Thursday, December 27, 2012

Menyesap Kopi di Berbagai Belahan Bumi



Kopi, harum dan rasanya memang bisa membawa khayal melayang-layang, membawa kenangan silam melesat menembus mesin waktu.

Perjalanan dan cita rasa di lidah, kadang tak bisa disingkirkan satu sama lain. Keduanya bisa saling bertautan. Kopi, dengan segala label tempat yang mengiringinya: kopi toraja, kopi lampung, kopi aceh, kopi vietnam, kopi itali, kopi belitung, dan masih banyak lagi, menjadi minuman yang tak pelak harus dicoba kala berkunjung ke suatu tempat. Kadang, hanya dengan membayangkan rasa kopi tersebut, saya bisa merasakan seperti apa suasana hati kala perjalanan tersebut berlangsung. Semacam penanda rasa untuk mengingat.
Berbagai jenis biji kopi

Sebutlah tempat liburan yang paling lumrah dikunjungi orang Indonesia: Pulau Bali. Jikalau Kawan berkunjung ke Daerah Kintamani, selain menemukan Danau Batur, Gunung Batur, dan hamparan kebun jeruk dimana-mana, Kawan pun akan menemukan beberapa tempat peristirahatan (rest area). Uniknya, tempat ini menawarkan parade pengolahan kopi dan fasilitas ici-icip gratis kopi beserta minuman olahan lainnya. Di rest area ini juga terdapat miniatur kebun kopi dari berbagai jenis kopi serta tak ketinggalan sebuah souvenir shop.
Di tempat inilah untuk pertama kalinya saya melihat Luwak dari dekat. Binatang ini dilepas pada malam hari ini untuk berkeliaran di kebun dan memakan biji kopi. Siang hari mereka akan dikurung, sementara biji kopi yang keluar bersama pup dikumpulkan untuk diolah menjadi kopi termahal di dunia. Harga Kopi Luwak. berkisar 5-6 juta per kilogram. Dan untuk pertama kalinya juga, saya menyesap secangkir Kopi Luwak (khusus untuk kopi luwak pengunjung harus tetap membayar). Teguk pertama, mata saya langsung mengerjap. Bukan pahit. Saya merasa ada semacam proses fermentasi di dalamnya. Kopi Luwak cenderung berasa asem. Sebuah rasa yang mungkin hanya akan kaum manusia temukan pada biji kopi yang masuk ke saluran pencernaan Luwak terlebih dahulu.
Pengolahan kopi di Kintamani

Beranjak ke luar negeri. Apa yang paling saya ingat dari Vietnam?. Kopinya tentu saja. Kawan belum ke Vietnam kalau belum mencicipi kopinya. Walaupun hanya sempat berkunjung ke Ho Chi Minh City dan Hanoi, tetapi  saya mengamati, dan berani menyimpulkan bahwa kopi menjadi semacam minuman wajib dalam keseharian warga Vietnam. Analoginya, sesering orang Indonesia minum teh. Pengalaman 25 tahun tinggal di Indonesia, saya berani bertaruh 9 dari 10 orang Indonesia pasti minum teh minimal 1 kali dalam seminggu.
Saya menyaksikan banyak orang menenteng sebungkus kopi dingin di siang hari yang panas. Cangkir-cangkir kopi yang tergeletak di tiap sudut warung makan. Dan lumrah saya menemukan penjual minuman di kaki lima hampir di tiap 200 meter jalan, tentu dengan menu andalan: kopi.
            Subuh itu, saat udara masih terasa berembun, setelah sholat subuh saya beranjak meninggalkan hotel. Berbekal peta di tangan, pagi itu saya berencana mengitari bangunan-bangunan bersejarah di Ho Chi Minh: Reunification Palace, Ho Chi Minh City Hall, Opera House, dan Notre Damne Catheral. Cahaya matahari belum tampak kala saya berhenti pada seorang ibu yang menjual minuman di pinggir jalan. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan berbahasa tarzan, saya berusaha mengatakan bahwa saya menginginkan secangkir kopi susu panas, dan diterjemahkan si Ibu Penjual sebagai kopi pahit dingin untuk menemani subuh saya. Tak punya pilihan, saya menyedot kopi yang sudah tersedia. Wow!, rasanya tidak sepahit yang saya semula kira. Kombinasi plain kopi beserta es batu ternyata enak banget.  
Penjual kopi di Ho Chi Minh City

Saturday, December 15, 2012

Film of the Month: Life of Pi



Life of Pi, saya pun tergoda menonton film ini karena ocehan akun-akun di Twitter, meski belum sempat membaca review dan sinopsis film ini.     
Ekspektasi awal saya adalah animasi yang memukau dan cerita yang menghibur, seperti film Avatar. Setelah menonton, oke…saya lebih suka Life of Pi. Alur dan settingnya lebih masuk akal. In The end, saya sampai mikir aja, jangan-jangan cerita film yang diangkat dari sebuah novel ini base on true story.
            Film ini kaya akan dialog yang bagus. Cukup mudah dicerna, namun menghenyakkan. Yang kedua, di film ini tidak ada tokoh antagonis. Bagaimana menciptakan film ciamik yang mampu bermain dengan emosi penonton tanpa seorang atau beberapa orang tokoh antagonis ?. Yap, Ang Lee is Brilliant!.
            Dari beberapa review yang saya baca, ada yang menganalogikan bahwa hubungan Pi dan Richard Parker sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Saya sendiri memandang hubungan Pi dan Richard Parker, sebagai hubungan seorang manusia, dengan sesuatu yang liar dalam dirinya, katakanlah nafsu.
            Di awal film, saat Richard Parker dan Pi masih sama-sama kecil. Saat itu ia dimarahi ayahnya karena hampir saja memberi makan Richard Parker dengan tangan kosong. Dalam sebuah nasehatnya, si ayah menekankan bahwa Richard Parker tidak sama dengan manusia, ia tidak memiliki emosi. Apa yang dilihat Pi dari mata Richard Parker hanyalah pantulan emosinya sendiri.  “All you can see in his eyes is your own.”
            This film reflects me something. Bagaimana kita memilih untuk takluk dan mati karena nafsu sendiri, atau kita memilih untuk mengendalikan nafsu itu. Seliar-liarnya harimau, seliar-liarnya nafsu, kalau tahu bagaimana cara mengelolanya, kita bisa hidup bersamaan, tanpa harus ‘kalah’, tanpa harus ‘mematikan sisi kemanusiaan, Not to kill mankind of a man.
            Dalam usahanya bertahan hidup selama 227 hari, Pi berkata jika tidak ada Richard Parker, mungkin dia sudah (memilih) mati. Nafsu membuat manusia ingin terus bertahan hidup, sekeras dan segetir apapun jalan hidup yang dilalui. Semangat dan ketangguhan bertahan hidup sebagian besar datang dari sebuah keinginan, atau istilah kasarnya, nafsu.
            Iya, si Richard Parker lah si dua sisi mata pisau itu. Tanpanya, Pi mungkin sudah mati, tapi dengan Richard Parker pula, Pi bisa mati. This is all about to handle up your alter-ego.
            Okay, I should said “This is film of the month: Life of Pi.”

