Friday, November 30, 2012

Dalam ribuan mil yang kutempuh
Ratusan pendar langit yang berubah
Berceceran rindu yang membuncah
dalam perjalanan menuju...kamu.

                                                             Jakarta, Oktober 2012

Wednesday, November 28, 2012

Apakah Insomnia Bikin Kurus?



Tubuh saya memang kurus, sejak kecil, remaja, sampai sekarang. Belakangan, teman-teman bilang saya semakin kurus. Pola makan saya baik-baik saja, stress pun tidak. Saya jadi mikir, apa mungkin karena akhir-akhir ini saya sering insomnia.
            Untuk membuat tulisan-tulisan di blog ini, saya rela bangun tengah malam kira-kira jam 12-an dan tidur subuh. Sebab saya baru bisa menulis dalam kondisi sangat sepi. Tak ada yang membayar saya untuk hal ini. Hanya sebuah keinginan, dan semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat.
            Kembali ke persoalan insomnia tadi. Gangguan metabolisme merupakan salah satu dari beragam efek buruk insomnia. Gangguan metabolisme tubuh inilah yang berakibat pada ketidakstabilan berat badan. Kalau yang berpotensi kurus, seperti saya, akan semakin kurus. Bagi Kawan yang berat tubuhnya gampang naik, insomnia dapat pula membuat size berat badan tambah besar.

apakah insomnia bikin kurus
Badan kurus karena insomnia?

            Mengapa ada gangguan metabolisme?. Organ-organ penyusun tubuh jelas memiliki kapasitas tertentu. Ketika kapasitas maksimal telah tercapai, ada saatnya organ-organ tersebut harus istirahat dalam kurun waktu tertentu.  Dan tidur akan memfasilitasi hal ini. Apa jadinya kalau kuantitas tidur sangat minim?. Ya...seperti Kawan kalau masih ngantuk tapi dipaksa bangun. Lemes dan tidak bergairah. Pada organ tubuh, ibarat mesin yang bekerja tersendat-sendat, produktivitas dalam memetabolisme pun tidak optimal.
            Padahal energi yang kita miliki disediakan dari proses metabolisme baik secara anabolisme maupun katabolisme. Bisa Kawan bayangkan, jikalau gangguan metabolisme yang terjadi menyebabkan kekurangan energi. Tubuh lalu memecah cadangan lemak untuk memperoleh kekurangan energi. Jumlah lemak akan berkurang terus dan tubuh semakin kurus. Di samping itu, adanya gangguan metabolisme enzimatik menyebabkan pemecahan makanan tidak maksimal. Sehingga penyerapan nutrien ikut tidak maksimal. Dan lagi-lagi bikin tambah kurus.
Baiklah Kawan..., kalau begitu saya harus memperbaiki siklus istirahat. Semoga tidak semakin kurus :)
           

Sunday, November 25, 2012

"Mau jadi apa kamu?"



Bangun tidur di siang hari, di hari minggu, tanpa jadwal apa-apa, dan belum mandi. Terseok-seok saya ke kamar mandi. Gong di telinga saya kembali berdengung. Seperti pagi senin. Seperti pagin selasa. Seperti pagi rabu. Seperti pagi kamis. Seperti pagi jumat.

“ Mau jadi apa kamu?”

Ini bukan pertanyaan yang diajukan kepada anak SD, bukan juga pada anak SMA yang akan masuk kuliah. Saya sudah melewatinya. Saya sudah kuliah. Alhamdulillah tepat waktu. Saya bekerja. Pekerjaan saya sangat sesuai dengan jurusan ketika saya menempuh kuliah dulu.

Akan tetapi ini bukan persoalan itu semua. “Mau jadi apa kamu?” semacam pertanyaan yang digulirkan gong tersebut, menganulir otak saya, membangunkan semacam keresahan.

“Mau jadi apa kamu?”

Semakin terdengar nyaring di pagi hari, saat saya berada di lini kesenggengan diantara segala aktifitas kerjaan yang menyita waktu.

“Mau jadi apa kamu?”.

Yang saya maksudkan di sini adalah: apa yang akan terjadi pada saya 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? Semenjak saya dari awal bertekad tidak ingin menghabiskan hidup saya seumur hidup bekerja di rumah sakit. Tidak perlu mengalaminya sendiri. Saya mengamati apa yang terjadi rekan-rekan kerja saya. Dan saya yakin bahwa saya  menginginkan hidup yang lebih baik dan ‘lebih hidup’. 


Bukan. Ini bukan soal kebosanan akan rutinitas. Jikalau cuma tentang bosan, saya hanya butuh  refreshing.

“Mau jadi apa kamu?”

