Thursday, February 22, 2018

Mengusahakan Menjadi Pengusaha Part 3 I Pengalaman Mengikuti PPBT 2018



Image result for perusahaan pemula berbasis teknologi



PPBT itu apa? PBBT itu singkatan dari Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, semacam kompetisi untuk perusahaan pemula (start-up) dengan inovasi teknologi tertentu yang diadakan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (RIstekdikti) untuk memperoleh dana hibah.

Jadi sewaktu saya ikut PBBT ini, I have no clue, kecuali informasi dari seorang teman yang pernah ikut dan dapat dana hibah. Tapi kan saya butuh informasi lain, apalagi ada sedikit perbedaan bisnis saya dan teman saya itu. Nah, ketika mencoba searching di google, gak ada satu informasipun yang saya dapatkan,  terutama mengenai pengalaman orang-orang yang pernah ikut PPBT.

Jadi, sekarang saya mencoba menuliskan pengalaman ikut PBBT ini. Nama kompetisi dan rule(s) tiap tahunnya beda-beda sih. Pernah juga digunakan nama Kompetisi Inkubasi Bisnis Teknologi (IBT).
 Jadi yang saya ceritakan ini berdasarkan pengalaman saya ikut di tahun 2018 ini. Pembukaan untuk PBBT  2018 ini dimulai sejak akhir 2017. PBBT sendiri dibagi 2 kategori, kategori PPBT yang sudah berjalan bisnisnya dan boleh diikuti oleh masyarakat umum atau badan usaha tertentu serta inkubator bisnis, dan ada kategori CPPBT, C merupakan singkatan dari Calon. Jadi untuk kategori CPPBT hanya boleh diikuti oleh perguruan tinggi di bawah LPPM, berlaku untuk produk yang sudah berbentuk prototype, dan siap dijual di pasar. Saya sendiri mengikuti kategori PPBT.

Untuk pendaftarannya tentu saja dilakukan secara online. Kalau Kawan tertarik, siap-siap di akhir tahun, biasanya sekitar bulan Oktober sudah ada pengumuman terkait kompetisi PBBT ini. Ada banyak dokumen yang disiapkan, but it worthed, karena dana hibah yang didapatkan juga lumayan banget. Untuk kategori startup, bisa dapat dana gratis ratusan juta untuk mengembangkan bisnis, ya lumayan toh?. Sebab ini dana hibah, bukan pinjaman berbunga rendah seperti LPDB ya. Jadi bentuk pertanggunng jawabannya laporan penggunaan dana tiap bulan, serta audit tahunan BPK.

Singkat cerita, saya lulus seleksi substantif. Ada sekitar 250 peserta yang lolos tahap substantif. I have no clue, berapa nantinya yang terpilih. Tapi melihat ke belakang, tahun lalu ada 100 start up yang dapat dana hibah.  Tahap kedua, yakni presentasi langsung di depan reviewer di Jakarta. Ini sebenarnya tahap yang paling menentukan. Jadi awal Februari kemarin, saya borongan, sama Amni dan Bapak Amni ke Jakarta.

Presentasinya di adakan di Hotel Sari Pan Pacific. Melihat peserta yang membawa barang-barang (produk harus ditunjukkan di hadapan juri), saya sempat minder juga. Ada yang bawa drone, bawa printer 3 dimensi, tabung gas dari limbah tebu, dan banyak produk canggih lainnya. Saya sendiri cuma bawa beberapa produk kosmetik yang saya siapkan beberapa hari sebelumnya.

Nah di seleksi presentasi ini, I though I’ve failed. Ada beberapa kesalahan yang saya buat: 1. Memang di aturan, Rencana Anggaran Belanja (RAB) tidak boleh digunakan untuk membeli peralatan komputer, bangunan, atau tanah. Nah di RAB, saya rencanakan untuk bikin workshop produksi dengna menyewa sewa. Nah ternyata itupun tidak boleh. Padahal point RAB ini cukup besar nilainya. 2. Produk saya belum diuji di laboratorium. Rata-rata produk peserta yang ikut, karena kebanyakan di bawah perguruan tinggi, sudah diuji di laboratorium 3.Produk saya, karena masih diolah dengan sederhana, jadi point plus untuk inovasi teknologi nya gak dapet. 4. Setiap peserta wajib membuat video mengenai produk. Karena gak ada keterangan lebih lanjut, saya bikinlah video tutorial mengenai cara penggunaan produk (ala-ala beauty blogger), which is ketika ditanya juri, mereka menginginkan video pembuatan produk tersebut.  Krik krik….  