“All of life is an act of letting go but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye.”
- Life of  Pi

Monday, December 10, 2012

Imunitas



Pada suatu masa, ketika masih kuliah, saya ingat, saya pernah berbicara pada seorang kawan dekat.. Pada saat itu, saya sedang menderita sakit, sehingga harus sering kontrol ke RS Sardjito, Yogyakarta. Saya bilang pada teman saya “Kalau kau ingin bersyukur, datanglah ke rumah sakit. Ada banyak orang yang lebih tidak beruntung”. Tak hanya sekali, saya ingat beberapa kali saya  mengatakan dan menekankan hal tersebut pada kawan saya, terutama saat ia mengeluh soal hidup. Pada saat itu ada terpercik keinginan, untuk bekerja di rumah sakit. Sebuah usaha bertahan hidup sekaligus menabung amal untuk akhirat.
Bertahun-tahun kemudian, saya terlempar, bekerja di sebuah rumah sakit pemerintah. Mengabdikan diri. Kadangkala, saat perjalanan menuju rumah sakit, saatu rutinitas dan tekanan pekerjaan malah membentengi diri dari keinginan beribadah. Saya berusaha mengingat omongan saya bertahun-tahun silam tersebut. Apa Tuhan memberi kesempatan saya bekerja di rumah sakit ini agar saya setiap hari bersyukur?.
Dua tahun berlalu, keterbiasaan kerap membuat seseorang menjadi lebih kuat. Keterbiasaan menderita, keterbiasaan bekerja keras, keterbiasaan menghadapi sakit. Manusia punya daya adaptasi sangat-sangat baik, kalau belum bisa dikatakan terbaik, dibandingkan makhluk hidup lainnya di muka bumi ini. Self depend; imunitas bisa terbentuk dari paparan yang terus-menerus.
Mungkin itulah yang terjadi pada saya. Luka, kematian, darah, tangis. Semua normal dalam lingkungan rumah sakit. Saya pernah dengan enteng menikmati makan siang, di dalam gedung Instalasi Bedah Sentral, sambil menghirup bau daging hangus. Iya, sedang ada operasi di sebuah kamar yang pintunya terbuka dan tak jauh dari bagian farmasi.
Hampir setiap hari saya dengan enteng berjalan di ruang IGD yang hiruk pikuk, diantara rintihan kesakitan pasien dan tangisan beberapa keluarga yang menunggu. Saya? sedang sibuk twitteran. Bahkan di ruang resusitasi, saya bisa bicara santai ngalor-ngidur dengan perawat, sedangkan ada pasien dengan batok kepala nyaris pecah, darah berceceran, bernafas menggunakan breathing system.
Saat saya mondar-mandir dengan enteng melewat jenasah di IGD yang belum sempat di pindah ke ruang jenazah. Atau melihat pasien, kadang sambil what’s app-an, yang sedang di resusitasi jantung paru oleh dokter dan perawat.

Tuesday, December 4, 2012

Karena Uang Dua Ratus Perak.





Alkisah lima orang penjelajah dari Indonesia menjelang siang itu tiba di sebuah tempat peribadatan. The Big Buddha Phuket. Letaknya jauh di perbukitan. Syukurlah si skuter sewaan mampu mengangkut kami melewati jalan berliku lagi menanjak, namun untungnya mulus.
Sesampainya di The Big Buddha, para monks masih menjalankan ibadah di altar yang menghadap ke pintu. Di sisi kiri dan kanan dinding bangunan bertebaran patung, aneka ornamen, souvenir untuk dijual, poto-poto berbingkai, serta berbagai informasi berbahasa Inggris dan Thailand. Tak tertarik, saya langsung menaiki tangga menuju bagian yang lebih tinggi. The Big Buddha ada di sana. Selainnya, masih ada puluhan bahkan mungkin ratusan patung Buddha dengan berbagai pose. Ada pula patung Buddha yang terbuat dari emas.
Letaknya yang tinggi, di atas Bukit Nakkerd, membuat The Big Buddha menjadi tempat pilihan untuk menyaksikan city view Phuket. Puas berpoto, tentu saja dengan berbagai gaya dan latar berbagai pemandangan, saya kembali menuruni tangga. Beberapa monks sedang menikmati makan siang. Sisanya sedang melayani pengunjung;, beberapa masyarakat lokal dan turis yang sedang memberi sedekah. 
Para Biksu
Lalu dimulailah bagian paling menarik dari kunjungan ke Big Buddha ini. Mata saya tertuju pada sebuah kotak koin perdamaian. Seorang bapak sedang memilha-milah uang koin tersebut. Biasa kalau jalan-jalan dan  menemukan kotak berisi koin dari seluruh dunia, saya tak ingin ketinggalan sumbangsih untuk mengenalkan rupiah. Maka saya pun membukan dompet. Sayangnya tak banyak uang koin rupiah yang saya bawa. Ada dua ratus perak. Ya sudah, saya masukkan saya ke kotak tersebut. Bersamaan denga jatuhnya koin dua ratus perak tersebut, Si Bapak kaget, lalu menoleh ke saya. Ia kemudian mengambil koin yang tadi saya masukkan. “Where do you came from?”. “Indonesia”, saya jawab pasti. Dia lalu meneliti lagi seratus perak yang saya sumbangkan tadi. 
Koin dari seluruh dunia

Di luar dugaan, si bapak sangat appreciate dengan tindakan saya tersebut. Ia lalu memanggil beberapa orang, yang saya tebak sebagai bodyguardnya. Dan diajaklah kami semua berpoto bersama. Setelah berpoto, saya menyempatkan sebentar untuk membaca silsilah The Big Buddha. Dan betapa kagetnya saat saya menemukan sebuah tulisan berjudul “The Man Who Is Creating The Buddha Statue” disertai dengan foto dan riwayat hidup singkat si Bapak.

Friday, November 30, 2012

Dalam ribuan mil yang kutempuh
Ratusan pendar langit yang berubah
Berceceran rindu yang membuncah
dalam perjalanan menuju...kamu.

                                                             Jakarta, Oktober 2012

Wednesday, November 28, 2012

Apakah Insomnia Bikin Kurus?



Tubuh saya memang kurus, sejak kecil, remaja, sampai sekarang. Belakangan, teman-teman bilang saya semakin kurus. Pola makan saya baik-baik saja, stress pun tidak. Saya jadi mikir, apa mungkin karena akhir-akhir ini saya sering insomnia.
            Untuk membuat tulisan-tulisan di blog ini, saya rela bangun tengah malam kira-kira jam 12-an dan tidur subuh. Sebab saya baru bisa menulis dalam kondisi sangat sepi. Tak ada yang membayar saya untuk hal ini. Hanya sebuah keinginan, dan semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat.
            Kembali ke persoalan insomnia tadi. Gangguan metabolisme merupakan salah satu dari beragam efek buruk insomnia. Gangguan metabolisme tubuh inilah yang berakibat pada ketidakstabilan berat badan. Kalau yang berpotensi kurus, seperti saya, akan semakin kurus. Bagi Kawan yang berat tubuhnya gampang naik, insomnia dapat pula membuat size berat badan tambah besar.

apakah insomnia bikin kurus
Badan kurus karena insomnia?

