Tentang Saya dan Kontak

Wednesday, December 28, 2011

Tentang Pengalaman Pertama



pantai pasir putih di Karimun Jawa
White Shores Everywhere
Perjalanan ke Karimun Jawa ini saya lakukan akhir Maret 2009 lalu bersama seorang teman. Ini adalah trip pertama saya dengan tempat tujuan dimana saya tidak mengenal siapapun di sana. Begitu pun dengan teman saya. Kami hanya bermodal uang yang sangat pas-pasan, rute yang kami ketahui dari hasil mengorek informasi sana-sini dan tentu saja keberanian sebesar gajah.
            Kapal dari Jepara yang menuju Karimun Jawa ada 3 kali seminggu. Dan kami memutuskan berangkat dari Jepara hari Sabtu dan akan kembali hari Senin. Maka berangkatlah kami dari Jogja jumat sore. Saya merelakan bolos kuliah setengah hari jumat dan hari sabtu seharian demi trip ini. Sampai di terminal Terboyo, Semarang sekita pukul 5 sore. Kami lanjutkan perjalanan naik bus ke Jepara dan tiba hampir pukul 9 malam.
            Beruntung saya punya teman kuliah yang asli Jepara dan saat itu sedang berlibur. Kami lalu membuat janji bertemu di Alun-alun. Ternyata teman saya ini tak sendiri. Ia bersama bersama seorang temannya yang ternyata orang asli Karimun Jawa. Huff....dapat guide gratis neh. Saya senang-senang saja walaupun teman saya sedikit tidak suka. Katanya karena perjalanan kami jadi tidak mengasyikkan dan menegangkan.
            Malam itu teman saya mengusulkan (lagi-lagi) untuk menghemat kami menginap di mesjid ato rumah sakit. Tapi saya berkeras untuk tetap hati-hati mengingat kami berdua perempuan, apalagi masih perawan (:P). Alhasil kami memutuskan menginap di losmen dekat pelabuhan dengan tarif 40 rb per malam. Terus terang baru kali itu saya nginap di tempat yang begitu joroknya. Jendela kamar yang tidak bisa dirapatkan, kasur penuh debu, apalagi kamar mandinya tak usah ditanya. Lalu jika ingin kipas angin, kami harus menyewa lagi per malam 5 rb rupiah. Sayangnya malam itu kami tidak menyewa karena alasan penghematan uang. Karena perjalanan yang melelahkan, meski panas dan banyak nyamuk, tetap saja kami bisa tertidur pulas.
Pulau Karimun Jawa
Pulau Karimun Jawa
            Dari Jepara perlu waktu 6 jam naik kapal untuk sampai ke Karimun Jawa. Dengan bantuan si Guide kami akhirnya memutuskan tinggal di rumah penduduk. Sebuah keberuntungan karena jelas menghemat uang. Apalagi karena suatu hal, kapal baru kembali ke Jepara hari Selasa. Penginapan termurah di sana sekita 60 rb padahal uang di kantong hanya 200 rb lebih dikit. Dan jangankan berpikir buat menggunakan kartu kredit atau ngambil duit di ATM. Di sana cuma ada Bank BRI Unit yang tutup karena sedang weekend. Tentunya kami tak ingin ada headline news di koran kriminal ”Dua orang perempuan muda yang tak diketahui identitasnya ditemukan tewas kelaparan di Daerah Wisata Karimun Jawa”. Atau yang lebih mantap  ”Misteri Tewasnya 2 Pengunjung Karimun Jawa”.

Sunday, December 11, 2011

ON OFF ID (Pesta Blogger 2011)



pesta blogger 2011 di epicentrum walk
Sudah lama saya ngincer untuk ikutan pesta blogger. Walaupun saya bukan blogger professional. Punya blog cuma untuk kesenangan pribadi. Saya hanya penasaran, seperti apa sebuah pesta blogger. Sekadar membuka cakrawala, mengenal orang-orang dari dunia yang berbeda, tak melulu dunia kesehatan, yang saya akui lebih banyak membosankannya.
pesta blogger 2011 di epicentrum walk
Suasana yang tidak seperti pesta dalam makna lazim
            Penggambaran pesta blogger itu seperti ini: ada panggung utama sebagai centre, lalu ada stand-stand sponsor dan komunitas-komunitas, dan menjelang siang ada bagian yang paling menarik yakni breakout session. Ada 7 ruangan yang tersedia dan dibagi dalam 3 sesi, dengan kuota waktu masing-masing sesi satu jam. Nah tinggal pilih deh mau sesi mana yang menarik buat diikuti. Pengisi acaranya antara lain Indonesia Mengajar, Aku Cinta Indonesa (ACI), Gagas Media, Fiksimini, Stand Up Comedy, ASEAN Blogger, Voice of America (VOA), Sampai Satya Witoelar dan Jerry Aurum.

Senja


Ketiga kalinya hari ini, terdengar tangisan keras. Khas  milik seorang bocah.Tadi pagi suara itu pertama kali terdengar. Salman telat bangun, sadar sudah pukul tujuh lewat, ia hanya menangis dan berteriak kesal karena tak ada seorangpun yang ingat dia belum bangun.  Ibu Salman sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk adik perempuannya yang mulai belajar di taman kanak-kanak.
“ Ibu kira kau tak mau sekolah hari ini, Man. Sudahlah, ini kan hari pertama sekolah, guru-guru kau paling masih malas mengajar “
Ini hari yang dirindukan Salman, seharian bermain bersama teman-teman di sekolah, tanpa sedetikpun duduk manis di kelas.  
“ Hentikan tangisan kau, Man. Pagi-pagi sudah menangis tak karuan, malu sama tetangga! “
Salman memutuskan menurunkan volume tangisannya. Ia meringkuk lagi di dipan tua, memejamkan mata, airmatanya mengalir sampai ia tertidur lagi.
            Selesai menikmati makan siang, Salman berlari beberapa ratus meter dari rumahnya. Di tanah lapang yang sebagian telah digunakan untuk jemuran pakaian, beberapa anak sebaya Salman sedang asyik bermain kelereng. Salman tak ketinggalan ikut bergabung. Bosan bermain kelereng, pohon jambu di pinggir lapangan menarik perhatian bocah-bocah kecil tersebut, lomba memanjat pohon jambu pun dilaksanakan. Salman hari ini tak beruntung, setelah berhasil mendapat tiga buah jambu yang belum matang, ketika hendak turun, ia terpeleset, tubuhnya melayang sepanjang dua setengah meter dalam dua detik, dengan posisi pantat menyentuh tanah lebih dulu.
Salman pulang ke rumah dengan pakaian kotor dan tangisan yang lebih keras dari tadi pagi.
“ Kalau siang banyak setan yang berkeliaran, makanya jangan main siang-siang. Kan sudah ibu suruh kau tidur, tapi kau tetap saja bandel. Ganti baju sana!, dan jangan nangis lagi! “
*

