Wednesday, December 17, 2014

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 53: Let's Jump


Untuk kedua kalinya ikut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan. Dua tahun yang lalu sempat mengikutsertakan foto sewaktu jalan-jalan ke Semarang dengan tema Kota (Turnamen Foto Perjalanan Ronde 6)

Tak terasa, sekarang sudah memasuki Ronde ke 53. Kali ini temanya Let's Jump.

Terpilihlah foto narsis saya saat berkunjung ke Pulau Samalona, Makassar, pada Februari 2013 silam. Tak mudah mem-freeze lompatan yang hanya sepersekian detik. Apalagi saya bukan seorang pelompat yang baik, bisa jadi  ini adalah foto jumping  terbaik saya.
Ekspresi dan lompatannya berpadu optimal :)

" My best jumping pose" Pulau Samalona, Sulawesi Selatan, pada Februari 2013

Tuesday, December 9, 2014

Where will you stay?* #19

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Zurich di Balikpapan, Kalimantan Timur

Standard harga hotel di Balikpapan menurut saya cukup tinggi. Ya kalau dibandingkan dengan kota destinasi wisata semacam Jogja, Bali, atau Bandung. Di Ketiga kota ini penginapan-penginapan bersaing bak baju foto model, sangat ketat.

Memang karena jumlah dan variasi hotel di Balikpapan tak seberapa banyak. Budget hotel yang tersedia pun baru  Fave Hotel dan Swiss Belinn. Harganya cenderung lebih tinggi, kalau kawan membandingkan hotel yang sama di kota Jogja.

Hotel Zurich sendiri bukan tergolong hotel baru. Lantas kenapa memilih Hotel Zurich? Hanya ada dua alasan yakni letaknya di jalan Jendral Sudirman, yang merupakan jalan protokol di Balikpapan serta alasan promo dari kartu kredit tertentu.



menginap di Zurich hotel balikpapan
Lobi- Zurich Hotel, Balikpapan

Bangunan hotel ini dari luar cukup keren. Kelihatan kokoh dan berumur. Lobinya tak kalah keren. Zurich Hotel merupakan hotel bintang tiga dengan rate snya hampir setara dengan budget hotel. Biasanya yang non-budget hotel memang memiliki space baik lobby dan kamar tidur lebih luas. Termasuk dalam hal kamar mandi. Hotel bintang tiga ke atas memiliki standar bath tub untuk tiap kamar mandinya.

Thursday, December 4, 2014

Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 4)


Pak Sopir mengendarai bus dengan tenang, seolah-olah ini hari pagi minggu yang cerah. Tak perlu terburu-buru. Bus ini sebentar-sebentar berhenti pada halte yang telah ditetapkan. Jalanan bersih, dan lengang.  Tak kelihatan satu biji pun kendaraan roda dua. Sebaliknya, mobil mewah berserakan.

Jalanaan yang lengang di pagi hari - Abu Dhabi

Hampir  satu jam berkeliling naik bus dalam suasana pagi yang menyenangkan.  Cukup berguna untuk turis kere yang tak punya tujuan pasti. Hanya  ending acara naik bus pagi ini kurang menyenangkan. Katakanlah saya salah naik bus. Pemberhentian terakhir bukan di Marina Mall, namun di Abu Dhabi Mall. Tapi tak apa, toh juga sama-sama mall.

Masih pagi. Banyak outlet yang belum buka. Di pintu depan mall, ada sebuah loket bus hop-on hop-off yang menawarkan one day tour. Cocok untuk turis-turis transit yang melakukan perjalanan lintas benua.

Saya melipir mundur ketika tahu untuk acara satu hari tour harus merogoh kocek sekitar 950 ribu rupiah. Lebih baik saya kembali nai bus umum dan berkeliling sampai bego. Tahu berapa ongkos naik bus dari bandara ke Abu Dhabi Mall? Saya hanya perlu merogoh 4 dirham, atau sekitar 12 ribu rupiah.

Mall Abu Dhabi berisi deretan toko barang-barang mahal. Merek-merek sama yang masih bisa saya temukan di Mall Grand Indonesia, Jakarta. Tak ada yang sanggup saya beli di sini.  Jadi ketimbang sakit hati, sebaiknya saya segera melipir pergi.

Mall Abu Dhabi

Ada baiknya mengisi perut saja. Terakhir saya makan di dalam pesawat.  Otak  butuh nutrisi agar dapat bekerja cemerlang. Ingat, dalam perjalanan, kawan harus penuh  improvisasi dan panjang akal. 