            Mengapa ada gangguan metabolisme?. Organ-organ penyusun tubuh jelas memiliki kapasitas tertentu. Ketika kapasitas maksimal telah tercapai, ada saatnya organ-organ tersebut harus istirahat dalam kurun waktu tertentu.  Dan tidur akan memfasilitasi hal ini. Apa jadinya kalau kuantitas tidur sangat minim?. Ya...seperti Kawan kalau masih ngantuk tapi dipaksa bangun. Lemes dan tidak bergairah. Pada organ tubuh, ibarat mesin yang bekerja tersendat-sendat, produktivitas dalam memetabolisme pun tidak optimal.
            Padahal energi yang kita miliki disediakan dari proses metabolisme baik secara anabolisme maupun katabolisme. Bisa Kawan bayangkan, jikalau gangguan metabolisme yang terjadi menyebabkan kekurangan energi. Tubuh lalu memecah cadangan lemak untuk memperoleh kekurangan energi. Jumlah lemak akan berkurang terus dan tubuh semakin kurus. Di samping itu, adanya gangguan metabolisme enzimatik menyebabkan pemecahan makanan tidak maksimal. Sehingga penyerapan nutrien ikut tidak maksimal. Dan lagi-lagi bikin tambah kurus.
Baiklah Kawan..., kalau begitu saya harus memperbaiki siklus istirahat. Semoga tidak semakin kurus :)
           

Sunday, November 25, 2012

"Mau jadi apa kamu?"



Bangun tidur di siang hari, di hari minggu, tanpa jadwal apa-apa, dan belum mandi. Terseok-seok saya ke kamar mandi. Gong di telinga saya kembali berdengung. Seperti pagi senin. Seperti pagin selasa. Seperti pagi rabu. Seperti pagi kamis. Seperti pagi jumat.

“ Mau jadi apa kamu?”

Ini bukan pertanyaan yang diajukan kepada anak SD, bukan juga pada anak SMA yang akan masuk kuliah. Saya sudah melewatinya. Saya sudah kuliah. Alhamdulillah tepat waktu. Saya bekerja. Pekerjaan saya sangat sesuai dengan jurusan ketika saya menempuh kuliah dulu.

Akan tetapi ini bukan persoalan itu semua. “Mau jadi apa kamu?” semacam pertanyaan yang digulirkan gong tersebut, menganulir otak saya, membangunkan semacam keresahan.

“Mau jadi apa kamu?”

Semakin terdengar nyaring di pagi hari, saat saya berada di lini kesenggengan diantara segala aktifitas kerjaan yang menyita waktu.

“Mau jadi apa kamu?”.

Yang saya maksudkan di sini adalah: apa yang akan terjadi pada saya 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? Semenjak saya dari awal bertekad tidak ingin menghabiskan hidup saya seumur hidup bekerja di rumah sakit. Tidak perlu mengalaminya sendiri. Saya mengamati apa yang terjadi rekan-rekan kerja saya. Dan saya yakin bahwa saya  menginginkan hidup yang lebih baik dan ‘lebih hidup’. 


Bukan. Ini bukan soal kebosanan akan rutinitas. Jikalau cuma tentang bosan, saya hanya butuh  refreshing.

“Mau jadi apa kamu?”

Semacam berbagai atribut yang mendadani saya menjadi sesosok karakter dalam modernitas dunia. Kelak rumah saya dimana, bagaimana, ruang lingkup pergaulan saya, siapa suami saya, pekerjaan saya, kebermanfaatan saya, income, passion, impian, ambisi, dan eksistensi.

Maybe I need some or maybe just one life altering event(s).

Entahlah, saya kadang muak mencari-cari alasan. Hanya menunggu life altering event itu datang, tentu saja sebuah kegiatan yang sia-sia.

“Mau jadi apa kamu?”

Saya belum tahu secara jelas, gamblang, dan detail, tentu saja dengan mengesampingkan segala khayalan absurd saya yang sering muncul di antara mimpi malam hari dan lamunan siang bolong, apa yang akan terjadi pada saya 5 atau 10 tahun mendatang.
Iya, impian saya bisa meloncat dari satu pohon ke pohon selanjutnya. Tapi ya saya ini makhluk terrestrial, masih di bawah, berusaha merangkak, memanjat, mencari tali, melompat, menggunakan tangga untuk suatu saat kelak memcapai puncak pohon.

Etapi tunggu dulu, memang tinggi pohonnya seberapa?

Saya tidak tahu.....

“Mau jadi apa kamu?”

Thursday, November 22, 2012

Doa Pagi

Dan masih pagi yang sama,
Perasaan yang membuncah,
Doa yang dikendalikan rasa,
Angan yang terlalu menjulang,
Cerita khayal yang dikarang-karang,
lalu seribu rapal doa aku persembahkan, agar khayal ini mewujud nyata.

Bukankah harusnya doa yang mengendalikan rasa?

Apakah aku salah, wahai Maha Pendengar doa?

PIkiran dan rasa itu dua hal yang saling bertolak belakang.
Satu dirajai otak
satu dirajai entah alam bawah sadar, entah nafsu, entah naluri.

Wahaui Maha Penggenggam segalanya,
dan segala isi semesta yang pagi ini berdzikir.
Ajarkan aku demikian,
mejadi bijak,
perlahan dewasa,
berdoa yang terbaik,
lalu mengendalikan rasa.

Dan segenap pagi,
aku persembahkan untuk doa.
doa
doa
doa
...dan semoga doa yang menyelamatkan hariku.


Wednesday, November 21, 2012

Jejak Kaki

Jejak kaki ini akan tetap sama,
Meski arahku berputar
Meski kepalaku tak lagi memiliki konsep yang sama

Perjalanan ini akan tetap meninggalkan jejak kaki yang sama
Meski pertarungan waktu semakin menipis...
Meski jumlah hari terus berkurang
Meski keyakinanku harus tergempur

Tapi ini adalah perjalananku
...dan hanya jejak kakiku yang tertoreh di sana

Footprint

Wednesday, November 7, 2012

Dua Tahun



Dua tahun ini, ada banyak kehilangan yang saya hadapi, ada banyak sabar yang harus saya pupuk. Sabar yang untunglah menjaga saya untuk tetap berjalan pada jalurnya.  Entah tersesat atau bukan, yang jelas saat ini saya merasa bahwa inilah jalan terbaik yang bisa saya tempuh. Dengan kondisi emosi dan pemikiran yang masih sangat labil, saya bersyukur saya masih sesabar ini.
Dua Tahun ini, ada banyak kesempatan, menginjak tempat-tempat baru, berkenalan dengan orang-orang, menikmati alam, bercengkrama dengan sahabat, menolong orang-orang sakit. Ada begitu banyak syukur yang saya rasakan. Nikmat, bahagia, sebuah rasa terima kasih.
            Dua tahun ini, Allah memberi saya begitu banyak rasa syukur dan sabar. Syukur dan sabar: dua hal yang mutlak akan dirasakan seseorang secara bergantian sepanjang hidupnya. Dua tahun belakangan, antara terasa dan tidak terasa, saya berhasil melaluinya.  Dua tahun dalam usia peralihan menjadi manusia dewasa seutuhnya.
Dan rasanya dua tahun ini sudah cukup. Memiliki pengalaman sama yang tumpang tindih hanya akan mengurangi makna; menghilangkan esensi pengalaman itu sendiri. Sudah saatnya bagi saya mengambil keputusan yang lain. Mengejar mimpi-mimpi dan harapan yang masih menggantung di awang-awang. Merasakan aroma, merasakan atmosfer, merasakan kehidupan lain,
            Kini saatnya merancang dan melaksanakan yang belum terlaksana. Semoga Engkau, Sang Pemilik Kehidupan,  selalu merahmatiku. Aamiin ya rabbaal alaamiin.

