Friday, June 29, 2012

Napak Tilas Yogyakarta dan Semarang


di depan lawang sewu semarang
Lawang Sewu, Semarang
Ketika sedang membuka file- file lama postingan, saya menemukan sebuah posting. Isinya saya punya janji kalau saya suatu saat akan menulis daftar kuliner favorit saya selama bermukim di Yogyakarta. Sayangnya, hingga 1,5 tahun lebih saya telah meninggalkan Yogyakarta, posting tersebut belum sempat juga saya tulis.
Beberapa waktu lalu, saya kembali berkunjung ke Yogya dan sempat mampir ke Semarang.  Semacam napak tilas, ujar seorang kawan.
Napak tilas yang tentu saja diiringi dengan acara makan-makan. Posting ini semacam menutupi hutang saya yang sepertinya sudah tidak bisa terbayarkan tersebut. Bukankah menuliskan ingatan yang terbaru lebih mudah ketimbang mengorek-ngorek kenangan lama?
.

review makan es krim di toko oen semarang
Toko Oen
            Letak keistimewaan dari toko ini tentu saja sejarah dan ke-djadoel-annya yang mencapai setengah abad lebih. Ditilik dari nama ‘Oen’, sekilas saya beranggapan menu andalannya adalah Chinese food. Ternyata toko ini cukup terkenal pada jaman Belanda dan didominasi menu western food.
            Toko Oen memiliki menu andalan es krim dan berbagai rupa kue kering olahan sendiri. Teman saya memesan Es Krim Simfoni Oen dan Tuti Fruti  Es Krim, yang menurut si pramusaji merupakan es krim favorit para pelanggan. Saya sendiri memesan memesan Poffertjes Ice Cream. Unik, ada perpaduan panas dari Poffertjes nya dan sensasi dingin dari es krimnya.Kalau di lidah saya, rasa es krimnya sih enak, tanpa embel-embel sangat. Saya bukan penggila es krim dan jarang makan es krim sih.
Es krim tersebut saya nikmati bersama sebuh kue yang bentuknya mirip biskuit, dengan ukuran lebih besar dan tekstur lebih lembut. Nama kuenya sangat ke belanda-belanda-an, saya lupa sama sekali. Kata kawan saya, kue tersebut rasanya mirip sekali dengan kue Bangkit (kawan saya ini berasal dari Riau) buatan almarhumah neneknya. Seolah bernostalgia pada masa kecil, tambah kawan saya tersebut.
es krim simfoni toko oen semarang
Es Krim Oen Simfoni







poffertjes ice cream toko oen semarang
Poffertjes Ice Cream











Soto Bangkong, Semarang

            Es krim dan kue bangkit ala belanda tentu hanya sebagai menu pembuka. Siangnya saya mencoba mencoba kuliner terkenal lainnya di Semarang. Soto Bangkong yang terletak di perempatan Bangkong.
            Menurut pengamatan lidah saya, tidak ada vetsin yang ditambahkan di dalamnya. Sehingga rasa soto ini agak plain ketimbang soto-soto lain yang pernah saya cicipi. Dengan campuran ayam kampung lalu ditambah sate usus, tempe goreng, ati ampela, dan perkedel. Soto ini memiliki rasa yang khas. Dengan cita rasa demikian, pantas saja soto ini terkenal dan memiliki banyak pengunjung setia.
kuliner soto bangkong semarang
Soto Bangkong

Gudeg Permata, Yogyakarta.
           
            Saya baru mencicipi gudeg ketika mulai merantau ke Yogyakarta. Rasanya yang manis tidak cocok dengan lidah sumatra saya. Tapi Gudeg Permata ini berbeda. Pertama kali saya mencoba karena diajak teman nongkrong hingga tengah malam, kelaparan terus makan gudeg. Yap.. Gudeg Permata ini buka pukul 21.00, dan biasa makin ramai menjelang tengah malam.
            Menu favorit saya adalah ayam bagian sayap. Dagingnya sangat empuk ditambah bumbu yang meresap sampai ke tulang-tulang, serta nasi yang ditanak langsung menggunakan tungku. Ditemani segerombolan anak muda bersuara merdu yang menyanyikan lagu nostalgia. 
            Sebenarnya warung gudeg ini memiliki nama, namun orang-orang lebih mengenal dengan sebutan Gudeg Permata, karena letaknya persis di emperan Bioskop Permata. Dulunya bioskop ini sangat terkenal, namun sayang kini harus tergusur oleh dominasi brand bioskop yang sudah terkenal. Kalau dari Malioboro, kawan bergerak ke arah Sayiddan, sampai ketemu pertigaan lalu belok kiri dan gudeg tepat berada di sebelah kanan jalan.
            Ya mungkin cuma di Gudeg Permata ini saya jadi doyan gudeg, kalau di tempat makan lain, wah gudeg tetap menjadi menu yang paling saya hindari.
kuliner gudeg permata yogyakarta
Nasi yang ditanak di tungku



Lesehan Mas Kobis, Yogyakarta.