Friday, December 9, 2011

Another Backpacking Story: Lombok


backpacker ke gili trawangan
White shores
Dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Keinginan cuma satu, jalan-jalan.  Tujuan awal saya sebenarnya ingin ke Pulau Belitung. Ternyata tiket luar biasa mahal. Kala itu bertepatan dengan event Sail Belitung. Sehingga sementara saya mencoret Belitung dalam list.
Opsi lain adalah ke Bali, tetapi harga tiket ke Denpasar tak mau kalah mahal dengan tiket ke Tanjung Pandang.
Lalu berburu tiket lagi, akhirnya saya dan kawan seperjalanan memutuskan ke Makassar. Sudah dua kali booking tiket, tapi saya ragu, Makassar itu menarik tapi saya belum kebelet ingin ke sana. Iseng mencari tiket lagi, akhirnya ada tiket promo 500 ribu sekali jalan rute Jakarta-Lombok.
Lalu sabtu-minggu itu serasa seperti mimpi. Pergilah saya dan seorang kawan lama menuju Lombok. Dari Jakarta, saya  naik penerbangan paling pagi. Tiba di Bandara International Lombok (BIL) yang masih bau cat. Belum ada dua minggu BIL resmi dibuka. Tujuan saya ke Lombok hanya ingin ke Gili Trawangan. Simpel saja.  menikmati pantai dan senja yang tersohor eloknya.

Namanya backpacker, ongkos transportasi dalam kota selalu diperhitungkan masak-masak. Terlebih masalah klasik daerah-daerah di luar Pulau Jawa, transportasi umum merupakan barang langka. Damri di BIL hanya ada satu rute, menuju Kota Mataram dan berakhir di Senggigi. Maka itulah satu-satunya transportasi umum yang bisa saya naiki. Dan barangkali di Sengigi, saya akan menemukan cara menuju pelabuhan penyeberangan ke Gili Trawangan.  

Tuesday, November 29, 2011

Kumbang di Kota Kembang


Musim penghujan begini
Saat bepergian menjadi serba salah
Payung yang harus selalu siap sedia di tas
Becek, basah, lalu macet.


Musim penghujan begini
mengingatkan saya pada Kumbang.


Tepat satu tahun lalu, Kumbang saya lepas pada seorang teman.
Kini Kumbang sudah bahagia
Melanglang buana di Kota Kembang

Foto terakhir si Kumbang sebelum saya lepas

Si Kumbang



Monday, November 28, 2011

The worst case of ‘Merantau’


Setiap menjelang Idul Fitri, pasti beramai-ramai kaum muslim ingin merayakan hari kemenangan tersebut dengan berkumpul bersama keluarga. Begitupun saya. Sayangnya setelah 9 tahun merantau, saya merasa hampir tak punya rumah lagi.
Kedekatan psikologis itu makin lenyap. Saya lebih nyaman berada di kamar kos saya yang kecil ketimbang di rumah.
            Biarpun secara darah saya sama. Tapi entah mengapa saya merasa berbeda. Saya merasa pincang sebelah. Saya merasa takut. Saya merasa tidak mampu membuat kehangatan itu lagi. Saya telah kehilangan kedekatan secara emosional.
            Ketika harus pulang, pasti kebingungan yang amat sangat seketika melanda saya. Disorientasi itu pasti. Jauh di lubuk hati saya, lebih menginginkan liburan ke tempat lain dibanding harus pulang ke rumah.
Saya tidak ingin dibilang anak durhaka, anak yang lupa ibunya, anak yang lupa dari mana ia berasal. Tapi di sisi lain, ego saya terus bertentangan. Saya yakin, ini hidup saya. Apa yang saya lakukan mutlak adalah hak saya.
            Pola pikir saya sudah berubah. Saya tidak memiliki rumah lagi, rumah untuk kembali, rumah untuk beristirahat, dan rumah dalam tanda kutip. This is the worst case of merantau. Kedekatan psikis itu tidak akan bisa menggantikan kedekatan fisik, walaupun kedekatan fisik juga tidak menjamin kedekatan psikis. And Im so bad on affection. No wonder  I lost 2 things, physically and psycologically of being home.

Friday, November 4, 2011

Chasing the liberty, pursuit happiness, finding soulmate.
Well, November still rain, but i hope this be mysweet november rain.
-tergesa-gesa olahraga pukul 04.30 a.m-
Published with Blogger-droid v1.7.2

