Saturday, March 8, 2014

Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 1)

         Bus ke 6 yang saya tanyai. “ Are you going to Grand Mosque?”, Lalu Si Sopir mengangguk.

Saya memasukkan dua kepingan satu dirham.  Duduk di kursi paling depan.
Murah dan tentu saja lama. Sudah banyak sekali penumpang naik dan turun.  Saya sudah ketiduran dan terbangun lagi. Tak ada tanda-tanda keberadaan mesjid maha besar seperti yang saya liat di website.
 Hampir satu setengah jam berlalu.  Pukul setengah 5 sore, akhirnya saya sampai juga. Waktu yang tepat untuk mengunjungi Mesjid Syeikh Jayed, begitu saran sebuah laman pariwisata Abu Dhabi yang saya baca tadi malam
Tertatih-tatih saya berjalan menuju gerbang. Hari itu saya berjalan sangat jauh.  Jari-jari kaki saya lecet. Tapi ini destinasi terakhir. Mesjid, dan saya berniat sholat. Jadi harus lebih semangat.
Gerbang besar mesjid sudah tertutup rapat. Saya berhenti sejenak, ragu. Lalu datang seorang laki-laki yang saya notice sebagai warga lokal.

 Ia membuka gerbang itu, “Come on, just come in”. saya pun ikut masuk.

 “You wanna pray?”, sapa si pria

“Yeah!"

“Are you moeslim? ‘

“Of course”, jawab saya cepat.  Ini bukan pertama kalinya. Sebelummya petugas airport service juga menanyakan apakah saya muslim atau tidak.  Hanya karena nama saya bukan nama berbau islam. “That’s Indonesian name”, kata saya singkat. “What’s the meaning?”, tanya si bapak lagi. Saya mengangkat bahu.  Lagian di antara sekian ribu warga Indonesia bernama Rika, adakah yang tau makna dari nama tersebut? .

“Hey, the gate is closed. Don’t you see it? Why do you coming?”, seru  seorang petugas, galak.

“Pray…”, pria itu menggerakkan tangannya sejajar kuping.  Saya ikut  mengangguk.

Si Petugas berfikir sejenak sebelum berseru “Just hurry up!”

Saya bernafas lega dan berhenti sebentar untuk mengambil gambar

“Hey faster, faster…., and don’t take picture” si security, menghalau saya

“ Alright..alright…”, hampir setengah berlari, saya menuju tempat wudhu.

Syeikh Jayed Grand Mosque, mesjid terbesar di Abu Dhabi, tujuan utama mengapa saya bela-belain stopover dan bikin visa transit Uni Emirate Arab.
Jika tak berpapasan dengan si abang tersebut, saya tak yakin bisa masuk ke mesjid ini.

Syeikh Jayed Grand Mosque- Abu Dhabi
Bagian dalam Syeikh Jayed Grand Mosque

*
Februari, bulan lalu, masih di awal tahun,  adalah perjalanan terjauh dan terlama yang saya tempuh sendirian. Hampir 10 hari, perjalanan lintas benua.

Jalani, ikhlas, dan rasakan. Saya berusaha untuk tidak berekspektasi lebih. Hanya menikmati.

Dimulai dengan sholat safar, dini hari itu saya berangkat, perjalanan lancar hingga tiba di Chicago. Dingin menusuk, salju menghampar.  Hampir satu jam saya menunggu, penumpang yang lain satu per satu sudah memperoleh bagasinya. Hingga tinggal saya sendiri  yang berdiri, saya masih sabar menunggu.
Saat check in di Jakarta, petugas maskapai malah memberi instruksi untuk mengambil bagasi dan check in ulang saat di Abu Dhabi.  Agak aneh, karena harusnya bagasi otomatis di transfer. Sebelum boarding, saya tanya lagi, kali ini petugasnya member instruksi mengambil bagasi di Chicago, sesuai kode bagasi.
Beberapa kali terdengar pengeras suara, bagi penumpang yang akan melanjutkan penerbangan menggunakan American Airlines atau Delta Air, bagasi akan otomatis di transfer. Saya akan melanjutkan perjalanan menggunakan penerbangan domestic American Airlines. Tapi bukti bagasi saya berkode ORD, yang berarti bagasi harus saya ambil di Bandara O’Hare, Chicago.  Saya bingung, mungkin koper saya lebih bingung. Mau keluar di Chicago atau di  Bandara St. Paul, Minneapolis.