            Kalau kawan (mantan) mahasiswa UGM atau UNY, pasti tau dengan lesehan Mas Kobis. Meski buka dari jam makan siang sampai malam hari, jam berapapun datang ke sana lesehan ini selalu ramai. Terletak masih di kawasan UNY, menu yang ditawarkan seperti umumnya lesehan: lele, ayam, tahu, tempe, telur, terong, dan ati ampela. Yang membuat istimewa: sambel diulek bersama si lauk. Lebih istimewanya lagi: si pembeli menentukan jumlah cabe yang mau diulek, ada yang pesan 5, 10, sampai 30 cabe. Dan yang lebih mengerikan : cabe tersebut adalah cabe rawit mentah, sodara-sodara.
            Herannya, walaupun kalau makan di sana selalu berurai air mata sangking pedasnya (padahal saya cuma berani pasang cabe 4), rasa lesehan Mas Kobis ini selalu terngiang-ngiang di lidah.
lesehan mas kobis kuliner yogyakarta
sambalnya menggoyang lidah

Kawasan Wisata Angkringan Tugu.
           
            Selama 6 tahun kuliah di Yogyakarta, saya belum pernah sekalipun nongkrong di angkringan kopi joss dekat Stasiun Tugu. Dulu saya memang jarang banget ngangkring, alasan saya sih klise, ngangkring itu gak kenyang. Kalau mau nongkrong, saya lebih senang di warung kopi.
Sepulang dari pantai, demi memenuhi keinginan teman seperjalanan saya yang ngidam makan di angkringan akhirnya saya mampir ke kawasan ini. Seingat saya, dulu jalan tepat di samping Stasiun Tugu ini hanya deretan beberapa angkringan.  Sekarang jalan sempit tersebut telah menjadi kawasan wisata angkringan. Terasa lebih modern, karena cara makannya tidak lagi di gerobak yang dipenuhi makanan dan lampu yang redup.
            Secara random, saya memilih salah satu angkringan. Ternyata saya cukup beruntung, nasi kucing teri sambal, susu jahe hangat, telur puyuh, dan tak ketinggalan ceker bakar, semuanya enak dan pas di lidah. Diiringi suara gemuruh tawa yang membahana dari segala penjuru. Malam minggu yang nikmat.
angkringan kopi joss yogyakarta
Angkringan Kopi Joss


Djendelo café, Yogyakarta.

            Tempat kedua yang saya singgahi malam minggu itu adalah Djendelo Café, Berlokasi di Jl. Gejayan, lebih mirip bale yang dibangun tepat di atas toko buku Toga Mas. Letak strategis, nyaman, murah, dan minumnya enak-enak. Terutama berbagai rupa olahan coffe drink dan coklatnya. Sembari menyeruput cappuccino yang dicampur caramel dan whipped cream, obrolan, bahak tawa, serta cerita saya lanjutkan di sini bersama beberapa sahabat lama. 
            Oh ya tentu saja sembari bernostalgia. Menangkap beberapa potong kenangan di café ini ;)
djendelo cafe togamas yogyakarta
Cappucino yang menyeruak kenangan


Sunday Morning, UGM, Yogyakarta.

            Pasar kaget minggu pagi di kawasan UGM ini menyediakan berbagai jajanan tidak penting,  namun sedikit demi sedikit menguras dompet. Nama Sunday Morning sendiri, berdasarkan informasi yang saya peroleh dari seorang teman, adalah nama band yang digawangi anak-anak Fakultas Ilmu Budaya. Band ini awalnya rajin perform tiap minggu pagi di sekitar FIB. Keramaian yang dibuat inilah yang lama kelamaan menjadi pasar kaget tiap minggu pagi.
Dulu favorit saya kalau ke sana adalah: cimol, jamur goreng, dan susu murni nasional. Saya nikmati sembari duduk-duduk di samping GSP dan ngecengin cowok-cowok yang sedang main futsal. Lalu diakhiri dengan sesi makan lontong padang.
            Jaman dulu jalanan di sekitar GSP dan Masjid Kampus masih bisa dipakai berjualan. Sunday morning yang sekarang menurut saya sangat crowded dan tidak nyaman. Pedagang hanya boleh berjualan di sepanjang ruas jalan fakultas ekonomi, lembah sampai ke fakultas hukum.
            Saya cuma beli cimol, jadah tempe khas jogja, dan  diakhiri dengan sesi makan lontong padang.
Graha Sabha Pramana universitas gadjah mada yogyakarta
Lapangan GSP, tempat dulu ngecengin gebetan


No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...