Sunday, January 5, 2014

IELTS VS TOEFL IBT

Sekedar berbagi pengalaman dan penilaian. Saya mengikuti tes IELTS  di awal tahun 2013, dan TOEFL IBT pada Bulan Desember masih di tahun yang sama. Biaya IELTS sebesar 195 USD, sedangkan TOEFL IBT sebesar 175 USD.
Ada dua jenis tes IELTS, academis test dan general training test. Kalau untuk syarat penerimaan  mahasiswa di universitas, jelas merujuk pada academic  tes, sedangkan general training tes lebih ditujukan untuk peserta yang berencana menjadi professional atau expatriat.
Untuk acceptability, baik IELTS maupun TOEFL IBT,  saya rasa tak ada yang bermasalah. Hampir semua universitas yang membuka kelas international, terutama untuk  pelajar dengan bahasa ibu bukan bahasa inggris, menerima baik TOELF IBT maupun IELTS. Yang jadi point penting, bagaimana kemampuan dan keterbiasaan kita mengerjakan soal-soal dari kedua tes tersebut. Meskipun yang di test sama: listening, reading, writing, dan speaking. Namun metode dan tipikal soal menurut saya ada perbedaan yang barangkali sedikit banyak mempengaruhi hasil tes.  
Untuk mengikuti TOEFL IBT, cukup mendaftar langsung di situs resmi TOEFL IBT, pembayaran dilakukan via kartu kredit. Nanti akan dikirim email tiket bukti  pembayaran, tinggal diprint dan dibawa langsung saat hari H. Nanti sebelum tes, peserta akan diambil fotonya. Karena saya mengikuti tes IELTS dulu baru kemudian ikut TOEFL IBT, terus terang TOEFL IBT keliatan agak ‘kuno’ ketimbang IELTS. Apalagi kalau melihat jumlah peserta TOEFL IBT, yang secara kasar saya amati hanya sepertiga dari jumlah peserta IELTS yang waktu itu saya ikuti. Kala itu saya tes TOEFL IBT lewat ETS Jakarta yang di Jl. Jendral Sudirman. Tes berlangsung di ruangan sempit semacam kelas laboratorium bahasa kala SMA dulu.  Sungguh membuat mengantuk.
Sementara untuk tes IELTS,  peserta mendaftar ke lembaga-lembaga yang telah dituju.  Saat itu saya memilih tes di IDP Pondok Indah. Mungkin karena IELTS sedang nge-hits, sebaiknya kalau sudah well-prepared, mendaftarlah jauh-jauh hari. Peminat tes IELTS cukup banyak. Saat itu bahkan saya sempat kepikiran tes IELTS di Bandung atau Jogjakarta, seandainya yang di Jakarta sudah penuh semua. Saat pendaftaran saya datang langsung ke IDP Pondok Indah, mengisi form, melakukan pembayaran, serta dilakukan pengambilan foto. Saat hari H,  sebelum masuk kelas, peserta akan diminta berbaris, menunjukkan ID, bisa berupa KTP atau Passport, serta dilakukan pemindaian sidik jadi. Lokasi tes IELTS bisa diberbagai tempat, waktu itu saya tes di sebuah sekolah internasional masih di kawasan Pondok Indah.
Overall, saya lebih menikmati tes IELTS ketimbang TOEFL IBT. Soalnya yang beragam membuat tak mengantuk, meskipun dari segi keterbiasaan, jelas saya lebih familiar dengan tipikal soal di TOEFL yang hanya berupa pilihan ganda.  Tak tahu jawabannya pun masih bisa ditebak.  
Sekarang saya coba membanding tiap-tiap sesi dari kedua tes tersebut. Well, ini subyektif aja sih, berdasarkan pengalaman saya tes. Bisa jadi tiap orang punya pengalaman yang berbeda saat mengalaminya.

perbedaan tes TOEFL dan IELTS



Listening.

