini ibarat Rendang Daging Sapi dan Rendang Ayam. Bumbu dan cara mengolah, semua bisa dikatakan sama, hanya subjek nya saja yang berbeda.

Buat Kawan yang belum pernah membaca novel karya Jonas Jonasson, saya merekomendasikan sebagai novel terjemahan wajib baca.

But somehow, kalau ada novel novel ketiga Jonas Jonasson, yang ternyata memakai bumbu dan tampilan yang sama, mungkin saya akan berhenti (membeli) karya Jonas Jonasson.

Bagaimanapun memakan bebek rendang, sensasinya barangkali tak jauh berbeda dengan daging rendang dan ayam rendang.  Setidaknya tak perlu berekspektasi besar.



Samarinda, Desember 2015. 

Tuesday, November 24, 2015

Cheating During Pregnancy

Seumur hidup, apa yang paling sulit saya kalahkan? Selain rasa malas, saya paling  nggak tahan dengan yang namanya rasa penasaran.

Dan hamil, yang berarti secara hormonal memang tidak stabil. Maka penyakit malas dan penasaran makin menjadi-jadi.

Kalau banyak kawan-kawan yang pernah hamil mengeluhkan nafsu makan tak terbatas, dan berat badan yang meningkat tajam.   Mqka apa yang terjadi pada saya bisa dibilang anomali. Hingga menginjak minggu ke-36, berat badan saya hanya nambah 7 kg, itu pun proporsi terbesarnya tentu di perut. Tanpa melihat perut saya, orang tak akan mengira kalau saya hamil. Pernah sih ngidam pengen makan makanan A atau makanan B, tapi cukup sekali mencicipi, dan saya sudah puas. Paling nah terasa agak signifikan saya jadi demen makan dan minum yang manis-manis.

cheating during pregnancy


Nah buat mengontrol, saya berusaha ngemil sehat dengan makan buah-buahan saja. Kebetulan selama hamil ini, memang saya tergila-gila makan buah. Buah apapun jadi demen.

Kembali ke rasa penasaran tadi, dari berbagai literatur dan omong-omongan orang, saya menyimpulkan ada beberapa makanan yang gak boleh dimakan: tape, kambing, sate (atau produk bakar-bakaran), lele, kopi, nanas, dan durian.

Dan setelah melewati 36 minggu (penuh dengan drama, mual, dan muntah-muntah), saya cheating hampir di semua makanan yang saya sebutkan tadi. Tape ubi saya makan saat beli es doger (kan mubazir kalau gak dimakan).  Lele pernah makan dua kali, di awal kehamilan dan kemarin di trimester 3. Nanas, saya makan  sedikit saat beli rujak (lagi-lagi karena sayang mubazir), Kambing saya makan dalam bentuk gulai, yang memang enak banget di  warung milik orang Madura gak jauh dari rumah. Padahal sebelum hamil, saya gak terlalu doyan makan kambing. Tapi selama hamil, sering banget kepikiran gulai kambing sebagai menu makan malam. Lalu sate dan ikan bakar, juga pernah beberapa kali saya coba selama hamil.  Setelah makan tentu ada rasa bersalah. Namun mau bagaimana lagi, rasa penasaran memang sulit untuk dibunuh. Durian saya berani makan dalam bentuk selai durian asli.

Last but not least, yang temptation nya yang paling gede adalah kopi. Saya memang bukan penikmat kopi pekat. Nescafe latte atau cappuccino sebenarnya sudah cukup. Di trimester 1 dan trimester 2, saya masih kuat menahan godaan gak minum kopi. Paling kalau malam minggu, saya dan suami nongkrong di Warung Kopi, saya yang Cuma pesan teh susu, akan terus-terusan memandang penuh binar pada kopi susu milik suami. Yang biasanya saya akhiri dengan mencicipi beberapa sendok.

Pernah sekali ngidam ke Starbucks, dengan pertimbangan sayang dedek di dalam perut, saya cuma pesan Matcha Ice, yang rasanya gak jauh beda dengan matcha dalam kemasan botol yang banyak dijual di toko-toko retail (saya lupa mereknya apa).

Dan akhirnya di trimester 3, pertahanan bobol juga. Saya nekat beli latte, cappucina, atau kopi susu dalam kemasan. Duh pada saat itu rasanya nikmat banget minumannya.

Sunday, November 22, 2015

Pembayaran Mudah Saat Belanja Online *

Tahun 2015 saya mulai dengan pindah domisili, dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Hal pertama yang saya rasakan begitu pindah ke Pulau Kalimantan adalah harga sandang yang mahal. Pun tak banyak pilihan yang bisa dijadikan opsi.

Jadilah setahun belakangan, meminjam istilah seorang teman, saya jadi ratu belanja online. Mulai dari sepatu, tas, seprai, jilbab, dan terutama baju saya beli online. Pilihan banyak, harga pun lebih murah. Apalagi belakangan  persaingan e-commerce fashion semakin ketat. Kalau sudah begitu, berarti promo-promo dan voucher diskon semakin banyak bertebaran.

Bulan April lalu, alhamdulillah saya positif hamil. Dan sekarang sudah mau masuk 36 minggu.  Selain persiapan fisik dan mental, tentu harus pula bersiap-siap peralatan perang buat si Laut. 

Awalnya sih kepikiran belanja di toko bayi paling nge-hits di kota ini. Namun biarpun paling nge-hits, sewaktu kunjungan pertama, saya agak kecewa.  Pasalnya, harga barang-barangnya berbeda dan tentu saja lebih mahal dari survey harga di internet. Wajar sih, karena bagaimanapun harus diperhitungkan juga biaya distribusi dari Pulau Jawa.

Sebagai emak-emak cerdas (dan perhitungan), setelah mengkalkulasikan lebih lanjut, saya akhirnya memutuskan untuk belanja online.

Pertama, karena barang yang saya butuhkan cukup banyak. Saya hanya butuh sekali belnaja online di e-cpmmerce nge-hits. Barang-barangnya lengkap, pun variasi motif lebih beragam. Kedua, gak perlu capek-capek lagi ke sana kemari. Hamil membuat saya mager alias malas gerak. Cukup duduk manis di depan laptop.  Ketiga, tentu lebih hemat, apalagi memanfaatkan promo, diskon, penukaran  poin provider tertentu, dan sebagainya.

Sebagai emak-emak yang cerdas (dan perhitungan), dan malas gerak, tentu saja saya memilih pembayaran yang gak perlu repot-repot  ke ATM untuk transfer. Secara garis besar sih ada dua opsi. Pakai kartu kredit atau pakai kartu debit. Masalahnya, kalau pengen kontrolnya leboh bagus dan gak lupa diri, jangan keseringan menggunakan kartu kredit. Opsi lain, menggunakan kartu debit. Nah kalau yang ini lebih terkontrol, karena uang akan langsung terdebit dari tabungan.  Selama ini sih untuk kemudahan transaksi saya kerap menggunakan internet banking atau SMS Banking.

