Tentang Saya dan Kontak

Wednesday, December 25, 2013

Be Thankful


Somewhere out there, there’s somebody mad because of wanting what you’ve had. Be grateful. Be thankful
Mengejutkan sekaligus menghenyakkan,  saat seorang kawan, teman atau bisa dibilang kenalan masa kecil saya, menceritakan betapa ia (yang usianya hanya terpaut satu tahun dari saya) begitu iri melihat masa kecil saya. Ia kerap mengintip dari lantai 2 ruko miliknya yang terletak tepat berseberangan dengan ruko saya. Katanya saya kecil yang punya orangtua lengkap, saya kecil yang terlalu dimanja, saya kecil yang selalu berkecukupan materi, saya kecil yang mendapat berlimpah kasih sayang dari orangtua dan kakak-kakak. Dia memperhatikan saya. Dan dia iri.
 Tuhan, mungkinkah saya lupa bersyukur, ternyata ada orang lain yang will take for granted apa yang saya miliki waktu kecil. Dia yang dibesarkan oleh seorang ibu yang berperan sebagai single parent. Tuhan, betapa beruntungnya saya.
Dan dia baru menceritakan kini, ketika kami terhubung lagi, setelah sekian lama tak bertemu. Tak terhitung berapa tahun, setelah menyelesaikan masa SMP,  saya masuk SMA asrama, lalu dia bersekolah pesantren di pulau jawa. Lalu dia kembali berkuliah di Pulau Sumatra, dan saya berkuliah di Pulau jawa. Dan kini dia bekerja di pedalaman pulau Kalimantan, dan saya bekerja di kota metropolis ini. Saya gak sadar, tapi dia sadar, dan dia tahu perkembangan kuliah saya, pekerjaan saya, dia bahkan hapal dulu saya pindah SD sampai 3 kali, sementara  saya bahkan tak tahu dia dulu sekolah di SD dan SMP mana.
 Kini, ruko warung kopi  miliknya tak  lagi dikelola sang ibu. Pun ruko toko kelontong saya  telah tutup beberapa tahun yang lalu. Kami terhubung lagi. Dia yang sempat hilang dalam ingatan saya. Dan saya yang masih menjadi alter ego masa kecilnya. Dia sempat berkomentar “Kamu dulu terlalu dimanja, aku gak nyangka sekarang kamu bisa jadi mandiri dan tangguh begini”.
Saya ingat betul, waktu kecil saya merasa weirdo banget. Pertengahan tahun 1990-an di kampung saya, yang bahkan hingga kini pun belum ada toko buku,  sangat aneh kalau ada anak kecil yang lebih banyak membaca ketimbang bermain panas-panasan di luar rumah bersama teman-teman. Tapi saya memang terlalu terhipnotis oleh tulisan dan bacaan. Saya rela menghemat uang jajan, menabung demi membeli majalah anak tiap minggunya. Kalau majalah yang tak seberapa jumlah halaman itu tuntas saya baca, maka saya beralih pada koran kiloan yang berserakan di toko. Iya, koran kiloan yang biasa digunakan untuk bungkus gorengan itu. Terutama international news nya, wisata, serba-serbi, karikatur, dan cerpennya. Itulah surga masa kecil saya. Suatu saat ada juga berdiri sebuah tempat persewaan buku, lagi-lagi satu-satunya di kampung, saya beralih rajin menyewa komik dan novel. Saking weirdo nya , waktu itu saya  sampai punya ketakutan dengan apa yang terjadi pada diri saya kalau besar nanti.

Beranjak dewasa, saya mulai sadar ada banyak kenangan indah yang Tuhan berikan dalam masa kecil saya. Tapi apa yang kawan kecil saya ungkapkan hari itu, menjadi semacam tamparan, bahwa ada seseorang di sana, setengah mati menginginkan apa yang Tuhan telah berikan kepada saya. Saya harus bersyukur. Lebih. Terus. Tanpa jeda. Tak terkecuali. Tanpa berhenti. 

Ruko penuh kenangan :' )

Tuesday, December 24, 2013

sesungging senyum itu
ada dalam bayangan cerah pagi yang datang bersama kabut, sesusubuh ini

sesungging senyum itu,
datang disaat hujan, sedikit deras, dalam lajur jalan tol, dibalik kaca yang bias karena air

The empty one

Friday, December 13, 2013

Suami Sempurna

Ada empat belas cerita pendek dalam buku Suami Sempurna karya almh. Nurul F. Huda ini. Kesemuanya berkisah mengenai permasalahan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seorang buruh wanita di Batam yang bekerja banting tulang demi keluarganya di Pulau Jawa, yang dirampok oleh sindikat taksi gelap. Ada lagi buruh perempuan, masih dengan setting Batam, yang menjual diri lagi-lagi karena uang. Dilengkapi dengan bumbu cerita kehidupan pabrik dan mess tempat karyawan tinggal. Bagi saya, sungguh menyentuh. Membuat saya begitu bersyukur, ada banyak orang, ribuan bahkan jutaan orang berjuang untuk hidup. Saya sendiri gak pernah bekerja di industri atau pabrik obat. Tapi sempat merasakan PKL di pabrik yang terletak di kawasan industri. Buruh, kebanyakan wanita, ribuan jumlah, saya lihat setiap hari mondar mandir di kawasan industri. Di pabrik tempat saya PKL, proses pengemasan sekunder obat masih dilakukan manual. Tentu saja pekerjanya adala buruh perempuan.
Bunyi-bunyi mesin tiap harinya. Kondisi yang membuat manusia seolah robot. Salah satu hal yang membuat saya gak pernah terpikir sedikitpun untuk melamar kerja di pabrik obat sejak lulus kuliah. Untungnya saya masih punya pilihan.
Ada lagi cerita tentang kekerasan rumah tangga. Sebagaimana perempuan kebanyakan yang gampang memaafkan, begitulah banyak kekerasan rumah tangga terus berlangsung karena korban malu bersuara.
Lalu cerita sepasang suami istri.  Ari, suami Astri, layaknya sosok suami yang sempurna.  Pekerja keras dan aktivis di berbagai kegiatan sosial. Sosok suami nyaris sempurna. Nyatanya Ari sangat tidak kooperatif saat berada di rumah. Ia hanya ingin dilayani. Memiliki dua buah hati, semua pekerjaan mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga Astri yang mengerjakan.
Nurul bercerita lancar, enak dibaca, dan dengan alur pas. Tidak terlalu cepat dan tidak bertele-tele.Rasanya sulit menemukan buku serupa ini kini. Tahun 2000an awal, buku semacam Suami Sempurna ini jumlahnya cukup berlimpah. Membaca karya Nurul, mengingatkan saya akan karya-karya penulis angkatan pertama Forum Lingkar Pena di tahun 2000an awal. . Afifah Afra, Pipi Senja, Helvy Tiana Rosa, Gola Gong, Asma Nadia, dsb. Kancah perbukuan ramai dengan cerita-cerita islami.  Ceritanya ada yang cukup realistis, namun kadang ada juga yang idealis nya agak kelewatan.
Tapi kalau dibandingkan buku-buku yang berjajar di Gramedia saat ini. Saya eneg dengan buku-buku travelling, baik fiksi ataupun non fiksi. Cerita-cerita metropop. Kebanyakan mengambil setting menengah ke atas dan kaum urban kota-kota besar.
Iya, saya kangen cerita kehidupan sehari-hari, tanpa embel-embel bekerja di perusahaan multinasional, menginap di resort A, jalan-jalan keluar negeri, punya apartemen B, mobil merek C, meeting di hotel D, sekolah di eropa, menjadi manager perusahaan E, menjadi relawan di LSM internasional, penulis sukses, copy writer, designer, atau mahasiswa perguruan tinggi F dengan kecerdasan di atas rata-rata. Kemewahan, intrik, perselingkuhan, masalah keluarga, kerja keras, lalu kesuksesan.
Dua ratus juta rakyat Indonesia, mungkin hanya 30 persen yang punya kehidupan dengan setting seperti itu. Ada banyak kelas menengah dan menengah ke bawah. Pegawai negeri bukan pejabat, guru di kota kecil, mahasiswa IPK pas-pasan, buruh pabrik, pegawai swasta yang gak ngopi dan gak tinggal di apartemen, anak sekolahan, pemulung, buruh pabrik, petani, tukang gorengan, kota kecil, desa, rapat kelurahan, dan pengusaha yang tidak terlalu sukses.

