Tentang Saya dan Kontak

Tuesday, August 8, 2017

Cerita Rumah Pertama Kami

Tulisan ini saya tulisa Oktober tahun 2016 lalu. Saya ikut sertakan dalam sebuah perlombaan.  Alhamdulillah, gak ada kabar apapun saya terima setelahnya.  Jadi ketimbang sia-sia sama sekali, ada baiknya saya upload di blog pribadi. Setidaknya jadi bahan sharing. Setelah mencari pasangan hidup yang susahnya bukan main. Ada banyak hal lain di dunia ini yang juga mudah ditemukan, namun sulit untuk dipaskan. Seperti mencari asisten rumah tangga dan rumah.

Tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya untuk mencari, menemukan, dan akhirnya mendapatkan rumah pertama untuk keluarga kami.

Setelah menikah tahun 2014 silam dan memiliki anak.  Kami memang masih tinggal di rumah kontrakan. Ada keinginan untuk membeli rumah, tapi masih di angan-angan.  Baru pada bulan Maret tahun 2016, saya iseng mencari tahu berapa harga rumah sederhana di pinggir kota Samarinda yang barangkali sanggup kami beli. 

Kami memang tak punya uang cash. KPR adalah cara yang paling mungkin bagi kami untuk memiliki rumah.  Saya mendapati beberapa rumah tipe 36 dan 40 yang terletak pinggir kota,  cicilannya tak sampai dua kali lipat kontrakan kami per bulan. Saya kemudian menghitung-hitung simpanan yang kami punya. Beberapa waktu lalu tabungan kami memang cukup tekuras. Suami baru keluar rumah sakit karena DBD, dan saya baru melahirkan.  Saya mengkalkulasikan dengan simpanan logam mulia dan deposito yang kami miliki.  Setidaknya dengan sedikit tambahan pinjaman uang kepada saudara/keluarga, kami bisa membayar uang muka rumah. 

Saat itu juga, saya langsung mengontak suami. Tak sampai 15 menit, suami langsung mengiyakan dan menargetkan tahun 2016 ini kami bisa membeli rumah.  Namun mencari rumah yang cocok ternyata  tak lebih sulit dari mencari pasangan hidup.  Ada saja kurangnya.  

Rumah pertama yang disurvei suami  adalah rumah take over. Rumah siap huni, perkakas boleh diambil, uang muka terjangkau, cicilan sisa 13 tahun. Sayangnya, penjual lebih suka kalau kami membelinya ‘di bawah tangan’. Artinya kami meneruskan cicilan tanpa ada balik nama. Suami sudah termakan rayuan,  tapi saya bersikukuh harus balik nama dulu. Kebetulan, ipar saya seorang developer local, ketika kami menunjukkan foto rumah tersebut. Ipar saya langsung bilang bahwa rumah tersebut tipe 27 yang dikembangkan menjadi tipe 45.  Entah mengapa pemiliknya tak jujur soal ini. Dan kami langsung mencoret rumah itu dalam daftar wishlist. 

Tak sulit mencari informasi di jaman sekarang. Saya melihat dari satu iklan ke iklan lain lewat internet, Dan karena suami sibuk, sedangkan saya lebih banyak punya waktu luang, maka saya lah yang menghubungi satu per satu agen property. Entah sudah berapa puluh orang yang sudah saya kontak. Entah berapa puluh iklan yang saya dan suami lihat. Dan selalu saja ada yang tidak pas. 

 Di bulan Mei, bahkan saya sempat ngambek. Saya marah, saya capek, sampai ada drama nangis-nangis. Saya bilang pada suami bahwa pada harus ada deadline, dan ada skala prioritas aspek mana yang jadi pertimbangan kami dalam memilih rumah.  Deadline-nya, akhir mei kami sudah menentukan rumah yang mana dan mengajukan proposal kredit ke bank. Paling lambat akhir September kami harus pindah rumah.

Saya lalu menyusun faktor penentu kami membeli rumah : harga, lokasi, akses ke rumah, luas tanah, rumah ready atau rumah indent.  Dan dengan dana terbatas, tentu kami harus menyingkirkan salah satu atau salah dua faktor penentu tersebut.  


