Tentang Saya dan Kontak

Thursday, July 24, 2014

Indonesia, New Chapter, New Beginning

Layaknya battle game, pemilihan presiden tahun 2014 ini benar-benar seru dan penuh intrik.

Dan lagi-lagi, tahun ini saya tetap golput. Tanggal 9 Juli 2014 kemarin sempat sedikit berjuang ke TPS, mepet-mepet jam 12, bawa KTP dan surat keterangan domisili. Dan ternyata saya tetap tak bertakdir mengikuti pesta demokrasi tahun ini.

Belum pecah rekor selama 27 tahun tinggal di negara demokrasi , dan SEKALIPUN SAYA BELUM PERNAH mengikuti pemilihan presiden, legislatif, maupun kepala daerah. Sekalipun tak pernah. Mungkin ini  salah satu bad impact dari merantau.

Jadilah hari itu saya hanya merapalkan doa, semoga Jokowi menang. He is not that good, but I choose the less evil.

Doa saya, dan jutaan warga negara Indonesia lainnya, terkabul dua hari yang lalu. Jokowi- JK pemenangnya.

Jokowi, jika ditandingkan dengan 6 orang presiden Indonesia sebelumnya, bisa dibilang tak ada apa-apa nya.

Lihatlah Soeharto dan SBY yang memiliki latar belakang militer. Merintis karir di ketentaraan, menjadi Jendral, lalu Presiden.

Kemudian Soekarno, ia adalah seorang proklamator, seorang orator ulung, pendiri partai, tipikal politikus sejati. Anaknya, Megawati, tentu saja terpandang di kalangan elit politik. Dan tetap berkecimpung di dunia  politik seumur hidupnya.

Dan BJ Habibie yang lama bersekolah di Jerman, punya kecerdasan luar biasa, seorang profesor. Pun sebelum menjadi presiden, ia merintis karir menjadi menteri dan wakil presiden. Jatuhnya Soeharto yang secara kebetulan membawanya menjadi Presiden ketiga Republik Indonesia.

Satu lagi, ialah Gusdur. anak kandung dari pendiri NU, keturunan Kiai terpandang di Jawa Timur. Di dalamnya mengalir darah pemimpin.  Ia pun menuntut ilmu ke Mesir, Irak, hingga Eropa. Kembali ke Indonesia, menjadi cendekiawan, sebelum akhirnya berpolitik dan menjadi presiden.

Dan lihat siapalah Joko Widodo?. Ia bukan berasal dari kalangan militer, ia hanya berkuliah di fakultas kehutanan Universitas Gadjah Mada. Bukan di luar negeri, dan  hanya sampai strata 1.

Tak berpengalaman banyak di bidang pengurusan partai, pidato nya pun tak bagus-bagus amat. Keluarganya bukan keturunan ningrat atau orang penting.
Jokowi hanya warga sipil biasa, berasal dari middle class, yang sebelumnya adalah pengusaha mebel lumayan sukses di Solo.

Terlepas dari atribut yang mengiringi Jokowi: pendidikan, kekayaan dan  keturunannya, ternyata tak mempengaruhi  orang-orang menilai profil personalnya.

Buktinya? Lebih dari setengah rakyat Indonesia mempercayakan ia menjadi pemimpin negeri ini. Lewat pesta demokrasi, bukan kudeta, revolusi, dan semacamnya.

Well, saya tak mengatakan Jokowi sempurna, but overall, Jokowi yang berhasil menang di Pemilu 2014 kali ini, semacam membuka mata kita, siapapun boleh bermimpi menjadi apapun


Ternyata, siapapun bisa jadi presiden J

Source

Jakarta, 24 Juli 2014

Saturday, July 12, 2014

Where will you stay?* #13

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

International Hostel Chicago, Chicago, Illionis

Saya baru menemukan hostel keren ini dua jam sebelum keberangkatan saya dari  Minnesota ke Chicago. Saat itu saya iseng berselancar menggunakan computer yang berada di lobby hotel, sembari menghabiskan waktu menunggu shuttle bus yang akan mengantar ke bandara. Rencananya malam itu saya hanya akan menginap di bandara O’Hare Chicago. Namun menimbang prakiraan cuaca  yang diramalkan masih di bawah 5 derajat celcius, gentar juga diri ini. Pertimbangan kedua, karena rate hotel transit jauh lebih tinggi di dari rate hostel. Maka lebih baik malam ini saya langsung ke pusat kota dan menginap di sana.