Monday, February 19, 2018

menulis selalu menjadi ruang untuk kembali


Setelah sekian tahun lalu menulis post 1001 alasan nge blog, sekarang saya masih aja stick untuk menulis.  Menulis selalu menjadi pilihan dan terapi yang berhasil, plus tentu saja murah (ketimbang harus ke psikiater, jalan-jalan, atau mengentertain diri sendiri).

Dan sudah dua minggu belakangan, saya enek banget dengan instagram. Dan sekarang malah bolak balik ngecek twitter, yang ternyata masih rame juga timeline nya. Seminggu yang lalu berhasil menamatkan satu buah novel dalam kurun waktu 3 hari. And I’m so happy.

 Barangkali memang saya bukan a visual person.Saya sangat menikmati membaca tulisan. Sebanyak apapun, setebal apapun, kalau tulisannya enak dibaca, rasanya sungguh sangat menyenangkan. Barangkali juga bawaan hamil, melihat timeline dan IG story, terlalu banyak nonton youtube,  malah bikin pusing dan mual.  . Semingguan ini juga rajin banget blog walking. Baca blog orang sampai berjam-berjam.

Ya biarkan saja saya menyalahkan hormon yang sedang turun naik secapat rollercoster bikin mood turun naik. Kadang bisa nangis sendiri tanpa sebab. Dan kegalauan memikirkan kehidupan setelah melahirkan nani, mau pakai ART, mau cari baby sitter, mau pakai jasa TPA, atau mau off kerja sementara waktu. Duh…duh..duh…biarkan saya melarikan diri dulu dengan menulis, membaca, menulis, membaca, menulis, membaca…..


Tuesday, January 9, 2018

Restu Ibu

Well, its not tittle of short story.
Restu Ibu itu nama sebuah digital printing di Samarinda. Ya, bukan apa-apa, tapi kalau googling mengenai digital printing dan percetakan di Samarinda, susah mencari infonya.
Makanya saya tulis ini. So far, saya ada rasa benci tapi suka sama percetakan ini. Bukan apa-apa, di Samarinda gak banyak percetakan yang bisa jadi referensi.  

Saya suka percetakan Restu Ibu ini karena bisa memesan dalam jumlah sedikit, harga murah, dan kualitas bagus. Saya paling sering cetak stiker vinyl. Biaya cetak stiker vinyl atau stiker transparan 10rb perlembar, dan bisa ditunggu, dan boleh cetak walau Cuma 1 lembar A3. Nah kalau stiker cutting biayanya 25rb per lembar, bisa cetak kalau Cuma 1 lembar, sayangnya kalau cutting stiker ini gak bisa ditunggu, pengerjaannya cukup lama, antara 3 hari sampai 1 minggu.

Sayangnya, karena kualitas bagus dan harga murah ini, membuat percetakan ini selalu ramai dan kebanjiran order. Dan itu tidak diimbangi dengan management yang bagus. Pernah saya cetak stiker vinyl cutting. Nah beberapa hari kemudian ketika saya balik untuk mengambil hasilnya, ternyata pesanan saya tersebut belum dikerjakan.

Pernah juga ketika saya akan mencetak stiker vinyl, sudah dilayout ke adobe dan siap cetak, ternyata bahan vinylnya lagi kosong.

Pernah pula, anak magang di usaha saya, saya minta tolong print label produk.  Setelah menunggu lebih dari dua jam, ternyata stikernya belum juga dicetak. Ada masalah sama mesin, dan akhirnya harus ditinggal.

