Friday, December 9, 2011

Another Backpacking Story: Lombok


backpacker ke gili trawangan
White shores
Dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Keinginan cuma satu, jalan-jalan.  Tujuan awal saya sebenarnya ingin ke Pulau Belitung. Ternyata tiket luar biasa mahal. Kala itu bertepatan dengan event Sail Belitung. Sehingga sementara saya mencoret Belitung dalam list.
Opsi lain adalah ke Bali, tetapi harga tiket ke Denpasar tak mau kalah mahal dengan tiket ke Tanjung Pandang.
Lalu berburu tiket lagi, akhirnya saya dan kawan seperjalanan memutuskan ke Makassar. Sudah dua kali booking tiket, tapi saya ragu, Makassar itu menarik tapi saya belum kebelet ingin ke sana. Iseng mencari tiket lagi, akhirnya ada tiket promo 500 ribu sekali jalan rute Jakarta-Lombok.
Lalu sabtu-minggu itu serasa seperti mimpi. Pergilah saya dan seorang kawan lama menuju Lombok. Dari Jakarta, saya  naik penerbangan paling pagi. Tiba di Bandara International Lombok (BIL) yang masih bau cat. Belum ada dua minggu BIL resmi dibuka. Tujuan saya ke Lombok hanya ingin ke Gili Trawangan. Simpel saja.  menikmati pantai dan senja yang tersohor eloknya.

Namanya backpacker, ongkos transportasi dalam kota selalu diperhitungkan masak-masak. Terlebih masalah klasik daerah-daerah di luar Pulau Jawa, transportasi umum merupakan barang langka. Damri di BIL hanya ada satu rute, menuju Kota Mataram dan berakhir di Senggigi. Maka itulah satu-satunya transportasi umum yang bisa saya naiki. Dan barangkali di Sengigi, saya akan menemukan cara menuju pelabuhan penyeberangan ke Gili Trawangan.  
Di bandara, saya sempat menghampiri konter travel agen menanyakan mengenai penginapan di Gili Trawangan. Ternyata biayanya cukup tinggi. Sempat ketar-ketir juga. Apalagi menurut informasi dari seorang teman, di sana tak ada listrik, tak ada ATM. Hanya mengandalkan uang cash yang saya dan kawan saya bawa. Ternyata setibanya di Gili Trawangan, jangankan ATM, di sana juga tersedia beberapa money changer. Pelajaran moral pertama, re-check lagi informasi yang belum jelas kebenarannya.
Awalnya saya membayangkan akan banyak travel agen dan persewaan motor di Daerah Sengiggi. Lalu saya bisa menyewa motor menuju Pelabuhan. Ternyata, Sengggi tidak seramai daerah Kuta, Bali. Ketika sudah hampir mendekati pool damri, saya diturunkan di tempat sebuah agen perjalanan wisata. Lagi-lagi, rencana bisa berubah. Waktu tempuh dari Sengigi ke Pelabuhan Bangsal sekitar 45 menit dengan medan jalan naik-turun. Termakan penawaran dari staf travel agen, akhirnya saya  memilih satu paket transportasi: mobil antar jemput Senggigi-Pelabuhan Bangsal - Senggigi, penyebrangan bolak balik Gili Trawangan-Pelabuhan, sewa motor, dan damri ke bandara cukup IDR 200k/person. Damri dari Sengigi tidak selalu ada. Kalau sedang tidak ada penumpang, Damri beroperasi dari Mataram. Jadi sebaiknya harus di booking dulu.