Ah saya sangat suka buku ini. Nurul F. Huda adalah salah satu wanita hebat. Semoga karya-karya yang ia tinggalkan dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin. 

Tuesday, December 10, 2013

....dan Gunung-Gunung pun Bergema


And the Mountain Echoed, karya terbaru Kholed Hossaini, masih memukau, membuat saya memikirkan ceritanya  hingga terbawa ke alam mimpi. Sesuai review dari New York Times, karya terbaru Kholid kali ini memang lebih complicated. Setting rentang waktu yang panjang antara tahun 1930-an hingga tahun 2010, antara satu tokoh dengan tokoh lainnya  membuat saya harus membolak-balik halaman.  Mengingat keras tokoh-tokoh mana saja, dan siapa ‘akuan’ yang sedang bercerita saat itu.
Empat bab pertama, buku ini benar-benar menyihir saya. Namun di pertengahan, saya merasa Hossaini agak keteteran. Terutama saat ia menceritakan kehidupan Pari di Paris, Prancis. Kurang deskriptif dan terkesan tergesa-gesa. Entahlah, apa memang sumber kekuatan karya-karya Hossaini adalah Afganistan dan kehidupannya yang indah meskipun keras. Iya, setting Prancis, Amerika, dan Yunani di novel ini malah mengurangi kesukaan saya pada novel ini. Cerita membosankan di tengah ini membuat saya ketiduran, dan akhirnya melanjutkan membaca keesokan harinya.
Tak banyak memang buku tentang Timur Tengah yang saya baca. Tiga novel Khassaini, trilogi perjalanan Agustinus Wibowo, serta beberapa buku non fiksi tentang sejarah Islam di Timur Tengah. Bagi saya negara-negara seperti Afganistan, Pakistan, Oman, Arab Saudi, Mesir dan sekitarnya masih merupakan tempat eksotis dengan budaya yang meraksasakan rasa ingin tahu.
Kite Runner,  pertama kali saya menikmatinya lewat film. Film yang membuat saya berurai airmata. Hampir kira-kira satu tahun setelahnya, saya menikmati buku pertama Kholid Hossaini ini. Masih sama mengesankannya. Dan masih membuat saya berurai airmata. Salah satu novel yang paling mengesankan bagi saya hingga detik ini. A Thousand Splendid Sun, juga tak luput menguras airmata. Hanya di novel ...and the Mountain Echoed ini airmata saya absen. Terlalu banyak tokoh. Terlalu banyak cerita.  Agak bingung saya. Entahlah…mungkin kecerdasan saya gak nyampe untuk menikmati cerita secomplicated itu:p.
                Hossaini masih berkisah soal identitas, darah daging, dan watak manusia. Sekaligus di dalam karya-karyanya, Khossaini seolah ingin menonjolkan bahwa setiap manusia pasti menyimpan satu misteri, satu rahasia, di dalam dirinya. Entah itu suatu kepedihan, kesedihan, kehilangan, hasrat, pandangan hidup, keyakinan, hingga keraguan. Sesuatu jauh di dalam lubuk hati, sebuah persembunyian yang paling sunyi (khafi al-akhfa).
 Dan siapalah saya hingga mau mengkritik karya yang dipuji oleh New York Times ini. Overall, menurut saya novel ini tetap masuk list ‘buku wajib baca’.



Sunday, December 1, 2013

"Kehidupan memang seperti jazz, memang perlu improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus kita atasi. Kita tidak pernah tahu kemana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tidak selalu berjalan seperti kemauan kita.  Barangkali kita tidak pernah mencapai tujuan kita. Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak perna kita bayangkan. Barangkali juga  kita tidak punya tujuan dalam hidup ini, tapi hidup itu selalu memberikan kejutan-kejutannya sendiri." - Seno Gumira Ajidharma dalam Jazz, Parfum, dan Insiden


Wednesday, November 20, 2013

Where will you stay?* #9

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bad, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.


Crystal Crown Hotel, Petaling Jaya, Malaysia

Room- Crystal Crown Hotel

                Hotel Tua. Besar. Jumlah kamar banyak. Hotel bintang 3 yang sangat standard.  Selain di Petaling Jaya, hotel ini juga terdapat di beberapa lokasi lain di Malaysia. Seperti di Kuala Lumpur dan daerah Port Klang.
 Tipikal business hotel. Lumayan secara fisik dan tidak mahal secara harga. Hanya sekitar 600-700 ribu per malam. Satu alasan lain karena HQ  perusahaan tempat saya bekerja berada di Petaling Jaya, tak begitu jauh dari hotel.
Hampir seminggu saya menginap di sini. Sampai saya hapal acara televisi lokal (entah kenapa saluran televise kabelnya gak ada yang popular).   Saya pun hapal menu sarapan pagi yang tiap hari sama. Tak banyak variasi. Mie rebus, nasi gemuk, nasi goreng, omelet, canai dan martabak, serta roti-rotian dan sereal. 
Ukuran kamar terbilang luas. Bathtub yang sudah tidak bisa digunakan dan shower kit yang tidak diganti tiap hari. But overall nothing to complain lah . Namanya juga dibayarin :p
Lobby- Crytal Crown Hotel


Holiday Inn Hotel, di Jeddah

Holiday Inn, Jeddah

                Dalam rangkaian umroh, saya menginap semalam di Jeddah sebelum balik ke Indonesia.  Hotel ini menjadi pilihan pihak travel agen.
                Famous hotel yang terletak di pusat kota Jeddah. Karena bukan lagi di tanah suci, hotel ini tentu menyediakan fasilitas selayaknya hotel berbintang, Ada fasilitas kolam renang (yang tetap dipisah antara perempuan dan laki-laki), bar dan minuman beralkohol  serta tempat karaoke. Buffet restorannya oke banget. Selain ada berbagai menu Timur Tengah dan  tentu saja tersedia masakan Indonesia.
Yang agak mengerikan, awalnya saya piker karena ini Jeddah, jadi ya sudah tidak apa-apa pergi kemana-mana sendirian. Nah jadi di hotel saya  turun dan naik lift sendirian. Di dalam lift saya berpapasan dengan beberapa staf hotel yang tentu saja ke semuanya laki-laki. Ada yang ngeliatin saya dari atas sampai bawah. Ada yang sampai menyapa dan menanyakan asal saya, keperluan, sampai status pernikahan. Meski sudah di Jeddah, ternyata tetap tak lazim perempuan berkeliaran sendirian, walau hanya di dalam hotel. Apalagi saya gak pakai cadar. Waktu itu bahkan saya urung ke drugstore yang terletak persis di seberang hotel. Saya perhatikan kalaupun ada perempuan yang jalan kaki, mereka tidak sendirian dan tentu saja mengenakan cadar.
Tapi di luar itu, menurut saya tetap saja staff hotel sekelas ini tak seharusnya bersikap tak sopan dan membuat pengunjung risih.