Baru tahu, padahal transaksi model ini sudah lama berlangsung, ada cara bertransaksi menggunakan kartu debit dengan lebih aman. Namanya Kartu Debit Online. Awalnya, saya agak terkecoh. Saya pikir layanan ini  sama dengan internet banking dan SMS banking. Eh ternyata, menggunakan layanan kartu debit online bisa dikatakan lebih ama. Pengguna gak perlu masuk ke akun internet bankingnya. Atau kalau gak punya akun internet banking pun sebenarnya gak apa-apa. Yang perlu di aktivasi hanya layanan SMS banking atau pendaftaran nomor telepon selular nasabah.

Saya sendiri sudah lama menggunakan BNI SMS Banking. Dua hal pokok transasksi untuk SMS Banking adalah transfer uang, cek saldo, dan isi ulang pulsa. Kebetulan, saya ada usaha sampingan jual beli tiket. Nah sebagai agen tiket, saya gak deposit uang. Kalau ada transaksi baru saya transfer uang ke agen travel saya. Kalau pesanan tiket lagi banyak, sehari bisa transfer berkali-kali.  Thanks God layanan BNI SMS Banking ini sangat membantu.

Nah belakangan, transaksi Kartu Debit Online ini memang lagi nge-hits. Malah sering merchant-merchant online memberikan promo atau diskon khusus transaksi Debit Online, yang tentu saja tidak boleh dilewatkan.  Again, sebagai emak-emak harus cerdas (dan perhitungan).

Cara kerja Debit Online ini hampir mirip dengan Kartu Kredit. Setelah berbelanja online, dan akan mengkonfirmasi pembayaran, untuk transaksi BNI Debit Online (BDO) pilih fitur pembayaran menggunakan Mastercard.  Setelah mengetahui jumlah total yang harus saya bayar, maka saya cukup mengetik REQ VCN (nominal). Misalnya total belanjaan dan ongkos kirim sejumlah 105.000 IDR, cukup ketik REQ VCN 105.000 lalu kirim ke 3346 (BNI SMS Banking). Setelahnya akan ada konfirmasi perintah memasukkan PIN.  Cara kerja ini persis sama dengan transaksi SMS banking.

Lalu saya akan mendapatkan VCN (Virtual Card Number) sejumlah 16 digit, disertai valid thru (bulan/tahun), serta 3 digit nomor CVC. Data ini persis dengan data yang harus dimasukkan saat Kawan menggunakan Kartu Kredit. Bedanya VCN hanya berlaku satu jam. Sehingga transaksi lebih aman.  Dan tentu saja memudahkan Kawan yang gak punya kartu kredit, namun ingin bertansaksi via Mastercard.

pengisian visual card number untuk transaksi BNI Debit online
Cara pengisian VCN untuk transaksi BNI Debit Online

Oh ya, jangan khawatir, ketika VCN dikirimkan ke ponsel, pembayaran tentu saja belum terdebit. Pembayaran hanya akan terdebit di tabungan ketika VCN sudah dimasukkan ke pembayaran E-Commerce eyang dimaksud, dan transaksi dinyatakan sukses. 

Jadi, mari jadi emak-emak cerdas (dan perhitungan) dengan berbelanja online :D

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blogging BNI Debit Online

Tuesday, November 17, 2015

Sebuah Usaha Pertama yang Gagal

Jadi, sekitar awal tahun 2015 lalu, saya berniat menjalankan usaha yang agak serius. Means ada bangunan atau toko offline nya.   Akhirnya setelah ngobrol-ngobrol dengan seorang teman, dan melihat kenyataan bahwa hanya ada satu toko buku di sini, dengan harga yang kalau dibandingkan harga di toko yang sama di Jakarta bedanya berkisar 10 rb- 30 rb.  Maka terbesitlah ide membuat toko buku online (yang harapannya bisa saya intergrasikan dengan cafĂ©)  offline.

Rencana awal yang indah. Memang.

Barangkali, saya terlalu terpesona oleh konsep-konsep bisnis yang banyak diusung anak muda kini. Saya hanya melihat bagian luar, bahwa tiap bisnis yang berhasil, harus punya konsep yang unik. Saya lupa memikirkan bahwa ada sekian banyak angka yang harus dikalkulasikan agar bisnis tersebut terus berjalan dan meraup untung.

Saya melihat bisnis toko buku di kota ini sebagai ceruk (niche). Mulailah saya memikirkan nama, tagline, tujuan, visi dan misi usaha yang hendak saya geluti. Namun saya lupa menganalisis hal yang tak kalah penting dalam bisnis:  supply chain, BEP, dan hal-hal yang berbau angka.  Kelupaan saya memikirkan hal-hal terakhir ini yang juga barangkali menjadi barrier kenapa tak ada pemain bisnis buku di kota ini.
Setelah membuat logo, bikin berbagai akun di socmed, dan sempat berencana  membuat website resmi (yang domainnya sudah saya beli, namun hingga kini terbengkalai).  Mengapa tak saya selesaikan website nya? Belakangan setelah saya cermati, membuat website untuk toko online artinya jangkauan pasar saya menjadi lebih luas, hingga ke seluruh Indonesia.  Namun artinya saya juga harus bersaing dengan toko buku online lainnya yang lebih professional, koleksi bukunya lebih lengkap, atau telah bekerja sama dengan penerbit-penerbit dalam memasarkan buku (biasanya akan tertulis keterangan ‘Stok di gudang penerbit’) dan menawarkan begitu banyak diskon.  Saya akan kalah soal harga dan ongkos kirim, karena domisili saya di Kalimantan Timur.

Baiklah, kalau misalnya saya fokus ke pelanggan yang ada di Pulau Kalimantan. Rasa-rasanya dalam beberapa bulan menjalani usaha ini, saya tak melihat gejala antusiasme besar dengan jumlah customer banyak.  Siapa yang mau menghabiskan uang banyak untuk beberapa lembar buku ?. Saya sendiri sebagai penyuka kegiatan membaca, masih mempertimbangkan berkali-kali apabila harga buku yang ingin dibeli lebih mahal dari pakaian yang saya pakai.

Hingga kini, pembeli buku-buku saya  justru lebih banyak dari luar Kalimantan, terutama Pulau Jawa dan Sulawesi. Pernah juga sekali waktu saya mengirimkan buku hingga Pulau Sumatra, yang mana harga bukunya hampir sama dengan ongkos kirim.

