Sunday, December 11, 2011

Senja


Ketiga kalinya hari ini, terdengar tangisan keras. Khas  milik seorang bocah.Tadi pagi suara itu pertama kali terdengar. Salman telat bangun, sadar sudah pukul tujuh lewat, ia hanya menangis dan berteriak kesal karena tak ada seorangpun yang ingat dia belum bangun.  Ibu Salman sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk adik perempuannya yang mulai belajar di taman kanak-kanak.
“ Ibu kira kau tak mau sekolah hari ini, Man. Sudahlah, ini kan hari pertama sekolah, guru-guru kau paling masih malas mengajar “
Ini hari yang dirindukan Salman, seharian bermain bersama teman-teman di sekolah, tanpa sedetikpun duduk manis di kelas.  
“ Hentikan tangisan kau, Man. Pagi-pagi sudah menangis tak karuan, malu sama tetangga! “
Salman memutuskan menurunkan volume tangisannya. Ia meringkuk lagi di dipan tua, memejamkan mata, airmatanya mengalir sampai ia tertidur lagi.
            Selesai menikmati makan siang, Salman berlari beberapa ratus meter dari rumahnya. Di tanah lapang yang sebagian telah digunakan untuk jemuran pakaian, beberapa anak sebaya Salman sedang asyik bermain kelereng. Salman tak ketinggalan ikut bergabung. Bosan bermain kelereng, pohon jambu di pinggir lapangan menarik perhatian bocah-bocah kecil tersebut, lomba memanjat pohon jambu pun dilaksanakan. Salman hari ini tak beruntung, setelah berhasil mendapat tiga buah jambu yang belum matang, ketika hendak turun, ia terpeleset, tubuhnya melayang sepanjang dua setengah meter dalam dua detik, dengan posisi pantat menyentuh tanah lebih dulu.
Salman pulang ke rumah dengan pakaian kotor dan tangisan yang lebih keras dari tadi pagi.
“ Kalau siang banyak setan yang berkeliaran, makanya jangan main siang-siang. Kan sudah ibu suruh kau tidur, tapi kau tetap saja bandel. Ganti baju sana!, dan jangan nangis lagi! “
*