Tuesday, November 6, 2012

Morning Problem

When I was child, Its annoyed me if somebody yelled to me " Wake up RIka".
Then may years passed, this morning I really miss hearing a human voice to wake me up rather than hearing a-remote machine called alarm.

Saturday, November 3, 2012

What Makes You Smile?

          
            Ada banyak hari yang bisa kita lewati, kadang tanpa makna. Kadang penuh makna. Kadang pula kita bisa belajar dari hal-hal kecil, namun bermakna besar.

Hari ini saya pulang kantor, sambil tersenyum simpul, mengendari scoopy biru kesayangan saya. What makes me smile? Kejadian ringan sebenarnya, ada seseorang yang membantu saya yang kesusahan mengeluarkan si Scoopy yang terhimpit di parkiran, berdesakan di antara sepeda motor lainnya. Begitu pun kemarin pagi, saya melangkah memasuki gedung rumah sakit dengan perasaan senang, ada seorang bapak membantu menggeser sepeda motor yang membuat saya kesulitan meletakkan si Scoopy pada tempatnya.
*

Sedikit berbagi pengalaman, saya lupa di tahun berapa, akan tetapi saya masih ingat betul kejadiannya. Di Damri, dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Gambir, saya berkenalan dengan seorang lelaki paruh baya, sudah pantas saya sebut bapak. Obrolan kami tak lama, hanya berlangsung sekitar 20-30 menit. Sesampainya di Gambir, si Bapak menuju Pasar Baru, sedangkan saya yang saat itu masih kuliah, akan meneruskan perjalanan menggunakan kereta menuju Yogyakarta. Sebelum berpisah, si Bapak memberi saya uang 100 ribu rupiah. Untuk jajan, katanya. Pada saat itu saya hanya terbengong, bahkan bilang terima kasih pun tidak sempat. Si Bapak keburu pergi. Sayakah yang terlihat terlalu menyedihkan, atau si bapak yang memang baik hati? Saya memilih untuk percaya pada opsi kedua :p.

Di tengah kesulitan, pasti ada kemudahan. Tahun 2007 akhir, saat saya menerima kabar ayah di panggil Yang Maha Kuasa, maka saya harus pulang ke rumah apapun yang terjadi. Saya berhasil sampai di Soekarno Hatta pagi hari. Dalam kondisi yang demikian tiba-tiba, saya belum punya tiket ke Jambi. Saya pun lalu bernegosiasi dengan seorang calo tiket. Melihat saya yang kebingungan, dengan mata sembab dan linangan airmata yang masih tersisa di pipi, si bapak malah mundur.
“Udah neng, jangan beli di calo, beli di counter saja. Kasian si eneng”, ujar si bapak calo tiket.  
Ada lagi cerita di awal tahun 2009, saat saya bersama seorang kawan melakukan perjalanan ke Karimun Jawa. Perjalananan nekad sebenarnya. Saya tidak menyusun itenirary, gak pakai tour guide, dan informasi yang sangat minim.  Di kantong, saya hanya membekali diri dengan uang sebesar 200 ribu. Betapa kaget saya ketika sampai. Ternyata di sana belum ada ATM. Untuk kegiatan perbankan, hanya ada sebuah BRI unit, yang tentu saja tutup di kala week end. Pada saat itu penginapan termurah di Karimun Jawa berkisar 60 rb/malam. Masalah bertambah saat satu-satunya kapal penumpang yang menghubungkan Karimun Jawa dan Jepara rusak. Sehingga mau tidak mau saya harus memperpanjang liburan. Pun di sana tidak ada listrik, hanya generator yang menyala mulai pukul 6 sore sampai 6 pagi. Penggunaan alat bertenaga listrik, semacam handphone dan kamera harus sangat dihemat. Soal makanan, jangan harap bisa berwisata kuliner di Karimun Jawa. Waktu itu saya hanya berhasil menemukan sebuah warung makan. Warung ini berada di dekat alun-alun yang terletak bersebelahan dengan dermaga, dan dalam pengamatan saya lebih cocok disebut warung kopi. Dengan segala keterhambatan tersebut, saya gak bisa membayangkan apa yang terjadi pada diri saya.
Tapi memang ada saja jalan, saya dan kawan akhirnya menginap di rumah penduduk. Tak hanya menyediakan tempat tinggal, si Ibu tuan rumah ini juga mempersiapkan hidangan, 3 kali sehari dan merupakan variasi menu makanan laut yang enyaak. Dan dengan segala kebaikan hatinya, si Ibu juga mempersilahkan saya menggunakan motor dan menumpang kapal berkeliling ke pulau-pulau sekitar.

Tuesday, October 30, 2012

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 6 - Kota


Pecinan di Hari Jumat


Judul: Pecinan di Hari Jumat

Klenteng,sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia (Wikipedia, 2012). Klenteng mudah kita temui terutama di daerah Pecinan yang tersebar di seluruh Indonesia. Hari Jumat siang yang terik, saya nekad mengelilingi daerah pecinan di daerah Kauman, Kota Semarang. Rupanya nuansa Jumat siang yang sepi, saat umat muslim menjalankan ibadah sholat Jumat, juga terasa di daerah ini. Terlihat seorang bapak berjalan seusai sholat Jumat. Setelahnya, pembeli mulai berdatangan, pedagang dan sejumlah pertokoan terlihat ramai, aktifitas perekonomian kembali bergulir.


NB: foto ini diikut sertakan dalam turnamen foto perjalanan ronde 6- Kota



Wednesday, October 24, 2012

Rindu Kamu

Pada sebiru rindu yang mengabu
Pada setitik hati yang kadang beku
Pada seurai simpul yang dulu terurai
Pada hujan yang jatuh rinai

Pada secercah cahaya yang berasal dari satu titik tanpa api
menghilang, meredup, namun kekal

Ah aku rindu Kamu, Tuhanku...

dalam kekekalan, keserhanaan, keresahan, kecapaian, ketakmengertian.
Demi Tuhan, aku rindu Tuhanku...

