Tuesday, June 12, 2012

Phuket? Gak lagi deh

bandara, airport, phuket airport
Welcome to Phuket

Menurut saya sih, perkara saya jera ke Phuket ini sebagian besar dipengaruhi kondisi yang sedang tidak pas. Saya sakit. Terparah selama 2 tahun terakhir, dan sakit yang benar-benar sakit selama di perjalanan.
Sebenarnya badan panas dan mual yang saya rasakan sudah semenjak seminggu sebelumnya. Berbagai obat saya coba, mulai dari parasetamol, sistenol, antasida, ranitidin sampai ondansetron . Suhu tubuh saya sebentar normal, terus naik lagi. Mual saya sebentar muncul sebentar hilang. Dan hampir saja saya membatalkan keberangkatan.
But life must go on, dan saya tetap pada rencana semula. Singkat cerita, pagi itu di daerah Patong, Phuket, cuaca mendung dan diselingi rintik hujan, saya sudah siap dengan motor sewaan. Badan sudah agak fit setelah malam sebelumnya saya mintan tolong dikerokin temen, terus minum ibuprofen yang sempat saya beli di drugstore.
Berasa sudah sembuh, saya gak bawa obat, padahal hari itu perjalanan lumayan melelahkan. Saya ke Big Buddha yang jauhnya minta ampun, ke Wat Chalong, dilanjutin ke Pantai Karon. Sorenya sempat hujan badai, dan seperti pengalaman saya di Belitung, menyewa motor bukan berarti juga menyewa mantel hujan. Hampir senja saya sampai di hostel. Rasanya sudah mau pingsan, suhu tubuh saya mungkin sekitar 39-40° C. Bangun untuk minum obat saja sudah gak sanggup, dan saya menggigil hebat.
bangla street, phuket, backpacker
Bangla Street

Ini dia gak enaknya sakit pas perjalananan, tetap harus mikirin schedule dan planning awal trip ini. Karena ada teman-teman seperjalanan yang juga tetap harus menikmati acara traveling. Jangan sampai merepotkan dan merugikan mereka. Besok hari minggu dan hari terakhir di Phuket. Rencana awal saya akan melewati overland border ke Malaysia menggunakan bus dan memakan waktu sekitar 16 jam. Membayangkannya saja saya sudah mau pingsan.
Apa besok saya langsung balik ke Indonesia?. Besok minggu ada direct flight ke Jakarta, sayang tiketnya 3 kali lipat dari harga tiket berangkat saya. Opsi lain saya transit di Singapur ato KL, tapi ternyata setelah dikalkulasikan tiketnya tetap akan membuat saya bangkrut seketika. Mau makan apa saya sampai akhir bulan ?. Belum lagi kalau balik ke Jakarta, saya cuma sendirian.  Kalau harus dirawat, saya pengennya balik ke Jambi, tapi libur saya cuma sampai hari senin. Mau memperpanjang libur? Bisa kena getok atasan..
Opsi ketiga, saya naek pesawat rute Phuket-KL. Jadi saya menunggu teman-teman di KL. Tapi saya memprediksi kemungkinan terburuk jika sakit saya bertambah parah. Mengingat gejala-gejala yang saya alami, sempat ada kecurigaan kena tifus. Sakit dan sendirian di negara orang, wah..malah bikin tambah perkara.
Phuket, patong, beach
Daerah Patong, Phuket
            Akhirnya malam itu saya pasang selimut tebal, meneguk Becom-C dan ibuprofen yang saya minum double, serta sekujur tubuh saya diurut teman. Tak sampai 2 jam, bermunculan ruam, merah dan bengkak di seluruh tubuh. Saya biduran sodara-sodara. Tambah lagi obat yang saya minum, cetirizine. Dan saya melewatkan tiket VIP yang sudah saya beli seharga sekian ratus bath untuk Pertunjukkan Simon Kabaret malam itu L
Keesokan, masih dengan mata bengkak dan persiapan obat seadanya, saya tetap pada rencana semula, meluncur menggunakan bus. Saya diem sepanjang perjalanan di bus. Padahal baru beberapa hari, dan saya kangen sangat dengan Indonesia. Kondisi sakit dan lidah terasa pahit. Saya jadi ngidam masakan padang, Kawan.  
Beranjak meninggalkan Phuket, rasanya semakin lega. Sumpah Phuket ini benar-benar gersang. Segala yang dilarang dalam keyakinan saya mereka lakukan. Thai boxing dan lady boy dimana-mana. Apalagi hostel saya terletak dekat sekali dengan Jalan Bangla, the most famous street in Phuket. Apa yang ditawarkan jalan ini?. Tentu saja kehidupan malamnya. Hiruk pikuknya suasananya tak jauh beda dengan daerah Seminyak dan Legian di Bali. Tapi masih mending Bali sih yang punya ciri khas budaya. Apalagi dibandingkan dengan trip saya terakhir ke Hanoi dan Ho Chi Minh City. Saya jauh lebih suka Vietnam.
trang province, musholla, thailand
Menemukan musholla saat singgah di Provinsi Trang, Thailand

mesjid jamek, wisata religi, kuala lumpur, malaysia
Mesjid Jamek
Senin subuh saya tiba di Kuala Lumpur, mendengar suara adzan, ah rasanya tenang sekali.  Beranjak pagi, saya dan teman-teman siap melancong lagi. Selesai sarapan, badan saya masih agak panas. Saya mampir kembali ke drugstore dan membeli panadol. Saya lalu mampir Mesjid Jamek, the most famous Mosque di KL. Kata teman saya, ini semacam wisata religi.
Setelahnya, trip ini menjadi lebih menyenangkan. Saya sembuh J. Padahal Di KL saya mobile memanfaatkan LRT dan jalan kaki kemana-mana sambil bawa ransel. Entah karena panadol yang tokcer, karena suasananya, atau justru karena exercise-nya. Tapi Alhamdulillah saya kembali ke Jakarta, sembuh, dan bisa beraktifitas seperti biasa.
Well.., baru kali ini, saya ke suatu tempat dan gak pengen balik lagi. Yah...kecuali kalau ada yang mau bayarin saya ke Phuket :P
backpacker, kuala lumpur, jalankaki, jalan-jalan
Di Kuala Lumpur, kemana-mana jalan kaki dan bawa ransel


phuket, bangla street, night bar
Suasana malam di Phuket




2 comments:

Rima Aulia said...

wew....traveler sejati.... keren pasti banyak cerita, pengalaman dan ilmu yg didapat... bafru atu ternyata phuket begitu yak, komen yg pernah saya dapat tentang phuket, keren2, ternyata ga juga.. thanks inpohnya

R. Melati said...

Tergantung dari sudut mana sih memandangnya. Lagian ya itu mungkin karena pas lagi sakit, jadi gak menikmati :(

Anyway, makasih udah jalan2 ke sini :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...