Sunday, March 24, 2013

Menjadi Dewasa itu……sulit



Bisa jadi hidup tak lagi berarti ketika menginjak usia dewasa. Tak ada lagi rasa ingin tau yang membuncah di dalam otak, Eksperimen menakjubkan membongkar rahasia segala sebab akibat.
Usia dewasa berarti rutinitas dan tanggung jawab. Masa kecil berarti kreativitas dan khayalan.  Manusia-manusia dewasa bisa jadi mempersepsikan dunia dalam konsep yang similar.  Tanyakan pada anak kecil, ada berapa jenis dunia dalam konsep kepala beberapa bocah yang dikumpulkan bersama?. Negara api, star trek, negeri dongeng, kota masa depan doraemon, dsb. Tidak ada konsep ketidakmungkinan dalam realitas anak-anak.
            Bisa jadi masa kecil adalah masa yang paling dikenang seseorang dalam hidupnya. Surveylah 100 orang, dengan latar pendidikan berbeda, pekerjaan berbeda, tahun kelahiran berbeda. Hampir semua orang mengingat masa kecinya. Saat kelas 3 SD aku begini, saat kelas 4 SD aku begini, saat kelas TK aku begini. Anak-anak mengingat waktu. Ketika dewasa dan terperangkapa dalam rutinitas, ada berapa banyak hal yang bisa kita ingat?. Manusia dewasa tak lagi mengingat waktu, melainkan hanya mengingat momen. Ketika semua hal terjadi berulang sama dalam dimensi waktu berbeda, ketika kebosanan melanda, tanggung jawab membengkak, dan berbagai kegiatan yang dilakukan karena tekanan sosial. Ah menjadi dewasa itu sulit, Kawan…

Tuesday, March 12, 2013

Menemukan Bintang




Malam ini bulan bersinar dengan terangnya. Bintang terlihat lebih jelas. Saya jadi ingat, dulu sewaktu kecil, saya sering duduk-duduk di luar rumah, berpangku di pangkuan ayah. Lalu dengan senang hati, ayah biasanya akan mulai bercerita tentang bintang dan arah angin. Ayah bilang, ia bisa mengetahui arah angin dengan hanya melihat bintang dan tanpa bantuan kompas.
Kadang juga ayah sering bergumam, hanya dengan melihat bentuk gumpalan awan dan arah angin, ayah bisa tahu bahwa saat tersebut adalah saat terbaik baik bagi nelayan untuk ke laut. “Ikan-ikan sedang berada di permukaan, sehingga lebih mudah untuk menjaringnya”, jelas Ayah.
Tak heran dengan kemampuan navigasinya yang amat baik. Karena ayah pernah berprofesi sebagai nakhoda kapal barang. Ia kerap menjelajah Laut Cina Selatan. Pernah suatu kali, disebabkan badai sehingga kapal menjadi hilang arah. “Kau tau nak, tiba-tiba kapal sudah berada di Hongkong, padahal tujuannya cuma Malaysia”, lalu diikuti suara ayah terbahak.
Sayang kemampuan navigasi yang bagus dari ayah, tak satu pun diturunkan kepada keempat anak perempuannya. Beberapa waktu lalu saat week end, kakak-kakak saya berlibur ke Jakarta. Atas dasar navigasi yang jelek dari semua orang dewasa yang ada di dalam mobil, membuat kami harus keluar masuk tol berkali-kali. Berputar-putar di suatu daerah meski sudah dengan bantuan Google Maps, yang ternyata memiliki presisi pemetaan tak akurat.  Ah sedih….kami semua tumbuh menjadi manusia modern yang tak mengenal alam dengan baik.
Saya bahkan gak pernah lulus pelajaran ‘menemukan bintang utara’ dari ayah. Berkali-kali diajarkan, dan berkali-kali pula saya tak bisa membedakan. Sekarang saya sudah tak berambisi menguasai kemampuan mengenali bintang utara. Saya memilih menikmati perasaan damai saat memandangi bintang.
Yap...malam ini saya rindu ayah. Rindu sangat. Satu-satunya laki-laki yang kerap masih saya rindukan keberadaannya.



