Sunday, June 2, 2013

Where will you stay?* #1



“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Penginapan di Bromo

                Sepanjang yang saya alami saatke Bromo, diawali dengan keputusan yang impulsif, tanpa perencanaan matang, di tahun 2011 silam. Tak perlu khawatir soal hotel atau penginapan.
*
“Krek…”, pintu elf dibuka. Kabut dan dingin menusuk menyambut, bersama serombongan bapak-bapak yang menawarkan penginapan. Tepatnya rumah pribadi yang sudah mereka sulap untuk dijadikan komoditas ekonomi. Ada yang disewa per kamar, ada juga per rumah, tergantung banyak orang dalam rombongan. Semakin banyak rombongan , tentu pembagian biaya sewa semakin kecil.   Berkenalan di elf dengan dua rombongan yang juga berencana menikmati sunrise di Bromo, membuat saya mengekor  mereka  sahaja.  Sementara mereka mengekor seorang laki-laki yang menawarkan penginapan.
                Rombongan melewati jalan menanjak,  dan berbelok beberapa kali di gang dengan penerangan remang-remang.  Akhirnya saya sampai pada sebuah rumah bertingkat dengan fasilitas 3 kamar dan dua kamar mandi.  Semua bisa dikompromikan, termasuk soal harga. Tawar-menawar cukup alot. Malam semakin larut, dan akhirnya kami deal dengan harga 210 ribu permalam. Kami yang saya maksud adalah saya bersama seorang teman seperjalanan, perempuan juga, dan delapan laki-laki  yang baru saja saya kenal sore tadi. Si empunya penginapan menyediakan beberapa termos berisi air panas. Tinggal disajikan bersama teh, susu, kopi,dan mie instan yang dibawa sebagai ransum. Malam itu berlalu hangat seperti makanan yang tersaji.
                Selain menginap di rumah penduduk, ada opsi lain yaitu menginap di hotel atau penginapan yang sebenarnya. Ada beberapa plang hotel yang sempat saya baca. Sayangnya, melihat penampilan fisik, dan tamu yang wara-wiri sebagian adalah bule, saya mengasumsikan bahwa terlalu boros menginap di tempat tersebut untuk ukuran turis kere seperti saya.



penginapan, rumah penduduk, bromo, menginap di bromo
Bromo, 'menumpang' nginap di rumah penduduk


Patong Hostel, Patong, Phuket.

Agak sulit menemukan hostel ini. Letaknya tersembunyi di antara ruko-ruko yang berjejer di  Jalan Patong, sebuah jalan yang tepat bersebelahan dengan Pantai Patong. Bangunan hostel ini pun sebenarnya adalah ruko yang dimanfaatkan sebagai hostel pada lantai dua dan tiganya.

Kawan saya yang mereserve tempat ini mengatakan bahwa kelebihan hostel ini, bisa dibilang satu-satunya kelebihan yang dimiliki, adalah letaknya yang langsung menghadap Pantai Patong.  Penginapan tipe lain yang menghadap Patong Beach merupakan jenis hotel atau resort. Tentunya berlawanan dengan prinsip keuangan yang saya anut bahwa semakin murah , semakin baik.

Pada kenyataannya, tetap sulit untuk melihat pantai dari kamar tidur saya yang terletak di lantai tiga.  Terlalu banyak bangunan ruko yang menghalangi.

Pertama kali masuk, saya disambut oleh jejeran sepatu dan sandal berbagai rupa.  Semua tamu  dan staff hotel harus  melepas alas kaki yang digunakan. Jadi di dalam hostel, semua tamu ‘nyeker’.  It brings homy ambience :)

                Harga hostel ini standard, 100 ribu per malam per orang. Very welcome staff, but everything needs to pay. Mau pakai wifi  harus beli voucher, mau pakai komputer dengan akses internet harus bayar, air mineral harus bayar, selimut, sabun dan sebagainya pun harus bayar. Everything, except breakfast. 
Patong Backpacker Hostel, hostel, phuket, backpacker, pantai patong
homy place

makan pagi di hostel phuket thailand
breakfast that you made by yourself


hostel di pantai patong phuket thailand
View dari kamar hostel

 
patong backpacker hostel di phuket
Patong Backpacker Hostel

Hotel Pop, Denpasar.

                Tipikal budget hotel bergaya minimalis. Kuning, merah, hijau, biru. Warna-warni yang terasa segar di mata. Letaknya tepat di pusat Kota Denpasar, cocok buat yang eneg sama suasana hiruk pikuk daerah Kuta dan Legian.
Saya memesan hotel ini via layanan web, yang ketika itu sedang memberikan diskon. Lalu keesokan harinya saya akan memperpanjang masa tinggal, eh ternyata tidak berlaku diskon.  Namanya hotel yang berada dibawah management hotel yang  established, hotel ini masih dalam manajemen Harris Hotel, yang tentu saja peraturan menjadi mutlak.
Nasi Jinggo, satu-satunya hal mengesankan yang saya dapatkan di hotel ini. Nasi yang dibungkus daun, bercita rasa pedas, dengan kuantitas pas untuk sarapan pagi. Lebih menyenangkan lagi, tidak ada voucher breakfast yang harus ditunjukkan. Para tamu bebas menikmati nasi jingo sesuka hati.
Pagi itu, seusai menghabiskan sarapan, saya akhirnya memilih hengkang dan mencari hotel yang lebih dekat ke Kuta.

sarapan nasi jinggo di POP hotel kuta
Nasi Jinggo

interior kamar pop hotel kuta
Inside room

lorong hotel pop kuta bali
Lorong

kamar mandi hotel pop kuta
Wastafel dan kamar mandi

*review ini sebatas yang penulis alami. Tentu saja berisi penilaian subjektif penulis.

3 comments:

Mila Said said...

Kalo jalan2 emang seru ya nyobain berbagai macam tipe penginapan hehehee

kiaracondong.com said...

Ada juga kok budget hotel murah dekat Patong Beach, lupa namanya. Depan Horizon Resort & Spa. Wifi dll gratis. Kalo POP Hotel blom jadi nyobain. Dapet harga promo, dah booking, plus tiket pesawat promo 117rb JOG-DPS pp, eh hari H kudu ke Jakarta. Dan ketemu dirimu ituh ^^

R. Melati said...

Milai Said. Bener banget, itu salah satu hal menarik dalam saat jalan-jalan.

Mas Ari. Hahai...iya, nanti deh kita cobain bareng ya hotel POP yang di Bali :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...