Lalu seiring berjalannya waktu, saya kembali menemukan masalah. Cukup besar dan tak terpecahkan. Yap, masalah stok buku. Bisa saja saya kulakan buku bekas dengan harga murah dari pedagang buku di Blok M atau Senen. Ya, pernah sekali waktu saya lakukan. Ternyata yang jadi masalah adalah ongkos kirim. Karena kiriman barang tersebut masih kategori eceran (dibawah 50 kg), maka saya hanya punya pilihan kurir pengiriman JNE, Tiki, Wahana, atau Pos. Dan diakali bagaimanapun ongkosnya tetap terhitung mahal.

Begitulah that was my failed start up. Walaupun sebenarnya gak gagal-gagal amat. Cuma memang poinnya bukan pada keuntungan. Saya menganggap usaha yang pertama ini adalah bisnis berbasis hobi.  Saya akan tetap jualan buku, namun saya membeli buku bukan untuk niat berjualan.  Tinggal di Kalimantan membuat hobi saya membaca buku seakan terhambat. Harga buku-buku baru lebih mahal (dan tidak lengkap), tak ada pameran buku seheboh yang biasa saya datangi di Istora Senayan, dan tak ada surga kulakan buku bekas seperti di Blok M.  Jadinya sekarang  saya beli buku yang saya inginkan (bukan yang customer inginkan), dan saya jual buku yang ingin saya jual. Saya dapatkan dua kepuasan. Pertama, puas membaca buku. Dan setelah jadi pedagang jadi-jadian begini, saya merasa ada kepuasan kalau bisa jualan barang. Pun uang masih bisa diputar dan dibelikan buku lagi.

Sampai detik ini pun saya masih bertransaksi jual beli buku. Masih berpromosi di media sosial, dan belakangan saya lebih nyaman bertransaksi di bukalapak.com.  Gak riweh, gak mengalami tanya jawab dengan customer cerewet banget, habis pulsa kalau nanya nya via SMS, nawar gak karuan (padahal harga buku bekas juga under 50K), minta rekening bank tertentu (padahal buat transaksi online saya cuma satu akun rekening), capek menghitung ongkos kirim, dan (sering)  ujung-ujungnya batal belanja.

berjualan online lewat toko buku online
Hasil jerih payah yang tidak seberapa

Begitulah cerita kegagalan yang saya rasa harus saya bagikan.  Mudah-mudahan lain kali saya bisa bercerita dan berbagi soal kesuksesan usaha saya.

Oke, mari merancang bisnis (yang lebih baik) di tahun depan.

Wish  me luck!


Samarinda, November 2015 

Thursday, October 22, 2015

Short of Review

Oktober sudah hampir berakhir.  Akhir tahun selalu membangkitkan ide untuk mereview lagi apa yang terjadi satu tahun ini pada diri sendiri.

Waktu yang bergerak lambat, saya bahkan masih sering tak sadar menulis bahwa tahun ini adalah tahun 2014. Waktu juga bergerak tak terasa. Tiba-tiba November sudah di depan mata.

Melihat kembali 10 bulan belakangan, rasanya hanya membangkitkan rasa malu dan minder. Boleh jadi tahun ini adalah tahun bermalas-malasan untuk saya. Hampir gak ada hal produktif yang terjadi pada saya tahun ini, selain memproduksi anak (dan alhamdulillah berhasil).

Namun apapun yang terjadi dalam hidup, bukankah tetap harus disyukuri ? Saya menganggap tahun ini adalah bonus.

Bonus untuk lebih menikmati pengalaman kehamilan pertama, menikmati satu tahun pertama pernikahan yang masih (dan semoga selalu) dibuncahi rasa cinta dan sayang. Yang tiap harinya masih (dan semoga selalu) terasa indah.

Bangun pagi dengan kepala dipenuhi produksi hormon oksitosin. Another life’s experience, another  joyfull of life.

Sampai saya rasanya sudah tak menginginkan apa-apa lagi. Karena begini saja sudah bahagia. Sampai saya tiba pada satu kesimpulan, ya ternyata bahagia itu sederhana saja.  

Dan jika sudah bahagia, lalu apa ?. Berhubung hidup bukanlah sebuah garis lurus, maka setiap manusia dikaruniai rasa was-was dan khawatir.  Ada grafik yang tentu saja naik turun. Maka harus ada persiapan untuk menghadapi naik turun grafik  kehidupan.

Keteguhan hati kan tidak datang semata-mata dari zona aman.  Makanya saya harus mempersiapkan planning untuk tahun 2016. Kalau kata dokter kandungan saya, ibarat mau berangkat menuju petualangan baru, maka harus ada persiapan sebaik mungkin. Mental, do’a, kesehatan, serta perbekalan dan peralatan yang kira-kira dibutuhkan.

Yap, mari mempersiapkan diri untuk resolusi di tahun 2016!

Dan jangan lupa untuk berbahagia J


Samarinda, Oktober 2015 . 

Tuesday, October 13, 2015

A Note To First Anniversary of Wedding

Gak kerasa sudah tahun berlalu.

Iyalah, siapa sih yang bisa merasakan waktu.  

Saya malah lebih suka menyebutnya sebagai  ‘menjalani waktu’.

Kalau ada yang nanya, nikah itu enak gak?

Subjectively, I said better to be single. Yap, kalau bicara soal enaknya menjalani hidup yak.  Sebab menikah berarti juga menambah kewajiban. Siapa sih orang di dunia ini yang senang kewajibannya ditambah? Bagi orang yang orientasi hidupnya hanya seputar bagaimana memperoleh kesenangan dan kenyamanan, marrieage its not an easy way. Not at all.

Misalnya setahun belakangan  as a wife, maka semua keputusan, tindakan, omongan, kegiatan,  sampai ke perbuatan-perbuatan kecil harus memikirkan dan mempertimbangkan suami dan keluarga.

Tapi perlu dipahami, bahwa enak dan indah itu adalah dua hal yang tidak selalu berkorelasi positif.

Setahun belakangan, hampir setiap pagi bangun dengan oksitosin yang membuncah terus. Barangkali karena masih newly weds ya, tapi saya berdoa semoga seterusnya otak akan dipenuhi oksitosin pada orang yang sama. Bukankah oksitosin membuat segala sesuatu di dunia ini terasa indah?

Lalu, apa-apa yang jadi pertimbangan, menjadi keputusan bersama, dan dijalani bersama, terasa meaningful. Saya punya harapan untuk terus bertahan dan berjuang. Malah sekarang lebih hati-hati terhadap diri dan keluarga, menjaga kesehatan dan meminimalisir resiko-resiko lainnya. Ya, seperti yang saya bilang, jadi lebih banyak memikirkan orang lain ketimbang diri sendiri.