Dari bandara O’Hare, lagi-lagi saya menggunakan layanan shuttle bus,  GO Express shuttle. Bentuknya mirip travel Cipaganti trayek Jakarta-Bandung. Ongkosnya hanya 32 USD untuk tiket PP.  Karena dalam satu mobil, kita akan share dengan beberapa penumpang lain untuk tujuan daerah tertentu.  Lumayan irit, mengingat jarak tempuh dari Bandara OHare ke Chicago Downtown sekitar 18 miles.

Seorang staf front office menyambut kedatangan saya. Tak begitu banyak bicara. Keliahatan seperti mahasiswa yang  sedang kerja part time.  Sudah malam dan masih banyak tamu yang hilir mudik, check-in dan check out. Dengan memperhatikan ciri fisik,  dalam  hitungan kasar, saya pastikan 50%  pengunjung hostel ini adalah backpacker yang berasal dari Korea atau Jepang.
Resepsionis, International Hostel Chicago

Seorang remaja, sepertinya dari Eropa, terlihat sedang berskype ria dengan orangtuanya, ketika saya memasuki kamar. Ia duduk persis di samping kasur saya. Suaranya yang lantang dan menggebu-gebu mau tak mau memaksa saya mendengar cerita petualangannya mengelilingi Amerika. Dan tahun depan mungkin dia akan bertualang ke Australia, memenuhi undangan seorang pemuda Australia yang ditemuinya beberapa waktu lalu. Ia hanya berhenti bicara beberapa detik, saat melihat saya sholat.


Kamar yang hangat, International Hostel Chicago

Tak berselang lama, check-in seorang perempuan, yang saya ketahui belakangan berasal dari Korea. Pura-pura saya beramah tamah dengannya di wastafel.  Mengorek informasi mengenai tempat-tempat nge-hits di Chicago. Saya terlalu malas malam itu untuk mencari informasi di dunia maya. Sebelumnya saya berencana mengikuti One Day Tour Hop-On Hop-Off Bus. Setelah dihitung-hitung, ongkosnya cukup besar,  dan jikalau sedang turun salju, bus ini belum tentu beroperasi. Cewek Korea itu backpacking solo selama beberapa bulan mengelilingi Amerika. Sesuatu yang membuat saya berdecak kagum.

Dibandingkan dengan hostel abal-abal yang pernah saya singgahi, bisa dibilang ini adalah hostel terkeren.. Well organize, clean, and complete facilities. Kamar luas nan hangat, Total ada sepuluh kasur. Dan setiap tamu dilengkapi dengan selimut tebal, bantal, handuk bersih, dan locker. Tak cukup sering hostel menyediakan selimut dan handuk.  Juga ada telepon yang free digunakan untuk sambungan telpon lokal,  dan wifi yang super kencang.
Kamar mandi bersama dan dapur terdapat pada setiap lantai.  Walaupun tanpa kompor, tapi dapur umum ini menyediakan oven dan kulkas.  Kalau mau hemat, cukup membeli frozen meal di grocery store, dan tinggal dipanaskan di oven. Harga frozen meal berkisar 4-6 USD, tentunya lebih murah ketimbang beli makanan di warung makan yang bisa menghabiskan sekitar 9-11 USD.

Lantai dua dihostel ini keren banget. Selayaknya hostel, lantai inilah ruang rekreasinya. Ada ruang sepi tempat bermain atau membaca buku, meja bilyar, sofa empuk, toilet dan kamar mandi, pusat informasi (di jam-jam tertentu ada volunteernya), tersedia berbagai flyer dan peta, ruang makan untuk sarapan, kran drinking water, dan komputer untuk ngenet gratis beserta printer. Jadi meskipun sudah check out, dan menyerahkan kartu sensor sehingga tidak bisa mengakses lift dan kamar, bekas pengunjung hostel ini masih bisa beristirahat. Setidaknya bisa numpang mandi dan sholat.
pusat informasi, International Hostel Chicago

Thursday, July 10, 2014

Memoar Masa Kecil

Apa pekerjaan yang paling saya impikan?

Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, A  Full time housewife.

Sebab musababnya,  ketika  kecil, hanya ada satu hal yang paling saya inginkan?

