Friday, March 25, 2011

Rumah itu Kini Kosong


        Rumah itu kini kosong. Rumah yang saya diami sejak kecil, dan selalu menjadi tujuan akhir sejauh apapun saya melangkah. Tempat yang mejadi simbol dan mengingatkan dari mana saya berasal.
Saya memang sudah merantau hampir 9  tahun. Tapi saya tak pernah lupa rumah. Saat libur tiba, saya akan kembali ke rumah. Dan rumah itu kini kosong. Penghuninya satu persatu pergi, entah untuk pindah atau untuk pergi selamanya.

Tuesday, March 15, 2011

Last Kiss (this is for myDad)

Senja itu sehabis bercengkrama dengan kawan-kawan kos, saya masuk ke kamar, melirik ke hp , eh ada 11 misscall dari abang ipar. Tumben, karena yang sering menelpon saya paling dari no telpon rmah, kalo gak dari hp kakak-kakak saya. Saya lalu misscall balik, saya sudah ada dah firasat buruk. Handphone saya berdering lagi, di seberang sana emak saya nanya kapan saya libur, kalau dah libur saya harus segera pulang soalnya bapak sedang sakit. Kemudian suara berganti jadi suara kakak. Katanya saya harus pulang besok. Besok pagi, tak tau bagaimana caranya,  saya harus cari tiket buat pulang ke rumah. Saya bingung banget, di luar hujan sangat deras diiringi petir. Senja berlalu, dan hari semakin gelap. Saya lalu sholat magrib. Datang lagi telpon, dan terdengar suara kakak sambil nangis bilang kalau bapak dah gak ada. Saya hanya diam, gak tahu mau apa lagi, di kamar sendiri. Kata kakak, saya harus pulang besok, apapun yang terjadi.
            Bapak akan dikubur sehabis sholat ashar, oh..berarti saya masih punya waktu. Ternyata berhubung rumah saya terletak di daerah rawa dan dipinggir laut, sedangkan saat itu bulan Desember adlaah musim pasang. Air laut semakin sore akan naik semakin tinggi, termasuk menggenangi kuburan..So bapak harus dikubur abis dhuzur. Dimulailah pertarungan saya melawan waktu. Baru kali ini sepanjang perjalanan hidup saya, gue bisa serius dan benar-benar takut untuk menyesal. Biasanya saya adalah gambler sejati. Tapi  kali ini saya takut kalau kalah, maka saya akan menyesal seumur hidup.

This is for myMom


Bukan Ibu Biasa*

Seperti ibu-ibu lainya di muka bumi ini. Ini cerita tentang ibu saya yang mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
with mom
Ibu saya adalah perempuan biasa, seperti kebanyakan wanita Indonesia yang lahir pada awal tahun 50-an. Minim pendidikan, memiliki pola pikir sederhana meski sebenarnya berotak cerdas. Ibu hanya menamatkan pendidikan sampai setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun bagi saya kepintaran ibu tak kalah dengan dosen-dosen yang mengajar saya di perguruan tinggi. Ibu mampu menghitung seperti orang yang mahir menggunakan sempoa imajinasi, lebih cepat dari saya yang telah mengenyam pendidikan hingga tingkat master. Maklumlah selain sebagai ibu rumah tangga, ibu juga menjaga toko kelontong kami yang ada di pasar. Dalam hal mendidik, ibu saya adalah seorang demokratis yang amat saya kagumi. Meskipun ibu tidak pernah belajar teori ilmu politik atau panduan praktis cara mendidik rasa demokrasi anak-anak dalam keluarga. Ibu selalu memberikan pilihan tanpa intimidasi tertentu. Kami, anak-anaknya diajak berpikir sebelum menentukan pilihan. Cara mendidik yang satu inilah yang paling saya kagumi. Sungguh karena hidup hanyalah serangkaian rentetan pilihan. Saya menjadi kritis dan analitis sebelum menentukan satu pilihan. Dan saya harus siap dengan segala konsekuensi yang mengiringi pilihan tersebut.  
Dalam hal mencari nafkah, ayah dan ibu bahu membahu bekerja sama. Ayah seorang wiraswastawan yang sepanjang hidupnya selalu mencari peluang berbisnis sana-sini. Ayah pernah bekerja sebagai pelaut dan kapten kapal barang, mendirikan Commanditaire Vennootschaap (CV) untuk pengerjaan proyek pemerintah, berjualan barang second hand, sampai bisnis eksport kopi, ular, kopra, dan pinang ke Malaysia dan Singapura. Kekaguman saya terhadap ibu semakin bertambah tatkala ayah mulai sakit-sakitan sekitar tahun 2000. Menurut ibu, penyakit ayah disebabkan pekerjaan ayah dulu sebagai pelaut sehingga terlalu sering terkena angin laut, atau masyarakat akrab menyebutnya ‘angin duduk’. Sedangkan menurut diagnosis dokter, ayah menderita komplikasi jantung koroner dan asam urat.

Monday, March 7, 2011

List Surga Dunia

I’m in bad mood at all. Gak bersemangat, gak mau ketemu siapa-siapa, dan melakukan apa-apa. Cuma guling-guling, dada sakit, dan mata panas.
            Saya tahu saya gak boleh begini terus. Theres must be something i should do, than doing nothing. Memikirkan hal-hal indah?. Hmm...sebaiknya saya harus membuat list hal-hal menyenangka di dunia ini, atau saya menyebutnya sebagai ’Surga Dunia’. Bukankah kenangan indah dapat memicu hipothalamus mengeluarkan hormon bahagia, sehingga rasa perih ini dapat sedikit mereda. Sembari menutup mata, saya berbisik ”Ayo Rika, ingat hal-hal indah yang pernah terjadi”
            Mengingatnya lalu menuliskan kembali saya harap dapat menyadarkan bahwa life is SO beautiful....
Here is the list:
-    Baca buku cerita,novel, cerpen, komik favorit gue. Sumpah gak ada yang mengalahkan  sensasi membaca buku.
Smile ^^
-         Bengong, menikmati udara malam, berbaring memandangi bintang
-         Ngerokok sambil jongkok, dan gak mikirin apa-apa
-         Bengong di tepi laut atau pantai, menikmati hembusan angin, dan gerak monoton gelombang
-         Mancing dan bengong, atau mancing dan ngobrol. Sama-sama surga dunia
-         Pagi-pagi, udara cerah, jongkok, dan menyeruput sedikit demi sedikit capucino atau coklat hangat.
-         Ngeliatin ritme hujan yang tidak terlalu lebat, ataupun rintik dari sisa hujan deras yang mulai agak mereda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...