Rumah kedua yang kami survey. Harga cocok, luas tanah sempit, akses dan lokasi bagus, namun harus indent.   Awalnya kami setuju mentransfer uang tanda jadi. Namun urung, karena pemiliknya developer lokal, dan tak ada kepastian kapan rumah akan mulai dibangun. 
Rumah ketiga yang kami survey. Rumah ini harga diatas budget, luas tanah sempit, lokasi dan akses bagus.

Lalu rumah ketiga, keempat, dan seterusnya. Ada saja yang kurang. Namun sesuai target, akhir Mei kami (terpaksa) membuat keputusan dan awal Juni kami mulai dari menyiapkan berkas dan survei bank dengan bunga rendah, menyiapkan dokumen pengajuan kredit bank hingga wawancara, yang kesemuanya juga sempat membuat drama dan gonjang ganjing di keluarga kami.  
Awalnya pilihan jatuh pada suatu rumah A dengan kriteria : luas tanah cocok, harga cocok, lokasi dan akses bagus. Pengajuan ke Bank A, kami ditolak karena alasan administrasi. Lalu kami coba bank B, setelah pengajuan berkas dan proses wawancara, KPR tetap belum bisa diproses karena ternyata SHM rumah tersebut belum jadi. Tanahnya masih dalam proses pemecahan.

rumah, rumah kpr, rumah pertama, mencari rumah kpr, pengalaman mencari rumah kpr samarinda, pengajuan kpr, cara pengajuan kpr, rumah di samarinda, rumah sungai kunjang samarinda
Alhamdulillah, rumah pertama kami


Kami mencoba alternative rumah lain, Rumah B. Rumah ini luas tanah cocok, harga cocok, lokasi bagus, namun akses jelek. Pengembang berjanji akan memperbaiki akses jalan ke rumah.  Kami coba ke bank C, lagi-lagi ditolak karena alasan administrasi.  Suami saya bahkan sempat down karena alas an ini.  

Kami lalu mencoba pengajuan rumah B ini ke bank D. Bank ini terkenal dengan proses KPR yang mudah. Kali ini persyaratan property yang tidak memenuhi. Rumah tersebut  terletak di jalan buntu. 
Saya lalu ingat ke rumah kedua yang kami survey.  Iseng-iseng saya coba menghubungi pemiliknya. Bertanya apakah rumah masih tersedia dan negosiasi harga. 

Ternyata rumahnya belum terjual dan pemiliknya setuju mengurangi harga. Sekali lagi kami mencoba. Kalau sampai di Bank D ini pengajuan KPR kami ditolak, mungkin kami harus  mencoba alternative lain. Kami perlu membeli tanah dan membangun rumah, barangkali. 

Singkat cerita, awal Agustus, kami diberitahu pihak bank D bahwa KPR kami disetujui. Karena rumah sudah siap huni,  maka kurang dari dua minggu,  tepat 17 agustus lalu kami sudah pindah ke rumah baru.   Semua sesuai target.  

Alhamdulillah. 

Samarinda, 1 Oktober 2016.

Friday, July 28, 2017

Where Will You Stay ? # 26

“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Midtown Samarinda

Meski terseok-seok, tak ada salahnya terus melanjutkan serial where will you stay.
Seperti biasa, ini review pribadi berdasarkan pengalaman pribadi, dan saya gak dibayar.

Memang, meskipun post di blog ini sudah ratusan, dan semua saya tulis setulus hati, tanpa ada copy paste tulisan dari manapun, tapi terus terang saya tak pandai mengelola blog, terutama dalam hal memonetize blog menjadi uang. Tak ada income apa-apa yang pernah saya dapat dari blog. Poor me :D

kamar, midtown, hotel, standard, samarinda, ranjang, review
Kamar- Midtown Hotel Samarinda


kamar tidur midtown hotel samarinda
Kamar- Midtown Hotel Samarinda


Back to the post. Ngapain tinggal di Samarinda, terus nginap di hotel (yang bukan tipikla resort). Ya, gak ada alasan yang lebih masuk akal, selain karena gratis. Hehehe.
Hotel ini masih terbilang baru. So, kamar, lobi, ruang makan, kolam renang, semuanya masih keliatan keren. Midtown Hotel Samarinda ini, bukan hotel budget, tapi berbintang 4 juga bukan.
Sedikit di atas budget, sebab ada kolam renang, meski gak terlalu besar. Kamarnya lebih spacious ketimbang hotel budget, kasur empuk, bantal ada 4, meskipun lantai kamar tidak dilapisi karpet. Wifinya juga kencang.

