Thursday, August 9, 2012

The Most Critical Moment in Yourlife


Senja dua minggu lalu, di musholla Taman Ismail Marzuki (TIM), saya sedang mengantri menunggui seorang perempuan yang sholat tepat di sebelah saya. Selesai sholat, ia tak langsung meninggalkan musholla. Perempuan tersebut berdoa, kelihatan sangat khusuk dan cukup lama, hampir dua puluh menit lebih, serta diakhiri dengan bersujud yang juga tak kalah lama. Ketika ia membuka mukenanya, saya melihat perempuan muda, cantik, dengan pakaian seksi. Sambil memberikan mukenanya kepada saya, wanita itu berujar “Maaf ya mbak, nungguinnya lama”. Jahatnya, waktu itu memang dalam hati saya sempat dongkol.
            Tiga jam kemudian, saya sadar, bahwa perempuan yang tadi sholat di samping saya, adalah salah satu performer dalam pertunjukkan teater malam itu.

                                                                                    *
Hampir tiga bulan yang lewat, itulah dini hari terpanjang yang saya alami seumur hidup saya. That was mymost critical moment in this year, I thought.

“Saya dokter jaga bagian neurologi. Ibu Anda tiba-tiba tidak sadarkan diri, kami belum tahu pasti penyebabnya apa, tapi kemungkinan kanker sudah menyerang otaknya.”
Masih pukul dua dini hari, setelah membaca yasin, saya menemui dokter jaga bagian penyakit dalam yang selama ini menangani ibu. Saya jelaskan, bahwa ibu saya sejak kemarin menyebut-nyebut nama kakak saya, mungkin ibu masih ingin ketemu kakak saya. Saya menginginkan dokter melakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP) dan intubasi jika terjadi henti nafas.
“Nanti saya tanyakan dulu bagian anestesi, karena yang akan mengerjakan intubasi adalah bagian anestesi”, jawab si dokter.
            Jelang beberapa saat, saya kembali dipanggil, kali ini oleh dokter jaga bagian anestesi.  Ia mengajak saya duduk, dan lalu berbicara:
“Saya punya dosen, seorang professor, yang pernah mengalami tindakan intubasi. Dia bilang bahwa intubasi itu sangat sangat sakit. Dan dia tidak menginginkan hal itu terjadi lagi pada dirinya.”
            Saya diam, masih dengan kekalutan. Si Dokter menambahkan lagi “Setelah di intubasi, pasien harus masuk ICU, bisa sampai berminggu-minggu dan berbulan-berbulan. Dan nanti kalau akhirnya, maaf, ibu harus pergi juga. Bukankah hanya akan menyiksa? Kita sama-sama orang medis, dan kita sama-sama tahu bahwa hanya sebuah keajaiban yang bisa menyembuhkan ibu Anda. Kalau hal ini terjadi pada keluarga saya, saya akan membiarkan ibu saya khusnul khotimah, meninggal dengan tenang.”
            Saya bilang, saya minta waktu sebentar. Saya telpon kakak yang masih di seberang pulau dan akan berangkat dengan pesawat pertama pukul 06.00. Dalam keadaan panik, kakak saya bilang semua terserah saya. Lalu saya telpon kakak saya yang satu lagi, dan jawabannya sama.
Demi Allah, rasanya mengerikan saya harus memutuskan tindakan menyangkut hidup mati orang yang paling saya sayang. Di rumah sakit, saya berdua dengan ‘si Mbak’ yang biasa jagain ibu. Kepada siapa lagi saya harus bertanya?
            Setelah membaca yasin entah untuk keberapa puluh kalinya, saya minta tolong si Mbak jagain, saya mau sholat subuh dulu.
            Saya lalu menuju musholla yang terletak di lantai dua. Waktu bergerak amat lambat, langit di luar masih gelap, dan saya belum memutuskan apa-apa.
Saya sholat, saya membaca bacaan sholat, saya membaca surat-surat Al-Qur’an. Lalu seperti yang selalu saya lakukan selesai sholat, saya tak lupa berdoa. Di titik itu, saat itu, rasanya Allah sangat dekat, lebih dekat dari urat nadi di leher. Saya menutup mata, seraya berbisik pada Allah, semoga saya masih diberi kekuatan. Cukup lama untuk membuat mata serta dada saya memanas dan sesak.
            Selesai sholat, saya turun kembali ke bawah. Saya temui dokter jaga, dan menandatangani inform concern. Selang beberapa saaat, seorang perawat mendatangi ibu saya dan memasang gelang bertuliskan DNR (Do Not Resusitation).
            Bukankah semua yang bernyawa pasti akan mati?. Yang terpenting adalah bagaimana dan seperti apa seseorang menjelang akhir hayatnya.
            Saya mengharapkan ibu pulang dengan tenang. Aaamiin ya rabbal alaamiin.

*
Menurut teori psikologi, manusia hanya punya dua cara ketika menemui masalah, to fight (menghadapi) dan to flight (menghindari). Critical moment, bagi saya adalah saat dimana lu gak punya pilihan lain, selain menghadapinya. Sebuah fase kehidupan yang memang harus dilewati.
Saat-saat menjelang wisuda, kencan pertama dengan gebetan, hari kerja pertama, pernikahan, sidang skripsi, perjalanan tertentu, wawancara, kehilangan seseorang. Beberapa merupakan uncommond circumstance. Ada rasa gentar, deg-degan, takut teramat sangat, sedih, bahkan kadang euphoria berlebihan.
Lebih daripada itu, saya yakin critical moment adalah saat dimana kita merasa lebih dekat kepada Rabb Pemilik semesta alam. Berdoa semoga satu-satunya pilihan yang kita punya tersebut, memang hal terbaik yang seharusnya terjadi.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...