Sistem yang paling harus diperbaiki adalah mereka gak ada nomor antrian, padahl pengunjungnya cukup ramai. dan designernya Cuma 2 orang, jadi sering banget pelanggan dilayani tidak sesuai urut kedatangan.


Letak percetakan Restu Ibu ini di Jalan Pahlawan Samarinda, gak jauh dari Hotel Mesra, Operasional senin sampai sabtu jam 09.30 sampai jam 17.00 

Wednesday, December 27, 2017

Mengusahakan Menjadi Pengusaha part 2 I Membaca Situasi dan Kemampuan Daya Juang

Jadi, mungkin ini sering menjadi kesalahan bagi saya (juga mungki n bagi kawan-kawan) ketika menentukan suatu ambisi.
Terus terang, saya ini tipikal yang impulsif. Jadi ketika menginginkan sesuatu dan kemudian menentukan ambisi, saya hanya melihat apa yang ada dalam diri saya, apa yang menjadi potensi saya, lalu saya tetapkan ambisi tersebut.

But well, di penghujung tahun, di usia yang semakin tua, dan tentu saja jumlah kegagalan yang semakin bertambah, ternyata, dalam menentukan ambisi yang saya kejar, saya harus mempertimbangkan dua hal lain, yaitu: 1. situasi/keadaan saya pada saat itu, 2.Ketahanan, daya juang, dan usaha yang saya butuhkan untuk mencapai ambisi tersebut.

Ya, dua hal ini yang kerap kali terlewat, terbutakan, dan tidak saya hitung masak-masak, akibat terlalu menggebu-gebu menilai diri bisa dan keinginan untuk segera mencapai ambisi tersebut.

Punya usaha yang sukses juga adalah salah satu ambisi hidup saya. Dan tadi malam, tepatnya tengah malam, saya menelaah lagi, apa yang sebenarnya saya lewatkan, apa sebenarnya yang juga harus saya pikirkan. But you know, people learning by doing.  Sudah hampir 4 bulan saya merangkak membangun usaha ini. Theres no way back, the only way to finisih is just going through the night.

Satu tahun pertama memang masa yang berat, terutama untuk UMKM. So, tulisan ini hanya ingin berbagi, Kawan harus mengingat 3 hal ketika menentukan ambisi dan memilih untuk mewujudkannya:
1.       Melihat potensi diri
2.       Menganalisa situasi/keadaan pada saat itu
3.       Ketahanan, usahan, dan daya juang yang Kawan perlukan untuk mencapai mimpi tersebut.

I’m on my half way,

Just pray for me 

Saturday, December 23, 2017

Kosmetik Medis dan Kandungannya (2)

Again, posting bersambung.  Tapi ini sambungannya cuma sedikit kok. Jadi di posting pertama, saya lupa menambahkan satu bahan lagi yang juga sering digunakan dalam kosmetik medis,  yaitu Asam Retinoat.
Sebenarnya, asam retinoat (retinoid acid) merupakan derivat/turunan dari vitamin A  (retinol).  Dalam dunia kosmetik, selain asam retinoat, juga dikenal beberapa zat yang masih bersaudara erat dengan asam retinoat seperti tretinoin dan adapalen.
Asam retinoat memiliki efek sebagai komedolitik, yang dapat menghancurkan komedo dan menurunkan jumlah komedo pada wajah serta mempercepat regenerasi kulit.
Meskipun begitu, status asam retinoat ini sama persis dengan hidrokuinon, klindamisin, dan obat golongan steroid. Pemakaiannya harus atas anjuran dan pengawasan dokter.

produk dengan kandungan asam retinoat
Contoh produk dengan kandungan asam retinoat

Pemakaian asam retinoat tanpa ada masalah pada kulit dapat menyebabkan sensasi agak panas, menyengat, kemerahan, eritema sampai pengerasan kulit. Efek asam retinoat yang membuat wajah seolah meradang ini membuat asam retinoat hampir selalu dikombinasikan dengan obat golongan steroid, misalnya deksametason,  untuk mengatasi peradangan tersebut.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...