Wednesday, August 1, 2012

Obat-obatan Dapat Memicu Stroke?*


Oleh: Rika Melati

Tiap tahunnya Food and Drug Administration (FDA) Amerika melaporkan terjadi 200-400 kasus stroke hemoragik yang dikaitkan dengan penggunaan phenilpropanolamin (PPA).

            Pada tanggal 6 November 2000, FDA mengumumkan pelarangan peredaran produk obat yang mengandung PPA di Amerika. FDA merupakan Badan POM milik Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri PPA masih banyak ditemui di pasaran sebagai salah satu bahan aktif dalam obat flu. Alasan Badan POM mengizinkan penggunaan PPA karena dosis yang relatif kecil yaitu 15 mg. PPA pada dosis tersebut berfungsi untuk melegakan hidung tersumbat (dekongestan). Memang alasan penarikan PPA di Amerika karena PPA terkandung dalam obat pelangsing yang dikonsumsi dengan dosis 75-150 mg/hari. Pada dosis tersebut PPA bekerja menekan nafsu makan pada Sistem Saraf Pusat di otak. Bahkan pada beberapa kasus stroke yang terjadi di Amerika, korban mengkonsumsi PPA dengan jumlah overdosis (300-350 mg/hari).
            Mekanisme kerja PPA dengan menciutkan pembuluh darah (vasokonstriksi). Pada dosis kecil (15 mg), efeknya terlokalisir pada hidung. Tetapi pada dosis besar, dapat terjadi vasokonstriksi sistemik di seluruh tubuh. Sehingga akan menyebabkan kenaikan tekanan darah yang signifikan dan dapat memicu pecahnya pembuluh darah otak alias stroke hemoragik.
            Selain PPA, beberapa obat bebas seperti efedrin dan pseudoefedrin juga disinyalir mampu memicu terjadinya stroke. Efedrin dan pseudoefedrin banyak terdapat pada obat flu yang berfungsi sebagai dekongestan. Di samping itu efedrin dan pseudoefedrin juga dapat berefek sebagai stimulan yang bekerja di Sistem Saraf Pusat. Dalam jumlah berlebih, stimulan dapat menaikkan tekanan darah secara signifikan. Sebuah penelitian di Meksiko mengevaluasi 2500 kasus stroke. Diantaranya 22 kasus stroke disebabkan karena mengkonsumsi PPA, efedrin, dan pseudoefedrin. FDA Amerika pun pernah mengajukan usulan untuk menarik efedrin dari pasaran, namun usulan tersebut ditolak.
            Efedrin merupakan golongan senyawa alkaloid yang berasal dari tanaman Epedra sinica. Di China dikenal dengan sebutan tanaman Ma Huang dan cukup sering digunakan dalam racikan obat tradisionalnya. Bagi Anda terutama yang mengidap hipertensi dan gemar berobat dengan chinese medicine usahakan untuk berhati-hati dan selalu memperhatikan komposisi bahan yang terdapat di dalamnya.

            Satu lagi tanaman obat yang cukup familiar yaitu Ginkgo Biloba. Herbal ini dapat meningkatkan aliran darah ke otak sehingga meningkatkan daya ingat. Keterkaitan penggunaan Ginkgo biloba dan stroke masih memerlukan penelusuran yang lebih panjang. Publikasi sebuah penelitian menunjukkan Ginkgo biloba sebagai antioksidan, anti radang, dan pengencer darah yang berperan mencegah stroke serta memperbaiki kondisi pasca stroke iskemik. Namun publikasi tersebut juga memaparkan dalam dosis yang berlebihan Ginkgo biloba justru menyebabkan darah terlalu encer sehingga dapat menyebabkan pendarahan otak atau stroke hemoragik.
            Beberapa obat golongan narkotika seperti heroin dan kokain serta golongan psikotropika misalnya amfetamin dapat pula menyebabkan stroke. Amfetamin sendiri merupakan senyawa sintetis turunan efedrin. Penggunaan amfetamin  dan kokain menyebabkan jantung memompa lebih cepat dari biasanya sehingga tekanan darah meningkat. Jika terdapat pembuluh darah yang menipis di otak maka pembuluh darah tersebut dapat spontan pecah dan terjadi stroke hemoragik. Selain mempengaruhi jantung, kokain dan amfetamin juga mampu mengingkatkan aktivitas sistem saraf pusat di otak. Penyempitan pembuluh darah otak (vasokonstriksi) pun dapat terjadi akibat penggunaan kokain dan heroin.
            Apabila digunakan secara intravena (suntikan ke pembuluh vena) terutama pada kondisi non-aseptis yang kerap dilakukan pada pecandu, heroin dan kokain dapat menyebabkan stroke iskemik. Penggunaan intravena memungkinkan masuknya bakteri ke dalam darah dan dapat berkembang pada klep jantung (endocarditis). Suatu saat perkembangan bakteri yang membentuk pelet/gumpalan kecil ini dapat lepas dan mengikuti peredaran darah. Jika perjalanan pelet tersebut sampai di pembuluh darah otak maka dapat menyumbat dan menimbulkan stroke iskemik.

* dimuat di Majalah Info Obat Edisi XI tahun 2009
             


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...