Friday, October 12, 2012

Luka Lebih Cepat Sembuh dengan Lidah Buaya



Tak hanya hati, kulit pun bisa terluka. Entah tergores, lecet, tergencet, atau apalah. Kulit yang luka sungguh mengganggu, baik fisik maupun kosmetis. Saya sering mendapat pertanyaan dari teman-teman mengenai obat bahan alam yang dapat mengembalikan kulit menjadi normal.
            Saya jawab dengan pasti Aloe vera atau lidah buaya. Alasannya, tanaman ini mudah diperoleh, efektif, murah, dan penggunaannya pun gampang. Sejak dahulu kala, --sebaiknya kita jangan pernah meremehkan peradaban masa lalu-- resep lidah buaya menjadi andalan perawatan kulit. 
            Lidah buaya mempercepat proses pemulihan kulit dengan mengurangi inflamasi atau peradangan sehingga luka cepat mongering. Tak sampai di situ, lidah buaya juga mempercepat perbaikan jaringan kulit (regenerasi). Pada luka akibat terbakar rata-rata penyembuhan sekitar 40 hari, sedangkan pada luka yang lebih ringan sekitar 20 hari.
Kawan mau coba?? Ambil saja bagian daun lidah buaya. Belah hingga terlihat bagian gel yang bening. Bagian gel inilah yang dioleskan pada kulit yang terluka. Selama beberapa saat Kawan akan merasakan sensasi dingin gel tersebut pada kulit yang luka. Akan tetapi tips ini tidak saya sarankan untuk Kawan yang menderita luka cukup parah dan perlu penanganan khusus.
Efek lain yang menonjol dari lidah buaya adalah kemampuannya mengurangi eksim. Mannan, nama senyawa yang diyakini memiliki kemampuan tersebut, saya bahas pada tulisan berikutnya. [RIKA]

Wednesday, October 10, 2012

Partikel dalam Selimut Debu




Dua malam berturut-turut untuk 2 buku tebal ini: Partikel dan Selimut Debu. Benar-benar menguras pikiran dan tentu saja waktu tidur saya yang jadi lebih pendek. Kerja sampai terkantuk-kantuk. But I can’t stop.  Benar-benar candu.
            Partikel, masuk dalam genre science fiction, terkesan sangat superior, bombastis, dan jauh dari jangkauan kehidupan sehari-hari. Sedangkan Selimut Debu bagi saya buku yang sangat humanis. Sumpah, saya jatuh cinta dengan Agustinus Wibowo.
            Dari kedalaman kesan yang saya peroleh, jelas Selimut Debu pemenangnya. Membaca buku ini membuat adrenalin saya membuncah. Membangunkan keinginan untuk mengelilingi dunia.  Menambah besar rasa penasaran terhadap Asia tengah. Menyematkan dalam hati: Someday, I’ll go there.
Agustinus menulis berdasarkan pengalaman, sedangkan Dee menulis berdasarkan riset. Tulisan yang dibangun dari sebuah pengalaman, jelas berbeda. Ia seperti hidup dan punya roh.
Andrea Hirata misalnya, kematangan gaya bahasa dan plot dalam buku terakhirnya Padang Bulan memang patut diacungi jempol. Namun bagi saya, Laskar Pelangi tetap yang paling berkesan. Ceritanya benar-benar hidup. Potretnya dapat saya bayangkan dengan jelas. Saya menangis berurai airmata membacanya.
            Membaca Partikel, saya seperti kehilangan cita rasa Dee. Memang Dee berhasil membangun plot cerita yang hebat. Saya membaca selesai magrib, dan menunda makan malam sampai hampir pukul 12, saat lembar terakhir Partikel berhasil saya tuntaskan. Gaya bahasa yang indah, cita rasa khas Dee yang sebelumnya saya nikmati dalam Madre, Filosofi Kopi, Perahu Kertas,  serta serial Supernova sebelumnya. Terus terang saya agak kecewa. Kalimat-kalimat Dee yang indah, itulah yang selalu saya tunggu. Itulah yang membedakan ia dengan penulis-penulis lainnya.
            Partikel bagi saya seperti film garapan Steven Spielberg, sementara karya-karya Dee sebelumnya lebih mirip film garapan Garin Nugroho. Partikel itu bombastis, brillian, dan sangat cerdas. Tapi ada bagian yang hilang, keindahan dan kesederhanaan. Hal yang hanya bisa didapat dalam film-film Garin Nugroho.
Dalam kacamata saya, Partikel merupakan The Da Vinci Code versi Indonesia. Dan sangat banyak mengingatkan saya pada sebuah novel di tahun 2000-an, berjudul Area-X karya Eliza V. Handayani. Ia menulis novel tersebut saat masih duduk di bangku SMA. Karya hebat untuk anak seumurannya. Sayangnya sampai sekarang ia tak pernah muncul lagi.
            Lebih dari itu, dua hari berturut-turut membaca buku seperti ini, memang benar-benar membangunkan keresahan dalam diri. Meski dari dua genre yang berseberangan, science fiction dan catatan pengalaman, tapi apa yang saya tangkap dari dua buku ini hampir sama. Soal pencarian arti jati diri, makna hidup, perjalananan, keberanian, takdir, dan Tuhan.

Tuesday, September 18, 2012

Menelusuri Benang Merah


Well, the clock is ticking. Dan semua orang, pasti pernah mengejar cinta. Teman saya bilang, target dia tahun ini adalah bertemu calon suami. Target saya tahun 2011 kemarin adalah menemukan soulmate.
Dan 2011 sudah berlalu, saya percaya harapan saya itu mungkin sudah terkabul.
Mungkin orang yang saya cari itu, sudah pernah berpapasan dengan saya di bandara, mungkin dia pernah tinggal satu kota, mungkin dia pernah makan di tempat yang sama dengan saya, atau mungkin dia pernah menuntut ilmu di tempat yang sama dengan saya. Ya ada beratus-ratus kemungkinan. Yang jelas, ini hanya soal membukakan jalan, menyadari, menemukan titik sambung, bahwa dia adalah orang yang saya cari.
            Menilik hubungan saya yang dulu-dulu, memakan waktu tahunan namun akhirnya kandas juga. Mungkin ini yang orang-orang bilang ‘belum jodoh’. Tapi kalau mau di logika, ketika teman saya bertanya, apakah jika cinta lama saya kembali, saya akan menerima lagi?. Nope, thanks. Saling sayang dan nyaman gak cukup untuk sebuah pernikahan. Dua hal terakhir sudah saya peroleh dari hubungan yang terdahulu, tapi nikah butuh lebih dari itu. To handle up the commitment together. Its not easy way. Terutama bagi orang sekeras kepala saya. Bukan soal saling menyetir satu sama lain, tapi untuk berjalan beriringan. Kesamaan visi dan misi dari komitmen itu sendiri.
Saya pernah membaca tulisan, dari sisi pandang agama, mungkin keterhambatan soal jodoh, atau saya lebih senang menyebutnya sebagai soulmate adalah karena kurang sedekah, mungkin terlalu pelit, karena ibadah yang belum sempurna, atau karena kita pernah berbuat salah pada seseorang, dan ia belum memaafkan kita. Ada kekurangan atau kesalahan yang mengaburkan pencarian benang merah ini.
Mungkin memang harus ada yang diperbaiki, dan kami saling bertanya masing-masing. Bukankah untuk memperbaiki, maka kita harus tahu duduk persoalannya seperti apa.
            Menilik dari sesi religi, teman saya ini cukup taat beribadah, yah kalau dibandingkan dengan saya. Tapi habluminannas-nya, saya bilang mungkin ia pernah tak sengaja menyakiti seseorang, atau bsia saja ada maaf yang mungkin belum diperoleh.
            Saya sendiri merasa, sebagai orang cenderung antisocial, habluminannas saya memang tidak begitu memuaskan. Dan semenjak bekerja, larut dalam rutinitas tiada akhir, tenggelam dalam situasi nyaman, God spot saya mengabur, habluminallah saya semakin jauh.
            Menelusuri benang merah itu, sangat berkaitan dengan fate, takdir, jalan hidup, apapunlah namanya.  Mungkin Allah belum membukakan jalan untuk saya menelusuri benang merah yang ada. Atau mungkin jalannya selalu terbuka, hanya saja tidak terlihat. Bisa jadi proses ini merupakan bagian dari tahap menelusuri benang merah tersebut guna menyingkap sedikit demi sedikit jalan yang masih kabur ini. Gud luck kawan… (dan juga untuk diri saya :))

