Tentang Saya dan Kontak

Wednesday, February 15, 2012

City Tour: Kuala Lumpur


Rumput tetangga selalu lebih hijau. Berlaku jugakah dalam hal melancong?.  Sesekali bolehlah kita berkunjung ke ibukota negara tetangga ini. Bukan untuk menjadi minder tentunya. Cukup untuk menambah wawasan atau sekedar mengintip apa sih yang terjadi pada tetangga kita.  
            Ingin city tour? Kuala Lumpur (KL) menawarkan beberapa tempat, diantaranya:

Dataran Merdeka
            Merupakan salah satu Landmark KL. Masih satu kompleks di Dataran Merdeka, ada Gereja St. Mary, sebuah gereja anglikan yang dibangun pada akhir abad ke 18, serta Bangunan Sultan Abdul Aziz. Selain dua bangunan yang mencolok tersebut, masih terdapat beberapa bangunan lain yang dalam kacamata saya sebagai orang awam, memiliki arsitektur yang bagus.
Dataran Merdeka

St. Marys Church

Mesjid Jamek
            Berbelok sedikit dari kompleks Dataran Merdeka, cukup dengan jalan kaki atau kalau Kawan menggunakan taksi ongkosnya sekitar RM 5, Kawan akan menemukan Mesjid Jamek. Coba Kawan lihat peta wisata atau searching di internet mengenai tempat di KL, mesjid ini menjadi salah satu ikon tourism destination. Jika Kawan menggunakan LRT (Light Rail Transit), transportasi yang tak jauh beda dengan MRT (Mass Rapid Transit) di Singapore, maka Kawan cukup turun di halte Mesjid Jamek. 
Oh ya untuk masuk ke Mesjid, bagi perempuan wajib mengenakan jilbab. Dan tepat di seberang mesjid, terdapat pertokoan yang menjual berbagai aksesoris, makanan, dan jilbab segala rupa.
Waktu itu saya berkunjung ke sana saat ramadhan. Ketika sore datang, sepanjang jalan dipenuhi pedangang dan sesak oleh pengunjung. Recommended kalau mau belanja, ketimbang di Petaling Street.

Istana Negara
            Sebagai negera monarki konstitusi, Malaysia dipimpin ole seorang raja dan tentu saja punya istana.  Sebenarnya saya gak ada rencana berkunjung ke sini. Jadi tahun kemarin saya merayakan lebaran di KL. Saat lebaran, istana negara menjadi sangat ramai, apalagi hari raya pertama, dimana ada openhouse istana.
            Spot yang lumayan untuk foto-foto, terutama dengan abang penjaga istana (namanya hulu balang kalau gak salah) dan kudanya.
Foto bersama hulu balang dan kudanya


Monday, February 13, 2012

Monday Morning


Matahari masih bersinar terang
tapi saya tak ingin berlari kencang
masih tertelentang di ranjang
dengan kantung mata mengencang

matahari sudah menyambut saya
tapi saya masih mati rasa

saya masih mengerucutkan tubuh
memastikan terang matahari tak ke kamar saya
biru langit tak menyentuh lampu kamar saya
dan semesta masih alam mimpi saya

Sunday, February 12, 2012

Sebait Doa


Reading back my past post Apakah Saya Seorang Traveller Sejati . Almost 1 half years. Ternyata apa yang dulu menjadi ketakutan saya benar adanya. 
 Well.., dan ternyata lagi keinginan saya tetap konsisten. 

Secara lugas, kira-kira begini harapan saya saat ini:


Sebuah café kecil nan nyaman. Sebuah Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) atau sebuah apotek. Menjadi penulis lepas. Dan sesekali menjelajah dunia.


Bahkan bagian menjadi penulis, adalah keinginan saya sejak masih SMP. Waktu itu saya menyadari, ada kepuasan tak terbayarkan saat menulis.

Kabulkanlah ya Allah
Dengan segala kerendahan hati saya memohon.
Ingatkan pula kawan-kawan, agar arah, langkah, tujuan, dan kerja keras saya, menuju pada apa yang menjadi impian saya.

