Sunday, July 14, 2013

Tentang Sore Kemarin

Kemarin sore, terbirit-birit ke Blok M, naek kopaja, duduk persis di tepi jendela, memandangi hujan yang tak berhenti sejak siang hari. Saya telat, karena keasyikan baca buku, padahal sudah ada janji dengan seorang kawan di Blok M.
Khatam satu novel Tere Liye yang berjudul “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah”.  Good book is a trigger for wider and wiser mind.  Ada banyak pikiran yang berkecamuk. Tentang harapan, takdir, dan segala sesuatu yang berjalan di luar rencana. Takdir itu memang misteri.
Saya duduk tenang, memandangi jendela yang basah perlahan. Ramadhan datang kembali. Tanggal 5 ramadhan esok, saya berusia 27 tahun menurut perhitungan kalender hijriyah.  Ada banyak hal berjalan di luar rencana. Fate, ternyata memiliki scenario yang jauh lebih hebat, dari apa yang bisa manusia bayangkan. Saya kerap merasa, apa yang saya berhasil capai, semua semata karena keberuntungan. Ya saya Cuma beruntung. Tau cita-cita saya sewaktu kelas 6 SD hingga kelas 2 SMP?, Tamat SMA, saya kursus kecantikan di Jakarta, pulang kampung, buka salon. Itu terjadi karena saya kerap menemani kakak ke salon. Sederhana bukan?.. Beranjak kelas dua SMP, saya mulai memikirkan kuliah di sebuah universitas swasta di Jakarta, selesai kuliah, pulang kampung, lalu meneruskan usaha keluarga.  Saya bahkan gak pernah bercita-cita menjadi apoteker. Boro-boro kuliah di perguruan tinggi negeri ternama.
Pun saya yang tidak pernah bercita-cita menjadi PNS, lalu Allah kasih kesempatan menjadi PNS.  Ya waktu itu saya cuma beruntung bisa mengalahkan ribuan peserta lainnya. Kebetulan pertanyaan-pertanyaan yang muncul saya tahu jawabannya.
Lalu saya resign, dan sekarang bekerja di perusahaan swasta.  Bahkan sampai detik ini saya masih bingung, ternyat saya bisa melewati fase itu, mengalahkan ketakutan-ketakutan, dan ya saya baik-baik saja. Kecerdasan standard, IPK pas-pasan, kemampuan presentasi di bawah rata-rata, ambisi gak besar.  Banyak yang lebih hebat dari saya. Tapi saya terus berjalan. Keep moving, never look back. Saya hanya punya keberanian dan keyakinan. Dan tentu saja, lagi-lagi Alhamdulillah,  keberuntungan.
Hujan semakin deras, jalanan melengang, sopir kopaja menggila.  Adalah Borno, bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Sungai Kapuas.  Ialah tokoh utama novel tersebut. Tak ada yang istimewa dari Borno,kecuali ketulusan dan kejujuran yang ia miliki. Yap, ketulusan, sesuatu yang amat sulit  ditemui belakangan ini. Saya selalu jatuh cinta pada laki-laki tulus. Dan ya…saya jatuh cinta pada dia. Sayang, takdir kami tak bertaut. Rasanya sakit, pasti. Marah? Ya saya sangat marah. Tapi kalau disuruh untuk mengembalikan waktu dan tidak bertemu dia. Nope. Saya tetap ingin bertemu dan mengenal dia. Laki-laki itu mengenalkan saya banyak hal tentang kebaikan dan ketulusan. Dua bulan belakangan, saya belajar banyak hal dari dia. Mengenal diri, mengenal hati, mengenal debar yang ternyata masih saya miliki. Kalaupun ia harus pergi, saya tetap akan berterima kasih kepadanya :)