Karena di TOEFL IBT peserta mengenakan headseat, jadi pronouncationnya terdengar lebih jelas, apalagi yang digunakan adalah American English. Kuping yang biasa mendengar lagu-lagu dan percakapan di film Hollywood, yang notabene menggunakan American English, tentu membuat saya lebih mudah memahami.
Sedangkan IELTS,  kala itu saya mendapati  soal percakapan dengan logat Inggris dan Australia. Terus terang untuk Australia English, saya benar-benar tidak terbiasa. Ditambah soundnya menggunakan satu speaker yang terdengar  ke  seluruh kelas  (tidak menggunakan headset).  Alhasil banyak kata-kata yang tak saya pahami.  Meleset sedikit saja soal pemahaman percakapan bisa fatal karena tipe soal IELTS  yang tidak hanya berupa pilihan ganda. Kebanyakan adalah isian singkat,  mencocokkan jawaban dan pertanyaan,atau pilihan ganda dengan jawaban lebih dari satu.

Listening adalah sesi pertama di IELTS dan sesi kedua dalam tes TOEFL IBT.

Reading

Sesi reading di TOEFL IBT merupakan bagian paling membosankan. Meski passage nya lebih pendek dibandingkan dengan IELTS, tapi  kalimat dan vocabulary nya lebih sukar.  Artikelnya  seperti bagian yang diambil dari buku teks kuliah tingkat advance. Membaca passage-passage di TOEFL IBT membuat mengantuk dan kadang kehilangan konsentrasi. Pertanyaannya pun sangat tradisional, biasanya hanya berupa main idea, refers to, sinonim, dsb. Sebenarnya ada tips reading saat tes TOEFL yakni dengan metode skimming dan scanning. Jadi ya gak semua artikel dibaca, kita hanya men-skimming, lalu nanti tinggal dicari pertanyaan yang merujuk ke kalimat tertentu di artikel. Sayangnya, saya sering panik, kalau hanya men-skimming satu passage. Hasilnya malah kadang gak ngerti sama sekali. Saya sukar memahami secara parsial sebuah passage. Eloknya memang harus dipahami secara keseluruhan. Namun waktu yang terbatas membuat ending sesi reading  TOEFL selalu diakhiri dengan main tebak-tebakan.
Passage reading di IELTS menurut saya lebih mudah dipahami. Teks nya tidak merujuk ke mahasiswa, tapi lebih ke pembaca secara general. Semacam membaca artikel serius di New York Times, business review,  atau hasil penelitian yang telah dituangkan dengan redaksional yang baik untuk dipahami orang awam. Cuma memang satu artikel bisa dua kali lebih panjang dari passage di TOEFL, pun jenis soal pilihan ganda dan pertanyaan yang lebih ‘njelimet’. Antara yang tersurat dan tersirat di artikel tersebut. Jadi saat membaca benar-benar harus dipahami dan disimpulkan sendiri.
Sebelum tes, sebaiknya kawan banyak-banyak membaca berita berbahasa inggris. It works much.

Reading menjadi sesi kedua dalam tes IELTS dan sesi pertama untuk TOEFL IBT.

Speaking

Saat tes speaking di IELTS, peserta akan langsung berbicara dengan assessor yang telah ditunjuk. Setelah tes tertulis IELTS berakhir, kira-kira jam 12 siang, peserta harus datang lagi ke tempat tes speaking dilaksanakan, biasanya di lembaga yang bersangkutan juga. Jadi sebaiknya kalau mau tes IELTS, pilih  lembaga yang lokasinya gak jauh dari tempat tinggal. Karena sesi speaking berlangsung sore atau malam hari.
Ketika itu saya sempat menghubungi Sun Education yang juga melaksanakan tes IELTS. Staff nya helpful, dan saya boleh mendaftar dengan hanya mengirimkan scan KTP via email tanpa harus datang langsung. Foto dan pemindaian sidik jari akan dilakukan saat sebelum tes. Sayang lokasi tes nya di daerah Mangga Besar. Sedangkan untuk tes  lewat IDP Kuningan atau IDP Pondok Indah, calon peserta harus datang langsung untuk mendaftar. Saya yang berdomisili di daerah Cilandak akhirnya merelakan satu hari kerja demi mendaftar tes.  Sebagai catatan, staff IDP Pondok Indah dan IDP Kuningan songongnya tingkat dewa kalau menjawab pertanyaan via telepon.
Sesi speaking IELTS hanya berlangsung kira-kira 15 menit.  Pertanyaan pertama adalah seputar personal, kedua mengenai suatu topic tertentu, dan ketiga nantinya akan ada pertanyaan follow-up dari respon kita di topik sebelumnya.  Waktu itu saya dapt assesornya cowok yang sangat helpful dan friendly. Kebetulan pula waktu itu saya dapat topic tentang travelling. Kalau kawan sering ngobrol sama bule, misal saat travelling, atau sekedar speak-speak English di kantor, sesi speaking ini bisa jadi sesi paling menyenangkan.
Dalam tes TOEFL IBT, pertanyaan mengacu pada suatu passage yang dikombinasi dengan percakapan atau lecture yang didengar peserta.  Speaking boleh dinobatkan sebagai bagian yang paling saya benci di TOEFL  IBT. Ackward banget saat harus ngomong di headset, apalagi karena sesinya hampir bersamaan, semua peserta yang ikut di kelas itu harus juga berbicara. Dan walaupun sudah pakai headset, tetap aja ada suara peserta yang kedengaran.  Sungguh mengganggu. Belum lagi timer yang terus keliatan di depan komputer.  Bikin gak konsen berbicara disaat waktu yang tersisa kurang dari 20 detik lagi. Saya benar-benar gagal di speaking TOEFL IBT ini.