Monday, October 24, 2011

Susahnya Berobat di Negeri Ini



            Rasanya waktu itu dunia saya hanya berupa hitam. Tanpa alasan jelas, laki-laki yang sudah saya pacari selama 3 tahun tiba-tiba memutuskan hubungan. Seminggu kemudian kakak saya yang kedua meninggal dunia. Lalu tiga minggu kemudian, saya adalah orang pertama yang diberitahukan dokter bahwa ibu mengidap kanker. Biasanya saya orang yang selalu optimis meskipun sedang terpuruk. Tapi saat itu, saya rasanya tidak ingin bangkit lagi. Saya hilang arah.
            But life must go on. Ibu yang sudah ditinggal papa, lalu kakak, dan sekarang divonis kanker saja masih bisa tertawa dan punya semangat hidup. Lalu kenapa saya yang masih muda begini gak punya semangat buat bangkit. Dengan segala jatuh bangunnya, saya cuma berpiikir, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang mari fokus ke pengobatan ibu.
            Penanganan kanker itu cuma ada 3 yakni operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Di Indonesia saya menemui dua dokter yang berbeda. Dan mereka sudah angkat tangan untuk operasi dan radioterapi. Satu-satunya jalan adalah kemoterapi.
Awalnya ibu menolak di kemoterapi, saya pun sebenarnya kurang setuju selama masih ada jalan lain. Kemoterapi itu sakit banget. Tiga bulan berburu dengan segala pengobatan alternatif, akhirnya kami menyerah dan kembali ke pengobatan konvensional.
Dulu saya menganggap orang yang berobat sampai harus keluar negeri itu hanya sok-sok saja mengejar gengsi. Memangnya di Indonesia tidak ada tenaga kesehatan yang professional. Tapi sekarang saya menarik kembali kesimpulan saya yang dulu.
Tak usah saya ceritakan bagaimana mengecewakannya pelayanan kesehatan di Indonesia. Saya sebagai tenaga kesehatan di sebuah sarana kesehatan tidak akan membela diri. Kenyataannya memang sangat menyedihkan.
Selain rasa kecewa, saya punya beberapa alasan logis lain yang lebih patut. Setelah berembuk dengan kakak, kami sepakat membawa ibu ke Beacon International Specialist Center. Specialist center khusus kanker ini, merupakan satu-satunya di Asia Pasifik.Terletak di Petaling Jaya, sebuah kota satelit berjarak sekitar 20 menit dari Kuala Lumpur (KL). Yang memimpin klinik ini merupakan ketua asosiasi onkologi di Malaysia. Tidak sebesar RS tempat saya bekerja memang, tapi sangat homy. Semua pasien yang berobat di RS ini adalah penderita kanker yang mana pengobatannya tidak sekali dua kali. Mulai dari satpam, humas, pharmacist, manager operasional, dokter, perawat, cleaning service, sampai pelayan kantin semua menyapa dan mengenal kami. Berhubung tesis saya tentang marketing, saya banyak belajar bagaimana cara membina hubungan dengan pelanggan. Okay, practically they good in this way.

Beacon International Specialist Center

Tuesday, October 18, 2011

What are those people looking for?

lombok international airport
 
Well, those people really appreciate the plane.



If Wright Brothers visited this airport, they must be proud of what they invented a long long years ago.

badnara internasional lombok sore hari
Sambil membawa serta keluarga, menikmati bandar udara dan tentu saja pesawatnya

bandara internasional lombok
Aktifitas sore yang membuat hiruk pikuk bandar udara ini


Lombok International Airport, Oktober 2011.

Monday, October 17, 2011

(Kembali) Merangkai Mimpi


Pulang dari Lombok, kembali fokus dengan dunia nyata. Melunasi hutang-hutang saya, menjalankan segala ikhtiar yang mampu saya jalankan, untuk mewujudkan segala realitas yang saya harapkan.
  • November dan Desember, semoga saya mampu berusaha lebih keras lagi. Les TOEFL, banyak belajar soal agama, dan menabung.
  • Januari atau Februari, insha Allah, saya ingin kembali berkelana. Vietnam dan Kamboja.
  • Lalu di Bulan Mei, saya ingin mewujudkan mimpi, mengunjungi India dan Tibet. Hadiah ulang tahunku yang ke-25. Tibet dan Suami. Lebih tepatnya seseorang yang saya cari seumur hidup.
  • Dan semoga di akhir tahun, aku bisa mewujudkan mimpi untuk sekolah lagi, bersama suami.

Insya Allah. Semoga Tuhan mendengar, semoga Tuhan memberikan jalan.
Amin ya rabbal alamin.




Thursday, October 6, 2011

Escaping Bali


          Kadang patah hati bisa membuat seseorang melakukan hal-hal tak terduga. Alasan lain, karena saya ingin menghadiahi diri sendiri untuk ultah ke-24. Dan satu hal, saya kangen pantai!.
            Jadilah hari itu saya ke Denpasar, sendirian, dan untuk pertama kalinya. Yay!...
Berbekal info-info traveling dari internet, tekad, beberapa kenalan di Denpasar, dan tentu saja duit.
            Satu-satunya akomodasi (legal) dari bandara adalah taksi.  Ada juga calo yang menawarkan ojek. Cuma kalau gak mau kena tipu-tipu, mending langsung beli kupon di konter taksinya. Bandara-Kuta: 50 ribu, gak pake kembalian. Dan Pukul 10 pagi WITA saya sudah teronggok berdiri di Pantai Kuta.
View dari Teras Kamar Penginapan

Dinner di Jimbaran

Tuesday, October 4, 2011

Catatan Awal Oktober

Jika bersama dia, aku menjadi lebih baik, dan jika bersama aku, dia menjadi pribadi yang lebih baik.

Jika bersama dia, takdir hidupku. 

Jika bersama dialah, aku akan mewujudkan mimpi-mimpiku.

JIka bersama dia, di kemudian hari segala tawa dan lara harus kubagi.


...Maka mudahkan pertemuan kami, Tuhan.


*Doa pada sebuah catatan kecil 

Sunday, September 11, 2011

(Pe)Nginap(an) di Bandara



Kawan termasuk orang yang senang berpergian, sering harus terbang terlalu pagi atau terlalu malam di Bandara Soekarno Hatta, terlebih kalau pakai acara transit cukup lama. Dan mengingat keadaan Jakarta yang serba jauh dan serba macet. Alternatif ya menginaplah di (sekitar) bandara. Banyak tersedia hotel mulai dari yang berbintang sampai yang bermelati.
            Posting ini sekedar berbagi info saja. Waktu itu saya sempat butuh info penginapan di sekitar bandara. Selain bertanya pada teman, cara jitu ya bertanya pada Google.  Ada hotel berbintang seperti FM 7, Amarys, dan Jakarta Airport Hotel. Tapi bagi saya sangatlah tidak efektif jika harga penginapan tak jauh beda dengan harga tiket pesawat :P. Alternatif hotel kelas melati cukup banyak di daerah Benda, arah ke FM 7, belok kanan, dan di sana banyak berjejer hotel-hotel Melati. Sayangnya informasi yang saya peroleh dari pencarian Google hanya tersedia 3 nomor kontak hotel yang bisa dihubungi yaitu hotel Uswah, Ellia, dan Permata.
            Dari usaha saya menghubungi ketiga hotel ini, Uswah yang biaya inapnya paling miring, letaknya tak jauh dari FM 7,  sayangnya  mereka tidak menyediakan fasilitas antar-jemput ke bandara. Ada juga Ellia Hotel yang letaknya tak jauh dari Hotel Uswah, harganya tak jauh beda dengan Hotel Permata, waktu itu saya belum sempat menanyakan apakah ada fasilitas antar-jemput ke bandara. Saat saya menghubungi kedua hotel ini selalu full booked. Jika naek taksi dari bandara, umunya gak ada yang mau pake argo, karena letaknya dekat. Biasanya langsung ditarif sekitar 50 rb. Yah.. kalau sendirian dan barangnya gak banyak, mending naek ojek saja.

