Wednesday, October 18, 2017

Cara Memusnahkan Obat Kadaluarsa di Apotek

Sudah lama tak menulis di blog, dan sudah lebih lama lagi tak menulis tentang obat. Padahal menulis really heals mypains and my galau. Hehehe.

Jadi, beberapa waktu lalu, setelah stok opname di apotek, saya menemukan berbagai obat kadaluarsa. Dan yang namanya obat kadaluarsa gak bisa dibuang begitu saja, tapi harus dimusnahkan. Terus terang 80% dari teori yang saya dapat semasa kuliah sudah menguap atau mungkin tertindih dengan memori-memori yang lebih baru. Setelah tanya sana sini mengenai pemusnahan obat, terutama bertanya ke teman-teman kuliah dulu yang sekarang kerja di BPOM, akhirnya saya bisa memusnahkan obat sesuai dengan aturan.

Jadi kalau obat yang akan dimusnahkan itu tidak mengandung psikotropika, narkotika, dan atau prekursor, maka sebagai apoteker kita bisa memusnahkan obat tersebut di apotek dengan hanya menggunakan saksi minimal satu orang asisten apoteker yang sudah memiliki STTK.

cara memusnahkan obat kadaluarsa di apotek


Bagaimana cara pemusnahan obat tersebut ?. Nah obat-obat yang saya musnahkan tersebut  merupakan obat sediaan padat, sehingga saya hanya butuh menggerus hingga halus lalu dilarutkan dengan air dan dibuang ke dalam wastafel atau pembuangan air. Kemasannya jangan lupa digunting sekecil mungkin. Bagaimana kalau sediaan obat tersebut berupa cairan?. Sama saja, buka kemasan obat, lalu buang cairan di tempat pembuangan air. Metode ini dapat kita lakukan kalau : jumlah obat yang dimusnahkan tidak banyak, dan tidak ada kekhawatiran akan mencemari lingkungan.

Sebenarnya ada cara lain yang dianjurkan teman sejawat saya, yakni menitipkan obat kadaluarsa tersebut ke puskesmas atau dinkes setempat untuk dimusnahkan. Namun dari hasil pencarian saya di google, ini hanya berlaku untuk masyarakata umum yang punya stok obat kadaluarsa. Tidak berlaku untuk apotek. Ini hanya hasil cross-check saya di google. Saya belum memastikan apakah apotek memang tidak boleh menitipkan obat kadaluarsa di instansi pemerintahan.

Kenapa obat harus repot-repot dimusnahkan?. Alasan utamanya : karena kekhawatiran kalau obat dibuang begitu saja, akan disalahgunakan. Misalnya diketemukan pemulung, diganti kemasan, lalu dijual lagi. Lah wong, botol bekas aja reusable kok. Apalagi obat yang harganya lebih mahal. Nah, prinsip pemusnahan obat ini : aman, sesuai aturan, dan tidak mencemari lingkungan. Kalau memusnahkan obat dalam jumlah besar dan dilakukan oleh distributor, BPOM, atau pabrik obat tentu saja cara pemusnahannya akan beda. Ya gak mungkin juga menggerus 3000 pil sekaligus.

Saturday, September 30, 2017

Pulau Pamutusan dan Pulau Pasumpahan di Sumatera Barat

Lebaran 2017 lalu, ceritanya saya pulang kampung ke Jambi. Mumpung libur panjang lebaran, jadilah kami jalan-jalan sekalian. Sebenarnya saya agak males ke Padang karena kudu jalan darat lebih kurang 12 jam, entah karena semakin tua, atua karena frekuensi jalan-jalan sudah berkurang, rasanya jalan darat naik mobil  lebih dari 3 jam itu melelahkan sekali. Apalagi saya bawa anak kecil. Agak ragu juga bawa Amni naik mobil 12 jam. Karena Amni masih jarang diajak perjalanan jauh.

Semula rencananya mau ke Belitung, tapi transportasinya agak ribet. Kalau dari Jambi harus nai mobil sekitar 5 jam menuju Palembang, terus naik pesawat ke Bangka, kemudian naik kapal ke Belitung. Bayangkan betapa repotnya?  Belum lagi kalau bawa mobil dari Jambi, di Palembang dititipkan dimana? Kalau naik travel dan gak bawa mobil, kok yam akin repot. Karena rombongan kami lebih banyak jumlah anak kecilnya ketimbang orang dewasa.  

Ya sudah, ujung-ujungnya ke Padang (lagi). Kali ini, tujuan utama wisata ke pantai, yakni ke pulau-pulau yang ada di Daerah Painan. Sisanya sempat mampir juga ke Bukit Tinggi yang ramainya luar biasa dan malah gak bisa ngapa-ngapain karena terlalu macet.

