Sunday, November 16, 2014

Review Tentang Sebuah Kekecewaan

Area X: Hymne Angkasa Raya, satu novel yang memberikan kesan pada masa remaja saya di awal tahun 2000an. Bahkan hingga kini, saya masih menyimpan apik novel Area- X tersebut. Satu buku yang tidak pernah ingin saya singkirkan diantara periode-periode suksesi buku-buku saya.

 Elita V. Handayani, si penulis novel, kala itu masih berstatus sebagai siswi SMA Taruna Nusantara, Magelang.  Sebuah karya brilian untuk ukuran penulis pemula yang masih berusia belasan tahun.  Apalagi waktu itu, ragam dan variasi buku non-terjemahan tak sesemarak saat ini.

Area X merupakan novel science-fiction futuristik, bertema alien.  Membaca novelPartikel nya Dewi Lestari mengingatkan saya pada nostalgia novel Area X. Setelah Area X, bertahun-tahun tak pernah saya temukan lagi buku dengan label Eliza V. Handayani sebagai penulisnya.

 Beberapa kali pernah saya coba mencari jejak Eliza V. Handayani. Tersebutlah dalam sebuah keterangan bahwa si Penulis melanjutkan studi mengenai perfilman di Negeri Paman Sam.

Suatu ketika beberapa bulan yang lalu, saat mengunjungi sebuah toko buku, saya menemukan kembali nama tersebut di deretan rak buku .  Dengan cover dan judul tak menarik, saya membulatkan tekad membeli buku dengan jumlah halaman 130 lembar tersebut. Sangat tipis untuk ukuran sebuah novel.

Baru setengah jalan membaca buku tersebut, rasanya saya mau muntah. Saya memang tak mengerti banyak tentang kaidah-kaidah penulisan novel. Tapi sebagai penikmat, saya merasa ada yang salah dalam buku ini. Ibarat bayi, maka buku ini cacat. Tak pantas disebut novel. Ada bagian-bagian yang tak lengkap. Alurnya tak sempurna, setting-nya abstrak, tokoh-tokohnya tak berkarakter.



Saya bahkan kebingungan, apakah ini cerpen atau novel. Ide ceritanya bagus, tapi dan seharusnya untuk sebuah  novel bisa dikembangkan hingga 400 halaman untuk cerita serumit ini. Terbaca jelas bahwa novel ini adalah kumpulan catatan harian si penulis yang terbitkan dengan editing ala kadarnya.  Ada warna seorang feminis yang desperate. Sebuah keputusasaan yang merujuk pada tindakan menyakiti diri sendiri, kegagalan studi, dan beberapa kali percobaan bunuh diri.


Kekecewaan saya membeli buku tersebut tak sebanding dengan kekecewaan saya terhadap si penulis sendiri. Belasan tahun menanti, sebuah harapan bila saja si penulis kembali, ia akan menghasilkan deretan karya brilian dari seseorang yang (seharusnya) bertransformasi  menjadi lebih matang, setelah belajar dan merantau jauh ke benua nun jauh di sana.

Barangkali memang kesuksesan tak serta merta dihasilkan oleh bakat semata.  Ada mental yang tahan banting, kegigihan yang terus diasah, dan satu yang pasti, persistensi terhadap segala kegagalan dan rintangan yang datang.


Iya, bisa jadi proses transformasi itu belum berhasil. Dan barangkalai proses transformasi itu masih terus berlangsung. 

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...