Terus yang jadi the best part of marriage, menurut saya, sekarang saya sudah tidak tidur  sendirian lagi (literally). Gak ngerasa sepi lagi (yes, I hate loneliness!).  Walaupun kadang pas tidur lagi berantem, but It much better than to be alone.

Well, marriage not make everything easier, but it makes everything possible and meaningful.


9 Oktober 2014- 9 Oktober 2015
satu setengah tahun yang lalu saat bertunangan

Thursday, September 17, 2015

Nasib dan Asumsi

Jika kawan sering membaca cerita Abu Nawas, cerita-cerita jenaka nan satir dari Nasruddin ini bernuansa hampir sama. Seperti pula Abu Nawas, tak ada yang tahu siapa sebenarnya Nasruddin Hoja.

Namun Abu Nawas dan Nasruddin jelas dua orang yang berbeda. Abu Nawas berlatar belakang penyair, sedangkan Nasruddin diyakini adalah seorang mullah/guru/ulama bermazhab Imam Hanafi yang berasal dari Turki.

Saya sendiri mulai mengenal cerita-cerita Nasruddin sejak SMP secara tidak sengaja. Cerita Nasruddin cukup mudah dinalar, namun tetap mengandung humor yang dalam.

 Kemarin, karena sudah kehabisan buku bacaan di rumah, iseng saya mampir ke perpustakaan daerah.  Di sinilah saya menemukan sebuah buku lama berisi kumpulan cerita Nasruddin Hoja yang lumayan lengkap. 

 Meski sudah lama tak membacanya, cerita-cerita Nasruddin tetap memukau. Selera satirnya tak ada yang bisa mengalahkan.
Ada satu cerita dalam buku tersebut, mengenai seseorang yang bertanya apa sesungguhnya nasib, dan Nasruddin menjawab dengan sangat ‘mengena’. 

“Nasib adalah asumsi-asumsi. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan dengan baik, tetapi kenyatannya tidak begitu. Itulah yang disebut nasib buruk. Sekarang, kau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi ternyata tidak terjadi. Itu nasib baik namanya.
Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi. Dan engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi. Engkau punya asumsi bahwa masa depan itu tidak bisa ditebak, ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib. “ (Nasruddin Hoja)

Begitulah, seringkali kita mengkotak-kotakkan nasib itu sendiri. Apa yang disebut nasib baik, apa yang disebut nasib buruk, hanya dari satu sudut pandang saja, dan lebih parah lagi, kita kerap menggantungkan hidup pada nasib itu sendiri, dan malah berhenti memperjuangkannya.

buku cerita jenaka nasrudin hoja

Thursday, September 10, 2015

Menatap Birunya Langit

Ketika masih muda, kita pasti pernah mendongak ke atas, menatap langit dan lalu menerka-nerka seberapa banyak misteri yang ada di dunia. menerka-nerka akankah kita mampu menaklukan dunia. bertanya-tanya  kapankah tiba saat untuk menaklukan dunia.

Perlahan menerobos kehidupan. Ada kalanya kegagalan datang, mimpi hancur, dan mata hanya bisa terkulai menatap ke bawah. Menatap tanah, tempat dimana manusia akan kembali, tempat dimana jasad hanya akan jadi santapan belatung.

Dan adalah dunia dengan fatamorgananya yang menyilaukan, memaksa manusia untuk terus memandang ke depan, terpukau, dan melupakan dunia di atas maupun di bawahnya. jangankan untuk menatap dan merenungi, bahkan mengingatpun rasanya tak sudi.

Apa yang dapat ditawarkan dunia saat ini ? , yang terselimuti kebohongan, yang terkamuflase kenyamanan semu, dan akhirnya memaksa manusia menyesal di ujung hidupnya.

Saya hanya takut kelak akan menjadi manusia seperti itu
lupa akan langit, lupa akan tanah.

Saya tak ingin suatu saat saya lupa,
Ketika kecil saya terkonyol-konyol menghitung bintang
Saya terbayang-banyang pangeran yang hidup di bulan.
Tersepoi-sepoi angin laut yang membawakan senja keemasan di setiap sore pada masa kecil saya
Hujan yang turun saya tatap dengan mulut ternganga bagai melihat sirkus.
Rintik-rintik hujan yang selalu berusaha saya genggam
Angin subuh yang selalu membawakn harum susu hangat dari dapur ibu
dan segala bayang-bayang yang dihadirkan semesta untuk saya.

Saat itu saya ingin cepat-cepat dewasa
menikmati keindahan dunia, dan menyibak semua sensasi indah
menyibak seberapa banyak bintang
seberapa luas lautan
seberapa hebat angin pagi
seberapa banyak rintik hujan yang akan turun

Rupanya,
Ketika telah dewasa
Langit  saya lupakan
Senja selalu terlewatkan di tengah keramaian
Bintang tak lagi saya hiraukan
Hujan pun hanya merepotkan

Saya tak lagi menghiraukan hidup yang ingin saya ungkap
Menjadi dewasa terkadang amat menakutkan
bersikap egois dan memperebutkan... bukan mainan lagi, bukan rintik hujan lagi, bukan susu buatan ibu, bukan kasih sayang kakak, bukan pelukan hangat ayah.
Tapi hal-hal semu yang jauh lebih merepotkan :
pasangan
kedudukan
uang
pamor
nilai ujian
pekerjaan
jabatan
menatap birunya langit di pantai depok




Yogyakarta. 2 Juli 2008

Sunday, August 30, 2015

Where will you stay?* #24


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Homestay Kia Yazo, di Gili Trawangan, Lombok.

Gili Trawangan sudah semakin ramai. Namun tetap saja magnet untuk datang ke sana tak berhenti. Homestay yang terletak tepat di jalan besar harganya semakin melejit, padahal bangunan yang ada terkesan kumuh.

Homestay Kia Yazo , Gili Trawangan, Lombok

Maka saya memilih homestay yang letaknya agak menjorok ke dalam. Homestay ini semata-mata saya pilih berdasarkan ratingyang diberikan pengunjung di sebuah situs pemesanan online. Dengan harga murah beserta bangunan bersih dan nyaman.

Sebenarnya dari pantai, letak homestay ini tak begitu jauh mblusuk ke belakang. Namun dari Pelabuhan dan Pasar Seni, bisa bikin kaki kram kalau harus bolak balik jalan kaki. Kalau kawan bawa barang banyak, terutama berupa koper, saya sarankan saat kedatangan awal sebaiknya naik cidomo saja dari pelabuhan ke homestay ini.