Singkat cerita, pagi itu kami sudah bersiap di lobi hotel menunggu dijemput guide. Memang saya memesan paket wisata sekaligusn yang mencakup : sewa kapal, makan, peralatan snorkeling, foto underwater, dan guide. Jangan bayangkan pulau-pulau tersebut ramai dengan fasilitas lengkap seperti Gili Trawangan.  Untuk makan saja, guide kami membawa nasi bungkus dari Padang. Memang ada beberapa pulau yang sudah dilengkapi resort. Kalau tidak mau menginap di resort, Kawan bisa juga bawa tenda dan menginap sambil camping.

Untuk biaya nya, dihitung per orang. Dewasa sekitar 240 rb, saya lupa persisnya berapa. Kalau anak-anak di bawah 12 tahun bayar setengah, sementara kalau di bawah dua tahun boleh gratis. Dalam satu kawasan  ini terdapat beberapa pulau diantaranya Pulau Pasumpahan, Pamutusan, Swarnadipa, dan Pualu  . Kawan bisa memilih paket 2 pulau atau 3 pulau. Dari Hotel yang ada di pusat Kota Padang ke daerah Painan tempat menyebrang kapal lumayan jauh, butuh waktu berkendara sekitar 1 jam karena memang cukup macet. Saya mulai menyebrang hampir pukul 10 pagi, dan kembali sekitar pukul 4 sore.

Saya sengaja memilih dua pulau, yakni Pulau Pamutusan dan Pasumpahan,  biar agak santai. Itupun rasanya masih kurang. Kalau mau puas, barangkali Kawan harus menginap.

Wednesday, September 20, 2017

Memoar Masa Kecil

         


Apa pekerjaan yang paling saya impikan?

Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, Full time housewife.

Karena sewaktu kecil, apa yang paling saya impikan?. Iya, pulang ke rumah dan mendapati ibu memasak di dapur, wangi makana tercium dari aroma dapur, dan saya akan makan masakan ibu. Sesuatu yang dalam ingatan saya, belum pernah saya dapati. Saya hanya tinggal di rumah hinggan SMP, setelah saya merantau, hingga saat ini. Empat belas tahun, usia saya saat itu. Mengejar, hmmm..apa yang dalam konteks peradaban manusia, disebut sebagai cita-cita.
Hingga dalam keluarga besar atau relasi keluarga besar saya jarang muncul. Hingga suatu saat ibu mengenalkan saya: “Ini anakku yang bungsu, ia jarang kelihatan, ia besar di perantauan”.

Itulah mengapa saya begitu menginginkan menjadi ibu rumah tangga. Saya mungkin tidak akan bisa kembali lagi ke masa lalu. Satu-satunya yang tidak mungkin di dunia ini. Tapi saya kan masih bisa memperbaiki masa depan. Suatu saat saya ingin membesarkan anak dengan cara saya sendiri. Kenangan, kebahagiaan, dan keceriaan, sesuatu yang seharusnya diperoleh anak-anak di sudut manapun di dunia ini. Entah sebagaimanapun kerasnya hidup yang kelak akan mereka lalui ketika dewasa.

memoar masa kecil
little of mine



Ini catatan saya tulisa tahun 2013 lalu. Alhamdulillah Allah Maha Baik. Saya sudah tidak bekerja full time, hanya partuh waktu, punya waktu banyak untuk keluarga, terutama untuk anak yang masih berusiah 20 bulan. Masih menyusui, sehari-hari cukup banyak waktu untuk menemani ia main.  Beberapa waktu lalu, sempat terpikir untuk bekerja full time lagi. Mengejar ambisi dan citac\-cita yang belum tercapai. But somehow, saya menemukan note yang saya tulis tahun 2013 silam. Sepertinya Allah mengingatkan saya kembali, apa yang pernah menjadi harapan saya beberapa tahun yang lalu. Sesuatu yang seharusnya harus saya sangat syukuri hari ini.

Alhamdulillah wa syukurillah.


Samarinda, September 2017  

Sore di KLCC

   Pulangdari Batu Caves, istirahat di hotel, mandi, dan meninabobokan si Amni. Alhamdulillah, anaknya malah sibuk main sendiri di kamar. Tapi masa planning jalan sore ditunda?. Jadi meski Amni Cuma tidur sebentar sekali, kami tetap bersiap, mandi, dan keluar hotel sekitar pukul setengah 6. Mampir makan dulu di daerah belakang Mesjid India (Citin Hotel ini letaknya persis di samping Mesjid India).  Biasanya pengalaman makan di food court belakang Mesjid India ini selalu menyenangkan. Namun waktu itu, kayaknya saya yang salah pilih menu dan penjual. Jadi ikannya keran, dan makannya gak konsen Karena Amni rewel  gak mau duduk dan sibuk mengejar kucing ke sana kemari. 

