Thursday, January 31, 2013

Jakarta-Semarang-Malang Overland #2




Lawang Sewu

Petualangan di Semarang di mulai cukup pagi, jarum jam menunjukkan pukul 8 lewat beberapa menit. Diawali dengan berjalan kaki di sekitar kawasan Kota Tua Semarang sembari mengambil beberapa jepret gambar. Kota tua di Semarang, dalam pandangan saya, tak jauh beda dengan Kota Tua di Jakarta, terdiri dari beberapa blok bangunan tua, yang sayangnya tidak terawat, berbau pesing hampir di semua sisi bangunan, kecuali sisi depan, serta identik sebagai tempat tinggal kaum menengah ke bawah. Sebuah kenyataan yang miris jika harus membandingkan dengan Kota Tua  lain yang pernah saya kunjungin di Penang, Malaysia.
Bangunan pertama yang saya cari adalah Gereja Blenduk. Cukup berjalan kaki tak sampai 15 menit dari penginapan. Selesai mengabadikan beberapa gambar, tentu saja dari luar bangunan. Tempat ibadah memang semestinya bukan konsumsi turis. Hari masih pagi, saya lalu sarapan di sebuah warung bakmi jawa tepat di seberang gereja. Saat melakukan perjalalanan, menjaga tubuh agar tetap fit adalah prioritas utama.
Selanjutnya partner perjalanan saya request mau ke Lawangsewu. Bulan Juni 2012 lalu, saat jalan-jalan ke Semarang dan Jogja saya sempat mampir ke Lawangsewu. Tapi bolehlah mengulang lagi. Dari Gereja Blenduk hanya butuh waktu sekitar 10 menit naik mentromini menuju Lawangsewu di kawasan Tugu Muda.  Pengalaman kedua ke Lawangsewu, saya tak begitu bersemangat untuk foto-foto. Positifnya, saya lebih fokus membaca sejarah, megamati detail bangunan dan benda-benda di ruang pamer Gedung C. 

Lawang Sewu

            Sebelum pukul 11 siang tour singkat di Lawangsewu sudah berakhir. Semarang masih cerah ceria. Duduk-duduk dulu di depan Tugu Pemuda, we have no appropriate destination. Sembari menikmati es cendol durian yang sedap, saya dan kawan bernegosiasi tempat mana lagi yang harus dikunjungi.
Klenteng Sampokong, menjadi pilihan selanjutnya. Dekat dan tak macet, argometer di taksi menunjukkan angka 15.000 ketika sampai di gerbang. Untuk masuk Klenteng ini pengunjung dikenakan biaya 6000 rupiah per orang. Bagi saya, bangunan Klenteng masuk dalam kategori mewah. Di dalam kompleks terdapat beberapa bangunan besar sebagai tempat sembahyang. Tak jauh dari gerbang besar yang berlawanan arah dari tempat pengunjung masuk, terdapat patung Laksamana Cheng Ho. Karena fungsi utama bangunan sebagai tempat peribadatan, maka pengunjung yang memiliki niat untuk berwisata, hanya diijinkan mengitari sekitar kompleks tanpa masuk ke anjungan. Kurang dari dua jam, Kleteng Sampokong sudah cukup memuaskan saya. 
Salah satu sudut Klenteng Sampo Kong

Definisi jalan-jalan bagi saya rasanya kurang lengkap kalau tak ke pantai. Di tengah hari yang mendung, saya menuju Pantai Marina.  Akses menuju ke sana agak susah, tempatnya ‘mblusuk’.  Satu-satunya pilihan yang tepat dan cepat ya naik taksi.
Belum ramai pengunjung saat saya tiba. Hanya beberapa muda mudi yang sedang memadu kasih, beberapa pemancing amatir, dan dua orang bapak-bapak yang sedang mengais rezeki.
Pantai Marina, Semarang
Tak ada pasir, hanya deretan batu karang yang disusun apik, air laut berwarna coklat, dan angin bertiup cukup kencang. Saya menikmati sesi foto-foto, ngobrol, sembari makan bakso. 