Seorang bocah berumur 6 tahun mendekati rumah sederhana itu.
“ Salman, ngapain kau melamun sore-sore, semua orang sedang main layang-layang di lapangan. Ayo kita ke sana! “. Salman yang sudah mandi dan berpakaian rapi kontan berlari dari teras rumah menuju gudang belakang tempat ia biasa meletakkan layang-layang. Di belakang, ibunya sedang mencuci piring. Kesialan ketiga menimpa saat kaki Salman melayang sehingga ember cucian tumpah, air comberannya tepat membasahi pakaian ibu Salman, tak hanya itu, piring dalam genggaman ibunya lepas, menyebabkan beberapa piring dan mangkuk ikut pecah. Pecahlah tangis Salman untuk ketiga kalinya.
“Sudah ibu bilang, Jangan nakal !“, Sang ibu menjewer Salman hingga kupingnya memerah.
“ Dari tadi pagi kau nakal terus. Kerja kau cuma main, gak pernah belajar! “. Tangan ibunya beralih ke pantat. Dipukulnya pantat Salman berkali-kali.
“ Ampun bu, ampun….”
“ Hari ini kau minta ampun, besok kau ulangi lagi kenakalan kau “.
“ Ampun bu…”
“ Ya sudah, masuk ke kamar!. Untung tak ibu pukul pantat kau itu pakai sapu “
            Dari depan, terdengar suara orang melepaskan sepatu. Ayahnya baru pulang. Pintu kamar Salman terbuka. “ Kenapa kau menangis, nak ? “
“ Dia nakal dari tadi pagi “. Ibunya menyahut dari belakang.
  Ya sudah jangan menangis. Kita jalan-jalan yuk “.
Salman masih menangis saat ayahnya menggendongnya. Mengangkat tubuh kecil Salman ke samping bahu kanan ayahnya yang bidang.
“ Kita lihat laut saja Man, daripada dimarahi ibu kau di rumah “
      Salman menurut sambil mengangguk malas. Ayahnya mengendong, menuju tepi pantai. Salman menikmati ayunan ritme gerakan bahu ayahnya, mendekati matahari yang terselip diantara awan sore yang gelap. Di ujung dermaga kecil berukuran sepuluh kali lima meter, diantara susunan kayu dan tautan paku yang beberapa sudah lepas, ayah Salman menghentikan langkah. Kaki Salman kembali menginjak bumi. Angin tak berwarna tiba-tiba datang menghampiri, menghamburkan rambut ikal Salman. 
“ Lihatlah matahari di hadapanmu, ia bersembunyi, turut malu melihat kau menangis, Salman “
Salman hanya diam, masih mencerna ucapan ayahnya.
“ Kau mau memancing, Man?, tapi tak usah berenang, nanti ibu kau marah kalau melihat baju kau kotor dan basah. “
Salman masih diam. Ayahnya jongkok, mensejajarkan kepala dengan tubuh anaknya yang kurus kering. Cahaya senja menerpa wajah kuyu dua makhluk. Wajah kuyu ayahnya yang lelah bekerja, wajah kuyu Salman yang capek menangis.
“ Ya sudah kalau kau tak mau. Lihat ikan-ikan itu, mungkin kau tak tega menangkap mereka yang sedang asyik berenang “. Ayah Salman mengusap kepalanya. Usapan yang terlaksana karena kasih sayang. Terlihat jelas, bahkan semut pun dapat menangkap aura kasih sayang dari tatapan sang ayah.
Salman diam. Sesekali sesenggukan. Tangisnya belum terhenti benar.
“ Jangan kau hiraukan perkataan ibumu, biasalah… Kau juga jangan nakal nian, kalau tak mau diomeli terus
Ayahnya menciumi rambut dan keningnya yang coklat. Diciumi, selalu membawa kedamaian bagi Salman.
“ Nak, lihat! Ada elang. “  
Elang itu menyentuh permukaan air sepersekian detik, sebelum kembali terbang ke mengudara.
“ Elang itu berhasil menangkap ikan “
“ Mana ikannya, Yah?
“ itu.., sudah dibawa di mulutnya “
“ Wah.., hebat ya elang, kalau aku harus mancing berjam-jam dulu baru bisa dapat ikan. “
“ Kau juga hebat Salman. Kau anak kebanggaan ayah. Lihatlah matamu, bagus, dan tajam seperti mata elang. “
Salman kembali diam. Berusaha mencerna kembali perkataan ayahnya.
Matahari makin menyusutkan tubuhnya ke ujung barat. Salman menghirup udara laut yang amis. Laut, laut, laut, laut, laut. Bagian dari hidupnya. Bagian dari kebahagiaannya.
“ Kau suka laut Man ?, ayah juga suka, sangat suka…. Suatu saat kau harus bisa mengemudikan kapal. Kau harus bisa mengalahkan ayah, menjadi nakhoda hebat “
Salman diam, ia hanyut menyaksikan tontonan ikan-ikan berenang di bawah dermaga. Ia menyaksikan ditemani cinta yang dialirkan dari genggaman tangan ayah. Hangat.
Kali ini angin membawakan bau tubuh ayahnya. Bau khas laki-laki paruh baya, campuran keringat dan parfum perlente murahan.
“ Aku selalu suka laut !, aku selalu suka senja !, dan aku selalu suka ayah! “
  Ha..ha…, kau seharusnya menyukai perempuan, nak, bukan ayah “
Tanjung yang luas, warna air yang coklat, beberapa perahu dan kapal penangkap ikan hilir mudik. Senja yang menakjubkan. Ayah yang begitu hangat. Ayah yang perkasa. Ayah yang membantu melupakan tangis. Ayah yang tak pernah meremehkan kesedihan bocah penakut.
*
            Dua puluh tahun kemudian. Bukan karena ayahnya tak pernah ada, bukan pula karena ia tak pernah mencoba. Tak pernah ada lagi kenangan dua laki laki berdiri tegak, saling mengisi hati. Tak pernah ditemukan satu jembatan yang sama di dasar hati dua manusia, dari dua generasi berbeda. Itu adalah kenangan terakhir dan kenangan terindah yang sempat disaksikan senja. Ikatan kasih yang memuncak dan memilih surut bersama waktu, ikatan kasih yang memilih menjelma menjadi tembok tak kasat mata yang melepaskan hubungan nurani ayah dan anak.

I’ll always remembering that time, that sunset. So beautiful , Dad…..

(Yogyakarta,Juli2006)

Mengenang Ayah (18 Agustus 1945- 11 Desember 2007)


1 comment:

Anonymous said...

cerite tentang kisah hidup kw ye ka :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...