Wednesday, March 26, 2014

Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 2)

Saya ke pasar Maxwell di Desplaines Street, Chicago. Mengecewakan. Di luar ekspektasi saya.  Berhenti di sebuah teras bangunan karena angin kencang pagi itu. Seorang laki-laki paruh baya menghampiri

“Todays weather is very bad”, sapa si bapak yang saya notice dari pakaiannya bertugas sebagai security.
“ Yeah, pretty damn cold!”.

Kapiler pembuluh darah saya nyaris beku. Saya tak mampu berpikir lagi. 
Dengan bahasa inggris sepatah dua patah kata, saya tak punya pilihan lain. Ngobrol dengan orang, satu hal yang bikin tetap bikin waras, terutama saat jalan sendirian dan sudah tak tahu harus kemana. Si bapak berperawakan mirip pegawai polisi rendahan yang gemar mabuk seperti stereotype di film-film Hollywood. Typically American yang cenderung rame dan banyak berkeluh kesah untuk memulai obrolan.

“ You know what I’m doing?”,
Pura-pura nggak tau, saya jawab “What are you doing?”
Si bapak membuka kupluknya, dan memperlihatkan topi nya yang bertuliskan security
 “I’m working around here, just to make sure, everything’s okay”

Tentu saja sebagai timbal balik, saya pun menceritakan hal ikhwal kedatangan saya ke Amerika, dan pengalaman pertama ke Chicago.

You have noted?” tanya nya.
Seketika saya menyerahkan pulpen dan kertas. Ia menuliskan sebuah nama gedung.
“You know the skyscraper overthere? That’s one of the tallest building in the world. Its pretty cool”.
Lalu si bapak menjelaskan arah kemana saya harus berjalan menuju gedung itu. Angin dingin masih menderu kencang.

“So…why don’t you go now?”
“Its very cold”, jawab saya sambil menggigil.
“You know, the best thing you can do in winter is just keep walking”.
“C’mon…Just go, you only have time untili tonight, right?”. seru si bapak menyemangati saya.

Lalu dengan semangat yang akhirnya berkobar, saya meninggalkan si bapak, menuju arah jalan yang telah diberitahukannya, yang mana dengan akal sehat saya, searah jalan pulang menuju hostel. Sehingga keyakinan saya menjadi lebih besar pula.
Angin masih berhembus kencang.  “Masak mati cuma karena kedinginan, ini gak banget lah”, ujar saya dalam hati. Dan saya terus berjalan sambil mengingat pesan si bapak. Yes, the best thing you can do in winter is just keep walking. Sure, you can do also in life. Gak ada waktu untuk berhenti. Just Keep Walking J
Adams Street

Union Station

Chicago River

Dua blok sudah saya lewati. Dasar, buta spasial. kembali saya kehilangan arah. Skycraper yang dimaksud si bapak tak jua saya temui.  Dingin kembali membekukan otak saya.
Gak disangka, malah akhirnya menemukan  Chicago River. Sungai yang pengen saya liat, selain Sungai Missisipi. Untungnya, Chicago River  tidak beku seperti Sungai Missisipi yang saya kunjungi di Minneapolis.
Setelah memotret beberap gambar, saya meneruskan perjalanan. Hostel semakin dekat, dalam pikiran saya. Sedang Skycraper yang semula saya cari, sudah tak lagi menjadi tujuan saya.
Berbelok ke kanan menuju Adams Street, saya yakin di ujung jalan itu ada Michigan Ave, tentu saja satu blok sebelumnya pasti ada East Parkway Street, tempat dimana hostel saya berada.

Angin tak berhenti menerpa, Saya kalah lagi. Masuk ke Circle-K, satu pilihan untuk menghangatkan diri. Apa yang saya temukan di sana sodara-sodara?. Well, gantungan kunci, magnet kulkas, dan pernik meja dengan harga di bawah 8 USD.  Seorang kawan kos bercerita sewaktu dia berkunjung ke Washington DC, ia harus ke China Town dulu untuk menemukan oleh-oleh standard dengan harga semurah itu.
Mungkin ini rezeki yang di oleh-olehin. Saya tipikal yang malas ribet. Kalau gak ketemu, ya sudah, oleh-oleh nya di skip saja :p.
*
“When I was in pilmigrigde to Makkah, my father said those people from Indonesia.  A lot lot of people.”, Si Sopir menjelaskan  tebakannya yang tepat atas kewarganegaraan saya.

Minneapolis Downtown yang super sepi

Tak banyak yang tau soal Indonesia, jikalau saya tak menyebutkan Bali sebagai penanda. Seperti sopir Shuttle bus hotel yang beramah tamah menanyakan asal saya. “What? Indonesia? Where is it?”.  “Somewhere in South East Asia, near Malaysia”, jawab saya lebih jelas. Dan baru dibalas anggukan oleh si abang sopir.

Hari pertama ketibaan saya di Minnesota, dan saya masih punya waktu satu hari sebelum training di mulai. Tujuan saya Mill City Museum. Sudah saya niatkan sejak masih di Jakarta untuk mengunjungi museum ini. Jadi walaupun harus menghabiskan 37 USD dengan jarak lebih dari 12 mil  dari hotel saya di Bloomington ke Downtown Minneapolis, niat harus tetap saya tunaikan. 
 “We have a big moeslim community here. Very big.”, tutur si sopir yang ternyata berasal dari Somalia, sebuah negeri nun jauh di Benua Afrika. Perkataan abang sopir ini terbukti. Setelah beberapa hari di Minnesota, kemanapun saya pergi, terutama kalau ke Mall, stasiun, atau supermarket, saya selalu menemukan perempuan berjilbab. Meski semua yang saya lihat memiliki ciri fisik ras negroid. Sering saya diliatin, atau kadang dibalas dengan senyuman. Mungkin di sana tak lumrah melihat ras non-negroid mengenakan jilbab.