"Karena berdosa, Membuatmu Selalu Bertanya"


Sesuai dengan judul dan tag line nya, buku ini menyuguhkan, bisa dibilang semacam esai berbumbu fiktif, yang membuat kita berpikir lagi alasan dari sebuah alasan mengenai hidup, cinta, dan Tuhan. 
             Sebuah alasan, seperti sebuah peluit panjang, dalam sebuah pertandingan sepakbola. Peluit itu secara tiba-tiba membuat tim tuan rumah merasa kecewa, karena dikalahkan lawannya. Peluit itu tiba-tiba menjadi himne, yang membuat sebagian penonton tertunduk lesu diantara sebagian lain yang bersorak sorai.
Dalam situasi semacam itu, peluit adalah alasan, sesuatu yang tiba-tiba membuat semua pemain berhenti berlari-, tak lagi mengejar bola. Peluit panjang adalah alasan yang paling mendasar bagi semua penonton, pelatih, manajer, pemain, untuk sampai pada satu kesimpulan. , hasil akhir, keputusan.
Lalu bunyi peluit seperti apakah yang akan menggerakkan kita melakukan sesuatu ?. Ada banyak alasan. Seseorang, kau, aku, kita, digerakkan oleh sebuah peluit. Oleh sebuah alasan. Kenapa kita hidup? Untuk apa kita hidup? Kita semua menyimpan bunyi peluit masing-masing, kita semua punya alasan. Tapi terkadang, tidak semua dari kita tahu alasan sebenarnya. (Curhat Setan, 13-14)
            Ada tiga puluh tulisan yang tersaji dalam buku ini. Tulisan-tulisan yang berbentuk esai, kadangkala lebih mirip cerpen, dan ada pula lebih cocok sebagai puisi. Buku ini ringan, segar, namun menggerakkan.
Curhat Setan ini merupakan sekuel kedua dari buku A Cat In My Eyes. Namun di buku kedua ini, tulisan Fahd terasa lebih matang. Buku lain Fahd yang pernah say abaca adalah Menatap Punggung Muhammad. Ditilik dari kecepatan menyelesaikan buku, butuh berhari-hari bagi saya untuk menamatkan dan memahami buku Menatap Punggung Muhammad. Memang cerita dan penuturan bahasanya lebih berat.
Buku Fahd lain yang masih ingin saya baca adalah Rahim. Dari resensinya, menurut saya, buku ini memiliki kategori sama dengan Menatap Punggung Muhammad, bukan kaegori buku untuk merefresh otak.
Selesai membaca Curhat Setan, berkeliaran banyak pertanyaan di kepala saya. Dan bagi saya, ketika sampai pada halaman terakhir sebuah buku, lalu menari-nari berbagai pertanyaan dan pernyataan di kepala saya. Berarti buku itu telah sukses merasuk dalam ke dalam otak.
            Anyway, Happy reading everybody ^^

Judul Buku : Curhat Setan – Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya
Penulis : Fadh Djibran
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 172 Halaman

Friday, August 12, 2011

Renungan Pagi


Hidup saya mendekati usia dua puluh-sekian, suatu usia yang bukan belasan lagi. Usia dewasa yang seharusnya membawa saya pada kedewasaan. Yang seharusnya membawa saya pada keimanan. Nyatanya saya masih anak-anak. Masih orang yang didominasi oleh naluri dan emosi. Masih orang yang imannya hanya dipengaruhi lingkungan eksternal. Saya masih begitu labil, dan bahkan tak tahu apa yang saya maui tentang dunia ini.

-Pondok Labu, tergesa-gesa akan ke kantor-

Sunday, August 7, 2011

Mendadak Anyer


Bisa jadi jalan-jalan yang direncanakan sejak lama itu lebih riskan batal dibanding ide jalan-jalan yang tiba-tiba muncul dan terlaksana.
menyewa banana boat di pantaia anyer
Friends
            Di suatu week end di bulan Juli, saya dan beberapa teman, selanjutnya saya sebut sebagai kami, merencanakan liburan ke Green Canyon. Sebenarnya ini tujuan jalan-jalan yang sejak kuliah dulu sudah terbesit dalam benak saya.
            Pesertanya sudah ditentukan, itenary sudah ada, bahkan pemandu di sana sudah dihubungi. Sayangnya, dua hari menjelang hari H, salah satu teman mendadak lembur di hari sabtu, padahal jadwal berangkut ke pangandarannya jumat malam. Oke, ke Green Canyon dipending dulu, tapi liburan harus terlaksana. Apalagi kami gak semuanya tinggal di satu kota yang sama, tapi berasal dari berbagai nusantara *ini mah lebai mampus.
            Hari sabtu menjelang, sudah siang, saya masih berkeliaran di festival jepang di blok M. Ada yang masih di RS, ada yang masih di Bogor, ada yang masih meeting, mobil sewaan pun belum jelas ada dimana. Dan tujuan dipindah, sekarang Anyer, tempat wisata paling dekat yang bisa dicapai, selain puncak tentunya yang kalau malam minggu ke sana sama saja cari mati, macet mampus.

Monday, August 1, 2011

Dan apakah utopia itu?


Impian memang sejenis utopia.

Seorang penyair Italia pernah menjelaskan : utopia adalah sebuah titik, yang ketika kau berada di sebuah horizon, titik itu berada sepuluh langkah di hadapanmu.
Lalu setiap kali kau mendekatinya sepuluh langkah, maka ia akan menjauh sepuluh langkah pula. Dan, ketika kau berusaha menggapainya seribu langkah, maka ia akan menjauh sebanyak langkah yang kau ambil.
Lantas  apa pentingnya utopia?
Itu tadi, utopia penting untuk dimiliki.  Agar kau selalu melangkah, dan terus melangkah.