Saturday, September 15, 2012

City Tour Ho Chi Minh City




backpacking ke ho chi minh city vietnam
Salah satu sudut kota

Ho Chi Minh City (HCMC), formerly known as Saigon, dulu saya bayangkan seperti kota dalam kebanyakaan setting film Jacki Chan: sempit, ramai oleh sepeda dan motor yang saling menyalip,  bangunan berdempet-dempet, dan sesak pedagang kaki lima di bahu jalan.
            Sesampainya di sana, well.. bayangan itu mungkin dapat saya temui jika saya berkunjung 10 tahun yang lalu. HCMC ternyata tidak sesemrayut yang saya pikirkan. Meski kalah dengan Jakarta dari segi infrastruktur dan gedung pencakar langit, but IMO, HCMC lebih bersih. Hanya di tempat tertentu, seperti terminal atau pasar, idem semrawut dan kotornya. Soal traffic, ternyata macetnya juga gak separah Jakarta loh.
            Sebagai mantan koloni Prancis, di HCMC masih banyak tersisa bangunan tua , bersejarah,  dengan arsitektur menawan, dan terawat baik. Satu aspek yang bikin saya (dan mungkin banyak wisatawan lainnya) penasaran untuk berkunjung ke HCMC. 

*foto-foto merupakan koleksi pribadi

backpacking ke ho chi minh city hall
Ho Chi Minh City Hall

backpacking ke ho chi minh city notre dame
Notre Dame Catedral dari sisi samping

backpacking ke ho chi minh city notre dame
Notre Dame Catedral dari sisi belakang

Wednesday, September 12, 2012

Belari Menuju Kebahagiaan


Berlari menembus awan
menempuh ribuan tantangan
menata harapan
menjelajah ketamakan
dan berkubang pada kekotoran

Berlari menembus hujan
berserabut lumpur
menjejak pada keserakahan
tersungkur pada rotasi bumi

..............aku ingin menjadi orang berguna
dan tentu saja tetap bahagia

melompat-lompat pada kibaran awan
berjerumut luka
memuntab tawa
bersumpah serapah makian

...............aku tetap akan berlari
dimana kebahagiaan itu ada
akan tetap aku cari
sampai waktuku tlah tiada

tertawa,
merasakan seluruh aliran darah mengalir deras
oksigen menjadi berkabut dan berbau harum.
bukan harum surga. bukan kabut buta.
Tapi kabut selapis tipis.
Menutup sebagian derita.
Mengganti sedikit kenyamanan.
Membawa bulir-bulir uap cinta. Hal terindah yang pernah turun ke bumi

cinta pada hal-hal yang membuat aku selalu jatuh cinta pada kehidupan.

Aku akan berlari menuju kebahagiaan.

Pastikan aku, Tuhan...


Saturday, September 8, 2012

Belajar Beryukur

Tak hanya mengeluh
marah-marah
misuh-misuh pada Tuhan,
Lalu terjebak.

Tak hanya bermenung
menyesali
Lalu membenci kekinian yang dimiliki

Tak hanya memikirkan yang tak berhasil
sedih
lalu menyumpahi apa yang telah diberi

Apa yang datang
Apa yang pergi
Apa yang lepas
Apa yang lalu dimiliki
Apa yang menjadi ingin
Apa yang berbentuk kenyataan
Tak lepas dari ketidakseimbangan

Itulah wujud kehidupan
...Karena ini bukan tentang negeri dongeng...

Monday, September 3, 2012

Sulitkah Menurunkan Berat Badan ?


Pertanyaan yang juga kerap diajukan kawan dan kerabat adalah bagaimana menguruskan badan, dengan cara cepat dan alami. Karena saya tidak pernah gemuk, saya tak tahu bagaimana sulitnya menguruskan badan. Kalau saya sendiri, cukup sakit 2 hari, bisa turun 3-4 kg.
Pertanyaan tambah pelik karena kawan saya bilang ia ingin kurus secara instant, alami, aman, dan tanpa olahraga atau exercise apapun. Di jaman kapitalisme ini, tak langka menemukan berbagai produk pelangsing berbahan baku alami. Saya sarankan teh hijau dan daun jati belanda. Pada teh hijau ada senyawa bernama tannin, yang memberikan rasa pahit. Saat dikonsumsi tannin dapat melapisi lambung, sehingga penyerapan makanan akan terhambat. Di sisi lain, daun jati belanda memiliki efek diuretik (melancarkan buang air kecil). Dengan cara ini, maka daun jati belanda akan mempercepat metabolisme dan memperbanyak eksresi. Tetapi hati-hati Kawan, terlalu banyak diuretik dapat membahayakan ginjal.
Kawan saya bilang lagi kalau produk-produk pelangsing tersebut tak banyak membantu. Saran saya sih asupan gizinya yang diatur. Berkaca pada pengalaman sendiri, saya kurus dan tidak semua anggota silsilah keluarga kurus, artinya saya tetap bisa gemuk. Tak perlu diet habis-habisan. Porsi makan saya banyak, tapi saya tidak suka ngemil. Bagi saya ngemil itu capek, tidak mengenyangkan, dan buang-buang tenaga.  Saya cukup makan pagi, siang dan malam. Kebanyaka teman saya dengan kelebihan berat badan, porsi makannya justru lebih sedikit, akan tetapi mereka mengunyah terus sepanjang hari. Jadi opsi  pertama untuk kurus adalah tidak ngemil!.
Tips kedua adalah teratur berolahraga. Saya tergolong orang yang rajin berolahraga, dan ini yang membuat saya sebal, sebab olahraga kerap membuat program penggemukan badan saya gagal total. Dan joging adalah olahraga yang biasa saya lakukan selain aerobik. Lupakan soal seberapa banyak kalori yang terbakar dan percepatan metabolisme yang terjadi. Alasan saya berolahraga simpel, saya ingin santai, refreshing, murah, dan tidur nyenyak di malam hari.
Yang terakhir, Kawan bisa kembali ke topik awal tadi, meminum suplemen pelangsing. Baca aturan pakai, jangan sampai overdosis, perhatikan efek samping dan interaksinya pada penyakit tertentu.
Jadi…sulitkah menguruskan badan, Kawan? [RIKA]

Thursday, August 9, 2012

The Most Critical Moment in Yourlife


Senja dua minggu lalu, di musholla Taman Ismail Marzuki (TIM), saya sedang mengantri menunggui seorang perempuan yang sholat tepat di sebelah saya. Selesai sholat, ia tak langsung meninggalkan musholla. Perempuan tersebut berdoa, kelihatan sangat khusuk dan cukup lama, hampir dua puluh menit lebih, serta diakhiri dengan bersujud yang juga tak kalah lama. Ketika ia membuka mukenanya, saya melihat perempuan muda, cantik, dengan pakaian seksi. Sambil memberikan mukenanya kepada saya, wanita itu berujar “Maaf ya mbak, nungguinnya lama”. Jahatnya, waktu itu memang dalam hati saya sempat dongkol.
            Tiga jam kemudian, saya sadar, bahwa perempuan yang tadi sholat di samping saya, adalah salah satu performer dalam pertunjukkan teater malam itu.