Setibanya di Downtown, tentu jumlah bangunan lebih rapat ketimbang Bloomington. Dan setidaknya ada beberapa manusia yang saya liat di tepi jalan. Namun dibandingkan dengan kampung saya di Jambi, jelas Jambi lebih ramai. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Tak ada motor di Minneapolis ini. Hanya sesekali mobil pribadi lewat. Dan tak ada taksi yang lewat. Catat sodara-sodara, TAK ADA TAKSI LALU LALANG.
            Si sopir memberikan kartu nama dan nomor telepon. In case, saya butuh bantuan. Dan diantara beberapa kebegoan saya, salah satunya adalah saya tak mengerti bagaimana menelpon nomor Amerika,  menggunaka nomor ponsel dengan provider Indonesia, di Amerika.
            Tentu saja, terbesit kekhawatiran, bagaimana caranya saya kembali ke hotel. Tapi saya tak punya waktu untuk berlama-lama dengan rasa khawatir.  Sore ini jam 5 akan ada jadwal chill out sesame peserta training. Dan di depan saya ada Museum yang menanti untuk saya jelajahi.
Mill City Museum, Minneapolis


             Sudahlah, mungkin saya bisa mencari telpon koin yang kemarin malam saya liat banyak beredar di bandara. Mungkin juga aka nada staf museum yang bersedia memanggilkan saya taksi.  What-so-ever.
Dua jam berlalu. Urusan saya dengan Mill City Museum sudah selesai. Beberapa leaflet saya bawa pulang. Satu keinginan saya adalah melihat Sungai Missisipi lebih dekat. Saya hanya perlu berbelok satu blok. Sungai Missisipi terletak tepat di belakang Mill City Museum. Namun urung niat ini melihat ini sungai yang beku dari kejauhan.  Membayangkan dinginnya, saya sudah bergidik.
Sungai Missisipi yang membeku, Minneapolis

Lalu saya melihat sisi lain peta di leaflet. Sesuatu dengan bacaan Mall of America. Jaraknya hanya dua blok. Ya sebaiknya saya ke sana saja. Saya  bermaksud membeli barang titipan kerabat dan pasti ada counter taksi di Mall.

Jika jalan-jalan sendiri, memang kecerobohan dan kebegoan itu tak ada yang mengingatkan. Ternyata saya salah baca. Ternyata itu adalah bangunan runtuh bekas stadion bernama Metrodome Hubert H. Humprey dan di dalamnya terdapat  Mall of America Field.  Saya yang salah menginterpretasikan sebagai Mall of America, sebuah mall beneran yang saya cari.

Aliran darah di otak mungkin sudah melambat, tapi untungnya masih bisa digunakan.  Di perempatan, saya melihat rel metro.  Saya ikuti. Berbelok ke kanan, di sana ada halte. Jari-jemari mulai terasa ngilu. Terakhir saya melihat handphone, suhu hari ini minus 20 derajat.
Di halte, saya ketemu beberapa orang. Aneh, ketemu manusia saja rasanya senang banget. Pemanas di halte membantu mengencerkan kembali otak. Saatnya berpikir.

Saya lihat kembali peta metro yang ada di halte. Saya berada di halte dengan jalur Blue Lina. Dan oh ternyata Mall of America begitu jauh dari sini. Jadi urutannya  Downtown Minneapolis-  West Bloomington (lokasi hotel saya)- Mall of America (Perbatasan antara Bloomington dan St.Paul Airport).  Bisa-bisanya saya mengira kalau saya bisa jalan kaki dari Mill City Museum ke Mall of America.


Metro Blue Line, Minneapolis

Jalur biru metro ini  akan berhenti di stasiun terakhir yakni Mall of America. Hanya butuh menguras kocek  1,75 USD dengan waktu tempuh lebih kurang setengah jam. Hahaha, bisa ngerasain naik metro dan tak jadi menguras kocek naik taksi. Saya senang bukan kepalang.

Dan sampai detik ini saya tak habis pikir, kenapa saya bisa senekad itu. Hampir tercerabut nyawa ini karena kedinginan.

Tapi kenekadan itu bagai heroin.  Besok-besok saya tetap nekad lagi, dan setelahnya akan berbisik pada diri sendiri  “Kenapa sih aku bisa senekad itu?”.  

Dan lalu tertawa sendiri :D


Minneapolis Downtown di hari selasa siang. Entahlah, mungkin sedang libur nasional
Nickelodeon Universe di dalam Mall of America
----
Masih ada catatan perjalanan selanjutnya. Kawan bisa membuka laman Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 3)

5 comments:

yonapratiwi said...

Klo lagi bengong dan bosen di depan laptop, biasanya daku main ke sini. Ceritamu selalu menarik, Rik. Keep blogging ya, girl ;)

R. Melati said...

Thanks Yona. Iya mudah-mudahan tetap istiqomah menjadi blogger yang baik dan benar :p.
Semoga blog ini dapat terus bermanfaat :)

Arya Poetra said...

Tempat baru, orang baru, pengalaman baru, kan menghantarkan pada wawasan baru. Dengan begitu, kan ada sebentuk hati yang lebih terwarnai.. :p

R. Melati said...

Curhat nih om arya? :D

Arya Poetra said...

Eaaaa.. Wakaka

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...