                Selesai makan, saya menuju Stasiun Mesjid Jamek untuk ke KLCC. Lupa melewati berapa stasiun. Sebenarnya lebih gampang naik uber atau grab. Apalagi suami sudah beli kartu provider Malaysia. Tapi doi malah lebih surat naik LRT. Mumpung di Malaysia. Kalau di Indonesia kan gak ada yang kayak gtu.
                Nah begitu sampai KLCC ini, saya lupa menuju jalan keluar yang mana. Jadi bukannya ke Mall Suria KLCC, kami malah sampai ke AVENUE K mall. Dan setelah keliling  di Avenue K ini, saya baru menyadari kalau saya salah  mengambil arah saat keluar stasiun KLCC. Memang hari jumat sore itu ramai sekali. Berhubung masih weekday, bertepatan dengan jam pulang kerja.
suasana sore di KLCC petronas tower kuala lumpur malaysia
Suasana sore di KLCC yang selalu memukau


Biarpun sudah berkali-kali ke KLCC dan melihat langsung Petronas Tower, tapi saya tetap suka suasana di KLCC ini terutama saat menjelang senja.

Di sini juga banyak penjual fish eye dadakan. Fish eye sangat membantu agar Tower Petronas keliahtan semua, apalagi kalau berfoto nya menggunakan kamera handphone. Sebenarnya saya juga bawa kamera DSLR. Tapi tak ada satupun diantara saya dan suami yang sangat pro menggunakan kamera DSLR. Bahkan kamera DSLR ini lebih banyak tersimpan di dalam lemari rumah. Amni heboh banget mau loncat di kolam air mancur di tempat banyak wisatawan berfoto. Kalau sudah liburan dengan anak kecil memang jangan berharap banyak untuk bisa foto berbagai gaya, kalau gak ada yang bantuin.
Untungnya, mas-mas penjual fish eye sempat membantu foto bertiga beberapa kali. Oiya, kalau kawan berniat beli fish eye nya jangan lupa ditawar ya.
foto keluarga dengan latar petronas tower di kuala lumpur malaysia
Akhirnya ada foto bertiga 

Saturday, September 9, 2017

Jalan-Jalan Sekeluarga ke Kuala Lumpur : Off To Batu Caves

Melanjutkan cerita jalan-jalan ke sekeluarga Agustus lalu. Hari pertama liburan, bangun agak siang. Badan terasa masih remuk redam karena perjalanan yang melelahkan.  Setelah sarapan, saya masih balik ke kamar, sekedar istirahat dan browsing, mau jalan kemana hari ini?.
Sebenarnya saya pengen ke Putra Jaya (yang akhirnya sampai pulang pun gak sempat jalan ke Putra Jaya). Tapi Suami lebih tertarik ke Batu Caves. Saya pun belum pernah ke Batu Caves, meskipun sudah sering ke Kuala Lumpur.
Batu Caves Kuala Lumpur
Batu Caves, Kuala Lumpur

Batu Caves Kuala Lumpur Malaysia
Batu Caves, Kuala Lumpur 

Ke Batu Caves ini bisa jadi objek wisata mandatory saat ke Kuala Lumpur. Transportasi umum tersedia, dan masuknya gratis pula. Dari Hotel kami jalan kaki ke Stasiun Mesjid Jamek dan naik LRT tujuan ke KL Central. Di KLT Central tinggal naik tiket KTM dengan tujuan stasiun terakhir di Batu Caves. Ongkosnya sekitar 3 RM per orang.  Memang kereta KTM ini berangkatnya tidak sesering LRT. Jadi saya sudah melewati pintu tiket dan sampai di peron.  Karena jadwal keberangkatan masih 45 menit lagi, kami mengisi perut dulu dengan makan di McDonalds.  Nah pas balik mau melewati pintu otomatis, ternyata tiket sudah tidak bisa digunakan. Untungnya ada bapak-bapak petugas yang mempersilakan masuk lewat pintu samping.
Perjalanan menggunakan komuter membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sampai di stasiun, objek Batu Caves nya udah keliatan kok. Amni senang sekali karena banyak banget burung dan monyet. Kalau mau sampai puncak, pengunjung harus menaiki 300 anak tangga. Well, karena bawa anak kecil (dan kareana malas capek), kami hanya menikmati foto-foto, sembari amni kalap mengejar burung ke sana kemari. DI sini juga banyak penjual souvenir, kelapa muda, dan berbagai cemilan khas india. Ada juga taman dan kolam ikan, sayangnya untuk masuk berbayar. Karena tak terlalu menarik, kami hanya melihat-lihat dari luar.
 Karena tidak naik tangga, sekitar pukul 3 sore saya sudah sampai di hotel. Saatnya Amni untuk tidur siang.
Anak mengejar burung di batu caves

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...