Ada pilihan berkendara hemat dan menyenangkan selama di Gili Trawangan, yakni menyewa sepeda. Namun berhubung lagi hamidun, tentu hal ini tak bisa saya lakukan.


Homestay Kia Yazo, Gili Trawangan, Lombok

Kamar Mandi- Homestay Kia Yazo, Gili Trawangan, Lombok
Homestay Kia Yazo, Gili Trawangan, Lombok


Hotel Elia Bandara, di Benda, Tangerang.

Bagi kawan yang datang ke Soetta dan punya hajat untuk penerbangan lanjutan keesokannya, tentu perlu tempat menginap, semacam hotel transit. Kalau tak di akomodasi oleh penerbangan yang bersangkutan, saya sendiri memilih untuk mencari penginapan dengan harga semurah-murahnya. Yah namanya juga (kere) cuma transit, tidur pun seringkali gak sampai 8 jam.

Ada banyak hotel kelas melati di daerah Benda, Tangerang. Namun tak banyak referensi online yang bisa saya peroleh. Hotel Elia Bandara ini hanya saya temukan nomor telponnya (tanpa tahu hotelnya seperti apa), dan memesan langsung lewat sambungan telepon.

Tentu tak banyak yang bisa saya harapkan dari hotel murah kelas melati. Yang menjadi plus adalah hotel ini menyediakan antar-jemput gratis ke bandara kapanpun dan jam berapapun.  Satu lagi, letaknya persis di jalan raya benda. Pernah waktu itu saya menginap di hotel yang letaknya lebih mblusuk, susah kalaun mau cari makan di malam hari.

Saya kebagian kamar tingkat tiga, dimana lift hotel ini rusak. Sebuah pengalaman mengerikan harus mengangkut barang sembari naik turun tangga.  Hanya kamar tersebut yang tersisa. Kamar-kamar lain sudah dipenuhi jamaah umroh yang sedang transit. Miris membayangkan jamaah tua harus mengangkut-ngangkut barang ke lantai atas tanpa bantuan lift.

Saturday, August 29, 2015

Where will you stay?* #23

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Kutamara, di Kuta,  Lombok.

Tak terlalu banyak pilihan tinggal penginapan di daerah Kuta Lombok. Pada kunjungan sebelumnya saya menginap di Aerotel Tastura Hotel.  Hotelnya biasa saja, namun lokasinya luar biasa karena berada persis menghadap Pantai Kuta. Sayangnya saat saya ingin membooking lagi, hotel tersebut sedang full book.

kolam renang hotel kutamara lombok tengah
Hotel Kutamara, Kuta- Lombok

kamar hotel kutamara kuta lombok
Kamar- Hotel Kutamara, Kuta, Lombok

review menginap di hotel kutamara kuta lombok
Kamar- Hotel Kutamara, Kuta, Lombok


Ada beberapa pilihan homestay, namun dari lokasi di peta, keliatannya letak homestay itu agak menjorok jauh dari Pantai Kuta. Setelah mengobok-obok beberapa situs pemesanan hotel, saya menemukan Hotel Kutamara ini di situs Traveloka.  Mungkin karena masih baru, hotel ini belum bekerja sama dengan beberapa situs pemesanan hotel lainnya yang lebih ngetop.

Belum ada setahun hotel ini berdiri. Untuk menemukannya butuh bertanya beberapa kali dengan penduduk lokal. Sebab sopir sekaligus tour guide yang mengantar saya pun tak tahu-menahu mengenai hotel ini.

Dengan rate sekita 400-an per malam, hotel ini bisa dibilang memuaskan. Bangunannya masih baru dan bersih, ditambah  kamar yang luas. Dan lebih menyenangkan lagi, kamar saya langsung menghadap kolam renang nan mungil. Sedangkan untuk kamar hotel yang letaknya di bangunan besar dan berdempetan, hargan yang ditawarkan lebih murah, sekitar 300 ribuan per malam.  Tak jauh beda dengan rata-rata harga homestay di sekitar Pantai Kuta.

Sedangkan untuk makan pagi, tamu bisa memilih salah satu menu seperti mie goreng, nasi goreng, roti dan omelette, berbagai jus, serta pancake. Dan boleh diantar gratis ke kamar masing-masing.

kolam rengan hotel kutamara
Hotel Kutamara, Kuta, Lombok


Holiday Resort Hotel, di Senggigi, Lombok.

Sebuah resort lama yang masih terawat dengan baik.

Kesan pertama begitu selesai check in, dan  berjalan menuju kamar : resort ini sungguh-sungguh luas. Gak kebayang harga tanahnya di sini udah berapa, berhubung letaknya yang emang berada di pesisir pantai Senggigi.
menginap di holiday resort hotel senggigi lombok
Kamar- Holiday Resort Hotel Senggigi

Kamar yang saya pilih berupa kamar dengan Garden View, rate nya lebih murah ketimbang kalau Kawan memilih kamar dengan Sea View. Kamarnya luas, bersih, dan disertai teras serta kamar mandi terbuka

Tahun 2011, saya juga pernah berkunjung ke resort ini, walaupun tidak menginap. Kolam renangnya sekarang sudah jauh lebih usang. Entahlah, dulu saat pertama melihat kolam renang dengan background Pantai Senggigi kayaknya keren banget. Pantai di belakang resort pun terasa lebih sempit. Mengingat ombak yang cukup tinggi, saya menduga memang terjadi abrasi.

menginap di holiday resort hotel sengigi
Pantai tepat di belakang Holiday Resort Hotel- Senggigi

Friday, August 14, 2015

Produktif dalam Proses yang Tidak Produktif

Well, tahun 2015 ini memang target saya untuk melahirkan Laut ke dunia dan menjadi ibu. Dan insyaAllah harapan dan target ini bisa tercapai.

Tapi begitulah menjadi manusia produktif, dalam artian beranak pinak dan melahirkan satu manusia ke dunia ini, ternyata bukan hal mudah. Kehamilan, sebuah fase produktivitas itu sendiri, saya lewati dalam masa-masa yang sungguh tidak produktif.

 Di bulan pertama dan kedua, saya masih gagah perkasa, dengan frekuensi muntah hampir bisa dihitung dengan jari. Tapi jumawa terlalu dini memang berbahaya. Begitu memasuki bulan ketiga dan keempat saya terkulai lemah tak berdaya.  Hitungan muntah saya masih bisa dicatat dengan jari, tapi itu dalam sehari. Makan banyak, muntah sebagian. Telat makan, mual dan kerap diakhiri dengan muntah. Makan besar pun, harus berupa nasi. Biar ngemil sepanjang waktu, dan perut masih kenyang, tubuh tetap mengkategorikan sebagai belum makan. Saya harus makan nasi, tetap mual, dan hampir selalu diakhiri dengan muntah.
Bawaan aneh lainnya, saya gak bisa minum air putih. Saya harus air minum yang ada rasanya. Kalau sekali-sekali sih gak masalah.  Tapi kalau sepanjang hari sepanjang waktu, rasanya sungguh dehidrasi.
Bawaan-bawaan ini sungguh berkebalikan dengan kebiasaan saya minum banyak air putih, gampang haus, jarang ngemil, dan makan besar dalam jumlah banyak.