Room- Holiday Inn Jeddah

Monday, November 18, 2013

Ramuan Ajaib


Siapkan panci yang terbuat dari tanah liat. Masukkan air yang diambil dari Danau Kerinci di Jambi. Lalu panaskan sampai mendidih. Tambahkan sehelai rambut Dian Sastro yang minggu kemarin tertinggal di Rest Room Mall Pondok Indah. Tuangkan 200 cc darah ayam kate hitam yang masih perawan. Aduk terus sampa iramuan berubah warna. Terakhir tambahkan 1 gram serbuk belerang yang diambil dari Kawah Sikidang di dataran tinggi Dieng.  

Ramuan yang telah mengental ini dioleskan pada malam hari sebelum tidur, kecuali pada malam jumat kliwon, dengan wajah menghadap ke selatan. Rapalkan mantra: “Cantik…cantik..cantik..seperti Dian Sastro”.



racikan obat jerawat desolex dan mediklin tr
Bahan-bahan ramuan


Racikan krim ini merupakan campuran Medi-Klin Tr gel dan Desolex salep. Keduanya merupakan dua merek dagang.  Medi-Klin Tr berisi campuran clindamysin dan tretionin. Jadi si clindamysin merupakan antibiotic yang bekerja membasmi bakteri penyebab jerawat (acne vulgaris) di wajah. Sedangkan tretionin ini masih masuk klan vitamin A. Ia mempercepat  sintesis protein pada kulit. Regenerasi kulit menjadi lebih cepat, sehingga wajah terlihat lebih cerah. Coba kawan cek produk-produk krim pemutih di pasaran, hampir semuanya mengandung tretionin (retin-A) ataupun asam retinoat. Keduanya masih saudara sangat dekat.

Namun sebagai akibat dari regenerasi paksa ini, kulit akan terlihat memerah.  Sehingga perlu dicampurkan suatu bahan yang meminimalisir proses peradangan ini. Di sinilah salep Desolex yang mengandung desonide berfungsi. Desonide merupakan golongan kortikosteroid, ia berfungsi sebagai anti-dermatitis.Jerawat hilang, bekas jerawat cepat memudar, tanpa perlu wajah memerah seperti udang rebus.

Dan karena tretionin ini dapat rusak oleh sinar ultraviolet, makan krim ajaib ini disebut juga krim malam. Ia hanya boleh dioleskan pada wajah saat matahari sudah tenggelam. 

racikan obat jerawat desolex dan mediklin-tr
Meracik ramuan ajaib



racikan obat jerawat desolex dan mediklin-tr
Hasil jadi ramuan


Note: saya mendapat resep rahasia ramuan ajaib ini dari seorang kawan di apotek yang sering melayani resep obat jerawat dari dokter kulit. Monggo yang mau mencoba :)


Kangen Emak. Itu saja....

Suatu ketika di tahun 1997

Sunday, November 10, 2013

People Change



In many way, people change. Yes, people change definitely.

Berubah dalam arti, bisa diibaratkan seperti bunglon, mengikuti lingkungan  tempat mereka berada.
Saya pernah iseng menghitung ada berapa orang yang melemparkan senyum saat berpapasan, misal di lift, ketika menginap di sebuah hotel berbintang. Saya sampai pada kesimpulan: semakin banyak bintang yang dimiliki sebuah hotel, maka semakin sulit menemukan pengunjung yang tersenyum saat berpapasan.
           Lain halnya di hostel atau hotel kelas Melati. Lagi-lagi saya mencoba menghitung.  Saya sampai pada angka lebih dari lima jari. Sepertiga dari orang yang tersenyum itu biasanya akan melanjutkan dengan sapaan atau obrolan singkat.
Lalu bandara, sebuah tempat yang menyimpan banyak kisah tentang orang-oranng yang saling menyapa satu sama lain tanpa mengenal sebelumnya. Kalau lagi banyak kerjaan dan ingin menyendiri, pergilah ke eksekutif lounge.  Wangi, tidak berisik, dan terasa ada batas antara satu manusia dengan manusia lainnya. Tapi terus terang, seringnya saya lebih senang menunggu di ruang tunggu umum. Ada banyak hal yang dilihat. Ada banyak hal yang bisa diperhatikan, dan ada saja yang menyapa. Meski seringnya yang menyapa saya itu ibu-ibu, padahal ngarepnya mas ganteng yang duduk tepat di sebelah si ibu :p
Sampel lain, misal saat perjalanan kereta jarak jauh. Saya pernah punya pengalaman menumpang kereta ekonomi jurusan  Jakarta-Jogja seharga 38 ribu.  Butuh lebih dari dua belas jam, bising oleh pedagang asongan, berbau busuk, berhenti lebih darin hitungan jari dan tangan saya.  Dan pada akhir perjalanan, saya malah  saling mengenal penumpang dua baris kursi ke depan dan ke belakang. Itu terjadi sudah beberapa tahun lalu memang. Sekarang, mungkin lebih banyak yang asyik dengan gadget masing-masing. Tapi bagi saya, tetap terasa ada ruang yang membedakan saat menjadi penumpang kereta  kelas eksekutif.  Semacam ruang yang membuat suasana terasa lebih tenang dan aman. Yang seringnya menggiring pada keterasingan.

     Belakangan saya banyak mengeksplore rumah sakit. Dari Surabaya hingga Medan. Lagi-lagi merunut pada satu kesimpulan yang terbilang dangkal: Semakin mewah rumah sakitnya,  semakin songong pasien-pasiennya. Dua tahun sebelumnya, saya bekerja di sebuah rumah sakit pemerintah.  Sembilan puluh persen komposisi rawat inap adalah kelas tiga. Sembilan puluh persen pula komposisi pasiennya adalah warga dengan ekonomi menengah ke bawah. Setiap hari saya berinteraksi dengan keluarga pasien. Meski kadang suka ribut, gak tau aturan, suka ngeyel padahal salah, dan jorok minta ampun, tapi saya merasakan berinteraksi dalam kebaikan, keramahan, dan ketulusan. Iya tulus, sesuatu yang bisa membedakan seseorang dengan yang lainnya. Kesan yang langsung bisa ditangkap sepersekian detik.  
      Saya tidak tahu. Bunglonkah yang mengajari manusia? Ataukah bunglon hanya mimikri dari tabiat dasar yang memang dimiliki tiap manusia. Jasad sama, nama sama, individu yang sama. Lingkungan membuat manusia berlaku beda. You eat burger or you have fine dining, then you’ll be totally being different person.