                                                                                    *
Hampir tiga bulan yang lewat, itulah dini hari terpanjang yang saya alami seumur hidup saya. That was mymost critical moment in this year, I thought.

“Saya dokter jaga bagian neurologi. Ibu Anda tiba-tiba tidak sadarkan diri, kami belum tahu pasti penyebabnya apa, tapi kemungkinan kanker sudah menyerang otaknya.”
Masih pukul dua dini hari, setelah membaca yasin, saya menemui dokter jaga bagian penyakit dalam yang selama ini menangani ibu. Saya jelaskan, bahwa ibu saya sejak kemarin menyebut-nyebut nama kakak saya, mungkin ibu masih ingin ketemu kakak saya. Saya menginginkan dokter melakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP) dan intubasi jika terjadi henti nafas.
“Nanti saya tanyakan dulu bagian anestesi, karena yang akan mengerjakan intubasi adalah bagian anestesi”, jawab si dokter.
            Jelang beberapa saat, saya kembali dipanggil, kali ini oleh dokter jaga bagian anestesi.  Ia mengajak saya duduk, dan lalu berbicara:
“Saya punya dosen, seorang professor, yang pernah mengalami tindakan intubasi. Dia bilang bahwa intubasi itu sangat sangat sakit. Dan dia tidak menginginkan hal itu terjadi lagi pada dirinya.”
            Saya diam, masih dengan kekalutan. Si Dokter menambahkan lagi “Setelah di intubasi, pasien harus masuk ICU, bisa sampai berminggu-minggu dan berbulan-berbulan. Dan nanti kalau akhirnya, maaf, ibu harus pergi juga. Bukankah hanya akan menyiksa? Kita sama-sama orang medis, dan kita sama-sama tahu bahwa hanya sebuah keajaiban yang bisa menyembuhkan ibu Anda. Kalau hal ini terjadi pada keluarga saya, saya akan membiarkan ibu saya khusnul khotimah, meninggal dengan tenang.”
            Saya bilang, saya minta waktu sebentar. Saya telpon kakak yang masih di seberang pulau dan akan berangkat dengan pesawat pertama pukul 06.00. Dalam keadaan panik, kakak saya bilang semua terserah saya. Lalu saya telpon kakak saya yang satu lagi, dan jawabannya sama.
Demi Allah, rasanya mengerikan saya harus memutuskan tindakan menyangkut hidup mati orang yang paling saya sayang. Di rumah sakit, saya berdua dengan ‘si Mbak’ yang biasa jagain ibu. Kepada siapa lagi saya harus bertanya?
            Setelah membaca yasin entah untuk keberapa puluh kalinya, saya minta tolong si Mbak jagain, saya mau sholat subuh dulu.
            Saya lalu menuju musholla yang terletak di lantai dua. Waktu bergerak amat lambat, langit di luar masih gelap, dan saya belum memutuskan apa-apa.
Saya sholat, saya membaca bacaan sholat, saya membaca surat-surat Al-Qur’an. Lalu seperti yang selalu saya lakukan selesai sholat, saya tak lupa berdoa. Di titik itu, saat itu, rasanya Allah sangat dekat, lebih dekat dari urat nadi di leher. Saya menutup mata, seraya berbisik pada Allah, semoga saya masih diberi kekuatan. Cukup lama untuk membuat mata serta dada saya memanas dan sesak.
            Selesai sholat, saya turun kembali ke bawah. Saya temui dokter jaga, dan menandatangani inform concern. Selang beberapa saaat, seorang perawat mendatangi ibu saya dan memasang gelang bertuliskan DNR (Do Not Resusitation).

Wednesday, August 1, 2012

Obat-obatan Dapat Memicu Stroke?*


Oleh: Rika Melati

Tiap tahunnya Food and Drug Administration (FDA) Amerika melaporkan terjadi 200-400 kasus stroke hemoragik yang dikaitkan dengan penggunaan phenilpropanolamin (PPA).

            Pada tanggal 6 November 2000, FDA mengumumkan pelarangan peredaran produk obat yang mengandung PPA di Amerika. FDA merupakan Badan POM milik Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri PPA masih banyak ditemui di pasaran sebagai salah satu bahan aktif dalam obat flu. Alasan Badan POM mengizinkan penggunaan PPA karena dosis yang relatif kecil yaitu 15 mg. PPA pada dosis tersebut berfungsi untuk melegakan hidung tersumbat (dekongestan). Memang alasan penarikan PPA di Amerika karena PPA terkandung dalam obat pelangsing yang dikonsumsi dengan dosis 75-150 mg/hari. Pada dosis tersebut PPA bekerja menekan nafsu makan pada Sistem Saraf Pusat di otak. Bahkan pada beberapa kasus stroke yang terjadi di Amerika, korban mengkonsumsi PPA dengan jumlah overdosis (300-350 mg/hari).
            Mekanisme kerja PPA dengan menciutkan pembuluh darah (vasokonstriksi). Pada dosis kecil (15 mg), efeknya terlokalisir pada hidung. Tetapi pada dosis besar, dapat terjadi vasokonstriksi sistemik di seluruh tubuh. Sehingga akan menyebabkan kenaikan tekanan darah yang signifikan dan dapat memicu pecahnya pembuluh darah otak alias stroke hemoragik.
            Selain PPA, beberapa obat bebas seperti efedrin dan pseudoefedrin juga disinyalir mampu memicu terjadinya stroke. Efedrin dan pseudoefedrin banyak terdapat pada obat flu yang berfungsi sebagai dekongestan. Di samping itu efedrin dan pseudoefedrin juga dapat berefek sebagai stimulan yang bekerja di Sistem Saraf Pusat. Dalam jumlah berlebih, stimulan dapat menaikkan tekanan darah secara signifikan. Sebuah penelitian di Meksiko mengevaluasi 2500 kasus stroke. Diantaranya 22 kasus stroke disebabkan karena mengkonsumsi PPA, efedrin, dan pseudoefedrin. FDA Amerika pun pernah mengajukan usulan untuk menarik efedrin dari pasaran, namun usulan tersebut ditolak.
            Efedrin merupakan golongan senyawa alkaloid yang berasal dari tanaman Epedra sinica. Di China dikenal dengan sebutan tanaman Ma Huang dan cukup sering digunakan dalam racikan obat tradisionalnya. Bagi Anda terutama yang mengidap hipertensi dan gemar berobat dengan chinese medicine usahakan untuk berhati-hati dan selalu memperhatikan komposisi bahan yang terdapat di dalamnya.

