Wednesday, December 25, 2013

Be Thankful


Somewhere out there, there’s somebody mad because of wanting what you’ve had. Be grateful. Be thankful
Mengejutkan sekaligus menghenyakkan,  saat seorang kawan, teman atau bisa dibilang kenalan masa kecil saya, menceritakan betapa ia (yang usianya hanya terpaut satu tahun dari saya) begitu iri melihat masa kecil saya. Ia kerap mengintip dari lantai 2 ruko miliknya yang terletak tepat berseberangan dengan ruko saya. Katanya saya kecil yang punya orangtua lengkap, saya kecil yang terlalu dimanja, saya kecil yang selalu berkecukupan materi, saya kecil yang mendapat berlimpah kasih sayang dari orangtua dan kakak-kakak. Dia memperhatikan saya. Dan dia iri.
 Tuhan, mungkinkah saya lupa bersyukur, ternyata ada orang lain yang will take for granted apa yang saya miliki waktu kecil. Dia yang dibesarkan oleh seorang ibu yang berperan sebagai single parent. Tuhan, betapa beruntungnya saya.
Dan dia baru menceritakan kini, ketika kami terhubung lagi, setelah sekian lama tak bertemu. Tak terhitung berapa tahun, setelah menyelesaikan masa SMP,  saya masuk SMA asrama, lalu dia bersekolah pesantren di pulau jawa. Lalu dia kembali berkuliah di Pulau Sumatra, dan saya berkuliah di Pulau jawa. Dan kini dia bekerja di pedalaman pulau Kalimantan, dan saya bekerja di kota metropolis ini. Saya gak sadar, tapi dia sadar, dan dia tahu perkembangan kuliah saya, pekerjaan saya, dia bahkan hapal dulu saya pindah SD sampai 3 kali, sementara  saya bahkan tak tahu dia dulu sekolah di SD dan SMP mana.
 Kini, ruko warung kopi  miliknya tak  lagi dikelola sang ibu. Pun ruko toko kelontong saya  telah tutup beberapa tahun yang lalu. Kami terhubung lagi. Dia yang sempat hilang dalam ingatan saya. Dan saya yang masih menjadi alter ego masa kecilnya. Dia sempat berkomentar “Kamu dulu terlalu dimanja, aku gak nyangka sekarang kamu bisa jadi mandiri dan tangguh begini”.
Saya ingat betul, waktu kecil saya merasa weirdo banget. Pertengahan tahun 1990-an di kampung saya, yang bahkan hingga kini pun belum ada toko buku,  sangat aneh kalau ada anak kecil yang lebih banyak membaca ketimbang bermain panas-panasan di luar rumah bersama teman-teman. Tapi saya memang terlalu terhipnotis oleh tulisan dan bacaan. Saya rela menghemat uang jajan, menabung demi membeli majalah anak tiap minggunya. Kalau majalah yang tak seberapa jumlah halaman itu tuntas saya baca, maka saya beralih pada koran kiloan yang berserakan di toko. Iya, koran kiloan yang biasa digunakan untuk bungkus gorengan itu. Terutama international news nya, wisata, serba-serbi, karikatur, dan cerpennya. Itulah surga masa kecil saya. Suatu saat ada juga berdiri sebuah tempat persewaan buku, lagi-lagi satu-satunya di kampung, saya beralih rajin menyewa komik dan novel. Saking weirdo nya , waktu itu saya  sampai punya ketakutan dengan apa yang terjadi pada diri saya kalau besar nanti.

Beranjak dewasa, saya mulai sadar ada banyak kenangan indah yang Tuhan berikan dalam masa kecil saya. Tapi apa yang kawan kecil saya ungkapkan hari itu, menjadi semacam tamparan, bahwa ada seseorang di sana, setengah mati menginginkan apa yang Tuhan telah berikan kepada saya. Saya harus bersyukur. Lebih. Terus. Tanpa jeda. Tak terkecuali. Tanpa berhenti. 