*
Sesampainya di Gili Trawangan, rasanya tidak seperti berada di negeri sendiri. Dominasi wisatawan ras kaukasoid, deretan pub dan café yang menawarkan western food, siaran channe-channel asing, serta penduduknya yang lebih jago bahasa inggris ketimbang bahasa indonesia. Sore itu sedang ada siaran pertandingan  rugby, turis-turis berbondong-bondong ke café, lalu riuh rendah suara membahana di pulau kecil itu. Bukankah di Indonesia suasana tersebut lebih identik dengan pertandingan sepakbola?.
Untuk mengelilingi pulau, saya memilih menyewa sepeda. Harga sewa per hari 50 ribu, tapi saya berhasil menyewa sepeda dengan ongkos 15 ribu. Di Gili Trawangan tidak ada kendaraan bermotor. Oh ya senja di sana sangat indah. Dengan mengendarai sepeda, terseok-seok melewati jalanan yang didominasi pasir putih, saya menuju Sunset Point. Tempat ini adalah sisi terbaik di Gili Trawangan untuk menikmati matahari tenggelam. 

Malam hari, makan besar cukup di Pasar Seni. Tempat ini semacam lapangan yang penuh deretan penjual makanan dan tentu saja turis. JIka kocek sedang tak bersahabat, makan di Pasar Seni ini tentu lebih baik ketimbang makan malam di café atau restaurant. Setelahnya, saya nongkrong di café, tepat dipinggir pantai, dengan pesanan hanya secangkir jus saja. Sayang pukul 11.00 café sudah tutup. Cukup mengherankan, Di Gili Trawangan notabene  90% wisatawan adalah bule yang gila party. Usut punya usut, rupanya pesta sudah berlangsung kemarin malam, semacam Friday Night party. Oh ya kalau soal biaya, untuk ukuran tempat sebagus ini, menurut saya masih relatif murah. Peralatan snorkeling bisa disewa seharga 25 ribu mulai dari pukul 6 pagi sampai 6 sore. Kalau gak mau ke tengah naik kapal, cukup snorkeling di pinggir pantai yang masih jernih. Soal penginapan juga masih terjangkau. Saya dapat penginapan IDR 100 K/night. Kalau bisa extend libur lebih lama, banyak tourism agent yang menyediakan kapal langsung ke Labuan Bajo dengan tujuan Pulau Komodo atau tiket Fery ke Bali.

Ada kejadian menarik, saat memarkir sepeda malam hari di Pasar Seni. Ketika akan pulang, saya kaget setengah mampus karena sepedanya hilang. Panik juga, sampai seorang pedagang minuman dekat parkiran mendekati saya dan bilang sepedanya dibawa sama yang punya. Oh..ya sudah, batin saya. Lalu saya meneruskan jalan-jalan (pakai kaki), saya menemukan sepeda itu teronggok masih bersama pocari swe*t saya di keranjangnya. Besok saat mau pulang, saya bilang ke mas yang menyewakan kalau tadi malam sepeda tersebut diambil yang punya. Mas nya malah terkejut, saya pun bingung. Sepertinya kepemilikan barang di pulau sekecil itu memang sulit ditandai. Sampai sekarang saya gak tahu kelanjutan cerita sepeda itu. Pelajaran moral no.2 jagalah barang-barang baik milik sendiri maupun barang sewaan.
sunset di pantai gili trawangan
Sunset Point