Saturday, July 28, 2012

Tentang Sakit


Saya bekerja di rumah sakit, setiap hari saya melihat orang sakit. Gak memandang usia, gak memandang cantik/ganteng, gak memandang uang, gak memandang pendidikan. Mau dokter, professor hebat, bahkan jutawan sekalipun. Nobody can deny illness.
Dulu saya mikir, kenapa sih Allah menciptakan penyakit. Apalagi untuk penyakit tertentu yang belum diketemukan obatnya. Misalnya kanker, memang sih sudah ada beberapa alternative terapi, tapi untuk menyembuhkan 100%. I’m not sure..
Kadang kalau pasiennya ICU atau pasien prioritas pertama di IGD, yg sebenarnya sudah dapat prediksi kemungkinan terburuknya. Bertahan beberapa hari, tersiksa dulu, kemudian akhirnya meninggal. Lalu pasien usia lanjut, seberapa hebatpun ia saat muda, ketika usia menginjak di atas 50 tahun tak pelak berbagai penyakit degeneratif akan menghampiri. Ketergantungan obat selama bertahun-tahun, dan hampir gak mungkin sembuh 100%.
Kalau sedang berada di tengah ruang IGD, kepala saya seketika bisa berputar-putar, diantara bau darah, bau muntah, bau gangren, bau alcohol, bau obat. Too much pain, too much sorrow.
Tapi makin ke sini, saya makin sadar. Ya mungkin juga karena pengalamn saya dua tahun terakhir. Almarhumah ibu yang dulu terserang kanker, seberapapun saya belajar tentang obat, I can’t deny the fate.
Akhirnya saya belajar menerima. Yap..karena Allah itu Maha Penyayang. Bahkan ketika diberi sakit pun, sebenarnya itu adalah penggugur dosa. Kekhilafan semasa muda, dosa-dosa sepanjang hidup. Bahkan sebelum kembali ke Sang Pemilik, manusia masih diberi kesempatan untuk menggugurkan dosa akibat kesalahan di masa lalu. 
Sebab itu tubuh manusia ada batasnya, karena itu setelah berusia 40 tahun maka setiap tahunnya kinerja organ-orang tubuh akan mengalami penurunan 1%, karena itu ada berbagai penyakit seberapa hebatpun manusia punya cara preventif. Bayangkan kalau manusai punya tubuh super hebat, gak bisa sakit, rizki berlimpah, keluarga bahagia. Lalu mau digugurkan pakai apa dosa-dosa selama hidup?.

                                                *

Beberapa minggu lalu saya sempat ikut kelas Akademi Berbagi Jakarta yang membahas soal Management Mind. Pemateri kelas ini adalah Asep Herna, seorang pakar hipnoterapi. Kelas ini bukan mengajarkan bagaimana menghipnotis orang, namun lebih ke dasar-dasar bagaiman kita bisa mengelola pikiran. Terutama alam bawah sadar yang menjadi pengendali sebagian pesar perilaku manusia.
Proses pengendalian pikiran tersebut termasuk rasa sakit. Rasa sakit yang dikendalikan hipotalamus di otak, bisa kita manage dengan pengendalian alam bawah sadar (subconscious mind). Simpelnya kita harus memusatkan pikiran ke hal-hal lain di luar rasa sakit itu.
Lagi-lagi saya teringat almarhumah ibu, yang selama sakitnya, gak pernah sekalipun minum obat-obat penahan rasa sakit kelas berat. Bahkan saat dokter memvonis stadium IV, artinya sudah sampai pada end stage, fase terakhir dari kehidupan sel kanker itu sendiri. Setelahnya sel kanker akan mati bersama inangnya. Saya menyararankan ibu untuk minum morfin sulfate (biasanya memang disediakan untuk pasien kanker stadium akhir). Alih-alih ibu hanya meminum asam mefenamat 500 mg, kadang ia membelah menjadi setengah biji, artinya dosisnya cuma 250 mg.
Sekalipun selama 2 tahun, ibu gak pernah ngomong sakit. Bahkan sampai hari terakhir sebelum ibu pergi untuk selamanya, saya masih tanya: ‘Sakit gak, Ma?’, dan masih dengan jawaban yang sama: ‘Gak kok, gak sakit”. Padahal kanker itu sakitnya luar biasa. How can she handle the pain?
Karena sudah gak bekerja dan hanya berobat saja, keseharian ibu dihabiskan dengan berdzikir. Ibu punya dzikir counter manual, yang kalau saya lihat dari hitungan per harinya bisa sampai ribuan. Sekarang saya tahu, yang ibu lakukan adalah pengalihan fokus, pemusatan konsentrasi. And it works.
Mungkin karena itulah dalam islam, kita juga diajurkan selalu berdzikir (ingat) Allah. Saat senang, saat kesusahan, saat dilimpahi nikmat, saat tertimpa musibah, dan termasuk saat sakit.



Thursday, July 26, 2012

Tentang Mitos



Hari ini saya masuk sore, #randomthought pagi ini malah kepikiran tentan mitos. 
Udah jarang yang percaya sih. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang kearifan lokal, kadang ada baiknya juga.
 ---

Kalau duduk di pintu, katanya jodohnya jauh. Lah orang jaman dulu kan menjalin silaruahmi dengan langsung bertamu, ya sungkanlah kalau mau bertamu tapi ada orang yang lagi duduk di depan pintu

Dismenorrea itu disebabkan ada binatang sejenis cicak yang sedang membabi buta di rahim. Pas dulu remaja, di tahun-tahun pertama menstruasi, tiap datang bulan pasti sakitnya minta ampunt. Waktu itu nanya ke mama, terus dijelasin  mama kalau di dalam rahim ada semacam binatang, bentuknya mirip cicak yang mengigit indung telur, terus pecah, dan akhirnya menstruasi. Istilahnya sengugut. Nah si binatang ini juga mengigit dinding rahim, jadinya sakit banget. Sampai sekarang saya masih keingetan omongan mama, kalau pas lagi dismenorrea, saya kepikiran cicak di dalam rahim saya ini pasti sedang getol-getolnya menggigit.

Kalau masak keasinan, si tukang masak pengen nikah. So far  hasil masakan saya belum pernah sampai asin banget, cenderung hambar malah. Tapi kalau ditanya pengen settle down, ya pengenlah, pengen banget malah.

Duduk di atas bantal, bisa bisulan. Ya logikanya kalau bantalnya gak pernah dijemur, mungkin banget bisa bisulan.

Di kampung saya, kalau anak berusia 0-1 tahun, mau diajak jalan-jalan keluar rumah di atas jam 6 sore,  mukanya dicoreng-coreng sama arang. Kata mama biar mukanya jelek mirip beruk (sejenis kera), jadi orang halus (baca: makhluk  halus) mengira beruk, dan gak digangguin si anak ini. Katanya lagi kalau sampai di orang halus ini bergumam : “Cakep banget ni anak”. Maka si bayi akan sakit. Hmmm..kalau sekarang logikanya kan banyak penculikan anak. Kalau anak mukanya dicoreng dan hitam-hitam karena arang, penculiknya pasti mikir lagi. Jangan-jangan ini anak orang gak punya, nanti kalau mau minta tebusan juga susah. Urung deh niat menculiknya

Kalau masakannya enak, berarti pelayanan di ranjang enak juga. Belum pernah nyoba

Kalau tahan pedes, katanya sex nya bisa tahan lama. Belum pernah nyoba sih

Eh lagi bulan puasa, pantang ngomongin sex ya. Etapi saya lagi gak puasa kok :p

Ya sudahlah, sekian mitosnya.
Selamat menunaikan ibadah puasa.
Semoga amal ibadah kita di bulan suci ini diterima oleh Allah SWT, aamiin.

Saturday, July 21, 2012

Seberapa banyak yang engkau berikan, segitu jualah yang akan kembali kepadamu. Seberapa banyak yang engkau ikhlaskan, sebanyak itu jualah yang akan datang kepadamu.

Bukankah takdir tidak akan tertukar?

-Eric Strins, Juli 2012-