Thursday, September 5, 2013

Where will you stay? * #5

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”

But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.


Hotel Richie di Malang
                . Pertama kalinya ke Malang, saya memesan hotel ini atas rekomendasi seorang kawan yang berdomisili di Malang. Tepat di sebelah Gramedia, hotel ini merupakan hotel tua yang masih berada dalam area alun-alun Kota Malang. Budget saya 100 ribu per malam.  Ya sekalinya melakukan personal trip, tetap saja saya menjadi traveller kere. Bussiness trip berarti memanfaatkan sebaik-baiknya fasilitas yang ada. Personal trip berarti tekanlah biaya seminimal mungkin, semampunya. Ingat, prinsip-prinsip ekonomi tersebut harus selalu ditegakkan, Kawan.
                Hotel ini lebih mirip rumah tua besar jaman baheula. Kamar saya, sebagai kamar termurah di hotel ini, berada di lantai 3 dengan tangga berkelok-kelok. Kamar tua, ranjang tua, dan kamar mandi yang sepertinya baru ditambahkan. Untuk urusan aerasi, saya hanya bisa membuka jendela lebar-lebar. Jangankan air conditioner, kipas angin pun tak ada. Untungnya Malang dianugrahi cuaca yang adem. Malam hari, saya masih bisa tidur nyenyak sembari menarik selimut.
Hotel Richie- Malang

Hotel Richie- Malang

Hotel Richie- Malang

Hotel Richie- Malang



Fave Hotel di  Surabaya
Komentar saya: sangat tidak memuaskan. Ya kalau dibandingkan dengan beberapa budget hotel yang pernah saya singgahi seperti POP atau Swiss-bell inn.
Kamar sangat sempit, peralatan mandi yang gak lengkap (cuma ada sikat gigi dan sabun), resepsionisnya gak ramah, lobby nya jelek, sempit, agak kotor, pengap dan gak wangi sama sekali. Lift nya berbau apek, plus breakfast yang rasanya tak terdefinisikan. Ngakunya buffet, tapi semuanya minimalis dan seuprit-uprit.
Tapi menurut seorang kawan, meski punya standard yang sama, keadaan hotel bermerek sama di kota berbeda, bisa jadi berbeda.  Mungkin Fave Hotel di kota-kota lain kondisinya bisa berbeda. Ya dari beberapa review yang saya baca tentang Fave Hotel, kebanyakan  pelanggan merekomendasikan hotel ini. Entah saat itu saya sedang tidak beruntung, atau mungkin ada satu prinsip lagi yang harus ditegakkan: jangan pernah percaya review 100% (termasuk review saya ini :p)
Yang jelas, nanti kalau ada tugas lagi ke Surabaya, saya berharap tidak berjodoh lagi dengan hotel ini.


Fave Hotel Surabaya

Fave Hotel Surabaya

*review ini sebatas yang penulis alami. Tentu saja berisi penilaian subjektif penulis. 


2 comments:

armae said...

Ehh,. Richie hotel belum pernah lihat. Mungkin karena pas di Malang gak pernah cari penginapan ya, langsung di kos2an ajaa.. Hehe..

Favehotel, pernah nyoba yang di bypass Kuta, Bali. Dan yapp,. super minimalis. Tapi brekafastnya enak banget yang di Bali mbak. Super duper 'njawani'. Plus sambal matang yang slalu hadir di setiap pagi. Heuheu

R. Melati said...

Mae... iya,aku kelebihan huruf I deh.
Nama hotelnya setelah di cek dan ricek : Hotel Riche. Tau lah ya? pas di samping gereja di alun-alun, hanya dipisahkan jalan.

Hehe, mungkin karena seleraku bukan selera jawa kali yee :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...