…..karena itu, saya tergila-gila pada senja, laut, dan bintang. #memoarAyah

Friday, March 8, 2013

Tafsir Rindu pada Lelaki Laut




Seperti lima tahun yang lalu. Saya membau anyir dalam rasa. Lelaki dari laut itu datang kembali.
Tiap bulan ini datang, saya selalu kembali ke laut. Bulan ini pula yang menjadi bulan harapan saya sepanjang tahun. Saya nantikan bulan ini layaknya saya nantikan tidur ketika saya amat ngantuk, layaknya saya nantikan wisuda ketika saya mulai masuk kuliah, layaknya saya nantikan malam minggu saat awal pertama jadian dengan pacar. Inilah kerinduan saya sesungguhnya. Ketika baru saja saya lewati beberapa hari, maka sungguh saya akan menantikan tahun depan tiba secepatnya, dan mengulang waktu ini kembali.
Seperti lima tahun yang lalu. Saya membaui anyir dalam rasa. Dengan motornya bututnya ia buntuti saya kembali. Orang-orang bilang itu hanya bayangan saja. Tapi saya percaya lelaki dari laut bukan monster jahat yang akan menceburkan saya ke laut.
*
Suatu malam, lima tahun yang lalu, untuk pertama kalinya Lelaki Laut datang bersama deru motornya yang butut. Jantung saya lalu berdebar-debar. Lelaki Laut hadir diambang pintu, tersenyum, dan menyapa sopan. Ah...saya selalu ingat senyumnya. Senyum yang membahanakan dunia saya. Mengguncang dan menggemparkan hampir seluruh keyakinan dan prinsip yang saya miliki.

Maukah kau menemaniku malam ini?”
Seumur hidup pun akan kutemani kau, Lelaki Laut..
” Boleh. Memangnya kita akan kemana?”
” Malam ini kita akan ke laut dan menikmati suasana laut”.
Lagi-lagi Lelaki Laut tersenyum dan dunia saya berguncang.
            Saya tersenyum manis, lalu menikmati memeluk Lelaki Laut yang tegap nan amat harum. Parfumnya mengantarkan gairah malam itu kepada saya. Ingin saya ciumi lelaki laut, seperti di film-film yang sering saya tonton. Sayang itu hanya sebatas keinginan. Jika saya ceritakan kepada lelaki laut perihal keinginan saya tersebut, tentu ia tak akan keberatan.
Malam itu laut dan Lelaki Laut bekerja sama demi menciptakan malam yang membahagiakan pada tahun ke 16 saya hidup di bumi.
Lalu keesokan malam dan malam seterusnya, saya mendapati repetisi kebahagiaan. Lelaki Laut datang ke rumah saya. Tak absen membawa senyuman yang membahanakan dunia saya.
Lelaki Laut menafsirkan bagi saya sebuah mimpi yang begitu membelai. Ia menafsirkan mimpi-mimpi saya akan sebuah cinta. Ia mengajarkan saya tentang tafsir cinta, tafsir kasih sayang, tafsir kebahagiaan, tafsir menafikan ego, tafsir untuk mengalah, tafsir kesedihan. Lelaki Laut bagi saya adalah dewa yang mengajarkan bahwa hidup itu patut disyukuri.
            Inilah saya yang akan terus mengingat tafsir tersebut. Ia mengajarkan arti kebahagiaan dalam hidup saya yang kerontang. Ia membelai saya begitu halus, hingga saya menyadari betapa ia menyayangi saya, sesuatu yang tak pernah saya peroleh sebelumnya. Ia menyadarkan saya untuk berteman dengan kegagalan. Ia ajarkan semua untuk saya. Arti hidup sesungguhnya dalam fase perubahan saya menjadi dewasa. Hingga saya tak pernah lupa akan itu. Lelaki Laut yang temperamen namun mampu membuat saya mengerti jauh lebih baik dari lelaki bijak manapun yang pernah saya temui.
*