Karena tak akan saya temukan gerobak yang menjual bubur ayam, maka saya menuju depot makan Subway tepat di seberang mall. Melahap cepat sebuah burger berisi meat ball yang rasanya enak banget. Untunglah enak, jadi saya tak sia-sia membayar mahal.  Harga burger di sini tak jauh beda dengan di Chicago. Sekali lagi, Abu Dhabi  tak cocok untuk turis kere.

Kenyang perut, hati tenang, dan saya naik bis lagi menuju Marina Mall. Tak begitu jauh, hanya butuh waktu sekitar 15 menit.  

Semula saya membayangkan Abu Dhabi sedikit mirip Arab Saudi. Mengingat waktu umroh, bahkan di Jeddah tak ada perempuan yang berkeliaran jalan sendirian. Jadi dengan alasan keselamatan, saya mengambil inisiatif untuk  mengenakan gamis.

Duh…duh, kali ini saya salah langkah. Ketika sampai di pusat kota,  suddently saya merasa Saltum alias salah kostum. Di Abu Dhabi, meski masih Timur Tengah, totally different dari Arab Saudi. Barangkali karena banyak pendatang dan ekspatriat, sehingga gaya berpakaiannya sudah modern. Bahkan keturunan arab sekalipun berpakaian sangat modern.

Saltum- Abu Dhabi

Beberapa kali saya dikira orang Filipina. Namun tak peduli Filipina atau Indonesia, kedua negara ini memilikin imej sebagai negera pengimport tenaga kerja informal terbanyak di Uni Emirates Arab. Saya membayangkan saya terlihat seperti TKW tersesat yang melarikan diri dari majikan.

Marina Mall lebih besar dan lebih baru dari Abu Dhabi Mall. Dan tetap saja tak ada yang sanggup saya beli di sini. Tepat di seberang mall ini, terdapat breakwater, semacam pantai buatan, yang menyusur di sepanjang  Corniche Road. Puluhan perahu layar, boat, dan yacht kecil bersandar.  Ada terlalu banyak milyuner di kota ini.

Boat, yacht, kapal layar kecil, dan sejenisnya- Abu Dhabi

Hari yang cerah. Banyak pula pengunjung yang berjemur, memancing, naik sepeda, jogging, atau sekedar duduk-duduk.  Dalam ingatan saya, inilah tempat paling menarik setelah Syeikh Jayed Mosque.

Emirates Palace, terletak hampir di ujung jalan Corniche. Sebuah hotel maha mewah, saking mewahnya sampai menjadi attractive place di Abu Dhabi. Setelah memotret (hanya) gerbangnya saja, saya kembali menelusuri peta. Ada satu tempat lagi: Heritage village yang konon katanya masih berada di kawasan Corniche Road juga.

 Matahari terik menyengat, sementara sehari sebelumnya saya hampir mati kedinginan di Chicago. Semangat jalan-jalan memang membuat fisik menjadi begitu kuat.

Bersimbah keringat, dan sepanjang penelusuran di jalan Corniche, tak saya temukan tanda-tanda plang nama Herritage Village.

Hilang minat saya. Sepertinya juga bukan tempat wajib untuk dikunjungi.  Lebih baik duduk-duduk di Corniche Beach sembari menguapkan keringat.

Gerbang- Emirates Palace- Abu Dhabi

Emitates Palace dari kejauhan- Abu Dhabi

Selama perjalanan saya tak membeli layanan data roaming.  Berselancar selama ini semata-mata hanya mengandalkan jaringan wifi.  Ada baiknya mencari teman mengobrol. Sudah sedari tadi malam saya hanya mengobrol dengan diri sendiri.

