Wednesday, January 25, 2012

Bromo: Another-day of Sunrise You Must See (Before You Die).


Jumat sore sekitar pukul 4, handphone  saya berdering. Telpon dari seorang teman. ”Ka, malam ini kita ke Bromo nyok”. Hanya butuh 5 detik bagi saya untuk menjawab : “Oke”. Dan jadilah kepergian mendadak ini membuat kami terbirit-birit. Pulang kantor, packing, sholat magrib. Lalu pukul 18.30 saya siap berangkat.  
Saya memilih rute dari Probolinggo lewat Surabaya. Waktu tempuh Surabaya-Probolinggo dan Malang-Probolinggo hampir sama, kurang lebih 2 jam. Sedangkan kereta ke Malang itu paling sore pukul 17.30. Jadi saya memutuskan lewat Surabaya.
Jalan-jalan secara mendadak memang membuat persiapan tidak matang. Tapi sesuatu yang insidental itu kadang malah lebih menantang. Dengan antrian tiket yang mengular pada Jumat sore, harap-harap cemas saya terbayar saat tiket Argo Anggrek sudah di tangan. Satu-satunya yang saya tahu, pokoknya sampai ke Surabaya dulu, lalu naik bis ke Probolinggo.
Pukul 3 esok harinya, saya masih teronggok di Probolinggo, menunggu Elf yang belum juga berangkat. Elf ini akan membawa saya ke Desa Cemara Lawang, desa terdekat dari Bromo. Kalau kawan pergi beramai, lebih enak langsung menyewa, sekitar 200 ribu.  Pukul setengah 6 sore, Elf baru berangkat. Ada belasan orang penumpang di kendaraan jenis L300 tersebut, sampai-sampai beberapa penumpang, yang keliatannya penduduk lokal, duduk di atap. Perilaku yang tentu saja tidak patut ditiru. Onkos Elf 30 rb/orang.
Cerita punya cerita, saya berkenalan di Elf dengan 2 orang backpacker dari Bandung, dan satu rombongan dari Malang. Sehabis magrib, tibalah saya di Desa Cemara Lawang. Saya disambut beberapa penduduk lokal yang menawarkan penginapan. Karena tak punya referensi, saya pun ‘ngintil’ dengan dua rombongan ini. Akhirnya kita sepakat menyewa satu rumah seharga 230 rb/malam. Oh ya kalau mau aman dan hemat, jangan lupa membawa bekal. Di Probolinggo saya membeli pop mie, air mineral, dan beberapa camilan.. Tidak ada apa-apa di desa ini selain beberapa warung remang dengan menu utama mie instant, penjual bakso keliling, dan sebuah resto yang di dominasi turis asing.
Banyak artikel yang mereview Bromo sebagai salah satu tempat terbaik untuk melihat sunrise. Then I prove it J. Subuh-subuh buta, saya tersaruk saruk mendaki penanjakan bersama ratusan turis lain, untuk menikmati sunrise. Hmm…saat sunrise tiba, saya seperti melihat gambar di kalender. Ada Semeru di kejauhan, lalu Bromo dengan kawahnya, dan Gunung Batok berdiri di samping, sedangkan padang pasir masih tertutupi kabut tebal menyerupai awan. Saya Cuma bisa bilang subhanallah.
Berurutan( depan ke belakang) : Gg. Batok- Gg. Bromo- Gg. Semeru

Selesai sunrise, saya langsung menuju Bromo. Komentar saya, Bromo itu seperti negeri di awan.  Apalagi ketika sudah sampai di puncaknya. Terlihat jelas hamparan padang pasir, sebuah kuil yang terletak di tengahnya, penduduk lokal yang berkuda, selimut kabut yang menipis. Amazing view!.
Perjalanan pulang jauh lebih lancar. ELF mulai beroperasi pukul 8 pagi. Saya angkat kaki dari Desa Cemoro Lawang sekitar pukul 9. Tiba Probolinggo, saya meneruskan naik bis ekonomi kembali ke Surabaya. Ongkos bis kelas ekonomi 15rb/orang sedangkan AC sebesar 25 rb/orang
Dua jam berlalu, saya tiba di Terminal  Bungurasih, Surabaya. Berdasarkan pengalaman saat pergi, saya naik bus dalam kota dari Stasiun Pasar Turi ke Terminal  memakan waktu hampir satu jam. Ngetemnya itu loh, ampun deh. Maka kali ini saya memutuskan naik taksi ke Stasiun, dan tada…hanya butuh waktu sekitar 15 menit. Minggu sore (lagi-lagi) antrian tiket kereta mengular. Saat tiba giliran saya, tiket kereta bisnis sudah ludes. Pulangnya saya kembali menggunakan Argo Anggrek dan kali ini keretanya cukup bagus dibanding saat pertama pergi. Menjelang keberangkatan pukul delapan malam, saya sempat ketemuan dengan teman di Surabaya, dan mencicipi nasi bebek di sekitar stasiun. Sepertinya sih khas daerah jawa timur. Dulu kuliah di Jogja, saya belum pernah ketemu yang beginian.
Mungkin memang ada takdir saya dengan tukang ojek. Mulai dari berangkat, tahu sendiri jumat sore itu berarti jalanan Jakarta macet mampus. Dari Pondok Labu, kami sepakat naik ojek sampai Gambir. Lalu di Bromo saya juga memanfaatkan jasa ojek desa menuju Penanjakan untuk  melihat Sunrise, dan dari Penanjakan sampai ke padang pasir di Gunung Bromo. Kebanyakan pengunjung menyewa jeep, tapi berhubung saya hanya berdua, tentu saja lebih hemat menggunakan jasa abang ojek. Sampai di Jakarta senin pagi,  dan sama seperti sore jumat, senin pagi berarti juga macet mampus. Dan lagi-lagi tukang ojek adalah penyelamat kami. Empat puluh menit kemudian sampailah saya kembali dengan selamat di kosan. Dan siap kembali bekerja.

Negeri Di Awan

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...