Aaamiin ya rabbal alamin

-sebait doa di sore hari-

Wednesday, February 8, 2012

Television Abuse


Malam ini, tak ada yang menarik dari acara televisi. Melihat orang marah-marah, mencaci maki, dengan ekspresi mengerikan itu membuat perut saya mual.
Televisi, satu benda yang masih melekat erat dalam keseharian saya, atau kita, atau lebih luas (mungkin) pada masyarakat Indonesia. Meski belakangan, internet dan berbagai gadget, bermunculan dan mendominasi rutinitas sehari-hari. Sehingga saya membayangkan suatu saat akan ada dunia yang mirip negeri penyihir rekaan J.K. Rowling. Berbagai hal dapat disihir dalam bentuk digitalisasi.
Kendati menurut saya, sepak terjang gadget-gadget mutakhir tersebut baru sampai di kota-kota besar. Ketika saya pulang kampung, televisi masih menjadi peralatan wajib dalam menemani rutinitas sehari-hari.
Saya ingat tahun 90-an akhir, saat itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, rasanya hidup saya tak lepas dari televisi dan majalah remaja. MTV adalah tontonan wajib saya setiap hari.  Yang membuat saya berhenti addict menonton televisi adalah saat menginjak bangku SMA. Ketika itu, saya harus tinggal di asrama dengan aturan hanya boleh menonton televisi pada hari sabtu-minggu.
Sejak saat itu saya tak punya ketertarikan lagi untuk menonton televisi. Semenjak kuliah, saya merantau dan nge-kos. Selama 6 tahun pula, saya tidak memerlukan benda berbentuk kotak tersebut. Setiap teman saya maen ke kosan. Mereka hanya akan menemukan tape tua, yang hanya bisa digunakan untuk mendengarkan radio.

Wednesday, February 1, 2012

Ways to live forever (Setelah Aku Pergi). Sally Nicholls


Buku ini saya beli di toko buku Toga Mas, terakhir kali saya ke Jogja hampir setahun yang lalu. Dan baru sempat bikin reviewnya sekarang (kemane aja loh? :p).
Bercerita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang divonis menderita leukemia bernama Sam. Isi buku ini merupakan harapan, pertanyaan, dan cerita keseharian yang (seolah) ditulis oleh Sam.
Konten yang paling dominan tentu saja konsep, pencarian makna, dan pertanyaan-pertanyaan mengenai kematian dari sudut pandang anak kecil. Pemikiran sederhana, yang mungkin dulu sewaktu kecil pernah terlintas dalam benak kita. Misalnya pertanyaan-pertanyaan Sam mengenai:
Bagaimana kita tahu kita sudah mati?
Kenapa ketika mendatangi pemakamana, orang-orang menggunakan pakaian serba hitam
Kemana orang pergi sesudah mati?
Kenapa sih orang harus mati?
Apakah dunia ini masih ada sesudah kita tidak ada?
Seperti apa kelihatannya orang yang sudah mati? Atau apa rasanya orang yang sudah mati?
Apa sebenarnya kematian itu?

Membaca buku ini mengingatkan saya pada banyak pertanyaan yang singgah di benak saya belasan tahun silam. Tuhan itu ada dimana? Kenapa orang harus kawin? Kenapa cewek dan cowok itu berbeda? Kenapa orang harus bekerja? Kenapa orang bisa mati? Apakah orang jahat mati harus selalu jadi hantu? Orang-orang yang sudah mati itu dikuburan ngapain menjelang mereka dibangkitkan lagi pada hari kiamat?. Kenapa cewek harus jatuh cinta pada cowok?.
Pertanyaan-pertanyaan yang sebagian terjawab dan sebagian hanya menjadi pertanyaan retoris seiring bertambahnya umur.
Buku yang hanya berjumlah 214 halaman ini, seolah mereframing otak dari konsep kematian yang jamak dipahami orang dewasa. Seperti framing yang mengajarkan bahwa setelah kematian, manusia diletakkan pada surga atau  neraka tergantung perbuatan ia semasa hidup.
Yap…mungkin kita perlu menelaah ulang berbagai pemahaman yang diajarkan dunia orang dewasa. This book quite enought to get reflection.