Wednesday, December 3, 2014

Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 3)

Impulsif, nekad, tapi adakalanya logika tetap saya gunakan. “Stay safe Rika”, pesan saya pada diri sendiri. Berdasarkan pengalaman-pengalaman selama melakukan perjalanan, membuat saya menarik kesimpulan dan menerapkan pada diri sendiri untuk “go with the flow”. Jangan tamak dan maruk. Jangan pelit dan perhitungan. Jangan terlalu terbawa euphoria dan lupa Tuhan.
Ketika pulang, satu godaan muncul. Istanbul, salah satu destinasi impian saya. Hanya 4 jam naik pesawat dari Abu Dhabi. Sebenarnya saya bisa menukar poin Etihad guest saya dengan penerbangan sekali jalan Abu Dhabi- Istanbul. Tapi rasa-rasanya terlalu memaksakan diri. Ada beberapa pertimbangan: pertama alasan kesehatan karena saya sudah terlalu capek, kedua saya belum ijin kantor kalau mau extend, dan ketiga keuangan semakin menipis. Ketiga hal yang sebenarnya masih bisa saya atasi. Namun akhirnya kembali kepada prinsip awal “go with the flow”, saya tidak boleh terlalu memaksakan diri.
Flying path Abu Dhabi-Chicago
Setelah penerbangan hampir 14 jam, lanskap salju di Chicago telah berubah.  Cerah ceria suasana malam menyambut saya di Abu Dhabi. Uni Emirates Arab memang tersohor sebagai negara kaya. Tak ada hostel di Abu Dhabi, dan saya terlalu pelit mengeluarkan uang untuk menginap di hotel. Sehingga mau tidak mau, terjadi degradasi kenyamanan tempat menginap. Dari Hotel Hilton saat di Minnesota, turun menjadi hostel saat di Chicago, dan kini saya memilih tidur di bandara.
Penerbangan saya terhitung kategori stopover dan bukan transit, menyebabkan saya harus mengambil bagasi dan check in lagi menjelang penerbangan selanjutnya. Saya tidak bisa kembali ke ruang tunggu untuk menumpang tidur.
Jika ke Dubai menggunakan Maskapai Emirates, penumpang stopover boleh masuk Dubai tanpai visa barang sehari dua hari. Di Abu Dhabi, pemegang passport Republik Indonesia harus mengajukan visa meskipun stopover hanya sehari atau dua hari.  Visa Abu Dhabi waktu itu saya apply secara online. Visa online ini memungkinkan jika kawan menggunakan maskapai Etihad dan menginginkan melihat Abu Dhabi barang sehari dua hari. Setelah pengajuan, maka kurang dari satu minggu, visa akan dikirimkan lewat email. Cukup di print, dan nanti ketika tiba di Abu Dhabi ditukar dengan visa asli di loker Etihad, sebelum menuju antrian imigrasi.
Setelah melewati petugas imigrasi yang terkantur-kantuk dan men-cap visa sekenanya, mata saya mulai memindai apa yang ada di sekeliling. Saya punya print-out Bandara O’Hare Chicago, tapi bodohnya tidak untuk Bandara Abu Dhabi. Bandara mulai sepi. Hampir pukul 9 malam waktu setempat, dan masih delapan jam lagi menuju pagi.
Perlu memindai beberapa tempat dan sudut, sebelum akhirnya saya menemukan musholla hangat yang bisa dijadikan tempat beristirahat. Tak saya temukan tulisan ‘dilarang tidur di mushola’, sehingga saya dapat mengacuhkan rasa bersalah di kepala dan tertidur lelap.
Mushola Bandara Abu Dhabi 
Sehabis sholat subuh, saya bersih-bersih, mencuci muka, ganti baju, dan bersiap untuk acara jalan-jalan kali ini. Masih di musholla, beberapa pegawai Etihad baru saja selesai melaksanakan ibadah.  Saya menanyakan dimana tempat penitipan barang (loker), karena saya tidak mungkin keliling Abu Dhabi sambil menyeret koper.  Eh si staff yang ramah itu malah menawari untuk early check in. “ Just  find me there”, ujarnya si staf cantik kepada saya.
Berbunga-bunga lah hati saya.

       Sayangnya, keberuntungan tidak semudah itu menemui saya.  Saya sudah memindai deretan counter, bersiap menuju counter yang dijagasi si mbak cantik, dan mulai masuk antrian
Namun seorang lelaki menghadang saya. Ia menanyakan nomor penerbangan saya. Sesuai regulasi,  saya baru bisa check in paling cepat 4 jam sebelum keberangkatan, unless saya mau mengubah jadwal penerbangan menuju Jakarta dengan pesawat  jam 10 pagi ini. Masuk akal juga sih alasannya,  mereka hanya takut mess-up bagasi saya dengan jadwal penerbangan pagi.

Dengan lunglai, saya keluar antrian counter check-in.  Di luar masih gelap. Pagi belum benar-benar tiba. Baiklah, saya akan kembali ke rencana pertama: kembali mencari jasa penitipan bagasi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...