 Iya, pulang ke rumah, disambut  wangi masakan rumahan yang tercium hinggga ke depan pintu, dan  mendapati ibu sedang memasak di dapur.

Sesuatu yang dalam ingatan saya, belum pernah saya dapati.. Tak sekalipun. Sesuatu yang membuat saya kerap murung, tatkala berkunjung ke rumah kawan sepulang sekolah, dan mendapati ibu kawan saya sedang memasak. Iri luar biasa kala itu.

Saya hanya tinggal di rumah hinggan SMP, Hingga saya berusia empat belas tahun. Setelahnya  saya merantau, hingga kini.
Hingga dalam acara keluarga besar atau perkenalan relasi dan kerabat, saya jarang muncul. Hingga ibu kerap mengenalkan saya: dengan kalimat pembuka
“Ini anakku yang bungsu, ia jarang kelihatan, ia besar di perantauan.”.
Karena tak jarang kerabat saya berujar “Loh, ini anak yang mana? Masih ada ya adiknya si A (menyebut nama kakak saya)?”

Iya, tak banyak waktu yang saya habiskan di rumah. Terlebih, tak banyak waktu saya habiskan bersama orangtua.

Saya mungkin tidak akan bisa kembali lagi ke masa lalu. Satu-satunya yang tidak mungkin di dunia ini. Tapi saya kan masih bisa memperbaiki masa depan. Suatu saat saya ingin membesarkan anak dengan cara saya sendiri.

Iya, kenangan, kebahagiaan, dan keceriaan, sesuatu yang seharusnya diperoleh anak-anak di sudut manapun di dunia ini. Entah sebagaimanapun kerasnya hidup yang kelak akan mereka lalui ketika dewasa. 


Source fotohttp://www.clipartof.com

Wednesday, July 2, 2014

Ramadhan Kareem


Ramadhan sudah berjalan 3 hari, target belum ditetapkan. Habis baca blog orang, saya  jadi terinspirasi untuk mencatat kegiatan dan fokus yang ingin dicapai ramadhan kali ini.

Mengingat belakangan energi dan waktu saya yang banyak terkuras di kerjaan dan urus-urus persiapan nikah. Berhubung  saat ini kami tercerai berai. Saya kerja di Jakarta, si abang kerja di Kalimantan, nanti insyaAllah nikahnya di Jambi, dan ditambah nikahnya rada mendadak begini. Kebayang kan hectic nya kayak apa?

Mengingat juga saya bukan tipikal orang  yang suka menjalani hidup dengan metode  ‘let it flow’. Saya tahu kelemahan saya, yakni gampang banget nget terdistraksi. Tiap harinya saya perlu menuliskan list things to do, dan tiap bulannya saya menetapkan target yang ingin dicapai. Ya kalau ingin hidup saya berjalan lancar.

Sehingga dan oleh karenanya saya bikin schedule dan target agar Ramadhan kali ini energi dan fokusnya nya gak diporsis semua untuk kegiatan duniawi.

Bikin daftar, sehingga ingat terus, dan lalu dilaksanakan. Mudah-mudahan masih ketemu Ramadhan tahun depan, dan insyaAllah nanti bikin daftar yang lebih baik.

1.       Pulang on time, kurangi kegiatan abis pulang kerja, kurangin tugas keluar kota,  magrib udah di kosan, isya  dan tarawih sebisa mungkin di mesjid
2.       Bangun lebih awal dan Tahajjud sebelum sahur
3.       Ngaji tiap hari dari selesai sahur sambil menunggu subuh
4.       Minimal I’tikaf sekali aja di mesjid. Pengennya istiqlal lagi kayak tahun dulu.
5.       Banyakin baca buku tentang agama dan dengerin pengajian live maupun streaming.
6.       Bangun tidur sebelum berangkat kerja, fokus nulis. Belakangan, produktivitas menulis saya makin menurun.

Well, gak muluk-muluk sih, tapi mudah-mudahan semuanya terlaksanana, dan ramadhan ini menjadi katalis pemercepat proses peningkatan iman dan perbaikan diri.
Have blessing Ramadhan, everyone!  J


Tanggal lima Ramadhan besok, umur saya 28 tahun, padahal baru bulan lalu ulang tahun ke 27 :p

Source foto