Tuesday, December 4, 2012

Karena Uang Dua Ratus Perak.





Alkisah lima orang penjelajah dari Indonesia menjelang siang itu tiba di sebuah tempat peribadatan. The Big Buddha Phuket. Letaknya jauh di perbukitan. Syukurlah si skuter sewaan mampu mengangkut kami melewati jalan berliku lagi menanjak, namun untungnya mulus.
Sesampainya di The Big Buddha, para monks masih menjalankan ibadah di altar yang menghadap ke pintu. Di sisi kiri dan kanan dinding bangunan bertebaran patung, aneka ornamen, souvenir untuk dijual, poto-poto berbingkai, serta berbagai informasi berbahasa Inggris dan Thailand. Tak tertarik, saya langsung menaiki tangga menuju bagian yang lebih tinggi. The Big Buddha ada di sana. Selainnya, masih ada puluhan bahkan mungkin ratusan patung Buddha dengan berbagai pose. Ada pula patung Buddha yang terbuat dari emas.
Letaknya yang tinggi, di atas Bukit Nakkerd, membuat The Big Buddha menjadi tempat pilihan untuk menyaksikan city view Phuket. Puas berpoto, tentu saja dengan berbagai gaya dan latar berbagai pemandangan, saya kembali menuruni tangga. Beberapa monks sedang menikmati makan siang. Sisanya sedang melayani pengunjung;, beberapa masyarakat lokal dan turis yang sedang memberi sedekah. 
Para Biksu
Lalu dimulailah bagian paling menarik dari kunjungan ke Big Buddha ini. Mata saya tertuju pada sebuah kotak koin perdamaian. Seorang bapak sedang memilha-milah uang koin tersebut. Biasa kalau jalan-jalan dan  menemukan kotak berisi koin dari seluruh dunia, saya tak ingin ketinggalan sumbangsih untuk mengenalkan rupiah. Maka saya pun membukan dompet. Sayangnya tak banyak uang koin rupiah yang saya bawa. Ada dua ratus perak. Ya sudah, saya masukkan saya ke kotak tersebut. Bersamaan denga jatuhnya koin dua ratus perak tersebut, Si Bapak kaget, lalu menoleh ke saya. Ia kemudian mengambil koin yang tadi saya masukkan. “Where do you came from?”. “Indonesia”, saya jawab pasti. Dia lalu meneliti lagi seratus perak yang saya sumbangkan tadi. 
Koin dari seluruh dunia

Di luar dugaan, si bapak sangat appreciate dengan tindakan saya tersebut. Ia lalu memanggil beberapa orang, yang saya tebak sebagai bodyguardnya. Dan diajaklah kami semua berpoto bersama. Setelah berpoto, saya menyempatkan sebentar untuk membaca silsilah The Big Buddha. Dan betapa kagetnya saat saya menemukan sebuah tulisan berjudul “The Man Who Is Creating The Buddha Statue” disertai dengan foto dan riwayat hidup singkat si Bapak.

Souvenir "Handbook of Mankind'
Lalu tak lama, ada seseorang yang mencuil saya. Mengarahkan bahwa si Bapak sudah menunggu kami di bagian souvenir. Masing-masing dari kami mendapat cenderamata “Handbook fo Mandkind”, sebuah buku mengenai dasar-dasar ajaran Buddha. Tak sampai di situ. Si Bapak lagi-lagi mengajak foto bersama. Ia memanggil beberapa bodyguardnya, mempersiapkan kamera, mengajak istri dan anaknya, serta kami semua berfoto tepat dengan latar belakang The Big Buddha. Sesi ini sempat memancing perhatian beberapa pengunjung. Mungkin kami semua dikira sebagai tamu penting :p.
Jadi nanti kalau Kawan jalan-jalan ke Phuket, lalu mampir ke The Big Buddha. Lihatlah bagian deretan foto di dinding. Mungkin Kawan akan menemukan foto 5 orang penjelajah dari Indonesia  terpampang di sana :)
Foto Bersama

City View



The Man Who is Creating The Statue


1 comment:

Kurnia E Putri said...

lanjut lagi mbak ceritanya

salam

http://niaputrinia.blogspot.com/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...