Saturday, July 30, 2011

Belajar Menanak Rasa

Seperti keju dicampur telur asin, sedikit selai nanas, beserta sesendok alkohol.
Demikian menggambarkan perasaan saya hari ini. Ada panas yg sesaat membakar tenggorokan, asin yg membuat mata terpejam, dan manis yang tidak pada tempatnya.

Semoga besok rasa dapat tanak dengan perpaduan yg lebih baik.
Published with Blogger-droid v1.7.2

Sunday, July 17, 2011

Live My Dreams (part 1)



Setiap orang pasti punya mimpi dalam hidupnya, entah mimpi yang terlalu mimpi, mimpi setengah nyata, atau mimpi yang benar-benar nyata untuk diwujudkan. Mimpi pun layaknya manusia, ia punya kadar hidupnya. Tergantung bagaimana kita memelihara, memupuk, dan menumbuhkan agar mimpi menjadi besar dan kian nyata.
Ada mimpi yang hanya sepersekian detik hidup, ada mimpi yang berumur hampir seumur pemiliknya tapi tak pernah tumbuh besar, dan tentu saja ada mimpi yang terus tumbuh, hidup, dan bermetamorfosis menjadi kenyataan. Ada cara-cara tertentu, tiap orang pasti punya caranya masing-masing, bagaimana mewujudkan keabstrakan mimpi, menjaganya, membuat ia tetap berada pada ingatan dan menjadikannya mewujud dalam realitas.
Bagi saya bermimpi itu perlu. Mimpi menjaga saya agar tetap survive, punya cadangan tenaga lebih, selalu menanti-nanti hari esok, or at least membuat saya beranjak dari tempat tidur di subuh pagi Hari Senin. 
Impian terbesar saya, bukan menjadi kepala ini, manager ini, pejabat ini, dan orang penting itu. Selain menjadi penulis, ambisi terbesar saya dalam hidup adalah melihat senja dari berbagai belahan bumi.
Mengelilingi dunia yang maha luas ini rasanya hampir (tidak) mungkin. Kalau begitu mari mengerucutkan ke-maha luas-an dunia, lalu menentukan belahan bumi mana yang benar-benar dan sangat-sangat ingin saya jelajahi. Ini daftarnya:

Tibet dan atau Nepal. Setiap orang yang belum menikah dan punya keinginan untuk nikah, pasti punya rencana soal bulan madu impian. Bagi saya, Tibet dan Nepal adalah, tujuan bulan madu impian. Bukan kemudian berbulan madu sambil mendaki mount everest. “Saya hanya pengen menyaksikan mount everest dari jarak dekat sambil menikmati secangkir coklat hangat di pagi hari bersama suami di sebuah perkampungan Tibet”.
Saya gak pernah berharap berbulan madu di hotel bintang lima atau berlibur ke resort maha mewah di private island, selain karena hal tersebut juga terlalu ngayal bagi seorang saya :P
Kathmandu, Nepal
 Motivasi tiap orang buat melakukan perjalanan beda-beda, ada yang mengejar kulinernya, wisata belanja, tempat rekreasi, dsb. Buat saya, yang paling menarik dari suatu tempat adalah budayanya. Nepal dan Tibet  punya budaya yang berbeda ditambah lancscape yang luar biasa indah, perpaduan sebuah tempat yang wajib-fardhu ain- untuk dikunjungi. 

Lhasa, Tibet  

Sunday, July 3, 2011

A Lunatic Love


Siang ini, saat asyik ngobrol dengan seorang sahabat via cyberspace, salah satu potongan obrolan kami.
Saya: “Eh gak terasa, aku sekarang udah lupa dengan si X, udah gak kepikiran dia lagi”
Sahabat: “ Kan sudah kubilang, kau cuma butuh waktu, Rika…”

Padahal masih segar dalam ingatan beberapa bulan lalu ketika saya masih termehek-mehek habis-habisan. 
Tapi yah manusia memang dikasih akal oleh Tuhan, supaya bisa berpikir dan me-mix antara logika dan perasaan.
Saat itu saya mikir, nanti ada saatnya bagi saya untuk berhenti.
Saya bilang pada diri sendiri, saya hanya butuh pengakuan dia sejujurnya, dan saya akan berhenti

Dan hari itu akhirnya datang…     
Dia mengakuinya…
Waktu itu saya di bis, sendirian, dan saya nangis.
Tapi pada saat itu saya berjanji, saya gak akan nangis lagi karena dia.

Saya belajar keikhlasan, perasaan menerima.

Lalu…semuanya terasa lebih ringan.

Obrolan Uang


Di sela rutinitas, kesibukan dan hiruk pikuk dunia, sering terbesit dalam pikiran saya, apa jadinya dunia ini jika manusia tidak mengenal benda yang berfungsi sebagai uang. Mungkin akan menjadi lebih ribet menggunakan transaksi sistem barter. Tetapi siapa nyana, dunia mungkin bisa jadi lebih sederhana, manusia bisa jadi lebih santai.
Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke negara tetangga. Balik ke Jakarta, masih terselip di dompet beberapa lembar mata uangnya. Sebenarnya kalau dirupiahkan lumayan juga bisa untuk bayar kos. Tapi berhubung belum sempat ke money changer, jadilah lembaran uang itu hanya teronggok seperti lembaran kertas lain di kamar. Di Indonesia lembaran-lembaran kertas itu gak laku. Bahkan untuk beli nasi padang sebungkus pun gak bisa.
Dan lagi-lagi saya jadi mikir, uang itu sangat relatif. Its just point of view, just our perception. Sesuatu yang sebenarnya manusia hargai sendiri, dan manusia persepsikan sendiri dalam ingatannya. Lalu apa jadinya kalau saya diberi alat dari Doraemon, yang bisa menyihir pikiran umat manusia, bahwa uang itu cuma lembaran-lembaran kotor berbau busuk.
Dapatkah kemudian saya mengurai kompleksitas beragam masalah di bumi ini?. Bukannya bermimpi jadi superhero, tapi coba kita lihat lagi negeri ini, segala tipu daya politik, korupsi, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, hampir semuanya berujung pada lembar-lembar berbau busuk tersebut.
Lalu mari turun ke level yang lebih rendah, lingkungan sekitar kita. Berkenalan dengan orang, melihat manusia-manusia di mall, semua berawal dari apa yang terlihat secaara fisik, dari apa yang mampu mereka beli. Tak usah jauh-jauh,  di rumah sakit (tempat saya bekerja) VIP dan kelas 3 itu berarti perbedaan kasta. Mulai dari kecepatan pelayanan sampai ketersediaan obat. Bahkan paracetamol sebiji pun kalau harus mengubek-ubek apotek seisi Jakarta, ya harus dilakukan demi pasien VIP.
Ah saya mungkin cuma (terlalu)  takut atau sekedar usaha defensive, semoga saya dijauhkan dari menjadi manusia (berorientasi pada) uang.  
Sekali lagi, uang itu hanya tool dalam rangkaian sistem kehidupan di bumi ini *merapalkan pada diri sendiri.