Apa yang begitu saya inginkan sepanjang 4 bulan pertama kehamilan? Makan nasi dalam jumlah banyak, nambah berkali-kali sampai kekenyangan, diiringi minum air putih dingin bergelas-gelas. Oh I Wish…. 
Sindrom keanehan pola makan ini bertambah parah memasuki bulan puasa. Alhamdulillah saya bisa menjalankan 24 hari puasa dari 29 hari puasa ramadhan  tahun ini. Tentu saja dengan perjuangan yang bikin keringat panas dingin. Tiada buka puasa yang saya lewati tanpa muntah. Pasti ada sedikit makanan yang keluar, entah itu cuma makan takjil ataupun makan besar. Ditambah menahan diri untuk berbuka puasa dengan air teh atau air jeruk hangat saja, karena kalau air dingin, muntahnya bisa bertubi-tubi.
Yang paling bikin gak kuat, menahan diri untuk tidak minum air putih. Yang namanya bumil pasti gampang berkeringat, ditambah sedang menjalankan puasa. Duh Gusti….  Satu-satunya air putih yang bisa saya toleransi cuma Aqua, itupun paling banyak setengah gelas.

Morning sickness? Tentu saja. Di 4 bulan pertama, saya gak bisa melakukan banyak kegiatan saat pagi hari. Setelah pukul 12 siang, baru kepusingan, dan kepeninangan serupa naik travel Samarinda-Balikpapan namun gak sampai-sampai, agak mereda.  Sungguh bulan-bulan yang benar-benar tidak produktif.
Untungnya (atau malah ruginya?), saya sudah gak kerja full time. Bulan April lalu, saya sempat kerja full time, namun hanya bertahan 3 hari saja sodara-sodara. Bukan apa-apa, jam kerja yang fleksibel, alias saya bisa masuk pagi pukul 07.30 -15.00 atau sore jam 15.00-22.00 ditambah masuk kerja Senin-Sabtu rasa-rasanya akan menghambat program hamil yang sedang dijalankan. Mengingat usia yang sudah 28 tahun, target punya 3 anak, sedangkan usia 35 tahun rencana sudah tutup pabrik, Maka akhirnya saya pilih kerja paruh waktu jadi staf pengajar di sebuah universitas antah berantah saja. Alhamdulillah gak perlu nunggu lama, bulan depannya saya positif hamil J

Sekarang sih sudah masuk trimester dua, sudah 21 minggu. Yang paling menyenangkan adalah saya sudah bisa minum air putih. Meski muntah-muntah masih menjadi rutinitas harian yang harus saya lewati.
 Namun rupanya, mengandung bayi itu menghadirkan gejal-gejala yang ibarat pepatah ‘Patah tumbuh hilang berganti’. Keluhan terbaru saya, kalau duduk atau berdiri agak lama, kaki terasa pegal dan bengkak,  dan kalau bangun tidur tangan terasa kram dan sulit digerakkan.

Minggu lalu saya jalan-jalan ke mall, sambil cari-cari sandal.  I end up dengan kaki pegal, bengkak, badan langsung meriang, dan batal beli sandal. Padahal durasi keliling-keliling nya gak nyampe satu jam. Rasanya pengen nangis mengingat dulunya saya terbilang tahan banting soal jalan-jalan. Mau jalan kaki seberapa jauh, naik motor, naik pesawat sehari dua kali, naik kereta semalaman dari kelas ekonomi hingga eksekutif, naik kapal laut, atau bergelantungan di metromini yang maha padat, Semua saya lewati dengan santai dan  tanpa keluhan.

Mengenalkan Laut kepada Laut sejak dini

Wednesday, April 22, 2015

Menemukan RM Torani di Balikpapan*

Desember 2014 lalu, kali ketiga saya ke Balikpapan. Dua kali sebelumnya hanya numpang turun di Bandara Sepinggan, untunglah yang ketiga kalinya ini saya benar-benar menginap di Balikpapan. Ceritanya sih dalam rangka melepas rindu dengan suami. Ya waktu itu, kami memang masih menjalani  Long Distance Married. Hitung-hitung sekalian berlibur.

Sebagai penyuka laut, letak Kota Balikpapan yang berada tepat di tepi laut, tentu saja membuat saya kegirangan. Saya langsung menyukai kota ini.

Malam minggu itu, selesai menikmati sunset di Pantai Kumala, saya mengecek informasi kuliner Balikpapan lewat google. Dari sekian banyak review, saya menemukan, RM Torani paling banyak direkomendasikan sebagai tempat terbaik untuk menikmati menu seafood di Balikpapan.

Lalu dimulailah drama petualangan saya dan suami menemukan RM Torani. Informasi di internet, menyebutkan RM Torani berada di Jl. Jendral Sudirman No. 73. Perlu naik angkot dua kali dari Pantai Kumala ke Jalan Jendral Sudirman. Karena kami berdua memang bukan warga Balikpapan, jadi hanya mengandalkan google maps untuk mengetahui dimana nomor 73 berada. Setelah turun dari angkot, ternyata nomor 73 agar mengarah ke jalan sempit nan gelap, rasa-rasanya tidak mungkin ada restoran besar di jalan seperti itu. Saya menduga apa mungkin rumah makannya sedang tutup. Kembali ke Jalan Jendral Sudirman, saya mencari diantara gedung-gedung bernomor 70an, dan masih tak saya temukan tanda-tanada RM Torani. Bertanya dimana RM Torani ke beberapa orang yang lewat dan pedagang kaki lima juga sia-sia. Sepertinya sampling bertanya saya salah. Sampai akhirnya suami menelpon keluarga yang tinggal di Balikpapan. Rupanya RM Torani berada di Jalan Marsma Iswahyudi, atau di Balikpapan dikenal dengan nama Stal Kuda.

Setelah bercucuran keringat di malam minggu, dan saya harus naik angkot lagi sebanyak dua kali, akhirnya sampai juga di RM Torani. Yang rupanya lagi, berada tak jauh dari hotel tempat saya menginap. Pulangnya, saya hanya butuh waktu 10 menit naik angkot untuk sampai ke hotel.

