Thursday, May 30, 2013

Kisah Sepotong Hati : "Sepotong Hati yang Mencari"




“Nak, nanti klo mama sehat, kita umroh bareng ya…”. Saya hanya mengangguk pelan, tahu kondisi ibu sudah sedemikian parah. Kira-kira seminggu setelahnya, tanggal 13 Mei 2012, ibu kembali kepada  Yang Maha Memiliki.
*
Nama lengkap saya hanya terdiri dari dua kata.  Di passport, nama saya tertera dalam 3 kata, satu kata terakhir adalah nama alm. Ayahanda yang sengaja ditambahkan. Saya ingat betul,di penghujung tahun 2010,  tujuan awal saya membuat passport  adalah untuk umroh bersama ibu. Sesuai dengan ketentuan pemerintah Arab Saudi untuk jamaah umroh maupun haji harus mencantumkan nama minimal 3 kata di passport.
Sayang seribu sayang, di bulan Januari 2011, saya mendapat panggilan untuk bekerja lebih awal. Februari 2011, ibu tetap berangkat umroh, sendirian, tanpa saya. Jadilah saya hanya menitip do’a pada ibu, kiranya Allah memperkenankan saya untuk datang ke Baitullah.

Bandara King Abdul Aziz
                                                                    *
Waktu berlalu, 2013 pun datang. Di awal tahun, saya sempat berencana dengan seorang teman, mengambil cuti di Bulan Mei.  Backpackeran ke Jepang di saat musim semi, mengambil momen sakura yang bermekaran.  Perencanaan itu  sudah sampai pada tahap mencari-cari tiket promo dan menyusun itenirary selama di Jepang. Namun urung saya fix kan, karena saya punya planning lain yang lebih mendesak dan berada pada skala prioritas yang lebih besar.
Kira-kira di suatu malam di bulan Maret 2013, saya bermimpi bertemu almarhum ayahanda. Ia mengajak saya dan kakak untuk umroh. Sebuah mimpi yang menghenyakkan.  Mengingatkan kembali pada ucapan ibunda yang ingin mengajak saya umroh bersama.  Sudah hampir setahun berlalu dan saya terlupa.
Maret berlalu, April pun datang. Mimpi itu masih menghantui saya. Bahkan setelahnya, saya bermimpi beberapa kali, dengan tema yang membentuk satu jalinan benang merah: umroh dan ke Mekkah.  Mimpi itu tidak mungkin hati saya abaikan, namun tidak serta merta pula bisa saya wujudkan.
Tapi sepotong hati, dan sebongkah usaha, adalah bagian kecil, yang digerakkan oleh kekuatan Maha Besar, yang lebih mengetahui apa yang tidak manusia ketahui.  Man jadda wa jadda.
Di antara jalinan tahajjud dan istikharah, akhirnya saya memutuskan untuk resign. Perkiraan saya, akhir Mei saya baru bisa berhenti bekerja.  Tapi prosesnya lebih lancar dari yang saya kira. Akhir April saya sudah tidak masuk kerja. Dan Alhamdulillah saya sudah sign kontrak dengan dengan perusahaan yang baru, kurang dari satu minggu setelah saya non aktif bekerja di kantor lama.
Dan bukan sebuah keputusan yang mudah untuk keluar dari kantor lama, karena saya terikat pada ikatan dinas di sebuah kementerian.  Tapi lagi-lagi, semua berpulang pada pilihan hidup yang hendak kita jalani. Kadangkala, kita hanya perlu menjalaninya sahaja.

Lalu semuanya terjadi secepat roda waktu berputar. Menyeleksi travel agen, menghitung tabungan, mencocokkan tanggal keberangkatan. Sempat tersendat, karena kebanyakan travel agen menerima pendaftaran minimal 20 hari sebelum keberangkatan. Sempat meragu, uang tabungan ibarat baju yang dikenakan foto model: ‘pas’.
But I can’t wait too long. Kata kakak “ Nanti Allah pasti ganti, bahkan berlipat-lipat ganda”.  Walaupun tabungan dunia berkurang, insyaAllah tabungan akhiratnya bertambah, saya meng-aamiin-i.
 Akhirnya ketemu satu agen travel yang cocok. Semua dokumen dan pembayaran baru fix per tanggal 3 mei. Bulan ini sengaja saya khususkan, untuk perjalanan fisik dan tentu saja batin. Hitung-hitung sebagai kado ulang tahun pada diri sendiri :p

Visa di passport

Yap, passport saya akhirnya bercap visa Arab Saudi. Sesuai dengan tujuan awal saya membuat passport itu.  Kendati ia harus bertualang dulu, mengecap berbagai stempel imigrasi negara-negara lain.
                14 Mei 2013, terbanglah saya dari Jakarta menuju Jeddah, menuju dua bagian tanah suci di muka bumi ini. Menuju kiblat, dimana semua umat muslim di muka bumi ini berdoa menghadapkan wajah ke arah tersebut. Dimana semua manusia yang telah wafat sebagai seorang muslim/ah, akan dihadapkan pula pada arah tersebut.  Menuju Baitullah.  Membawa hati yang sedang mencari.  Menuju perjalanan hati yang tak terganti.


'pencarian' dimulai

8 comments:

Royan Sableng said...

Subhanallah, maha besar karunia-Nya.
Kalo saya belum pernah kemana-mana. padahal pingin bgt menjelajahi karunia Tuhan

+ follow back ya

sabda awal said...

alhamdulillah akhirnya kesampainnya juga umrahnya. SUngguh besar karunia Allah mbak..

Dian Fernanda said...

Subhanallah,,
Smoga saya bisa menyusul mbak :)

R. Melati said...

Royan, Sabda Awal, dan Dian Fernanda: Terimakasih telah berkunjung. Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi :)

cumilebay.com said...

Alhamdulillah akhir nya umroh juga meskipun tanpa ibunda nya.

Jadi pingin jalan ama nyokap buat umroh, mumpung nyokap masih sehat. Bismillah semoga ada jalan Nya

octarezka said...

hm...,speechless
dengan atau tanpa siapapun, semoga pjalanan mb bs mbawa kberkahan

kiaracondong.com said...

Subhanalloh...bener-bener speechless. Hm ini untoldstory nya... ^^ Semangat.

helmi said...

Rikaaaaa..
Sini jalan2 yuk

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...