Monday, May 23, 2011

Apa yang kau butuhkan, Rika?


Beberapa waktu lalu, seorang teman bertanya kepada saya " Ka, kamu sekarang lagi butuh apa? buat kado ultah ni." 
Saya diam, berpikir, dan sampai pertemuan itu berakhir, saya belum menemukan jawaban.
Lalu tadi malam, seorang teman yang lain bertanya, kali ini lewat SMS: Ka, apalagi cita-citamu yang belum kesampean?. 
Saya pun butuh waktu lama untuk menjawab SMS tersebut.
  Sampai pada titik ini, akhirnya saya sadar. Emang banyak hal yang belum saya miliki. Tapi rasanya Tuhan yang Maha Baik sudah memberi semuaaa yang saya butuhkan :) 


Tuesday, May 10, 2011

quote gola gong dalam the journey
"Keberangkatan"
Maka Pergilah sebentar dari rumah. Sisakanlah waktu dalam hidupmu Kawan, untuk melihat dan menikmati dunia. Hidup tidak melulu cuma harta, tahta, dan kehormatan (Gola Gong dalam The Journey)
Pada Satu Titik
Pada Satu Titik
Kita bisa saja berhenti berusaha
Tapi sampai pada titik apapun
Jangan pernah berhenti berdoa
Karena usaha bisa saja sia-sia
Tapi do'a akan selalu didengarkan


NB: saya sedang asyik-asyiknya belajar  potosop ^.^

Tuesday, April 26, 2011

Cacth A Falling Star (Part 1)


Bintang jatuh, pengharapan, ritual malam. Ini pengalaman tahun lalu, yang sedang saya kangeni. Tanggal 18-24 April 2010 menurut yang banyak diberitakan media massa, di angkasa ada hujan meteor yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Sebagai pemuja bintang, tak ketinggalan saya menyaksikan hujan meteor itu di Pantai Parangtritis. Sebuah pengalaman mengesankan, karena sebelumnya saya cuma pernah main ke pantai paling sampai pukul 9 malam.
Cacth A Falling Star
Bersama 6 orang teman, saya berangkat ke pantai menjelang tengah malam. Tengah malam di pantai ternyata tidak semengerikan yang saya kira. Saya malah heran, tengah malam kok di pantai rame. Di tiap sudut, banyak orang yang gitaran, pacaran atau sekedar ngobrol dan bercengkrama. .

Wednesday, April 6, 2011

Cina VS Pribumi


Tulisan saya ini memang mengandung unsur SARA, tapi saya tidak bermaksud untuk memicu pertikaian atau mendiskreditkan pihak manapun. Hanya sebagai wacana saja. Persoalan ini bisa jadi sifatnya hanya kasuistis dan saya mengulas hanya dari sudut pandang saya.
Cinta pertama saya dulu adalah seorang anak dari etnis cina. Karena itu saya jadi lebih sering mengamati. Di kampung halaman saya, seperempat penduduknya adalah etnis cina. Dan mereka memang lebih memilih datang ke sekolah yang 90% siswanya juga berasal dari etnis cina. Tidak mengherankan, karena saya melihat etnis cina yang masuk sekolah saya (saat itu saya bersekolah di sekolah negeri), mereka mendapat perlakuan berbeda, baik dari guru maupun teman-teman sebaya. Sempat terpikir oleh saya, alangkah tidak enaknya menjadi kaum minoritas.
apa saja perbedaan pribumi dan cina
Selesai kuliah, ternyata persoalan lama ini lagi-lagi menghantui kepala saya. Waktu itu saya mengikuti walk in interview sebuah perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Sebuat saja perusahaan K Group. Yah..sudah jadi rahasia umum bahwa K group lebih mengunggulkan etnis tertentu, okelah langsung saya sebut etnis cina. Jikapun pribumi berhasil masuk, menurut isu jenjang kariernya tidak akan semulus teman yang memiliki darah cina. Dan jangan coba-coba mengenakan jilbab.
Tak hanya pada K Group, beberapa perusahaan farmasi swasta yang pemiliknya berasal dari etnis ini tidap menganjurkan pegawainya memakai jilbab. Saya pernah mengikuti rekriutment sebuah Healtcare yang juga satu group dengan perusahaan farmasi P**ros. Saya diterima tapi dengan syarat melepas jilbab. Tuing..tuing…
Saya tidak menyalahkan atau mencaci maki orang cina. Bisa jadi kejanggalan-kejanggalan ini muncul karena diskriminasi yang mereka terima selama bertahun-tahun tinggal di Indonesia. Seumur hidup tinggal 24 tahun di Indonesia, saya belum pernah ketemu PNS dari etnis ini. Kalau pun ada posisinya adalah Menteri (menteri disebut PNS juga kan?). Barangkali karena diskriminasi PNS inilah yang membuat mereka mencari ceruk (orang marketing bilang niche). Karena diskriminasi pula, mereka memutar otak, mencari celah rezeki lain, berusaha lebih keras dan membangun kerajaan bisnis.  Sehingga muncul seolah-olah memang ada pembagian rezeki. Kalau dalam kaitannya dengan bidang farmasi, yah pribumi dapat PNS, Rumah sakit, atau apotek, sedangkan industri lebih banyak di dominasi etnis cina.