cafe di gili trawangan
Cafe di tepi pantai
penginapan ketika berlibur di gili trawangan
Penginapan 
 Minggu pagi-pagi buta saya sudah stand by di pantai. Mengejar sunrise dan tentu saja mandi. Sempat ngobrol dengan seorang ibu yang datang jauh-jauh dari suatu daerah di NTB, saya lupa nama daerahnya. Ia menjelaskan, menurut kepercayaan di sana mandi air laut pagi-pagi bisa menghilangkan penyakit. Timbal baliknya, si Ibu menanyai saya. Dan beberapa kali ia menyebut Subhanallah mendengar cerita saya yang baru datang kemarin sore, cuma berdua temen, lalu akan kembali ke Jakarta sore ini. Saya cuma tersenyum gak enak. Pelajaran moral nomor 3, berceritalah yang perlu saja, jangan terlalu jujur.
            Kembali ke Pulau Lombok, dari Pelabuhan saya naik Cidomo menuju terminal, ongkosnya 15 ribu untuk 2 orang. Cidomo merupakan kendaraan khas lombok, dijalankan oleh seekor kuda dan hanya memuat  2-3 orang penumpang.
            Sekitar pukul 11 hari minggu siang, saya tiba kembali di Daerah Wisata Senggigi. Sebuah skuter sewaan sudah menanti untuk diajak berkeliling. Tujuan pertama, Pura Ratu Bolong yang terletak di pinggir Pantai Senggigi. Waktu itu sedang ada upacara, sehingga hanya bisa foto-foto dari luar. Lanjut tujuan kedua, tentu saja berkeliling kota mataram. Tanpa peta, tanpa petunjuk apapun.
Sengigi-Mataram menggunakan skuter sekitar 30 menit. Menjelang siang, perut sudah keroncongan. Keliling-keliling, ketemu satu resto ayam taliwang. Agak sepi memang, tapi dengan keyakinan, saya tetap mencoba. Tak sia-sia keyakinan tersebut, sambal plecing kangkungnya enak sekali.
            Di Mataram itu banyak jalan satu arah. Beberapa kali saya bertanya, dan entah mengapa penduduk di sana sulit menjelaskan sesuatu. Perlu beberapa kali mengkonfirmasi pada orang berbeda hanya untuk satu pertanyaan. Prediksi saya sih karena kendala bahasa yang sulit dimengerti. 
review ayam taliwang di lombok
Kuliner: Ayam Taliwang
Perjalanan pulang dari Kota Mataram, mampir foto-foto di bandara lombok yang lama, lalu ke pusat cendera mata, beli oleh-oleh mutiara dan kaos bertuliskan Lombok. Kembali ke Sengigi untuk mengembalikan skuter sewaan. Pukul 4 sore, Damri yang akan mengangkut ke bandara sudah siap sedia. Lagi-lagi hanya ada 5 penumpang, 3 orang bule dan sisanya saya dan kawan seperjalanan. Di tengah jalan, Damri berpapasan dengan serombongan orang, menghadang jalan, sambil teriak-teriak. Terbesit juga jangan-jangan ada kerusuhan. Penumpang bule malah kelihatan kaget dan takut. Tapi tenang, Indonesia memang kaya akan tradisi. Ternyata kericuhan tersebut adalah bagian dari upacara adat memeriahkan acara sunatan.
Ke Lombok kali ini memang macam petir. Tiba-tiba dan sangat singkat. Tapi kadang kala singkatnya waktu membuat perjalanan menjadi bermakna. Mungkin karena tipikal saya yang suka spontanitas, I always enjoy of being somewhere, nothing to do, nothing to think. The joy of enjoying. Bukankah hidup begitu? Cukup dinikmati.





11 comments:

Yona Pratiwi said...

Pengen backpacking-an bareng :D

Eric Strins said...

ayoookkk Yona... atur aja

tara said...

mbaknya...
saya dalam waktu dekat ini juga mau backpacking ke lombok.

boleh share dapet tiket promo dari mana?

Thanks in advance :)

enny said...

kereeennnnnn.. postingannya bikin ngiler semua..

Eric Strins said...

*Ngelap iler Enny

anisyadian said...
This comment has been removed by the author.
weedeesworld said...

mauu info buat CP pnginapan dsana yang murah dongg?
rencananya tgl 5 okt 2012 saya mau ksana :)

armae said...

Saya malah kurang suka dengan spontanitas mbak,.. Lebih suka perencanaan yang matang. :)

Beberapa kali ke Lombok, beberapa kali ke Senggigi, tapi belum pernah ke Gili. Nantilah, kapan-kapan... Semoga bisa. Hehe

Abdee said...

Salam.
perjalanan singkat yang mantep, tp lebih mantep lagi kalo nama dan CP penginapan murah di Gilinya bisa di share. hehehe

anakpapabandy said...

aduuuh, jadi malu, saya juga di lombok, memang di lombok masih kekurangan akses transportasinya,hehe
masih banyak hal yang mesti diperbaiki disini ^_^

fauziyah said...

sama dengan saya, bbrp kali traveling dg modal nekat, malem2 sms-an sm temen mw maen k t4nya, paginya brngkt sendirian, :D :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...