People change in many way. Environment does perfectly. 

Friday, November 8, 2013

…rindu emak
…rindu bapak
Subuh kedua, bangun tidur, lalu meleleh
Sudah berbulan-bulan segalau apapun gak pernah nangis.
Kadangkala…
Manusia dewasa itu merupakan anak kecil yang terperangkap.


Begitulah adanya, kadangkala….

Thursday, October 31, 2013

Where will you stay?* #8



“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Hotel Sahid Gunawangsa,  Surabaya

Lobby- Sahid Gunawangsa, Surabaya
                Hotel ini sebenarnya bagian dari Apartement Sahid Gunawangsa Surabaya. Jadi ada beberapa lantai dari gedung yang dijadikan apartement dan ada beberapa lantai yang dijadikan hotel.  Dibuka sekitar Juni 2013 lalu, usianya masih seumur jagung. Meski sudah beroperasi, di sana-sini masih terdapat perbaikan. Cuma saya menangkap kesan ‘mau bikin budget hotel, tapi modalnya nanggung’. Bekas apartement yang dipoles, tambal sana tambal sini. Hasilnya? Ya serba nanggung.  
                Kamar mandinya adalah bagian yang paling mengecewakan.  Lebih mirip kamar mandi kos-kosan ketimbang kamar mandi hotel. Sangat sempit dan plain, gak ada hiasan atau ‘pemanis’ sedikitpun.  Saking sempitnya, wastafel pun berada di luar kamar mandi.
Selain kamar mandi, lorong antar kamar juga sangat plain. Bercat putih, kosong melompong dengan penerangan standard. Seperti berada di flat. Saya hanya membandingkan dengan budget hotel lainnya, yang meskipun ruangannya sempit, tapi rata-rata bermain di design interior.  Sempit pun terasa luas. Murah pun terasa agak berkelas. Sahid Grup sepertinya masih harus belajar banyak untuk pengelolaan hotel sejenis ini.
                Sedangkan bagian terbaik dari hotel ini adalah sarapan pagi, wifi dengan akses cepat, dan staf yang ramah. Sewaktu di kamar, saya sempat ditelpon staf hotel menanyakan kesan saya menginap di hotel ini.
Sarapan pagi malah di atas rata-rata budget hotel. Menu bervariasi dan enak. Surabaya, atau Jawa Timur lebih tepatnya, punya cita rasa kuliner yang berkualitas. Setidaknya di lidah saya. Even makanan yang dibeli secara acak di warung atau gerobak di pinggir jalan, rasanya kerap menggoyang lidah.


Kamar- Sahid Gunawangsa, Surabaya

Kamar- Sahid Gunawangsa, Surabaya

Lobby, Sahid Gunawangsa, Surabaya

Hotel Martani di  Tanjung Pandan, Belitung

Hotel Martani, Belitung

Monday, October 28, 2013

Tertutup Kalbu

Cinta, tertutup apakah kau di dalam hatiku?
rasanya sulit sekali menemukanmu

Cinta, bersembunyi dimanakah kau di dalam kalbuku?
aku hampir putus asa menemukanmu.

Apakah sekarang kau mengerdil? Kau mengecil? kau tak lagi peduli pada hati ini?
Kau tak lagi hiraukan dunia? kau tak ingin lagi menunjukkan gejolak rasamu?
Cinta, kemanakah kau kini?
Sungguh, aku malu. aku tak bisa hidup normal tanpamu.

Kembalilah, tunjukkan kekuasaanmu pada hatiku.
Datang kembali cinta.
Buka dirimu seluas-luasnya.
Jangan kau bersembunyi seperti itu.


Sunday, October 27, 2013

Where will you stay?* #7

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Hotel Swiss-Bell Inn, di Medan

Hampir pukul 4 pagi, saya terbangun.  Kaget.  Terkantuk-kantuk saya  memakai jaket, menggunakan bergo, menyeret kaki menuju lift.  Saatnya sahur.  Restoran terletak di lantai satu. Pintu lift terbuka. Denting sendok yang beradu dengan piring terdengar dari kejauhan.
Mata saya masih merem melek menikmati suguhan nasi goreng yang sudah dingin. Bagian dari sahur ini menjadi nilai minus ini hotel. Entahlah. Mungkin karena sahur.Tak banyak menu yang tersedia. Saya menyangka si koki memasaknya sudah dari tadi malam. Nasi gorengnya dingin. Sisanya hanya ada roti-rotian, buah, dan jus.
Jika mengesampingkan menu sahur yang tidak membangkitkan gairah makan itu, bolehlah hotel ini saya acungi jempol. Kamar standardnya cukup luas dan nyaman. Meski letaknya agak tersembunyi, tapi hotel ini masih berada di pusat kota Medan.  Terbilang murah dengan rate di bawah 400 ribu per malam. Pengunjungnya ramai. Harus sabar untuk check-in dan check out.  Sebagian besar sepertinya business travelers. Sisanya bule-bule yang sedang backpackeran.
kamar swiss bell inn medan
Swiss Bell-Inn Medan

kamar, swiss bel-inn, review, medan
Swiss Bell-Inn Medan

lobi swiss bell-inn medan
Lobi- Swiss Bell-Inn Medan

desain hotel swiss bell inn medan
Swiss Bell-Inn Medan


Edu Hostel, di  Yogyakarta
Hostel ini memproklamirkan diri sebagai  hostel modern pertama di Indonesia.  Letaknya masih di kawasan Ngampilan, sebuah kawasan yang terkenal sebagai daerah oleh-oleh, terutama bakpia.  Gak begitu jauh sih dari Malioboro. Dengan rate 7 USD per malam, hostel ini oke lah. Sistem keamanannya bagus. Baik di lift maupun kamar menggunakan kunci sensor.  Waktu itu saya tidur di female dorm, ada 3 ranjang bertingkat. Satu kamar mandi dalam yang terpisah antara toilet dan shower room-nya. Bersih. Untuk menyimpan barang-barang tersedia loker tanpa gembok. Kalau mau pakai gembok, harus beli gembok lagi. Parkiran luas. Staf ramah.  Dan sudah termasuk sarapan pagi.
review kamar edu hostel yogyakarta
Kamar- Edu Hostel, Yogyakarta
menginap di edu hostel yogyakarta
Tempat tidur dan loker- Edu Hostel, Yogyakarta