Ruko penuh kenangan :' )

Tuesday, December 24, 2013

sesungging senyum itu
ada dalam bayangan cerah pagi yang datang bersama kabut, sesusubuh ini

sesungging senyum itu,
datang disaat hujan, sedikit deras, dalam lajur jalan tol, dibalik kaca yang bias karena air

The empty one

Friday, December 13, 2013

Suami Sempurna

Ada empat belas cerita pendek dalam buku Suami Sempurna karya almh. Nurul F. Huda ini. Kesemuanya berkisah mengenai permasalahan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seorang buruh wanita di Batam yang bekerja banting tulang demi keluarganya di Pulau Jawa, yang dirampok oleh sindikat taksi gelap. Ada lagi buruh perempuan, masih dengan setting Batam, yang menjual diri lagi-lagi karena uang. Dilengkapi dengan bumbu cerita kehidupan pabrik dan mess tempat karyawan tinggal. Bagi saya, sungguh menyentuh. Membuat saya begitu bersyukur, ada banyak orang, ribuan bahkan jutaan orang berjuang untuk hidup. Saya sendiri gak pernah bekerja di industri atau pabrik obat. Tapi sempat merasakan PKL di pabrik yang terletak di kawasan industri. Buruh, kebanyakan wanita, ribuan jumlah, saya lihat setiap hari mondar mandir di kawasan industri. Di pabrik tempat saya PKL, proses pengemasan sekunder obat masih dilakukan manual. Tentu saja pekerjanya adala buruh perempuan.
Bunyi-bunyi mesin tiap harinya. Kondisi yang membuat manusia seolah robot. Salah satu hal yang membuat saya gak pernah terpikir sedikitpun untuk melamar kerja di pabrik obat sejak lulus kuliah. Untungnya saya masih punya pilihan.
Ada lagi cerita tentang kekerasan rumah tangga. Sebagaimana perempuan kebanyakan yang gampang memaafkan, begitulah banyak kekerasan rumah tangga terus berlangsung karena korban malu bersuara.
Lalu cerita sepasang suami istri.  Ari, suami Astri, layaknya sosok suami yang sempurna.  Pekerja keras dan aktivis di berbagai kegiatan sosial. Sosok suami nyaris sempurna. Nyatanya Ari sangat tidak kooperatif saat berada di rumah. Ia hanya ingin dilayani. Memiliki dua buah hati, semua pekerjaan mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga Astri yang mengerjakan.
Nurul bercerita lancar, enak dibaca, dan dengan alur pas. Tidak terlalu cepat dan tidak bertele-tele.Rasanya sulit menemukan buku serupa ini kini. Tahun 2000an awal, buku semacam Suami Sempurna ini jumlahnya cukup berlimpah. Membaca karya Nurul, mengingatkan saya akan karya-karya penulis angkatan pertama Forum Lingkar Pena di tahun 2000an awal. . Afifah Afra, Pipi Senja, Helvy Tiana Rosa, Gola Gong, Asma Nadia, dsb. Kancah perbukuan ramai dengan cerita-cerita islami.  Ceritanya ada yang cukup realistis, namun kadang ada juga yang idealis nya agak kelewatan.
Tapi kalau dibandingkan buku-buku yang berjajar di Gramedia saat ini. Saya eneg dengan buku-buku travelling, baik fiksi ataupun non fiksi. Cerita-cerita metropop. Kebanyakan mengambil setting menengah ke atas dan kaum urban kota-kota besar.
Iya, saya kangen cerita kehidupan sehari-hari, tanpa embel-embel bekerja di perusahaan multinasional, menginap di resort A, jalan-jalan keluar negeri, punya apartemen B, mobil merek C, meeting di hotel D, sekolah di eropa, menjadi manager perusahaan E, menjadi relawan di LSM internasional, penulis sukses, copy writer, designer, atau mahasiswa perguruan tinggi F dengan kecerdasan di atas rata-rata. Kemewahan, intrik, perselingkuhan, masalah keluarga, kerja keras, lalu kesuksesan.
Dua ratus juta rakyat Indonesia, mungkin hanya 30 persen yang punya kehidupan dengan setting seperti itu. Ada banyak kelas menengah dan menengah ke bawah. Pegawai negeri bukan pejabat, guru di kota kecil, mahasiswa IPK pas-pasan, buruh pabrik, pegawai swasta yang gak ngopi dan gak tinggal di apartemen, anak sekolahan, pemulung, buruh pabrik, petani, tukang gorengan, kota kecil, desa, rapat kelurahan, dan pengusaha yang tidak terlalu sukses.