Semacam berbagai atribut yang mendadani saya menjadi sesosok karakter dalam modernitas dunia. Kelak rumah saya dimana, bagaimana, ruang lingkup pergaulan saya, siapa suami saya, pekerjaan saya, kebermanfaatan saya, income, passion, impian, ambisi, dan eksistensi.

Maybe I need some or maybe just one life altering event(s).

Entahlah, saya kadang muak mencari-cari alasan. Hanya menunggu life altering event itu datang, tentu saja sebuah kegiatan yang sia-sia.

“Mau jadi apa kamu?”

Saya belum tahu secara jelas, gamblang, dan detail, tentu saja dengan mengesampingkan segala khayalan absurd saya yang sering muncul di antara mimpi malam hari dan lamunan siang bolong, apa yang akan terjadi pada saya 5 atau 10 tahun mendatang.
Iya, impian saya bisa meloncat dari satu pohon ke pohon selanjutnya. Tapi ya saya ini makhluk terrestrial, masih di bawah, berusaha merangkak, memanjat, mencari tali, melompat, menggunakan tangga untuk suatu saat kelak memcapai puncak pohon.

Etapi tunggu dulu, memang tinggi pohonnya seberapa?

Saya tidak tahu.....

“Mau jadi apa kamu?”

Thursday, November 22, 2012

Doa Pagi

Dan masih pagi yang sama,
Perasaan yang membuncah,
Doa yang dikendalikan rasa,
Angan yang terlalu menjulang,
Cerita khayal yang dikarang-karang,
lalu seribu rapal doa aku persembahkan, agar khayal ini mewujud nyata.

Bukankah harusnya doa yang mengendalikan rasa?

Apakah aku salah, wahai Maha Pendengar doa?

PIkiran dan rasa itu dua hal yang saling bertolak belakang.
Satu dirajai otak
satu dirajai entah alam bawah sadar, entah nafsu, entah naluri.

Wahaui Maha Penggenggam segalanya,
dan segala isi semesta yang pagi ini berdzikir.
Ajarkan aku demikian,
mejadi bijak,
perlahan dewasa,
berdoa yang terbaik,
lalu mengendalikan rasa.

Dan segenap pagi,
aku persembahkan untuk doa.
doa
doa
doa
...dan semoga doa yang menyelamatkan hariku.


Wednesday, November 21, 2012

Jejak Kaki

Jejak kaki ini akan tetap sama,
Meski arahku berputar
Meski kepalaku tak lagi memiliki konsep yang sama

Perjalanan ini akan tetap meninggalkan jejak kaki yang sama
Meski pertarungan waktu semakin menipis...
Meski jumlah hari terus berkurang
Meski keyakinanku harus tergempur

Tapi ini adalah perjalananku
...dan hanya jejak kakiku yang tertoreh di sana

Footprint

Wednesday, November 7, 2012

Dua Tahun



Dua tahun ini, ada banyak kehilangan yang saya hadapi, ada banyak sabar yang harus saya pupuk. Sabar yang untunglah menjaga saya untuk tetap berjalan pada jalurnya.  Entah tersesat atau bukan, yang jelas saat ini saya merasa bahwa inilah jalan terbaik yang bisa saya tempuh. Dengan kondisi emosi dan pemikiran yang masih sangat labil, saya bersyukur saya masih sesabar ini.
Dua Tahun ini, ada banyak kesempatan, menginjak tempat-tempat baru, berkenalan dengan orang-orang, menikmati alam, bercengkrama dengan sahabat, menolong orang-orang sakit. Ada begitu banyak syukur yang saya rasakan. Nikmat, bahagia, sebuah rasa terima kasih.
            Dua tahun ini, Allah memberi saya begitu banyak rasa syukur dan sabar. Syukur dan sabar: dua hal yang mutlak akan dirasakan seseorang secara bergantian sepanjang hidupnya. Dua tahun belakangan, antara terasa dan tidak terasa, saya berhasil melaluinya.  Dua tahun dalam usia peralihan menjadi manusia dewasa seutuhnya.
Dan rasanya dua tahun ini sudah cukup. Memiliki pengalaman sama yang tumpang tindih hanya akan mengurangi makna; menghilangkan esensi pengalaman itu sendiri. Sudah saatnya bagi saya mengambil keputusan yang lain. Mengejar mimpi-mimpi dan harapan yang masih menggantung di awang-awang. Merasakan aroma, merasakan atmosfer, merasakan kehidupan lain,
            Kini saatnya merancang dan melaksanakan yang belum terlaksana. Semoga Engkau, Sang Pemilik Kehidupan,  selalu merahmatiku. Aamiin ya rabbaal alaamiin.