Tapi memang tak sia-sia perjuangan saya. Ikan bakarnya segar berbumbu gurih, kepiting soka yang lembut berpadu dengan bumbu lada hitam yang meresap, ditambah sambal aneka rupa. Mulai sambel mentah, sambel goreng, hingga sambel dabu-dabu. Yang menyenangkan dari RM Torani:  baik sambal, sayur, dan nasi disajikan secara prasmanan. Jadi boleh diambil unlimited.  Saya senang restoran dengan tipe penyajian seperti ini.  Gak mubazir, karena orang akan mengambil takaran sesuai kapasitas perut masing2, dan kalau ingin mentraktir orang dalam jumlah banyak, bisa lebih hemat.

Mau tahu menu favorit saya dari RM Torani? Sayur asem!. Baru kali itu saya makan sayur asem dengan terasi yang terasa jelas di lidah, dan malah jadi enak banget.
*
Sekarang sih, saya sudah menetap di Samarinda..  Dan RM Torani kini menjadi restoran favorit saya dan suami kala ingin menikmati seafood. Ya, selain di Balikpapan, RM Torani juga memiliki cabang di Samarinda. Rasa enak, harga terjangkau, serta pelayanan yang baik merupakan  kombinasi alasan yang pas, bukan?.




Sunday, April 12, 2015

Bakso Yen Selo-so’ Tutup


Belakangan, hampir semenjak 6 bulan yang lalu, saya jadi suka banget makan bakso. Sampai-sampai, makanan yang terpikir di otak saya ketika tidak ingin makan nasi, hanya bakso.

Padahal dulu saya bukan penggemar bakso. Bukan penyuka bakso. Dan jarang sekali makan bakso. Bakso dan sate, dua makanan non-nasi yang hampir tidak pernah singgah di otak saya untuk membelinya. Sate masih jarang singgah di kepala saya. Tapi tidak dengan bakso. Tiap hari cuma itu yang saya inginkan. Saya pun tidak sedang ngidam. Jadi misteri kenapa saya tiba-tiba suka bakso sampai saat ini belum terpecahkan.

 Lalu,  tadi malam saya tiba-tiba teringat satu warung bakso legendaris di daerah Kotagede, Yogyakarta. Warung Sido Semi namanya. Warung ini tidak terlalu ramai, tapi selalu ramai. Selain menjual bakso, warung sido semi juga menjual es campur yang tak kalah enak.

bakso legendaris kotagede yogyakarta
Warung Bakso Legendaris

Kalau saya bilang, warung jadul ini punya kekhasan, yakni ke-jadul-annya itu sendiri. Barangkali warung ini telah berdiri semenjak pengejaan bahasa Indonesia belum disempurnakan. Kalau saya perhatikan, warung itu kini dikelola generasi selanjutnya secara turun temurun. Yang mana, pengelolaannya pun terkesan santai. Kondisi warung yang tetap dipertahankan, serta ada hari tertentu, yakni tiap selasa warung ini tutup. Bahkan saya pernah jauh-jauh ke Kotagede bukan pada hari selasa, dan  mendapati warung ini tutup. Bisa jadi, tiap hari selasa atau tiap ada selo (santai), warung ini tutup.
kuliner bakso legendaris kotagede yogyakarta
Tagline warung bakso: Yen Selo-So' Tutup
kuliner bakso legendaris kotagede yogyakarta
(barangkali) telah berdiri sejak ejaan bahasa indonesia belum disempurnakan

 Terletak tepat di samping pintu masuk Makam Raja Mataram di Kotagede, bentuk warung yang sederhanan ini memang tak terlalu mencolok. Tapi mengingat rasa baksonya, membuat saya seketika ingin terbang ke Yogyakarta. Tekstur baksonya tidak padat, tidak seperti kebanyakan bakso tersohor yang terasa benar konsentrat daging sapinya. Bakso Warung Sido Semi ini cenderung kenyal, lembut, dan ringan. Membuat tidak eneg, namun tetap terasa gurih. Sayang saya tak punya dokumentasi foto baksonya.

bakso sido semi bakso legendaris kotagede yogyakarta
Warung Sido Semi MBok Mul- Kotagede, Yogyakarta



Begitupun pada es campurnya. Sederhana, porsinya pas, tidak bikin eneg. Saya tidak bisa menebak merek sirup apa yang mereka tambahkan pada es campurnya, yang jelas rasa sirup ini tidak terlalu manis.  Membuat es campur Warung Sido Semi ini sangat menyegarkan. Perpaduan yang pas disantap bersama bakso.

es campur bakso legendaris kotagede yogyakarta
Es Campur Warung Sido Semi

Jadi, kalau kawan sedang jalan-jalan di Kotagede, sempatkan mampir ke warung ini. Pasti bikih nagih (saya bukan endorser berbayar loh). Warung ini memang patut direkomendasikan kok :)

Wednesday, April 8, 2015

Belanda: Dari Kotak Air Anti Banjir hingga Daur Ulang Air Seni*

Apa yang kawan ketahui tentang Belanda? Kincir angin? Bunga Tulip? Dam? Kerajaan? Sepakbola? perguruan tinggi dan beasiswanya?. Well, hampir semuanya terkenal di Indonesia.

Barangkali, Belanda merupakan salah satu negara di Benua Eropa yang paling akrab di telinga orang Indonesia. Popularitas yang bisa jadi tak lepas dari kaitan sejarah masa lampau.

Terlepas dari masa lalu, Kini atau –kekinian-, kata yang belakangan akrab di kalangan pengguna media sosial, bolehlah kita melongok inovasi pada satu aspek penting kehidupan yang mendapat pengakuan dunia, bahwa Belanda memang jago soal pengelolaan air.

Kalau dulu soal mengeringkan lahan, dimana sejak abad ke 16 Belanda telah berhasil membangun dam-dam kokoh, mengeringkan danau, yang selanjutnya dijadikan lahan pertanian atau pemukiman penduduk.
Maka kini, bersamaan dengan pemanasan global dan naiknya permukaan air laut, Belanda punya pekerjaan rumah untuk mempertahankan sebagian besar wilayahnya agar tetap  kering. Sejak tahun 2007, Kementrian Lingkungan dan Infrastruktur Belanda telah mengembangkan Box Barrier, sebuah inovasi aplikatif untuk membendung/menahan banjir sementara waktu (temporary flood defends barrier).
Prinsip kerja BoxBarrier ini cukup sederhana, yakni melawan air dengan air. Meskipun BoxBarrier ini hanya kelihatan seperti tumpukan kotak plastik berwarna kuning. Bahkan sekilas mirip dirigen yang digunakan untuk menyimpan air.  Namun jangan salah, BoxBarrier ini apabila disusun berderet dan dikaitkan satu sama lain sehingga menyerupai benteng, lalu diisi air, akan menjadi tanggul penahan banjir hingga ketinggian maksimal setengah meter.
BoxBarrier disusun dan dikaitkan satu sama lain