Monday, January 14, 2013

Jakarta-Semarang-Malang Overland #1



Stasiun Tawang

                 Sudah jadi kelumrahan jikalau menjelang natal dan tahun baru harga transportasi massa melonjak naik. Pesawat, kereta, kapal, bus, semua menawarkan harga tiket di luar logika. Putus asa menghadapi tiket pesawat yang begitu mahal di masa libur natal dari tanggal 22-25 Desember lalu, maka saya memutuskan berlibur di Pulau Jawa saja. Malang menjadi tujuan saya. Sayang, tiket kereta ke Malang dan ke Surabaya tak tersisa lagi. Karena waktu libur yang ada lumayan lama, yakni 4 hari, maka saya dan seorang kawan yang bersama saya dalam perjalanan kali ini memutuskan untuk mampir dulu ke Semarang.
            Di hari Jumat yang selalu dinantikan orang-orang yang menjadi buruh di kantor-kantor, yang selalu mengharapkan akhir minggu datang lebih cepat, maka  saya pun mencoba strategi untuk pulang lebih cepat, pukul 15.30 saya sudah kabur. Petualangan saya diawali dengan kebangkitan angkutan umum bernama Ojek. Betapa tidak, ojek yang biasa mangkal dimana-mana, sore itu sangat susah ditemukan. Tak ada opsi lain, hari jumat menjelang long week end, ditemani hujan yang melanda Jakarta yang berarti kemacetan tiada tara. Tak mungkin untuk naik taksi, tak mungkin pula naik metromini jika saya tak ingin ketinggalan kereta akan berangkat pukul 18.10 dari Stasiun Senen.
         Hampir 1 jam, sekitar pukul setengah lima sore barulah saya berhasil menemukan sebuah ojek yang bersedia mengantar. Meski ongkos yang dibandrol setara dengan naik taksi, yakni 80 ribu rupiah. Tetapi kalau bukan karena si abang tukang ojek, saya rasa perjalanan ini tak akan terlaksana. Mulai dari Cilandak, Mampang, Kuningan, Menteng, Tugu Tani, hingga Stasiun Senen macet tak berkesudahan. Saya tiba di Gambir pukul 18.15. Untungnya sarana transportasi umum di Indonesia tak setepat negara-negara tetangga. Saya tiba di peron keberangkatan ketika sebuah pengumuman berkumandang, kereta api Gumarang tujuan Semarang baru saja diberangkatkan dari Stasiun Kota. Gumarang mengangkut gerbong kelas bisnis dan ekonomi AC.

Saturday, January 12, 2013

Puisi



Tadi malam saya menyelesakan membaca satu buku, sebuah antologi cerpen.

Satu yang berkesan, ada sebuah puisi lama yang dikutip dari salah satu penulisnya.

Ya Allah,
Kepada-Mulah kami kembali
Baik susah maupun senang.
Seluruh denyut nadi adalah ibadah
Begitupun tarikan nafas.

(Taufik Affandi, 1999)

Saturday, January 5, 2013

Vitamin untuk Balita, Perlukah?



Saat mudik ke rumah, saya ditanya kakak soal vitamin yang bagus untuk anaknya yang berusia kira-kira 2 tahun. Saya lihat keponakan saya tersebut, hmm…sepertinya baik-baik saja, cuma badannya yang agak kurus.
Sudah jelas saya bingung menjawab pertanyaan seperti itu. Vitamin sangatlah relatif, tidak harus semua balita perlu diberi vitamin. Apalagi kalau perkembangannya bagus dan asupan vitamin yang dibutuhkan sudah terpenuhi oleh makanan yang dikonsumsi.
Sayangnya, memang balita dan bayi kerap susah makan atau hanya menyukai makanan tertentu. Sebut saja makanan ringan yang tentu mengandung penguat rasa dalam jumlah besar. Saya perhatikan, kurusnya keponakan di dukung kesibukannya bermain, meloncat, dan berlari sana-sini.
Saya tanya balik ke kakak, memang keluhannya apa. Kata kakak, yah...dia hanya ingin memberi suplemen dan vitamin ke anak. Saya jadi mikir, bisa jadi kakak telah terprovokasi oleh iklan-iklan di televisi.
Vitamin tidak seperti protein atau lemak yang bisa secara fleksibel diserap tubuh berapapun jumlahnya. Vitamin hanya dibutuhkan dalam takaran tertentu. Ketika takaran tersebut telah terpenuhi, maka seberapa banyakpun vitamin, sisanya hanya akan diekskresikan keluar tubuh.
Saya bilang ke kakak, ”Sudah..., kasih makan yang banyak aja, gak perlu pake vitamin”. Kakak malah cemberut, lalu bilang ”Halah..., masa’ jawaban apoteker kayak gitu”. Saya cuma nyengir, beda mungkin kalau saya punya apotek, dan ada seorang ibu yang datang lalu bertanya demikian. Sudah pasti saya sodorkan beragam produk suplemen dan vitamin yang ada ^.^

Tuesday, January 1, 2013

Arah 2013



Arah memang perlu ditetapkan agar tahu kemana langkah kaki ini harus ditapakkan. Tahun 2013 telah memulai kehadirannya, belum ada 24 jam memang. Sebelum salah langkah, sebelum terlalu banyak waktu yang tersia-sia, sebelum kebingungan di tengah jalan, sebaiknya saya menetapkan arah kemana sebenarnya saya ingin menuju.

-         Menikah
-         Belajar agama lebih dalam, lebih banyak. Memperbanyak amalan sehari-hari.
-         Sekolah lagi/Resign/Pindah kerja
-         Nabung lebih banyak/ punya investasi/ bikin usaha/ punya income di luar gaji
-         Nerbitin buku
-         Whish list traveling: India, Nepal, Jepang.

Kiranya segala langkah, perencanaan, tindakan, usaha, kegiatan, keputusan, kerja keras, pengorbanan, semua mengacu pada 6 hal pokok tersebut.

Man jadda wa jada…


(Ditulis dan diposting: agar ingat terus, agar konsisten, agar bisa direview.)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...