Tuesday, October 22, 2013

Kalau Ada yang Punya Jawabannya, Bolehlah Saya Mencontek

Jam sudah beranjak melewati pukul delapan malam.  Damri melaju kencang meninggalkan bandara.
Di samping kanan saya, duduk seorang kawan lama. Kawan satu SMA, kawan satu universitas saat dulu kuliah di Yogyakarta, dan kini satu perantauan mengais rezeki di ibukota. Bukan kawan akrab memang, tapi mengingat sejarah kami yang telah kenal cukup lama, membuat obrolan menjadi sekedar bukan basa basi.
Topiknya tentu tak jauh dari masalah pekerjaan dan masa depan.
“Ka, kau tak ingin pulang ke Jambi saja?”,
Tak butuh lebih dari dua detik, saya jawab “Belum”,
“Kalau kau?”, saya balik bertanya.
Ia menggeleng cepat, lebih cepat dari jawaban saya tadi.
“Ada rencana pindah kerjaan?’, saya meneruskan pertanyaan.
“Ya kalau ada tawaran yang lebih bagus. Kau gimana? Sudah betah dengan kerjaan sekarang?”
“So far sih enjoy, tapi planning untuk tahun depan tetap ada. Hidup harus berubah cuii…”
Pertemuan saya dan kawan ini hanya kebetulan. Saya dan dia menumpang satu penerbangan yang sama. Sejak di Bandara Jambi, kami sudah saling bertukar cerita. 
Damri melaju semakin kencang, menembus tol yang melengang. Liburan idul adha sudah berakhir. Lima hari saya meninggalkan ibukota. Sekembalinya, tentu saja tak banyak yang berubah. Lampu gedung-gedung bertingkat masih menyala terang, berbinar gemerlap. Jalanan non-toll masih diramaikan ratusan mobil yang berjalan merayap.
“Jadi sampai kapan kau hidup begini terus, Ka?”, kawan saya bertanya lagi.
Saya langsung membalikkan kepala, melihat wajahnya.
“Sepertinya itu pertanyaan retoris. Pertanyaan itu kau ajukan untuk dirimu sendiri, bukan?”, saya tak mau kalah.
Kawan saya menjawab cecengesan, “Hahaha… tau saja kau. Yah…mungkin kau punya jawabannya. Sapa tau aku bisa mencontek.”
“Hahahaha…”, lalu kami berdua tertawa serentak. Getir sedikit.
Damri berjalan terlalu cepat, saya masih memikirkan pertanyaan kawan saya itu. Kenek di sebelah sopir sudah berseru “Palmerah…yang turun Palmerah…”
Saya segera mengangkat ransel, berpisah dengan kawan ini.  Saya belum memberikan jawaban. Dan sampai detik saya menulis tulisan ini, saya belum menemukan jawabannya.

Mungkin kawan ada yang punya jawabannya?, bolehlah saya mencontek… J

Thursday, October 3, 2013

Sebuah Laporan

Hari ini kerja agak senggang, iseng membuka email-email dari folder lama, ketemu sebuah LPJ ketika masih menyandang status mahasiswa. Waktu itu saya masih aktif sebagai staf redaksi di Pers Mahasiswa Universitas. Saya baca lagi, dan rasa-rasanya, tulisan saya yang dulu jauh lebih enak dibaca ketimbang saat ini :(

Sebuah Laporan

          Saya tidak pernah terpikir untuk menulis di Balsus Maba, karena saya sudah mendaftar untuk KKN. Namun karena ada halangan, saya lalu membatalkan KKN, dan akhirnya ikut menulis di Balsus Maba 2007. Itupun saya tahu dari SMS Iyan,  patner saya menulis, karena saya tidak pernah ikut rapat tema Balsus. Sekarang giliran tugas saya bikin LPJ, tak apa, sembari mengisi waktu luang berlibur di rumah.
Menulis Balsus memang sedikit lebih menantang dibanding Balkon, mengingat artikel yang panjang, dan reportase yang lebih ribet. Namanya juga Balkon khusus, tentu harus menawarkan yang spesial. Terpilihlah tema aktivitas mahasiswa malam hari untuk Balsus Maba 2007.
Saya dan Iyan mendapat jatah menulis tentang aktivitas di sekitar kampus UGM pada malam hari. Daftar tempat-tempat yang harus direportase saya peroleh dari tim kreatif yakni gedung pusat, boulevard, gelanggang, lembah, maskamp, beberapa fakultas, tempat hotspot, dan sekitar GSP.  Dalam hal reportase, tidak begitu banyak kendala karena medan tersebut sudah akrab dengan kami. Yang menjadi agak membingungkan karena saya dan Iyan tidak pernah mempunyai jadwal yang sesuai untuk reportase bareng. Jadilah kami berbagi tugas tempat mana yang harus saya reportase, dan tempat mana yang menjadi tugas Iyan. Tidak di semua tempat kami mewawancarai responden, pada beberapa tempat, misalnya maskamp kami hanya mengamati kegiatan yang ada. Pada akhirnya ketika proses menulis, tidak semua daftar semula tempat-tempat tersebut kami bahas, namun kami kelompokkan pada bahasan kegiatan yang dilakukan, yakni yang berhubungan dengan akademik, organisasi, atau sekedar nongkrong.
Pengalaman hampir setahun di Balkon membuat proses menulis berlangsung lancar-lancar saja, dan tepat selesai sesuai dateline. Fokus tulisan membahas beberapa tempat yang paling ramai ketika malam, dan kegiatan menarik yang dilakukan mahasiswa di situ. Dalam proses editing, saya tak begitu banyak ambil bagian. Karena masalah teknis, ngedit banyak dilakukan di kos Umar (editor), kalau tidak salah hampir 3 malam Iyan menginap di sana. Sedangkan saya tidak mungkin ikut-ikutan, soalnya tidak enak mengganggu mereka berdua (^_^). Karena ketidakikutsertaan saya pula, beberapa keterangan narasumber yang saya wawancarai menjadi cukup membingungkan untuk diedit (Ehem...jadi gak enak). Tulisan selesai diedit, dan masuk dapur produksi sesuai jadwal.(Fuihh...lega..).
Meskipun pada akhirnya balsus (tetap) telat terbit, menurut pandangan saya hasilnya cukup membuat kita (semua) patut merasa puas atas jerih payah dalam proses pengerjaanya, dengan tak lupa mengkoreksi kekurangan-kekurangan yang ada. Semoga kerja selanjutnya dapat lebih baik. Aamin.

                                                                        Kuala Tungkal, 24Des07.

                                                                        Sebuah sore yang tergesa-gesa

*
To be noted: saya harus berlatih menulis lebih banyak, membaca lebih banyak. Saya akui penurunan drastis terhadap kuantitas membaca semenjak saya bekerja. Sewaktu kuliah, saya bisa menyelesaikan 3 buku dalam seminggu. Sekarang? satu bulan satu buku saja rasanya sudah cukup menyenangkan. 