Ah saya sangat suka buku ini. Nurul F. Huda adalah salah satu wanita hebat. Semoga karya-karya yang ia tinggalkan dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin. 

Tuesday, December 10, 2013

....dan Gunung-Gunung pun Bergema


And the Mountain Echoed, karya terbaru Kholed Hossaini, masih memukau, membuat saya memikirkan ceritanya  hingga terbawa ke alam mimpi. Sesuai review dari New York Times, karya terbaru Kholid kali ini memang lebih complicated. Setting rentang waktu yang panjang antara tahun 1930-an hingga tahun 2010, antara satu tokoh dengan tokoh lainnya  membuat saya harus membolak-balik halaman.  Mengingat keras tokoh-tokoh mana saja, dan siapa ‘akuan’ yang sedang bercerita saat itu.
Empat bab pertama, buku ini benar-benar menyihir saya. Namun di pertengahan, saya merasa Hossaini agak keteteran. Terutama saat ia menceritakan kehidupan Pari di Paris, Prancis. Kurang deskriptif dan terkesan tergesa-gesa. Entahlah, apa memang sumber kekuatan karya-karya Hossaini adalah Afganistan dan kehidupannya yang indah meskipun keras. Iya, setting Prancis, Amerika, dan Yunani di novel ini malah mengurangi kesukaan saya pada novel ini. Cerita membosankan di tengah ini membuat saya ketiduran, dan akhirnya melanjutkan membaca keesokan harinya.
Tak banyak memang buku tentang Timur Tengah yang saya baca. Tiga novel Khassaini, trilogi perjalanan Agustinus Wibowo, serta beberapa buku non fiksi tentang sejarah Islam di Timur Tengah. Bagi saya negara-negara seperti Afganistan, Pakistan, Oman, Arab Saudi, Mesir dan sekitarnya masih merupakan tempat eksotis dengan budaya yang meraksasakan rasa ingin tahu.
Kite Runner,  pertama kali saya menikmatinya lewat film. Film yang membuat saya berurai airmata. Hampir kira-kira satu tahun setelahnya, saya menikmati buku pertama Kholid Hossaini ini. Masih sama mengesankannya. Dan masih membuat saya berurai airmata. Salah satu novel yang paling mengesankan bagi saya hingga detik ini. A Thousand Splendid Sun, juga tak luput menguras airmata. Hanya di novel ...and the Mountain Echoed ini airmata saya absen. Terlalu banyak tokoh. Terlalu banyak cerita.  Agak bingung saya. Entahlah…mungkin kecerdasan saya gak nyampe untuk menikmati cerita secomplicated itu:p.
                Hossaini masih berkisah soal identitas, darah daging, dan watak manusia. Sekaligus di dalam karya-karyanya, Khossaini seolah ingin menonjolkan bahwa setiap manusia pasti menyimpan satu misteri, satu rahasia, di dalam dirinya. Entah itu suatu kepedihan, kesedihan, kehilangan, hasrat, pandangan hidup, keyakinan, hingga keraguan. Sesuatu jauh di dalam lubuk hati, sebuah persembunyian yang paling sunyi (khafi al-akhfa).
 Dan siapalah saya hingga mau mengkritik karya yang dipuji oleh New York Times ini. Overall, menurut saya novel ini tetap masuk list ‘buku wajib baca’.



Sunday, December 1, 2013

"Kehidupan memang seperti jazz, memang perlu improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus kita atasi. Kita tidak pernah tahu kemana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tidak selalu berjalan seperti kemauan kita.  Barangkali kita tidak pernah mencapai tujuan kita. Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak perna kita bayangkan. Barangkali juga  kita tidak punya tujuan dalam hidup ini, tapi hidup itu selalu memberikan kejutan-kejutannya sendiri." - Seno Gumira Ajidharma dalam Jazz, Parfum, dan Insiden