Tentang Saya dan Kontak

Tuesday, October 30, 2012

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 6 - Kota


Pecinan di Hari Jumat


Judul: Pecinan di Hari Jumat

Klenteng,sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia (Wikipedia, 2012). Klenteng mudah kita temui terutama di daerah Pecinan yang tersebar di seluruh Indonesia. Hari Jumat siang yang terik, saya nekad mengelilingi daerah pecinan di daerah Kauman, Kota Semarang. Rupanya nuansa Jumat siang yang sepi, saat umat muslim menjalankan ibadah sholat Jumat, juga terasa di daerah ini. Terlihat seorang bapak berjalan seusai sholat Jumat. Setelahnya, pembeli mulai berdatangan, pedagang dan sejumlah pertokoan terlihat ramai, aktifitas perekonomian kembali bergulir.


NB: foto ini diikut sertakan dalam turnamen foto perjalanan ronde 6- Kota



Wednesday, October 24, 2012

Rindu Kamu

Pada sebiru rindu yang mengabu
Pada setitik hati yang kadang beku
Pada seurai simpul yang dulu terurai
Pada hujan yang jatuh rinai

Pada secercah cahaya yang berasal dari satu titik tanpa api
menghilang, meredup, namun kekal

Ah aku rindu Kamu, Tuhanku...

dalam kekekalan, keserhanaan, keresahan, kecapaian, ketakmengertian.
Demi Tuhan, aku rindu Tuhanku...

Friday, October 12, 2012

Luka Lebih Cepat Sembuh dengan Lidah Buaya



Tak hanya hati, kulit pun bisa terluka. Entah tergores, lecet, tergencet, atau apalah. Kulit yang luka sungguh mengganggu, baik fisik maupun kosmetis. Saya sering mendapat pertanyaan dari teman-teman mengenai obat bahan alam yang dapat mengembalikan kulit menjadi normal.
            Saya jawab dengan pasti Aloe vera atau lidah buaya. Alasannya, tanaman ini mudah diperoleh, efektif, murah, dan penggunaannya pun gampang. Sejak dahulu kala, --sebaiknya kita jangan pernah meremehkan peradaban masa lalu-- resep lidah buaya menjadi andalan perawatan kulit. 
            Lidah buaya mempercepat proses pemulihan kulit dengan mengurangi inflamasi atau peradangan sehingga luka cepat mongering. Tak sampai di situ, lidah buaya juga mempercepat perbaikan jaringan kulit (regenerasi). Pada luka akibat terbakar rata-rata penyembuhan sekitar 40 hari, sedangkan pada luka yang lebih ringan sekitar 20 hari.
Kawan mau coba?? Ambil saja bagian daun lidah buaya. Belah hingga terlihat bagian gel yang bening. Bagian gel inilah yang dioleskan pada kulit yang terluka. Selama beberapa saat Kawan akan merasakan sensasi dingin gel tersebut pada kulit yang luka. Akan tetapi tips ini tidak saya sarankan untuk Kawan yang menderita luka cukup parah dan perlu penanganan khusus.
Efek lain yang menonjol dari lidah buaya adalah kemampuannya mengurangi eksim. Mannan, nama senyawa yang diyakini memiliki kemampuan tersebut, saya bahas pada tulisan berikutnya. [RIKA]

Wednesday, October 10, 2012

Partikel dalam Selimut Debu




Dua malam berturut-turut untuk 2 buku tebal ini: Partikel dan Selimut Debu. Benar-benar menguras pikiran dan tentu saja waktu tidur saya yang jadi lebih pendek. Kerja sampai terkantuk-kantuk. But I can’t stop.  Benar-benar candu.
            Partikel, masuk dalam genre science fiction, terkesan sangat superior, bombastis, dan jauh dari jangkauan kehidupan sehari-hari. Sedangkan Selimut Debu bagi saya buku yang sangat humanis. Sumpah, saya jatuh cinta dengan Agustinus Wibowo.
            Dari kedalaman kesan yang saya peroleh, jelas Selimut Debu pemenangnya. Membaca buku ini membuat adrenalin saya membuncah. Membangunkan keinginan untuk mengelilingi dunia.  Menambah besar rasa penasaran terhadap Asia tengah. Menyematkan dalam hati: Someday, I’ll go there.
Agustinus menulis berdasarkan pengalaman, sedangkan Dee menulis berdasarkan riset. Tulisan yang dibangun dari sebuah pengalaman, jelas berbeda. Ia seperti hidup dan punya roh.
Andrea Hirata misalnya, kematangan gaya bahasa dan plot dalam buku terakhirnya Padang Bulan memang patut diacungi jempol. Namun bagi saya, Laskar Pelangi tetap yang paling berkesan. Ceritanya benar-benar hidup. Potretnya dapat saya bayangkan dengan jelas. Saya menangis berurai airmata membacanya.
            Membaca Partikel, saya seperti kehilangan cita rasa Dee. Memang Dee berhasil membangun plot cerita yang hebat. Saya membaca selesai magrib, dan menunda makan malam sampai hampir pukul 12, saat lembar terakhir Partikel berhasil saya tuntaskan. Gaya bahasa yang indah, cita rasa khas Dee yang sebelumnya saya nikmati dalam Madre, Filosofi Kopi, Perahu Kertas,  serta serial Supernova sebelumnya. Terus terang saya agak kecewa. Kalimat-kalimat Dee yang indah, itulah yang selalu saya tunggu. Itulah yang membedakan ia dengan penulis-penulis lainnya.
            Partikel bagi saya seperti film garapan Steven Spielberg, sementara karya-karya Dee sebelumnya lebih mirip film garapan Garin Nugroho. Partikel itu bombastis, brillian, dan sangat cerdas. Tapi ada bagian yang hilang, keindahan dan kesederhanaan. Hal yang hanya bisa didapat dalam film-film Garin Nugroho.
Dalam kacamata saya, Partikel merupakan The Da Vinci Code versi Indonesia. Dan sangat banyak mengingatkan saya pada sebuah novel di tahun 2000-an, berjudul Area-X karya Eliza V. Handayani. Ia menulis novel tersebut saat masih duduk di bangku SMA. Karya hebat untuk anak seumurannya. Sayangnya sampai sekarang ia tak pernah muncul lagi.
            Lebih dari itu, dua hari berturut-turut membaca buku seperti ini, memang benar-benar membangunkan keresahan dalam diri. Meski dari dua genre yang berseberangan, science fiction dan catatan pengalaman, tapi apa yang saya tangkap dari dua buku ini hampir sama. Soal pencarian arti jati diri, makna hidup, perjalananan, keberanian, takdir, dan Tuhan.