Friday, March 8, 2013

Tafsir Rindu pada Lelaki Laut




Seperti lima tahun yang lalu. Saya membau anyir dalam rasa. Lelaki dari laut itu datang kembali.
Tiap bulan ini datang, saya selalu kembali ke laut. Bulan ini pula yang menjadi bulan harapan saya sepanjang tahun. Saya nantikan bulan ini layaknya saya nantikan tidur ketika saya amat ngantuk, layaknya saya nantikan wisuda ketika saya mulai masuk kuliah, layaknya saya nantikan malam minggu saat awal pertama jadian dengan pacar. Inilah kerinduan saya sesungguhnya. Ketika baru saja saya lewati beberapa hari, maka sungguh saya akan menantikan tahun depan tiba secepatnya, dan mengulang waktu ini kembali.
Seperti lima tahun yang lalu. Saya membaui anyir dalam rasa. Dengan motornya bututnya ia buntuti saya kembali. Orang-orang bilang itu hanya bayangan saja. Tapi saya percaya lelaki dari laut bukan monster jahat yang akan menceburkan saya ke laut.
*
Suatu malam, lima tahun yang lalu, untuk pertama kalinya Lelaki Laut datang bersama deru motornya yang butut. Jantung saya lalu berdebar-debar. Lelaki Laut hadir diambang pintu, tersenyum, dan menyapa sopan. Ah...saya selalu ingat senyumnya. Senyum yang membahanakan dunia saya. Mengguncang dan menggemparkan hampir seluruh keyakinan dan prinsip yang saya miliki.

Maukah kau menemaniku malam ini?”
Seumur hidup pun akan kutemani kau, Lelaki Laut..
” Boleh. Memangnya kita akan kemana?”
” Malam ini kita akan ke laut dan menikmati suasana laut”.
Lagi-lagi Lelaki Laut tersenyum dan dunia saya berguncang.
            Saya tersenyum manis, lalu menikmati memeluk Lelaki Laut yang tegap nan amat harum. Parfumnya mengantarkan gairah malam itu kepada saya. Ingin saya ciumi lelaki laut, seperti di film-film yang sering saya tonton. Sayang itu hanya sebatas keinginan. Jika saya ceritakan kepada lelaki laut perihal keinginan saya tersebut, tentu ia tak akan keberatan.
Malam itu laut dan Lelaki Laut bekerja sama demi menciptakan malam yang membahagiakan pada tahun ke 16 saya hidup di bumi.
Lalu keesokan malam dan malam seterusnya, saya mendapati repetisi kebahagiaan. Lelaki Laut datang ke rumah saya. Tak absen membawa senyuman yang membahanakan dunia saya.
Lelaki Laut menafsirkan bagi saya sebuah mimpi yang begitu membelai. Ia menafsirkan mimpi-mimpi saya akan sebuah cinta. Ia mengajarkan saya tentang tafsir cinta, tafsir kasih sayang, tafsir kebahagiaan, tafsir menafikan ego, tafsir untuk mengalah, tafsir kesedihan. Lelaki Laut bagi saya adalah dewa yang mengajarkan bahwa hidup itu patut disyukuri.
            Inilah saya yang akan terus mengingat tafsir tersebut. Ia mengajarkan arti kebahagiaan dalam hidup saya yang kerontang. Ia membelai saya begitu halus, hingga saya menyadari betapa ia menyayangi saya, sesuatu yang tak pernah saya peroleh sebelumnya. Ia menyadarkan saya untuk berteman dengan kegagalan. Ia ajarkan semua untuk saya. Arti hidup sesungguhnya dalam fase perubahan saya menjadi dewasa. Hingga saya tak pernah lupa akan itu. Lelaki Laut yang temperamen namun mampu membuat saya mengerti jauh lebih baik dari lelaki bijak manapun yang pernah saya temui.
*


Lima kali putaran bumi berlalu, bau anyir masih terasa, hati saya masih terluka, dan Lelaki Laut tak lagi menjadi milik saya.
Ketika seminggu telah berlalu, dan musim ini hampir berganti. Saya bersiap kembali menjalani hidup saya, jauh dari laut. Lelaki Laut itu pun turut meninggalkan laut. Saya pergi ke kota, lelaki itu pergi ke kota, yang sama pula. Biarpun begitu kita tak pernah bersama, tepatnya tak pernah menemukan laut yang sama untuk menoreh rasa. Saya meninggalkan cinta, ia meninggalkan sayang. Kami melangkah menuju tempat yang sama, dan bercinta dengan orang yang berbeda. Saya tak pernah mau bercinta di kota karena ia berubah menjadi lelaki kota, yang beringas dan gemar bermain cinta. Dulu pernah saya percaya Lelaki Laut akan tetap menjadi ia meskipun tak lagi di laut. Pada akhirnya saya sadar teori tentang lingkungan akan mempengaruhi kepribadian seseorang itu benar. Saya begitu syok ketika menemukan Lelai Laut yang telah berubah menjadi monster. Ia tak lagi selembut laut.
Sekali lagi saya menafikan rasa. Karena ego saya belum mampu memaafkannya. Karena kami pernah sama-sama terluka, dan menyeruput getir yang amat sangat. Semua disebabkan kota hanya menawarkan aroma permusuhan. Karena laut tak lagi mampu menjadi penghulu yang akan mengawinkan cinta kami berdua.
Lelaki dari laut selalu mengatakan betapa ia menyayangi saya. Saya selalu menangis setelah pulang dari berkencan dengan pacar saya, menyadari bahwa belenggu Lelaki Laut tak pernah mau melepas saya. Tapi saya perempuan, yang selalu mencari rasa aman dan nyaman. Pacar saya selalu berhasil memberikannya jauh lebih baik dari lelaki laut.
            Perlahan saya mencoba menikmati rasa, bukan untuk sekadar terbang, dan merasa bahwa kita bahagia. Tapi ada cara lain yang meyakinkan, betapa rasa seharusnya tak mengganggu kehidupan kita. Saya lalu memilih kekasih yang bukan dari laut. Kekasih yang tak menebar keharuman gairah dalam tubuhnya. Kekasih yang sayang saya. Kekasih yang sebelumnya hanya ada dalam doa. Saya panjatkan harapan pada Tuhan, agar beroleh kekasih yang setia dan mencintai apa adanya. Kemudian Tuhan kirimkan Lelaki Gunung untuk saya. Ia datang. Ia baik. Ia setia. Ia menyenangkan. Ia kekasih yang nyaris sempurna. Kekasih dalam doa saya. Sekarang saya berkhianat terhadap Tuhan. Saya mengkhianati doa yang selalu saya hanturkan tiap saya sembahyang. Ternyata kenyataan memang tak selalu sehebat impian
            Saya tak pernah lagi bisa benar-benar jatuh cinta. Cinta saya telah habis. Saya menggigil mengingat Lelaki Laut. Saya menggigil menyaksikan betapa hebat ia pernah menoreh pada hati saya, meski ia bukan lelaki hebat.
Ia hanya lelaki dari laut

(mencatat rindu pada Lelaki Laut)

Foto diperankan oleh model

2 comments:

Suryati Rei Astuti said...

lauutttt, darat, udara :)

R. Melati said...

Isuuuurrrrr, namo anak aku bukan moda transportasi -_-"

Laut, idak pake darat dan udara..weeekkk:P

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...