Tuesday, November 6, 2012

Morning Problem

When I was child, Its annoyed me if somebody yelled to me " Wake up RIka".
Then may years passed, this morning I really miss hearing a human voice to wake me up rather than hearing a-remote machine called alarm.

Saturday, November 3, 2012

What Makes You Smile?

          
            Ada banyak hari yang bisa kita lewati, kadang tanpa makna. Kadang penuh makna. Kadang pula kita bisa belajar dari hal-hal kecil, namun bermakna besar.

Hari ini saya pulang kantor, sambil tersenyum simpul, mengendari scoopy biru kesayangan saya. What makes me smile? Kejadian ringan sebenarnya, ada seseorang yang membantu saya yang kesusahan mengeluarkan si Scoopy yang terhimpit di parkiran, berdesakan di antara sepeda motor lainnya. Begitu pun kemarin pagi, saya melangkah memasuki gedung rumah sakit dengan perasaan senang, ada seorang bapak membantu menggeser sepeda motor yang membuat saya kesulitan meletakkan si Scoopy pada tempatnya.
*

Sedikit berbagi pengalaman, saya lupa di tahun berapa, akan tetapi saya masih ingat betul kejadiannya. Di Damri, dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Gambir, saya berkenalan dengan seorang lelaki paruh baya, sudah pantas saya sebut bapak. Obrolan kami tak lama, hanya berlangsung sekitar 20-30 menit. Sesampainya di Gambir, si Bapak menuju Pasar Baru, sedangkan saya yang saat itu masih kuliah, akan meneruskan perjalanan menggunakan kereta menuju Yogyakarta. Sebelum berpisah, si Bapak memberi saya uang 100 ribu rupiah. Untuk jajan, katanya. Pada saat itu saya hanya terbengong, bahkan bilang terima kasih pun tidak sempat. Si Bapak keburu pergi. Sayakah yang terlihat terlalu menyedihkan, atau si bapak yang memang baik hati? Saya memilih untuk percaya pada opsi kedua :p.

Di tengah kesulitan, pasti ada kemudahan. Tahun 2007 akhir, saat saya menerima kabar ayah di panggil Yang Maha Kuasa, maka saya harus pulang ke rumah apapun yang terjadi. Saya berhasil sampai di Soekarno Hatta pagi hari. Dalam kondisi yang demikian tiba-tiba, saya belum punya tiket ke Jambi. Saya pun lalu bernegosiasi dengan seorang calo tiket. Melihat saya yang kebingungan, dengan mata sembab dan linangan airmata yang masih tersisa di pipi, si bapak malah mundur.
“Udah neng, jangan beli di calo, beli di counter saja. Kasian si eneng”, ujar si bapak calo tiket.  
Ada lagi cerita di awal tahun 2009, saat saya bersama seorang kawan melakukan perjalanan ke Karimun Jawa. Perjalananan nekad sebenarnya. Saya tidak menyusun itenirary, gak pakai tour guide, dan informasi yang sangat minim.  Di kantong, saya hanya membekali diri dengan uang sebesar 200 ribu. Betapa kaget saya ketika sampai. Ternyata di sana belum ada ATM. Untuk kegiatan perbankan, hanya ada sebuah BRI unit, yang tentu saja tutup di kala week end. Pada saat itu penginapan termurah di Karimun Jawa berkisar 60 rb/malam. Masalah bertambah saat satu-satunya kapal penumpang yang menghubungkan Karimun Jawa dan Jepara rusak. Sehingga mau tidak mau saya harus memperpanjang liburan. Pun di sana tidak ada listrik, hanya generator yang menyala mulai pukul 6 sore sampai 6 pagi. Penggunaan alat bertenaga listrik, semacam handphone dan kamera harus sangat dihemat. Soal makanan, jangan harap bisa berwisata kuliner di Karimun Jawa. Waktu itu saya hanya berhasil menemukan sebuah warung makan. Warung ini berada di dekat alun-alun yang terletak bersebelahan dengan dermaga, dan dalam pengamatan saya lebih cocok disebut warung kopi. Dengan segala keterhambatan tersebut, saya gak bisa membayangkan apa yang terjadi pada diri saya.
Tapi memang ada saja jalan, saya dan kawan akhirnya menginap di rumah penduduk. Tak hanya menyediakan tempat tinggal, si Ibu tuan rumah ini juga mempersiapkan hidangan, 3 kali sehari dan merupakan variasi menu makanan laut yang enyaak. Dan dengan segala kebaikan hatinya, si Ibu juga mempersilahkan saya menggunakan motor dan menumpang kapal berkeliling ke pulau-pulau sekitar.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...