Tuesday, October 5, 2010

LDR (Long Distance Relationship)

Could you always take myhand?

Perpisahan memang bukan hal mudah. Ah…sekarang untuk ketiga kalinya saya harus menjalani peristiwa ini. Berpisah dalam makna denotatif.
            Perpisahan bisa jadi merupakan salah satu peristiwa yang membuat kita merasa kehilangan. Dan kehilangan bukanlah perkara mudah. Dalam keseharian saya, ada sesuatu yang hilang, kosong, dan rasanya tidak lengkap. Kejanggalan ini bisa membuat  saya tiba-tiba melamun di tengah aktivitas dan seperti serangan jantung, dada ini terasa perih sangat.

Sebelumnya, bukan tidak pernah saya dan dia berpisah.  Satu dua bulan kita pernah menjalani, bahkan tidak ada kontak sama sekali. Dia pergi ke sebuah tempat, jangankan sinyal, listrik pun tak ada. Tapi saya tahu dan dia tahu. Kita menetapkan tanggal akan bertemu lagi.
            Namun sekarang sungguh berbeda. Saya dan dia tak tahu kapan akan bertemu lagi. Saya dan dia mengadu nasib di dua tempat berbeda, terpisah ribuan mil. Ah...memang tidak semua hal yang kita inginkan bisa terwujud dalam bentuk situasi yang ideal.
            Saya hanya takut kedekatan emosi yang selama ini telah terbangun perlahan akan runtuh. Tidak mudah untuk dekat secara emosional hanya lewat sms klise: sudah makan?, Lagi apa?, Mau kemana?, Kangen gak?, I Love u, dsb. Belum lagi, saya dan mungkin dia akan terbiasa dengan rutinitas kesendirian. Rutinitas yang bisa saja menenggelamkan rasa dan debar. Lalu tiba-tiba dalam rutinitas dan kesepian di rantau begini, siapa yang tak akan tergoda oleh makhluk nyata lain, dengan wujud fisik yang bisa dilihat. Tidak hanya lewat sms dan telepon.
            Ah...kata dia, saya terlalu berlebihan menyikapi situasi ini. Ataukah ketakutan berlebihan ini karena pengalaman traumatis saya di masa lalu. Sebelumnya, saya pernah menjalani LDR sebanyak 2 kali. Yang pertama, kita putus setelah LDR kira kira 5 bulan gara-gara mantan saya ketahuan selingkuh dengan teman saya sendiri. Yang kedua, setelah hampir 9 bulan LDR, saya dan mantan akhirnya bisa tinggal di satu kota. Dua tahun kemudian akhirnya kita putus juga,  dengan alasan sudah tidak cocok lagi.
Saya dan dia kuliah di dua bidang keilmuan yang jauh berbeda. Semenjak dia lulus satu tahun yang lalu, saya telah memprediksi suatu saat kita akan LDR-an. Dan akhirnya saat itu datang, saya dan dia harus menghadapinya.
Semoga Tuhan memberi yang terbaik untuk saya dan dia. Amin

                                                                                    Eric Strins.yk, 4 Oktober 2010.

8 comments:

Anonymous said...

Jarak bukanlah masalah,melainkan tantangan...
dalam sebuah hubungan,jauh dekat tetap dibutuhkan sebuah kepercayaan..suatu hari engkau akan bertemu lagi...

heny uruha said...

LDR,,, memang susah ka,, aku jg ngalamin kok.. wlwpn kami udh brjanji stiap 2 mggu akn ketemu,, dia akn mengunjungiku.. tp tetp gk bs.. getar itu perlahan memg menghilang.. dan kami mulai tergoda dg yg lain..hiks..

Agam said...

snbenar'a biar LDR'a langgeng tu cuma satu obat'a
"KOMUNIKASI"

dagingkuda said...

Susah emang, Long Distance Relationship.
Sy yakin 99.9%, orang yang melakukan LDR pasti pernah melakukan flirting dalam kisah asmaranya :D

helmi said...

LDR ini bukan Love Decrease Reduction hahhaha

Anonymous said...

semangat sayang........ tak ada yg tak mungkin.... yg penting komunikasi dan saling percaya... aku jg LDR,, dah hampir 2 tahun.... alhamdulillah ampe sekarang masi jalan... malah makin kangeeeennnn..... hihiihiii *Karina

Yows said...

Yogyakarta Okt 2010, berarti waktu itu kita sama2 sedang di jogja dong ya..

Eric Strins said...

Yoa... Aku baru hijrah ke Jakarta awal tahun 2011. Jangan2 kita pernah kumpul IATT bareng? eh tapi aku jarang bangen ikut kumpul sih :P

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...