Beberapa koper tak bertuan tergeletak begitu saja. Petugas meyakinkan koper-koper itu bukan milik saya. “No. My luggage only 18 inchis, the hard one, and orange just like my jacket.”

“Orang, hard,  and small”, si petugas menghapal cirri-ciri koper saya, dan berlari pergi. Satu petugas lain mencatat alamat hotel, kontak saya, serta meyakinkan saya punya travel insurance.

Tak lama, walki talkie berbunyi, “ Just wait here, don’t go anywhere”. si petugas yang mencatat ini pun berlari dan berlalu pergi
Saya duduk-duduk sembari ngeliatin salju di luar. Lalu ngeliatin seorang wanita paruh baya yang menunaikan sholat di pojok ruangan.  Sepertinya waktu magrib sudah masuk. Dua puluh menit berlalu, si petugas kembali.
“Hey madame, is that your baggage?”, sembari menunjuk koper saya yang ternyata sudah teronggok  di rel bagasi keluar.

Si Petugas menjelaskan, tapi saya hanya mendengar ocehan yang sulit diartikan. Sudahlah.  Setengah berlari saya mengikuti petunjuk arah, menuju Shuttle Train untuk ke Terminal 3. 

     Pemeriksaan sekali lagi. Sepatu, jam tangan, jaket, dilepas.  Passport dan bording pass saya tenteng. Laptop saya dibawa masuk dan di cek petugas.  Sepertinya cek orisinalitas Microsoft-nya.
Pemeriksaan beres. Pasang sepatu lagi. Pasang jam tangan. Saya menenteng jaket, laptop, dan tas sandang, memanggul tas ransel di bahu, dan mendorong koper. Tergesa-gesa saya menuju gate American Airlines tujuan Minneapolis.
Hampir 700 meter berjalan, tiba-tiba ada seseorang mencuil saya di bahu. Wanita berwajah oriental. Tersenyum dan menyerahkan passport saya. Saya kaget.  Perempuan itu sudah berlalu pergi sebelum sempat saya mengucapkan terima kasih. Gemetar saya menyadari betapa cerobohnya diri ini.  But then I  smile, realizing how lucky I am J.
Warna koper seragam jaket

*
Hari ke 7, tinggal jadwal jalan-jalan saya di Chicago. Saya menginap di sebuah hostel di Chicago Loop. Dari semenjak saya berkunjung ke website-nya, ada pengumuman bahwa hari minggu ini akan ada Down Town Tour. Saya berniat ikut.  Jam 10.30, silahkan berkumpul di ruang rekreasi hostel, begitu pengumuman yang tertera
Setelah berkeliling di Maxwell Street Market yang dingin, saya kembali ke hostel.  Saya gak bawa jaket. Dengan baju 4 lapis, di hostel saya berkeringat. Suhu udara pagi ini minus 3 derajat, jauh lebih hangat ketimbang Minneapolis yang jika pagi sampai minus 17 derajat. Dengan pongahnya saya keluar tanpa jaket. Alhasil dua jam kemudian saya sudah kembali ke hostel. Lebih lama di luar, saya bisa jadi batu es.
  Karena sudah check out, saya istirahat di ruang rekreasi di lantai dua. Masih di lantai yang sama, saya menghampiri seorang pria ramah di bagian informasi.
Barnie nama pria itu, salah satu volunteering guide di Chicago International Hostelling.  Rupanya hari minggu yang dingin, dengan badai angin sedang, membuat tour gratis darinya tak laku. Hanya ada saya sendiri, satu-satunya peserta.

“OK, no problem. Let’s take a walk”, seru Barnie bersemangat.