Speaking adalah sesi ke tiga dalam tes TOEFL IBT dan sesi terakhir dalam IELTS.

Writing

Well, bagi saya yang belajar bahasa inggris hanya otodidak. Hanya dari paparan sehari-hari materi pelajaran, email, baca artikel, lagu-lagu atau film barat.  Menulis, dalam makna benar dan sesuai kaidah bahasa inggris bukanlah perkara gampang.
Dalam IELTS, ada dua soal. Pertama menginterpretasikan suatu data, bagan, grafik, atau sejenisnya. Soal kedua mengenai suatu topik. Peserta lalu menulis opini yang dikembangkan dari topic tersebut.  Writing dalam IELTS juga berarti benar-benar writing dalam makna manual. Semuanya ditulis tangan.
Dalam TOEFL IBT juga ada dua soal. Pertama adalah integrate writing, aka nada satu passage singkat dan satu lecturing yang harus didengarkan. Biasanya merupakan dua hal yang bertentangan, tapi di sini peserta hanya diminta merangkum. Sebagai enrichment, harus pintar-pintar membolak balikkan kalimat dan mencari kata ganti (sinonim).  Bagian kedua adalah independent writing. Ada satu passage cukup panjang mengenai topic tertentu. Nantinya tulisan peserta akan berupa opini atau (dis)agreement dari passger tersebut. Kelebihan sesi writing di TOEFL IBT karena menggunakan komputer, prosesnya terasa lebih cepat. Karena saya lebih cepat mengetik ketimbang tulis tangan, pun untuk editingnya lebih mudah, tinggal cut-paste. Ditambah jumlah kata yang telah diketik akan tertera otomatis di layar komputer.

Writing merupakan bagian terakhir dari sesi TOEFL dan sesi ketiga dalam tes IELTS.

*
Saat sebelum mengikuti tes, saya pun banyak mencari info mengenai IELTS dan TOEFL IBT, baik lewat situs resmi maupun pengalaman teman-teman blogger. Jadi semoga tulisan ini bermanfaat J


10 comments:

Mila Said said...

waaah test IELTS & TOEFL hmmm... curiga curiga hmmmm

R. Melati said...

ahahai..curiga apa mbk mila? ini hanya mencoba menguji kemampuan sahaja :)

dunianya mbeem said...

intinya lebih mudah tes ielts daripada ibt

gigit born to be a star said...

Hai,
Jadi dari pengalaman kamu, lebih enak test toefl ibt atau ielst?
Lalu dari segi materi lebih mudah test yang mana?
Mohon info

Terima kasih

R. Melati said...

Materi sama aja sulitnya. Tapi kalau dari tipe tes nya, saya lebih senang tes IELTS

R. Melati said...

Materi sama aja sulitnya. Tapi kalau dari tipe tes nya, saya lebih senang tes IELTS

R. Melati said...

Materi sama aja sulitnya. Tapi kalau dari tipe tes nya, saya lebih senang tes IELTS

R. Melati said...

Materi sama aja sulitnya. Tapi kalau dari tipe tes nya, saya lebih senang tes IELTS

R. Melati said...

Materi sama aja sulitnya. Tapi kalau dari tipe tes nya, saya lebih senang tes IELTS

R. Melati said...

Materi sama aja sulitnya. Tapi kalau dari tipe tes nya, saya lebih senang tes IELTS

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...