Saturday, September 28, 2013

Cerita Soal Mengurus Visa Amerika Serikat

        Agak terlambat. Senin pagi semua dilakukan dalam keadaan serba malas. Pukul setengah 6, terlambat setengah jam dari rencana semula, saya baru berangkat dari kos. “Mbak tau tempatnya?”, tanya abang sopir, “Enggak, cuma bawa alamatnya. Kayaknya sih di dekat monas. Nanti cari-cari dulu deh”, jawab saya sembari nyengir. Malu bertanya sesat di jalan. Untungnya kala itu saya cukup sekali bertanya.
           Kedubes Amerika Serikat (AS), gak kayak kedubes lainnya yang berupa gedung besar dan mewah. Lebih mirip camp militer, kata seorang kawan. Cuma dikelilingi pagar tinggi. Gak keliatan bangunan-bangunan di dalamnya. Yang membuat saya menyadari tempat itu merupakan kedubes AS adalah antrian mengular di pintu masuk. Terdiri dari orang-orang yang berpakaian necis dan masing-masing menenteng map. Saya di-drop sopir kantor, melapor pada security, menunjukkan passport, kemudian ikut masuk barisan antrian . Jam 6 pagi, tak banyak kendaraan lalu lalang di Jl. Medan Merdeka Barat. Puluhan orang di depan saya masih berdiri stagnan. Dan hanya butuh beberapa menit untuk menambah antrian di belakang saya menjadi beberapa belas orang. Bapak-bapak di depan saya yang akan mengurus visa untuk kedua kalinya, visanya yang pertama sudah expired, berkomentar: “Ya beginilah, bahkan kanopi saja tidak ada. Makanya saya memilih wawancara jam 7, kalau jam 9, antrian lebih panjang dan tentu saja lebih panas”. Saya mengangguk tanda setuju. Tiap harinya ada ratusan orang mengantri, berdiri, dan berpanas-panasan. Kalau musim hujan, ya mungkin berhujan-hujanan juga.  Demi permohonan ijin tinggal di AS.  Rasa-rasanya memang  seperti bangsa kelas dua.
Saya agak heran melihat banyaknya pemohon visa yang membawa handphone, memakai ransel dan tas jinjing besar. Saya sendiri hanya membawa tas kanvas seukuran map berisi dokumen-dokumen plus dompet dan sebuah buku. Dari beberapa review blog yang saya baca, pemohon visa tidak diperkenankan membawa tas berukuran lebih besar dari dokumen serta tidak ada penitipan untuk handphone dan barang elektronik lainnya. Ternyata kedua hal tersebut tidak terbukti saat saya mengurus visa kemarin (catatan saya mengurus visa akhir Agustus 2013 lalu). Memang handphone, laptop, tablet, kunci mobil yang ada remotenya, token, serta makanan dan minuman tidak boleh dibawa masuk. Akan tetapi bisa dititipkan di security saat awal pengecekan. Sedangkan tas, untuk tas ransel akan ditandai petugas, but  overall semua tas bisa masuk.
Setelah melewati security check, saya digiring menuju deretan kursi tepat  di samping lapangan basket . Agak rancu, jangan-jangan kami semua akan disuruh nonton basket terlebih dahulu :p. Rupanya ini adalah antrian pertama untuk penyerahan bukti konfirmasi wawancara, passport, dan pas foto. Nanti sebagai imbalan, si  tante bule di loket akan memberikan kartu berupa nomor grup tertentu. Peserta wawancara akan dibagi ke dalam beberapa grup. Setelahnya saya digiring masuk ke dalam beberapa lapis pintu menuju ruang wawancara. Kali ini saya bernafas lega, ruangannya lebih layak. Ber-AC dengan tempat duduk selayaknya kursi tunggu
.Hingga pukul 8.05, belum ada tanda-tanda wawancara akan dimulai. Malahan terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa sistem komputernya sedang ada masalah. Yang berarti saya harus menunggu lebih lama.
*

Sebelum sampai pada tahap wawancara, ada beberapa langkah yang harus dilalui. Konon, mengurus visa Amerika ini paling ribet diantara visa-visa  lain yang harus diurus seorang pemegang passport Indonesia. Satu-satunya yang gak bisa diurusin lewat travel agen.  Tapi kalau mau disederhanakan, ada 6 hal utama yang harus kawan lakukan: 1) Membuat pas poto 2) mengisi form DS160 (dilakukan online) 3)Melakukan pembayaran di bank  4) Menyiapkan dokumen fisik 5)Menentukan jadwal wawancara  6)Melakukan wawancara.
Kelima langkah sebelum wawancara tidak harus dilakukan berurutan, tapi penting untuk diperkirakan waktunya secara matang. Misalnya kawan menentukan jadwal wawancara senin depan, sedangkan surat sponsorship baru dikirim minggu ini dari Amerika. Just in case suratnya belum nyampe saat jadwal wawancara tiba kan bisa kacau. Saya waktu itu menggunakan JNE dan suratnya sampai di Jakarta dalam waktu 4 hari.
Untuk pas foto, sesuai rekomendasi orang-orang, saya membuat pas foto di Jalan Sabang.  Memang spesifikasi foto dan ukuran cetak foto untuk visa AS ini tidak lazim. Selanjutnya saya melakukan pembayaran 180 USD, bisa di Bank Permata atau Standard Charter. Curangnya, diterima atau ditolak visa AS-nya, uang tidak bisa kembali.  Saya baru melakukan pengisian DS-160 saat dokumen fisik sudah lengkap semua. Sebenarnya pengisian DS-160 ini masih bisa diedit selama pemohon belum mengkonfirmasi jadwal wawancara. Dokumen yang perlu kawan siapkan saat mengisi DS-160 antara lain: passport, kartu keluarga, KTP, booking tiket dan alamat tinggal di Amerika. Sedangkan saat wawancara dokumen fisik penunjang yang lazim disiapkan (meski sebenarnya tidak ada ketentuan khusus dari  Kedubes) yakni: surat sponsorship, booking tiket, booking hotel, rekening koran, akte kelahiran, kartu keluarga, asuransi perjalanan, surat nikah, ijasah, dan surat penugasan (jika dalam rangka tugas).
*
                 Hampir pukul setengah sebelas siang.  Suasana mulai kisruh. Saya yang berada dalam grup gelombang pertama berucap syukur. Katanya antrian di luar sudah sangat panjang. Yang mendaftar wawancara tahap satu saja belum mulai. Ditambah antrian wawancara dengan jadwal jam 9 pagi. Engkong-engkong, nyonyah-nyonyah, bapak-bapak, mulai banyak yang  protes. Menunggu 3 jam tanpa barang elektronik dan koneksi ke dunia luar bukan perkara mudah bagi orang-orang yang terbiasa sibuk. Kalau saya sih senang-senang saja, karena berarti bisa bolos kerja setengah hari.

Wednesday, September 18, 2013

Where will you stay? * #6


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Makassar Golden Hotel, di  Makassar

                Debur ombak berkejaran subuh itu.  Hujan gerimis dan mendung. Tak ada mentari. Deretan huruf membentuk kata ‘Pantai Losari’ dapat saya lihat di kejauhan melalui jendela kamar. Begitu pintu yang menghubungkan kamar dan balkon saya buka, angin menghantam.  Besar, kencang, dan berbau laut. Antara terkejut dan suka. 
               Pagi yang membuat saya mengucapkan syukur berkali-kali. Rasanya mewah sekali.  Ke Makassar dalam rangka berlibur, sendirian,  dan tentu dengan budget yang harus  diminimalisir. Kemarin siang saya mendapat kabar seorang kawan lama sedang bertugas di Makassar.  Ia mengajak saya menginap bersama. Setelah malam sebelumnya saya menginap di hotel kelas Melati. Penginapan tua, kamar sempit dan lembab, kamar mandinya membuat dahi mengernyit dan hidung mengerucut, serta kebisingan suara karaoke yang terdengar jelas hingga dini hari. Jadi mana tega saya menolak ajakan kawan saya itu.
View dari dalam kamar- Makassar Golden Hotel
                Konon, Hotel Golden Makassar ini satu-satunya hotel yang bersisian dengan Pantai Losari. Ia dibangun sebelum sebuah peraturan muncul. Hotel-hotel lain yang dibangun setelahnya, hanya boleh didirikan di jalan yang bersebrangan dengan Pantai Losari.
                Kawan sekamar saya sudah balik ke Jakarta tadi subuh. Jadilah saya menyamar menggunakan namanya. Menikmati sarapan pagi penuh gizi. Untuk standard hotel bintang 3, sarapan paginya cukup memuaskan. Western, tradisional, and Chinese food. Skala 1-10, saya kasih nilai 7,5  deh.
Lobbi- Makassar Golden Hotel
Menikmati sarapan pagi, Makassar Golden Hotel