Friday, March 25, 2011

Rumah itu Kini Kosong


        Rumah itu kini kosong. Rumah yang saya diami sejak kecil, dan selalu menjadi tujuan akhir sejauh apapun saya melangkah. Tempat yang mejadi simbol dan mengingatkan dari mana saya berasal.
Saya memang sudah merantau hampir 9  tahun. Tapi saya tak pernah lupa rumah. Saat libur tiba, saya akan kembali ke rumah. Dan rumah itu kini kosong. Penghuninya satu persatu pergi, entah untuk pindah atau untuk pergi selamanya.

Tuesday, March 15, 2011

Last Kiss (this is for myDad)

Senja itu sehabis bercengkrama dengan kawan-kawan kos, saya masuk ke kamar, melirik ke hp , eh ada 11 misscall dari abang ipar. Tumben, karena yang sering menelpon saya paling dari no telpon rmah, kalo gak dari hp kakak-kakak saya. Saya lalu misscall balik, saya sudah ada dah firasat buruk. Handphone saya berdering lagi, di seberang sana emak saya nanya kapan saya libur, kalau dah libur saya harus segera pulang soalnya bapak sedang sakit. Kemudian suara berganti jadi suara kakak. Katanya saya harus pulang besok. Besok pagi, tak tau bagaimana caranya,  saya harus cari tiket buat pulang ke rumah. Saya bingung banget, di luar hujan sangat deras diiringi petir. Senja berlalu, dan hari semakin gelap. Saya lalu sholat magrib. Datang lagi telpon, dan terdengar suara kakak sambil nangis bilang kalau bapak dah gak ada. Saya hanya diam, gak tahu mau apa lagi, di kamar sendiri. Kata kakak, saya harus pulang besok, apapun yang terjadi.
            Bapak akan dikubur sehabis sholat ashar, oh..berarti saya masih punya waktu. Ternyata berhubung rumah saya terletak di daerah rawa dan dipinggir laut, sedangkan saat itu bulan Desember adlaah musim pasang. Air laut semakin sore akan naik semakin tinggi, termasuk menggenangi kuburan..So bapak harus dikubur abis dhuzur. Dimulailah pertarungan saya melawan waktu. Baru kali ini sepanjang perjalanan hidup saya, gue bisa serius dan benar-benar takut untuk menyesal. Biasanya saya adalah gambler sejati. Tapi  kali ini saya takut kalau kalah, maka saya akan menyesal seumur hidup.

This is for myMom


Bukan Ibu Biasa*

Seperti ibu-ibu lainya di muka bumi ini. Ini cerita tentang ibu saya yang mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
with mom
Ibu saya adalah perempuan biasa, seperti kebanyakan wanita Indonesia yang lahir pada awal tahun 50-an. Minim pendidikan, memiliki pola pikir sederhana meski sebenarnya berotak cerdas. Ibu hanya menamatkan pendidikan sampai setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun bagi saya kepintaran ibu tak kalah dengan dosen-dosen yang mengajar saya di perguruan tinggi. Ibu mampu menghitung seperti orang yang mahir menggunakan sempoa imajinasi, lebih cepat dari saya yang telah mengenyam pendidikan hingga tingkat master. Maklumlah selain sebagai ibu rumah tangga, ibu juga menjaga toko kelontong kami yang ada di pasar. Dalam hal mendidik, ibu saya adalah seorang demokratis yang amat saya kagumi. Meskipun ibu tidak pernah belajar teori ilmu politik atau panduan praktis cara mendidik rasa demokrasi anak-anak dalam keluarga. Ibu selalu memberikan pilihan tanpa intimidasi tertentu. Kami, anak-anaknya diajak berpikir sebelum menentukan pilihan. Cara mendidik yang satu inilah yang paling saya kagumi. Sungguh karena hidup hanyalah serangkaian rentetan pilihan. Saya menjadi kritis dan analitis sebelum menentukan satu pilihan. Dan saya harus siap dengan segala konsekuensi yang mengiringi pilihan tersebut.  
Dalam hal mencari nafkah, ayah dan ibu bahu membahu bekerja sama. Ayah seorang wiraswastawan yang sepanjang hidupnya selalu mencari peluang berbisnis sana-sini. Ayah pernah bekerja sebagai pelaut dan kapten kapal barang, mendirikan Commanditaire Vennootschaap (CV) untuk pengerjaan proyek pemerintah, berjualan barang second hand, sampai bisnis eksport kopi, ular, kopra, dan pinang ke Malaysia dan Singapura. Kekaguman saya terhadap ibu semakin bertambah tatkala ayah mulai sakit-sakitan sekitar tahun 2000. Menurut ibu, penyakit ayah disebabkan pekerjaan ayah dulu sebagai pelaut sehingga terlalu sering terkena angin laut, atau masyarakat akrab menyebutnya ‘angin duduk’. Sedangkan menurut diagnosis dokter, ayah menderita komplikasi jantung koroner dan asam urat.

Monday, March 7, 2011

List Surga Dunia

I’m in bad mood at all. Gak bersemangat, gak mau ketemu siapa-siapa, dan melakukan apa-apa. Cuma guling-guling, dada sakit, dan mata panas.
            Saya tahu saya gak boleh begini terus. Theres must be something i should do, than doing nothing. Memikirkan hal-hal indah?. Hmm...sebaiknya saya harus membuat list hal-hal menyenangka di dunia ini, atau saya menyebutnya sebagai ’Surga Dunia’. Bukankah kenangan indah dapat memicu hipothalamus mengeluarkan hormon bahagia, sehingga rasa perih ini dapat sedikit mereda. Sembari menutup mata, saya berbisik ”Ayo Rika, ingat hal-hal indah yang pernah terjadi”
            Mengingatnya lalu menuliskan kembali saya harap dapat menyadarkan bahwa life is SO beautiful....
Here is the list:
-    Baca buku cerita,novel, cerpen, komik favorit gue. Sumpah gak ada yang mengalahkan  sensasi membaca buku.
Smile ^^
-         Bengong, menikmati udara malam, berbaring memandangi bintang
-         Ngerokok sambil jongkok, dan gak mikirin apa-apa
-         Bengong di tepi laut atau pantai, menikmati hembusan angin, dan gerak monoton gelombang
-         Mancing dan bengong, atau mancing dan ngobrol. Sama-sama surga dunia
-         Pagi-pagi, udara cerah, jongkok, dan menyeruput sedikit demi sedikit capucino atau coklat hangat.
-         Ngeliatin ritme hujan yang tidak terlalu lebat, ataupun rintik dari sisa hujan deras yang mulai agak mereda