review kamar mandi midtown hotel samarinda
Kamar Mandi - Midtown Hotel Samarinda

Sunday, July 16, 2017

Morning Routine(s)

Perlukah ritual pagi?. Well, saya adalah morning person. Saya gak bisa begadang, tapi bangun pagi sekali untuk mengerjakan hal-hal yang butuh kerja otak dan konsentrasi. Seperti menulis, belajar, merancang kegiatan, melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, dan sebagainya.

Dulu sekali, sewaktu masih kecil dan tinggal di kampung di Sumatra, kebiasaan bangun subuh ini bermula karena keadaan. Sekitar 4 kali dalam seminggu, listrik padam mulai magrib hingga menjelang jam 11 malam. Jadi otomatis, jika ingin belajar dan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), saya harus menunggu listrik menyala. Karena tidak kuat tidur terlalu malam, maka saya memilih bangun subuh sekali ketika listrik sudah menyala, untuk belajar.

Lama kelamaan, otak saya  seperti otomatis bekerja lebih baik ketika subuh atau dini hari. Berlanjut ke sekolah menengah atas hingga kuliah yang memang perlu memeras otak, kebiasaan belajar subuh dan bukan mala mini tidak pernah hilang.

Untungnya, sebagai muslim, memang gak ada alasan untuk bangun di atas jam 6. Kita punya ritual pagi yakni sholat subuh.  Kebiasaan saya, setelah sholat subuh, saya akan merancang list-to do hari ini dan melakukan berbagai kegiatan produktif.

Dua tahun belakangan, agak mess up, semenjak menikah dan terlebih punya anak. Karena malam anak saya masih suka bangun dan saya masih menyusui, jadi sering masih suka ngantuk. Belum lagi, suami saya berangkat kerja jam 6. Minimal harus memulai buka kunci rumah, nyiapin sarapan, matilkan lampu, dan sholat subuh. Semuanya menyita waktu. Belum kalau pagi, anak saya masih suka rewel dan nangis kalau ditinggal menyiapkan sarapan.

Ketika drama pagi-pagi sudah selesai, biasanya saya akan take a nap dulu, karena masih ngantuk dan kalau dipaksakan malah susah berkonsentrasi.

Anyway, tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat diri, karena saya mau mengembalikan lagi kebiasaan morning routine yang diisi dengan kegiatan produktif dan berpikir lebih banyak. Satu-satunya jalan, ya saya harus bangun lebih pagi. Bangun jam 4 subuh pada tiap hari kerja, target saya untuk Bulan Juli ini.
Tujuannya apa? Sebab saya mau me-maintenance tubuh dan pikiran agar gak tumpul. Bukankah hidup harus adan improvement? Setidaknya dalam hal kualitas.

Wish me luck, guys!  


Samarinda, Juli 2017

Wednesday, July 12, 2017

Dua Mata Pisau Berbelanja Online

Dapatkah Kawan memberikan satu orang kenalan yang akrab dengan dunia internet namun belum pernah sekalipun  berbelanja online? .

Dunia terus berubah, Now, you can buy (almost) anything by online shopping.

Beberapa tahun lalu, berbelanja online terasa cukup menakutkan. Bagaimana kalau saya ditipu? Bagaimana mungkin mentransfer uang ke seseorang yang belum dikneal dan emngharapkan ia dapat mengirimkan barang ke alamat kita?.

Namun lama kelamaan, berbelanja online semakin jamak dilakukan.  
Awalnya terasa sangat menyenangkan, membantu, dan memuaskan.
Tapi kini, saya merasa sudah dalam fase kecanduan. Dua minggu kurir gak datang mengantarkan sesuatu ke rumah, rasanya ada yang hilang. Kalau bosan, jenuh atau saat senggang, saya akan membuka aplikasi belanja online, melihat-lihat dan akhirnya tergoda untuk berbelanja.  