Meskipun hanya jalan kaki di sekitar downtown, dan Barnie meninggalkan saya di Millenium Park. Sudah menyenangkan rasanya ada teman jalan, yang tau banyak soal beberapa gedung dan tempat-tempat di sekitar Chicago Loop ini. Dapat short tour exlusive. Gratis lagi. Again, Alhamdulillah J
Down Town Chicago
Millenium Monument di Millenium Park


*
Termakan iklan di web Chicago Tourism, pagi itu saya niatkan ke pasar Maxwell.  Semacam pasar tumpah di sisi timur daerah Chicago River.  Bayangan saya tentu saja seperti pasar tumpah di Asia.  Sekali waktu saya pernah ke pasar tumpah di Hanoi, masih musim dingin juga, Bulan Februari di Tahun yang berbeda. 
Ramai, hangat, berjubel, banyak barang-barang murah.

Pukul tujuh, selesai sarapan pagi, maka berangkatlah saya dengan keyakinan  penuh.

Setelah berjalan kaki beberapa blok, mengandalkan ingatan fotografis dari peta Chicago Loop yang saya baca tadi malam, dengan kemampuan spasial di bawah rata-rata, akhirnya saya hilang arah. Menyerah sudah. Satu-satunya cara ya naik taksi.
       Tak jauh, South Desplaines Street, hanya tinggal dua blok rupanya. Taksi menderu pergi, angin menderu datang. Inikah pasar tumpah itu? Baru kali ini saya ketemu pasar sesepi ini.
   Semua pedagang berwajah Amerika Latin. Beberapa kali saya diajak berbicara, dengan bahasa kedengaran seperti bahasa Meksiko.  Saya seperti terlempar di kampung imigran.
     Hanya ada ban-ban bekas, beberapa onderdil modil, tools mekanik yang kebanyakan sudah berkarat, boneka-boneka kayu berdebu, syal dan kupluk tak menarik  seharga satu dollar, baju-baju sweater dan celana training yang muat diisi oleh dua Rika, sepeda bekas, kase-kaset tua, dan beberapa penjual sayuran. Tak ada yang menarik.

Terdapat satu dua warung makan.  Melewatinya terasa sedikit hangat. Mau mampir, saya ragu dengan kehalalannya. Lagi pula dua hari sebelumnya saya makan malam di sebuah restoran Meksiko. Lidah saya bilang taste-nya masih tertinggal jauh dari Masakan Padang.

Heavy snow mulai turun, udara semakin tipis. Para pedagang menutup dagangannya dengan plastik. Pengunjung mulai berdatangan.  Tapi saya pastikan saat itu tak lebih dari 40 orang.

Di ujung jalan sana pasar ini berakhir.  Saya melihat melihat seorang bapak berdiri di sebuah teras bangunan. Teras yang agak menjorok ke belakang.Dan masih tak punya ide mau kemana lagi pagi ini. Terlalu dingin , saya tak bisa berpikir lagi. Lebih baik berhenti. Menghangatkan diri dan berpikir sejenak.
Si Bapak menyapa saya…..

Foto Maxwell Street Market yang saya liat di website

Maxwell Street Market yang saya temui hari itu
------
Setelah kecewa dengan pasa Maxwell yang tak seberapa, kemana lagi saya berjalan? Kawan dapat membuka laman Catatan Perjalanan: Abu Dhabi, Chicago, Minnesota (Part 2)

6 comments:

Sri Efriyanti Azzahra Harahap said...

Mbaaa >_<
Nggak ngajak2 Za

armae said...

selalu sukak baca catatan perjalannya mbak Rika :)

R. Melati said...

Zahra. hahai... kalau bisa sih aku masukin koper. cuma gak bisa sayangnya :p

Mae. hihi.. makasih. Moga kualitas tulisannya terus bertambah dan bertambah terus. Mari menulis :)

Pachrur Huda said...

baru pertama kali berkunjung ke blog ini lansung suka sama cerita dan tulisanya. sangat menarik dan menginspirasi untuk selalu menikmati setiap perjalanan :)

salam kenal :)

R. Melati said...

Halo Pachrur, salam kenal juga :)

Tiananda said...

Begitu baca bagian paspor yang nyaris ilang, langsung ikut deg2an ahahahhaa
alhamdulillah yaaa ada yang baik hati nemuin + balikin

BTW catatan perjalanannya menarik bgt ;)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...