Thursday, November 27, 2014

2014


Hujan membingkai setiap hari. Desember menanti diambang pintu. One month left.
Orang-orang terburu-buru. Matahari terus bersembunyi. Banjir mengancam jalanan dan rumah-rumah di bantaran kali.
Empat tahun yang lalu, saya mengutuk kota ini hampir setiap hari.
Belakangan, saya juga masih mengutuk, terutama kala terjebak macet, hujan mendera, dan mahalnya barang-barang.
Namun menengok ke belakang. Ada lembar empat tahun kekinian, yang ingatannya masih segar.
Malu rasanya mengingat  enam tahun kuliah saya di Yogyakarta. Rasanya saat itu hanya menjadi lembar hura-hura. Banyak tawa namun dangkal makna. Iya kuliah itu ibarat teori dalam kehangatan tempurung
Saya baru menengok dunia sebenarnya. Belajar tentang ketangguhan hidup setelahnya. 
                                                                                       *
Ada banyak hal yang saya persiapkan untuk masa depan di tahun 2014.
Tapi tiga hal yang saya tulis pasti apa yang menjadi fokus: Menabung, Menulis, dan Menikah.
Mencoba fokus dari serangkaian kisah cinta, yang lebih mirip cerpen tanpa anti klimaks.
Memuncak, lalu tiba-tiba hilang. Dan segera terganti dengan kisah cinta yang lain.  Rumusnya hampir selalu begitu.
Fokus, itulah pesan terpenting dari keluarga, dan kawan-kawan dekat saya.

One Month Left
Menabung on progress, walaupun masih sedikit demi sedikit
Menulis (stil) on progress, membereskan sebuah proyek lama, merilis beberapa proyek baru yang semoga dapat selesai sebelum pertengahan tahun depan.
And finally, married. 

Life is just begin.
Ini adalah awal.
Sekarang saya tak lagi bertarung sendiri.
Sekarang saya punya teman, yang akan menemani saya bertarung, sekaligus teman yang bisa jadi yang melemahkan saya dalam pertarungan menghadapi dunia.
Tapi tak apa. Pertarungan tetap harus dilanjutkan. Dan saya sudah memilih untuk tak sendiri lagi.
Apapun yang terjadi, mari saling menguatkan. Sampai nanti. Sampai mati.



 


Satu bulan lebih tiga hari menjelang berakhirnya tahun 2014



Friday, November 21, 2014

(Sebuah) Dongeng Setelah Tidur


Sinar matahari menembus tirai jendela, subuh berlalu sudah cukup lama. 

Dari dalam sebuah kamar yang sempit, seorang lelaki mengeluhkan hidupnya yang kerap  bertemu kegagalan. 

“Baiklah, akan kuceritakan padamu tentang sebuah kisah”, ujar seorang perempuan yang juga berada dalam kamar yang sama.

Maka si perempuan pun mulai bercerita

“Pada suatu masa, ada seorang saudagar yang sedang menempuh perjalanan di padang pasir. Ketika hari mulai malam, maka si Saudagar  pun mendirikan tenda di padang pasir itu. Mengikat unta, dan mulai tertidur. Tak  berapa lama, lewat serombongan perompak. Mereka mengambil semua barang milik si saudagar: penerangan, uang, unta, dan perbekalannya. Si Saudagar tetap tertidur dalam lelap hingga pagi.  Ketika bangn, terkejutlah ia. Si Saudagar bersedih hati, begitu bersedih, dan menyesali nasibnya yang malang.”



Si Lelaki mendekap si perempuan, dan terus mendengarkan. 

Sambil menarik napas, si perempuan lalu melanjutkan kisahnya.
“Namun, ada satu hal yang tak diketahui si saudagar. Setelah rombongan perampok itu lewat, maka lewatlah serombongan tentara perang, yang akan membunuh suku-suku tertentu, termasuk kaum dari si saudagar. Seandainya rombongan perampok ini tak mengambil penerangan, unta, dan barang-barang lainnya, tentu rombongan perang itu akan menemukan si saudagar. Pagi itu, si saudagar mengutuki dirinya, betapa malang nasibnya. Padahal tanpa saudagar itu  ketahui, ia telah diselamatkan oleh rombongan perampok. Ia bukan lelaki malang”.

“Tetapi ia adalah lelaki beruntung”, timpal si lelaki. Kali ini senyum tersungging di ujung bibirnya. Pelukan tetap tak dilepaskan pada si perempuan. 