Thursday, February 24, 2011

SEBENTUK CINTA

Uraikan sebuah yang hanya akan menjadi satu
Uraikan sesimpul yang hanya akan menjadi setali
Seperti aku
Seperti kamu
Seperti kita
Uraikan setitik cinta yang hanya akan menjadi segunung
dan Uraikan segunung yang hanya akan menjadi keabadian

(yogyakarta,4agustus2007.
saat EricStrins jatuh cinta)

Eksistensi Diri

(Jakarta, 24 Februari 2011) - Di tengah-tengah lembar kelelahan saya, rutinitas yang menjemukan, rasa muak, saya mencoba berdamai dengan diri sendiri, bahwa inilah yang sedang saya lakukan, EKSISTENSI DIRI. Bayangkan jika saya tidak eksis dimana-mana. Saya pernah mengalami itu, rasanya tidak enak, lebih tepatnya tidak berharga.

Jum’at, 2April2010.Yogyakarta.
Mari kita membicarakan eksistensi diri. Saya pengangguran, meski kuliah saya belum selesai. Saya tidak eksis di kegiatan apapun, saya tidak menghasilkan karya apapun, secara finansial saya masih sangat tergantung, saya tidak punya komunitas apapun, saya tidak berkegiatan apapun, lebih tepatnya tidak punya kegiatan tetap apapun. Selain mencuci, setrika, makan, dan bersih-bersih kamar.
Akhir-akhir ini saya merasa tidak eksis sebagai manusia. Saya sangat tergantung, dan saya tidak berperan dalam apapun. Seandainya saya meninggal, maka sistem sosial yang ada di bumi ini tidak pincang. Tidak akan terjadi perubahan apapun karena saya tidak eksis dimanapun.
Saya benar-benar pincang sebagai manusia. Saya ingin bekerja, tapi seumur hidup yang sangat saya takuti adalah bekerja. Menjadi manusia yang mengejar uang dan menghabiskan hidupnya demi lembar-lembar kotor berbau tak sedap tersebut.

Wednesday, February 9, 2011

Sesuatu yang Tak biasa

(februari2011.cerpen ini sy buat setahun lalu, siapa nyana, saat ini sy merasa 'mengalami' apa yg menjadi hasil imajinasi sy sendiri )


Ada sesuatu yg tak biasa, antara kau dan dia. Semua itu telah aku ketahui. Sejak dari pertama ku dengar tawa yang senada antara kau dan dia. Sejak pertama kutatap ada secercah pancaran mata yang teraba bahagia antara kau dan dia.
*
regret
Kau memang sudah mengenal dia jauh sebelum kau mengenal aku. Tapi kau dan dia hanya sebatas teman sekedar tahu nama. Kau mengenalnya karena kalian sama-sama masuk ekstrakurikuler kajian ilmiah dan penelitian. Aku mengenalnya karena ia adalah temen sekelasku yang kemudian menjadi sobatku. Lalu aku mengenal kau dan jatuh cinta. Sebagai teman dekat, aku mengenalkan kau padanya. Lalu dia menjadi mengenal kau karena aku. Dan kau menjadi mengenal dia karena aku pula.
Aku tahu aku merasa sedikit minder jika sesekali mendengar obrolan kalian yang terdengar sangat ilmiah di telingaku. Aku hanya tertarik soal playstation, sepakbola, gitar, dan dunia maya. Empat hal yang sering kau umpat. Kau bilang benci sepakbola karena  sepakbola sering menggeser prioritas kepentingan pacarmu. Playstation dan internet adalah hasil kecanggihan teknologi yang dimanfaatkan menjadi produk kapitalisme. Sedangkan gitar adalah benda asing bagimu, layaknya seorang yang seumur hidupnya tinggal di lereng gunung dan tiba-tiba suatu hari diajak bermain di pantai.  Tapi empat hal tersebut merupakan segala-galanya bagiku tentunya setelah dirimu.

Friday, January 28, 2011

Prahara Seorang Pengangguran

Hope...

Now, i’m not okay. Overall i’m so pathetic. Starting review what happen to me 3 months ago…maybe it would help, I hope…

20oktober2010.
            Saya berpura-pura, ah kalau orang bilang kenapa saya belum bekerja. Saya jawab, ya sebenarnya sudah ada yang menerima saya bekerja. Tapi jauhlah, orangtua tidak mengizinkanlah, gajinya terlalu kecil, atau perusahaannya gak elit lah.
            Padahal saya tahu, kemampuan personal dan kematangan pada diri saya masih jauh dari bagus. Ah…bagaimana ini…, saya sendiri tahu kemampuan saya, tapi saya masih berekspektasi lebih.
            Sebenarnya cita-cita saya itu sangat tinggi. Bahkan mungkin terlampau tinggi, sampai saya tak tahu tangga terendah mana yang bisa saya naiki. Di atasnya besar, tapi pangkalnya masih amat kabur, bahkan abstrak.

Tuesday, January 11, 2011

Dilema

31oktober2010.minggu.
           
            Sehabis subuh, tiba-tiba saya teringat almarhum ayah. Ini gara-gara perbincangan tadi malam dengan seorang teman. Ia mengatakan ingin menjadi seorang wirausahawan, tapi sulit karena ia berasal dari keluarga non wirausaha.
            Saya sebaliknya, sebagian besar keluarga saya berwirausaha. Akan tetapi saya saat ini lebih fokus mencari pekerjaan dibanding berwirausaha. Sebagian besar karena dorongan dari keluarga (baca: ibu dan saudara-saudara saya). Ayah saya dulu kerap bicara bahwa ia memilih menjadi wirausahawan karena gak ada yang merintah serta gak tekanan dari atasan. Meskipun dari segi penghasilan, uang yang datang tiap bulan tidak pasti, bulan ini bisa untung besar tapi bulan depan malah merugi. Tidak seperti PNS atau pegawai swasta lainnya yang penghasilannya terus naik atau minimal pendapatannya sama dari bulan sebelumnya.