Grand Aston di Medan

                Menyeruput kopi pagi hari, menikmati pemandangan dari jendela kamar yang berada pada lantai entah keberapa belas. Pertama kalinya menginjakkan kaki di Medan.
                Pengunjung hotel cukup ramai. Saat itu musim libur, meski saya ke Medan bukan dalam rangka berlibur. Menurut rekan kerja yang asli Medan, bangunan hotel ini dulunya adalah bagian dari Bank Indonesia.  Berada tepat di pusat Kota Medan, tepat di seberang Merdeka Walk.
Kamar, Grand Aston Medan

Thursday, September 5, 2013

Where will you stay? * #5

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”

But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.


Hotel Richie di Malang
                . Pertama kalinya ke Malang, saya memesan hotel ini atas rekomendasi seorang kawan yang berdomisili di Malang. Tepat di sebelah Gramedia, hotel ini merupakan hotel tua yang masih berada dalam area alun-alun Kota Malang. Budget saya 100 ribu per malam.  Ya sekalinya melakukan personal trip, tetap saja saya menjadi traveller kere. Bussiness trip berarti memanfaatkan sebaik-baiknya fasilitas yang ada. Personal trip berarti tekanlah biaya seminimal mungkin, semampunya. Ingat, prinsip-prinsip ekonomi tersebut harus selalu ditegakkan, Kawan.
                Hotel ini lebih mirip rumah tua besar jaman baheula. Kamar saya, sebagai kamar termurah di hotel ini, berada di lantai 3 dengan tangga berkelok-kelok. Kamar tua, ranjang tua, dan kamar mandi yang sepertinya baru ditambahkan. Untuk urusan aerasi, saya hanya bisa membuka jendela lebar-lebar. Jangankan air conditioner, kipas angin pun tak ada. Untungnya Malang dianugrahi cuaca yang adem. Malam hari, saya masih bisa tidur nyenyak sembari menarik selimut.
Hotel Richie- Malang

Hotel Richie- Malang

Hotel Richie- Malang

Hotel Richie- Malang

Sunday, September 1, 2013

Where will you stay? * #4

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Hotel Renaissance,  JW Marriot, di Bangkok

         Pertama kalinya ke Bangkok, sendirian pula. Saya hanya membawa nama dan alamat hotel dengan huruf latin. Pas di counter taksi, si mbak-mbak nya ngangguk saja pas saya tunjukkan alamat hotel.  Saya lalu disuruh masuk ke dalam sebuah taksi. Taksi pun melaju kencang. Saya lalu memberikan kembali alamat hotel. Oh ternyata si bapak sopir tak bisa membaca huruf latin. Ia lalu member kode, menunjukkan handphone. Sayang seribu sayang, saya gak kepikiran untuk mencatat nomor telepon hotel.  Udah keringat dingin juga.  Taksi masih melaju kencang. Kemana lagi saya harus mengadu?
Lalu saya ingat  rekan kerja yang base di Kuala Lumpur, sore itu juga akan ke Bangkok dan menginap di hotel yang sama. Tak lama, SMS saya ia balas beserta nomor telepon hotel. Segera si bapak taksi menelpon hotel. Lima menit kemudian taksi melaju lebih kencang.
 To be noted, kalau ke Thailand dengan tujuan alamat tertentu, lebih baik bawa juga alamat dengan tulisan Thailand yang keriting-keriting itu. Seorang kawan, ternyata juga punya pengalaman yang sama. Sendirian ke Bangkok, sudah booking hotel via internet, cuma bawa alamat yang tertera di internet. Kawan saya ini lebih parah, ia gak bisa menemukan alamat hotel, dan akhirnya memutuskan menginap di hotel lain.
Hotel Renaissance ini berlokasi di Ploenchit road, sebuah kawasan pusat bisnis di Bangkok. Well, hampir gak ada cacat selama 3 hari saya nginap di hotel ini. Very welcome staf, sangat ramah, serta menu breakfast dan lunch buffet yang dapat nilai 9 deh.  Mulai dari indian cuisine, western, chinese cuisine, sushi, seafood, dan tak ketinggalan thai food yang yummy dummy. Tom yam yang asem-asem bikin merem melek keenakan, air tahu hangat, lobster dan udang bakar, plus desert ala Thailand seperti ketan yang disajikan bersama potongan mangga dan durian, serta kue sejenis pancake yang ditaburi potongan nanas. Sluurrp.
Kamarnya gak luas. Mungkin karena saya menginapnya di standard room kali ya. Mini bar sangat lengkap. Interior kamar terkesan chic.  Kamar mandi dengan dinding kaca yang memberi efek agak luas plus bath tub yang sangat menggoda untuk digunakan mandi.
menginap di JW marriot bangkok
Room - JW Marriot, Bangkok
Satu lagi yang juga oke adalah first quality linen untuk alas bantal, selimut, dan kasurnya. Meski sama-sama berwarna putih, tetap saja  kelembutan sentuhan kasur hotel kelas melati, bintang tiga, empat, dan lima memang berbeda :p.
                Etapi di hotel mewah begini, ada juga hal yang tidak masuk akal. Air mineral ukuran 200 ml di mini bar dihargai 200 bath, padahal saya membeli sepatu di flea marketnya hanya seharga 150 bath.  Masa harga sepatu lebih murah dari sebotol air mineral ?. Esoknya saya ke Seven Eleven, tau berapa harga air mineral dengan ukuran dan merek yang sama?  cuma 7 bath, sodara-sodara.
kamar di JW marriot bangkok
Kamar mandi tembus pandang - JW Marriot, Bangkok

lobi hotel JW Marriot Bangkok
Lobbi - JW Marriot, Bangkok

mini bar hotel JW Marriot Bangkok
Mini Bar- JW Marriot, Bangkok

kolam renang JW Marriot Bangkok
Swimming Pool- JW Marriot, Bangkok

swimming pool JW Marriot Bangkok
View- swimming pool- JW Marriot, Bangkok

Sunday, August 25, 2013

Where will you stay? * #3

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Saigon Mini Hotel  di Ho Chi minh City, Vietnam.