Matahari telah lebih tinggi. Pelukan mengerat. Hiruk pikuk di jalanan terdengar samar.  Mereka masih saja berpelukan. Seolah mereka lah orang paling kaya di dunia ini. Sehingga tak ada khawatir.  Sehingga tak perlu bekerja dan mencari uang. 

Dan begitulah si perempuan dan si lelaki menemukan keberuntungan masing-masing.


Sunday, November 16, 2014

Review Tentang Sebuah Kekecewaan

Area X: Hymne Angkasa Raya, satu novel yang memberikan kesan pada masa remaja saya di awal tahun 2000an. Bahkan hingga kini, saya masih menyimpan apik novel Area- X tersebut. Satu buku yang tidak pernah ingin saya singkirkan diantara periode-periode suksesi buku-buku saya.

 Elita V. Handayani, si penulis novel, kala itu masih berstatus sebagai siswi SMA Taruna Nusantara, Magelang.  Sebuah karya brilian untuk ukuran penulis pemula yang masih berusia belasan tahun.  Apalagi waktu itu, ragam dan variasi buku non-terjemahan tak sesemarak saat ini.

Area X merupakan novel science-fiction futuristik, bertema alien.  Membaca novelPartikel nya Dewi Lestari mengingatkan saya pada nostalgia novel Area X. Setelah Area X, bertahun-tahun tak pernah saya temukan lagi buku dengan label Eliza V. Handayani sebagai penulisnya.

 Beberapa kali pernah saya coba mencari jejak Eliza V. Handayani. Tersebutlah dalam sebuah keterangan bahwa si Penulis melanjutkan studi mengenai perfilman di Negeri Paman Sam.

Suatu ketika beberapa bulan yang lalu, saat mengunjungi sebuah toko buku, saya menemukan kembali nama tersebut di deretan rak buku .  Dengan cover dan judul tak menarik, saya membulatkan tekad membeli buku dengan jumlah halaman 130 lembar tersebut. Sangat tipis untuk ukuran sebuah novel.

Baru setengah jalan membaca buku tersebut, rasanya saya mau muntah. Saya memang tak mengerti banyak tentang kaidah-kaidah penulisan novel. Tapi sebagai penikmat, saya merasa ada yang salah dalam buku ini. Ibarat bayi, maka buku ini cacat. Tak pantas disebut novel. Ada bagian-bagian yang tak lengkap. Alurnya tak sempurna, setting-nya abstrak, tokoh-tokohnya tak berkarakter.



Saya bahkan kebingungan, apakah ini cerpen atau novel. Ide ceritanya bagus, tapi dan seharusnya untuk sebuah  novel bisa dikembangkan hingga 400 halaman untuk cerita serumit ini. Terbaca jelas bahwa novel ini adalah kumpulan catatan harian si penulis yang terbitkan dengan editing ala kadarnya.  Ada warna seorang feminis yang desperate. Sebuah keputusasaan yang merujuk pada tindakan menyakiti diri sendiri, kegagalan studi, dan beberapa kali percobaan bunuh diri.

Wednesday, November 12, 2014

Perpustakaan Freedom Institute

Saya tahu mengenai perpustakaan Freedom Institute ini sudah lama. Lewat twitter kalau tak salah. Agak penasaran namun kemudian lupa.  Belakangan saya punya waktu luang cukup banyak. Maka ada baiknya mengunjungi tempat-tempat yang dulu sempat ingin saya kunjungi.

Setelah saya skrining, lokasi Freedom Institute lah yang paling gampang saya jangkau.  Letaknya di Jalan Proklamasi No.41. Tepat di seberang Tugu Proklamasi terdapat Wisma Proklamasi.  Perpustakaan Freedom Institute ini berada di dalamnya.

Bersih, rapi, dengan desain modern. Jangan kawan bayangkan seperti perpustakaan tua di setting film Ada Apa Dengan Cinta ?. Penerangan yang memadai, AC dengan dingin yang pas, serta sofa dan kursi malas. Membuat saya beberapa kali terlena dan hampir ketiduran. Jangan khawatir, Untuk masuk dan menjadi anggota perpustakaan, semuanya gratis.
Suasana Freedom institute jakarta
Perpustakaan Freedom Institute


Pada hari-hari tertentu, kerap diadakan diskusi di perpustakaan ini. Umumnya mengenai demokrasi dan ekonomi, yang memang menjadi fokus lembaga Freedom Institute.

interior foto di perpustakaan freedom institute
Freedom Institute Library
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...