Berbelanja online seolah menjadi candu

Sekarang saya berandai-andai, seandainya saya tidak memiliki akses untuk berbelanja online seperti 10 tahun yang lalu, barangkali saya tidak akan berbelanja sebanyak ini.

hal minus belanja online, kecanduan belanja online, belanja online versus offline, online shopping, berhenti online shopping, pengalaman kecanduan online shopping
Keep Calm and Stop Shopping

Saya mencoba memilah variabel yang menyebabkan saya berbelanja online:
1.       Barangnya tidak dijual di kota tempat tinggal saya
2.       Baragnya ada dijual di sini, tetapi harga di toko online lebih murah
3.       Barangnya ada dijual di sini, tapi di toko online variasinya lebih banyak
4.       Barangkali barangnya ada dijual di sini, tapi saya tidak tahu belinya di toko mana.

Sedangkan dari segi urgensi kebutuhan, sebenarnya barang-barang yang saya beli bukanlah kebutuhan primer. Kalau tak saya beli, saya tak akan mati atau masih dapat saya beli barang substitusinya di sini.
Hanya sejenis: kosmetik, baju, tas, aksesoris elektronik, perlengkapan bayi, dan sebagainya. Barang-barang yang kalau tak saya beli pun, saya masih punya back-up barang serupa dengan manfaat sama.
Masalahnya, tiap minggu saya akan menksrining barang-barang apa saja yang saya ingin dan atau butuhkan.  Saya cari secara online , dan (pasti) dapat saya temukan.  Dengan harga yang tentu saja menggiurkan.  Dan akhirnya godaan berbelanja itu datang lagi.

Sunday, April 16, 2017

Berlayar di Sungai Mahakam, Samarinda



Kalau  Kawan mampir ke Samarinda dan ingin jalan-jalan, atau kalau Kawan di Samarinda, dan ingin jalan-jalan selain ke Mall, barangkali bisa mencoba Kapal Pesut Sungai Mahakam ini.
Info resmi mengenai kapal yang memang dikhususkan untuk pariwisata ini juga sudah banyak beredar di media sosial. 

Jadwal:
Sabtu-Minggu
Pagi  09.00- selesai
Sore 16.00- selesai
Biaya:  25.000/pack.
Rute : 1.  Jembatan Mahkota II
2.  Jembatan Mahakam (Arah ke Big Mall).
Lokasi : Pelabuhan Di Depan Kantor Gubernur Kaltim, Tepian.
Kontak :  081346246210

kapal pesut, mahakam, sungai, wisata, jalan-jalan, samarinda
Kapal Pesur Mahakam, foto diambil dari KlikSamarinda

 And the bad thing, di sini yang resmi dan yang terjadi di lapangan, hampir tidak pernah sama. Awalnya saya ingin mengikuti trip pagi. Pukul Sembilan pagi hari minggu, sudah mandi, berpakaian rapi, dan tak lupa membawa bekal si Amni. Tiba di lokasi, pelabuhannya tutup. Tak ada tanda-tanda kapal akan berangkat (lah wong kapalnya saja nggak ada). 

 Maka saya hubungi kontak person yang  ada di iklan. Pesan saya dibalas. Sore ini ada trip. Maka sebelum pukul 16.00, saya sudah tiba di pelabuhan.  Terlihat banyak orang yang kelihatannya juga akan mengikuti trip.  Kapalnya belum keliatan, tapi pelabuhan nya dibuka. 

Tak ada loket pembelian tiket. Hanya Ada mbak-mbak yang membawa kertas dan pulpen dan dikelilingi beberapa orang.  Saya hampiri, dan benar ternyata, beli tiketnya sama si mbak ini. 

Saya diminta membayar  Rp. 115.000, dengan rincian dua dewasa 50.000 per orang, ditambah balita 15.000. Dan embel-embel penjelasan. Beberapa orang di samping saya langsung membayar tiket seharga 50.000/orang. Saya protes karena di iklan tertulis 25.000/orang. Si Mbak hanya menjawab, sore ini kapal langsung double trip, ke Jembatan Mahkota II dan langsung ke Jembatan Mahakam.