                Hotel ini masuk jajaran 5 besar hotel terbaik di HCMC menurut review di sebuah situs pemesanan hotel. Tak sia-sia saya mempercayai situs tersebut. Dengan hanya merogoh tak sampai 15 USD permalam, pengalaman saya menginap di hotel ini sangat memuaskan.   
Tampilan luar terlihat seperti ruko, letaknya agak tersembunyi  melewati gang sempit namun masih cukup luas untuk mobil masuk, hotel ini terletak di Pham Ngu Lao, sebuah kawasan yang sangat nge-hits untuk kaum backpacker di HCMC.
                Kedatangan saya disambut dua orang abang ganteng yang dengan sigap membawakan barang-barang saya.  Resepsionis yang ramah dan very helpful memberikan informasi, kamar lumayan luas untuk ukuran budget hotel, tersedia minibar, kamar mandi luas plus bersih, bath dan shower kit nya lengkap, free wifi, pun tersedia beberapa komputer berakses internet di lobby yang juga free.
                Saat check out, saya cukup bilang minta dipesankan taksi.  Tak lama, taksi datang. Dua abang ganteng  kembali membawakan barang-barang saya, memasukkan ke bagasi, membukakan pintu,  menyapa sopir taksi dan mengatakan kemana seharusnya sopik taksi membawa saya.

Saigon Mini Hotel- the room

Saigon Mini Hotel- bathroom

Saigon Mini Hotel- The room

Red Inn Hostel, Penang, Malaysia.

                Hostel ini dipesan melalui situs pemesanan online oleh seorang kawan  Letaknya di jalan Love Lane, jalan yang terkenal sebagai kawasan backpacker di Penang, plus interior dan bentuk hostel yang kata kawan saya itu cukup klasik, menjadi alasan pemilihan hostel ini. Sayangnya, pada hari H kawan saya itu malah batal berangkat.
                Well,  datang ke Penang dengan penerbangan paling akhir dari Jakarta, sampai di kawasan Love Lane sudah sangat malam dan ternyata saya salah alamat pula.  Ternyata  ada dua hostel denga nama Red Inn hotel di jalan Love Lane ini. Sembari menyeret kaki dan rasa kantuk saya menuju ke alamat yang benar.
                Seorang gadis India dengan aksen English yang ke india-indiaan dan hampir tidak bisa berbahasa melayu menyambut saya.  Menyelesaikan administrasi, menunjukkan passport, membayar sisa biaya penginapan, saya lalu memutuskan jalan-jalan menikmati suasana malam dan mengisi perut.  Meskipun termasuk daerah wisata unggulan di Malaysia, Penang ternyata tak seperti Bali.  Belum jam 12, di malam minggu, di kawasan backpacker, jalanan sudah sepi. Saya pun memutuskan kembali ke hostel.
                Lobby hostel sudah terkunci, gadis india sudah tak terlihat. Saya lalu memencet bel. Keluarlah laki-laki cina paruh baya. Sepertinya pemilik hostel tersebut.
Four female dorm, kamar pilihan saya terletak di lantai 2. Ada dua penghuni yang sudah tertidur pulas, masing-masing menempatkan diri di ranjang bawah. Mau tak mau saya dan kawan harus tidur di atas. Saya kebagian sial. Langit-langit kamar saya rendah. Air conditioner diletakkan tak sampai 3 meter dari kasur. Saat saya berbaring, AC berada  yang tepat dibawah muka saya.  Malam itu saya bermimpi tidur di kutub utara.
 
kopi penang yang terkenal nikmat- breakfast- Red Inn Hostel


Tangga- Red Inn Hostel

Ruang rekreasi- Red Inn Hostel
Free akses internet- Red Inn Hostel

Posisi AC yang tidak manusiawi

Saturday, August 24, 2013

Where will you stay? * #2

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more.

Penginapan di Gili Trawangan, Lombok
Dalam liburan berdua kawan ini, saya berkenalan dengan dua orang pria. Duo laki-laki yang sedang dalam rangka tugas kantor dan menginap di Daerah Senggigi.  Mereka  iseng ke Gili Trawangan, berencana pergi pagi dan pulang sore. Siapa sangka, ombak sungguh tak bersahabat.  Tak ada lagi perahu yang akan mengangkut penumpang kembali ke Lombok sore itu.
                Begitu menginjakkan kaki di Gili Trawangan, atmosfir liburan langsung terasa. Seperti terlepas dari rutinitas dunia. Hilir mudik manusia berseliweran. Jogging, jalan kaki, naik Cidomo, maupun bersepeda.  Menengok ke sekeliling pantai, ada yang berjemur, baru pulang snorkeling, berenang, penduduk lokal dengan perahu-perahunya.  Pasir putih dan langit biru melatarbelakangi. Ah surga dunia.
Sore itu, setelah perkara ombak besar yang bikin merinding itu, keberuntungan mengampiri saya kembali.  Sempat bingung dan bengong pada banyaknya tawaran penginapan dari abang-abang, dan mbak-mbak yang menghampiri. Kami berempat sepakat mengikuti seorang mas-mas dengan penawaran termurah, 100 ribu/malam. Perlu jalan kaki sekitar 10 menit dari jalan utama.  Tak menghadapa langsung ke pantai, tapi justru letaknya yang agak pelosok ini memberi ketenangan dari hingar bingar deretan kafe di pantai.
Pemilik penginapan ini menyulap sepetak tanah kosong di halaman rumahnya menjadi beberapa kamar. Lebih mirip bungalow dan lebih pantas disebut petakan. Bersih, kasur spring bed, twin, kipas angin, serta kamar mandi dalam. Di pagi hari, pemilik dengan senang hati menyediakan teh manis hangat, serta air panas. Nilai kurang hanya air di kamar mandi yang terasa asin.
losmen, hotel, guest house, gili trawangan
Penginapan di Gili Trawangan, Lombok

Berpose di depan kamar


Mony hostel, Singapore.
Ada cukup banyak hostel murah di Singapur, sayangnya sepanjang penjelajahan saya di dunia maya, hostel murah dengan fasilitas lumayan itu ada di daerah Geylang, sebuah daerah dengan reputasi kurang baik.
Bolak balik membaca review, akhirnya pilihan saya jatuh pada Mony Hostel dengan pertimbangan harga masih terjangkau, lokasi strategis dan tidak di Geylang, pun punya desain interior yang unik.  Aslinya ketika melihat dengan mata kepala sendiri, ya memang ‘nyeni’.
Entahlah, mungkin warga Singapore memang taat sangat pada aturan. Saya check in jam 1 pagi, dan masih harus menghabiskan waktu hampir satu jam untuk proses administrasi, penjelasan mengenai aturan di hostel tersebut, dan diajak berkeliling hostel demi menunjukkan letak toilet, tempat mandi, bar, tempat makan, ruang rekreasi, sampai pada tata cara meminjam payung, menyalakan dan mematikan lampu, membuat breakfast, sampai  cara membeli air minum.
Begitu masuk kamar, saya disambut dengkuran laki-laki. Sangat sempit, ukuran kamar hanya sekitar 3 X 3 meter, diisi dua tempat tidur tingkat. Kamar ini tanpa kunci, dan barang berharga diletakkan di  loker yang berada di luar kamar. Malam berlalu bersama lantunan dengkur tetangga yang tempat tidur yang sepertinya tidak menyadari kedatangan teman sekamar.
Pengalaman buruk datang keesokan harinya, saat selesai mandi, saya menyadari kamera DSLR saya raib. Entah hilang di hostel ini, entah ketinggalan di taksi saat menuju hostel.  Entahlah….

Sarapan pagi bikin sendiri
mony hostel, singapore, hostel, backpacker
Ruang rekreasi
mony, hostel, singapore, backpacker, lavener street
Tempat bersantai di lantai 2