Tuesday, June 25, 2013

KIsah Sepotong Hati “Sesungguhnya godaan terbesar datangnya justru dari hati itu sendiri”

                Sesampainya di Indonesia, dalam sebuah kontemplasi, akhirnya saya sadar. Godaan terbesar saat berada di tanah suci, adalah hati dan perasaan sendiri.
                Sebuah puisi, yang saya buat Maret lalu, berisi kehampaan diri. Jatuh cinta. Sesuatu yang saya nantikan hampir  2 tahun belakangan.  Merasa hati ini nyaris telah beku.
                                                                                *
‘Jagalah hati’ begitu kata seorang ulama kondang, dalam sebuah lagunya yang terkenal.
 Iya, godaan itu datangnya dari hati ini sendiri. Hati ini menemukan, hati ini pula kadang mencelakakan.
Godaan pertama adalah: Allah memberi saya nikmat jatuh cinta. Rasa itu terasa getarnya di Madinah, dan semakin kuat ketika berada di Mekkah.  Semakin terasa, dan membuat tubuh bergetar, tiap kali hendak menunaikan sholat di Masjidil Haram.  Dan debarnya itu hampir tak dapat saya kendalikan ketika tawaf, semakin saya mendekat ke Ka’bah, rasa-rasanya debar itu bisa membunuh saya. Tau kan rasanya jatuh cinta bagaimana?.  Hanya istighfar dan dzikir yang mampu saya lakukan.
Godaan kedua adalah: I fall in love with the wrong guy.  I fall in love. I fall in love. I fall in love. Tiga kali saya ulang. Means saya tidak main-main dengan rasa yang saya sebut ini. I fall in love. Melawan perasaan hebat, yang sudah lama tak mampir, yang saya rindukan sangat, tapi kali ini datang, dan harus ditepis.  Diantara sa’I, tawaf, sholat, dzikir, berdo’a di tempat mustajab, dan mengaji, lalu debar itu datang.  Bayangan laki-laki itu muncul. Sering saya terhenyak, lalu beristighfar. Mengalihkan ingatan, melawan hati, mengabaikan rasa. Sulit. Sungguh sulit.

Bahkan, ketika akan berpisah dengan kota Mekkah, saat melakukan Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan), saya hanya bisa menangis.  Saya takut, teramat sangat takut akan ibadah saya yang masih jauh dari kata sempurna akankah diterima Allah. Godaan yang teramat besar, yang datangnya justru dari hati sendiri. Saya hanya bisa memohon kiranya Allah, Zat yang Maha Mulia, berkenan menerima ibadah apa-apa saja  yang saya lakukan selama umroh. Aamiin. 

Tuesday, June 4, 2013

"Aku gak bisa berhenti memikirkanmu...'
"Kenapa?....'
"Aku gak tau...."
"Aku juga, kamu sering muncul dalam ingatanku"
"Tapi aku tau, ini cuma godaan..."
"Emang kenapa? salah? dosa?"
"Iya, salah. Karena kamu itu suami orang...."

"Aku cuma tau aku suka kamu. Dan gak ada yang salah dengan rasa suka."

Sunday, June 2, 2013

Where will you stay?* #1



“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Penginapan di Bromo

                Sepanjang yang saya alami saatke Bromo, diawali dengan keputusan yang impulsif, tanpa perencanaan matang, di tahun 2011 silam. Tak perlu khawatir soal hotel atau penginapan.
*
“Krek…”, pintu elf dibuka. Kabut dan dingin menusuk menyambut, bersama serombongan bapak-bapak yang menawarkan penginapan. Tepatnya rumah pribadi yang sudah mereka sulap untuk dijadikan komoditas ekonomi. Ada yang disewa per kamar, ada juga per rumah, tergantung banyak orang dalam rombongan. Semakin banyak rombongan , tentu pembagian biaya sewa semakin kecil.   Berkenalan di elf dengan dua rombongan yang juga berencana menikmati sunrise di Bromo, membuat saya mengekor  mereka  sahaja.  Sementara mereka mengekor seorang laki-laki yang menawarkan penginapan.
                Rombongan melewati jalan menanjak,  dan berbelok beberapa kali di gang dengan penerangan remang-remang.  Akhirnya saya sampai pada sebuah rumah bertingkat dengan fasilitas 3 kamar dan dua kamar mandi.  Semua bisa dikompromikan, termasuk soal harga. Tawar-menawar cukup alot. Malam semakin larut, dan akhirnya kami deal dengan harga 210 ribu permalam. Kami yang saya maksud adalah saya bersama seorang teman seperjalanan, perempuan juga, dan delapan laki-laki  yang baru saja saya kenal sore tadi. Si empunya penginapan menyediakan beberapa termos berisi air panas. Tinggal disajikan bersama teh, susu, kopi,dan mie instan yang dibawa sebagai ransum. Malam itu berlalu hangat seperti makanan yang tersaji.
                Selain menginap di rumah penduduk, ada opsi lain yaitu menginap di hotel atau penginapan yang sebenarnya. Ada beberapa plang hotel yang sempat saya baca. Sayangnya, melihat penampilan fisik, dan tamu yang wara-wiri sebagian adalah bule, saya mengasumsikan bahwa terlalu boros menginap di tempat tersebut untuk ukuran turis kere seperti saya.



penginapan, rumah penduduk, bromo, menginap di bromo
Bromo, 'menumpang' nginap di rumah penduduk


Patong Hostel, Patong, Phuket.

Agak sulit menemukan hostel ini. Letaknya tersembunyi di antara ruko-ruko yang berjejer di  Jalan Patong, sebuah jalan yang tepat bersebelahan dengan Pantai Patong. Bangunan hostel ini pun sebenarnya adalah ruko yang dimanfaatkan sebagai hostel pada lantai dua dan tiganya.

Kawan saya yang mereserve tempat ini mengatakan bahwa kelebihan hostel ini, bisa dibilang satu-satunya kelebihan yang dimiliki, adalah letaknya yang langsung menghadap Pantai Patong.  Penginapan tipe lain yang menghadap Patong Beach merupakan jenis hotel atau resort. Tentunya berlawanan dengan prinsip keuangan yang saya anut bahwa semakin murah , semakin baik.

Pada kenyataannya, tetap sulit untuk melihat pantai dari kamar tidur saya yang terletak di lantai tiga.  Terlalu banyak bangunan ruko yang menghalangi.

Pertama kali masuk, saya disambut oleh jejeran sepatu dan sandal berbagai rupa.  Semua tamu  dan staff hotel harus  melepas alas kaki yang digunakan. Jadi di dalam hostel, semua tamu ‘nyeker’.  It brings homy ambience :)

                Harga hostel ini standard, 100 ribu per malam per orang. Very welcome staff, but everything needs to pay. Mau pakai wifi  harus beli voucher, mau pakai komputer dengan akses internet harus bayar, air mineral harus bayar, selimut, sabun dan sebagainya pun harus bayar. Everything, except breakfast. 
Patong Backpacker Hostel, hostel, phuket, backpacker, pantai patong
homy place

breakfast that you made by yourself


patong, backpacker, hostel, pantai, phuket, penginapan
View dari kamar hostel

 
patong, backpacker, hostel, pantai, phuket, penginapan
Patong Backpacker Hostel