BoxBarrier mudah disusun dan dipindahkan

BoxBarrier memiliki beberapa kelebihan, yakni: cara penggunaan yang mudah, penyimpanan yang tidak memerlukan ruang besar, ringan, ukuran yang tidak besar sehingga mudah dipindahkan, dan bahkan bisa dijadikan jembatan penghubung suatu kanal atau sungai. Boxbarrier bisa digunakan penduduk sipil, terutama yang bermukim di area sekitar kanal dan sungai yang airnya kerap meluap saat hujan deras. Sejak tahun 2014, BoxBarrier telah diproduksi massal dan dijual dibawah naungan produsen Royal BAM Infraconsult Group.
BoxBarrier menjadi pagar bendungan yang melindungi rumah 

Beralih pada inovasi  lain yang masih berhubungan dengan air dan tak kalah aplikatif.  Toilet vakum yang disertai alat pemurnian urin, sebuah inovasi yang memadukan keuntungan kombo, yakni penghematan air dan pemanfaatan limbah manusia.

Ya, membersihkan diri ketika selesai berhajat sangat menguras penggunaan air. Nah, jika kawan pernah menggunakan toilet di pesawat terbang, seperti itulah toilet vakum. Teknologi ini menggunakan tekanan udara sebagai tenaga untuk membilas, sehingga penggunaan air tiap kali berhajat sangat sedikit (kurang dari satu liter).

Keuntungan kedua, urin yang hanya tercampur sedikit air dan deterjen memudahkan proses pemurnian. Dan kombo ketiga, sesuai hukum kekekalan energi: bahwa energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, namun dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Maka limbah manusia seharusnya dapat diolah menjadi energi lain yang bermanfaat. Kalau kata orang jawa sih “eman-eman” jika dibuang.

Toilet Vakum dan pemurnian urin


Praktek pemurnian urin dari toilet vakum ini telah berhasil dilakukan oleh Departemen Teknologi Lingkungan dari Wageningen University di suatu area di Kota Sneek.  Campuran urin dan feses (disebut black water pada Gambar 5), akan mengalami proses pembakaran anaerobik oleh bakteri tertentu yang menghasilkan biogas (metana) dan ammonia. Selanjutnya biogas ini menjadi sumber energi pemanas rumah-rumah di Kota Sneek.

Sedangkan ammonia dari proses anaerobik tadi masih mengandung fosfat dan nitrogen. Dengan menambahkan magnesium (pada Gambar 5: magnesium treatment), fosfat akan berubah menjadi struvite yang bermanfaat sebagai pupuk dan menyuburkan lahan. Tak cukup sampai di situ, sisa nitrogen pada ammonia masih bisa diolah menggunakan teknologi Annamox Treatment menjadi gas nitrogen. Pada tahun 2012 lalu, Universitas Wageningen berhasil menyelesaikan proyek yang telah berlangsung hampir 3 tahun, dengan mengaplikasikan penggunaan toilet vakum dan pemurnian black water pada 32 rumah di Kota Sneek.

Selain di wilayah Sneek, toilet vakum dan pemurnian urin juga telah diaplikasikan di Gedung Kementrian Lingkungan dan Infrastruktur Belanda di Rijnstraat, Den Haag serta di Institute Ekologi Belanda di Wageningen.

 
Ilustrasi proses pemurnian urin di Kota Sneek, Belanda


Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda
http://www.wageningenur.nl/en/show/Recovering-nutrients-from-waste-water.htm
Ministry of Infrastructure and the Environment, Netherland : Water innovations in the Netherlands: A brief overview. 2014

Sumber Gambar:

Ministry of Infrastructure and the Environment, Netherland : Water innovations in the Netherlands: A brief overview. 2014




*artikel ini diikutsertakan pada Holland Writing Competition 2015

Sunday, March 29, 2015

Where will you stay?* #22


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Fave, di Kemang, Jakarta Selatan

Fave Hotel Kemang terletak tepat di jantung Kawasan Kemang. Berseberangan dengan Hotel Amaris Kemang.  Cocok untuk Kawan yang punya keperluan di daerah Jakarta Selatan, terutama daerah Kemang, TB Simatupang, Fatmawati, Cipete dan atau ingin sekedar menikmati hippies-nya daerah Kemang. Dan tentu saja tidak saya rekomendasikan untuk Kawan yang punya keperluan di daerah lain yang jauh dari Kemang. Menembus padatnya lalu lintas diantara sempitnya jalan di Kemang bukan ide bagus kalau hanya demi menginap di Hotel Fave Kemang ini.

kamar hotel fave kemang jakarta selatan
Fave Hotel, Kemang- Jakarta Selatan

Nothing to complain,

Bisa saya pastikan inilah kamar paling kecil dari selama pengalaman saya menginap di beberapa Hotel Fave (Saya pernah menginap di FaveHotel Surabaya dan Fave Hotel Balikpapan).
Ya, dapat dipahami mengingat harga tanah yang luar biasa mahal  di daerah kemang. Dekorasi kamar masih didominasi warna pink. staf ramah. Makanan pagi lumayan, dengan tampilan restoran yang menurut saya oke banget. Terutama kursi makan di restoran yang agak tak biasa, terkesan klasik. Belakangan saya kerap menjumpai kursi makan plastik untuk restoran di budget hotel.
restoran hotel fave kemang jakarta selatan
Restoran- Fave Hotel Kemang


interior kamar hotel fave kemang jakarta selatan
Sliding door, yang berfungsi sebagi pintu kamar mandi dan penutup lemari- Fave Hotel Kemang


Oh ya, di Fave Hotel Kemang ini juga tersedia fasilitas kolam renang. Begitu menurut apa yang saya baca di lobi, meski tak sempat saya mampir melihat kolam renangnya. Ya agak berbeda, karena setahu saya tak semua jaringan Hotel Fave memiliki fasilitas kolam renang.

Pada malam hari, ada banyak pilihan makan di sekitar hotel Fave Kemang. Mulai dari kelas restoran, bar, hingga yang berjualan di kaki lima. Keluar dari halaman hotel, Kawan tinggal berbelok ke kiri hingga ketemu pertigaan. Di sebelah kiri pertigaan ini, ada banyak pilihan menu dari pedagang kaki lima. Mulai dari nasi goreng, hingga nasi campur dengan aneka macam lauk pauk.

 
hotel fave kemang


*review ini sebatas yang penulis alami. Tentu saja berisi penilaian subjektif penulis.