Minggu, 16 Juli 2017

Morning Routine(s)

Perlukah ritual pagi?. Well, saya adalah morning person. Saya gak bisa begadang, tapi bangun pagi sekali untuk mengerjakan hal-hal yang butuh kerja otak dan konsentrasi. Seperti menulis, belajar, merancang kegiatan, melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, dan sebagainya.

Dulu sekali, sewaktu masih kecil dan tinggal di kampung di Sumatra, kebiasaan bangun subuh ini bermula karena keadaan. Sekitar 4 kali dalam seminggu, listrik padam mulai magrib hingga menjelang jam 11 malam. Jadi otomatis, jika ingin belajar dan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), saya harus menunggu listrik menyala. Karena tidak kuat tidur terlalu malam, maka saya memilih bangun subuh sekali ketika listrik sudah menyala, untuk belajar.

Lama kelamaan, otak saya  seperti otomatis bekerja lebih baik ketika subuh atau dini hari. Berlanjut ke sekolah menengah atas hingga kuliah yang memang perlu memeras otak, kebiasaan belajar subuh dan bukan mala mini tidak pernah hilang.

Untungnya, sebagai muslim, memang gak ada alasan untuk bangun di atas jam 6. Kita punya ritual pagi yakni sholat subuh.  Kebiasaan saya, setelah sholat subuh, saya akan merancang list-to do hari ini dan melakukan berbagai kegiatan produktif.

Dua tahun belakangan, agak mess up, semenjak menikah dan terlebih punya anak. Karena malam anak saya masih suka bangun dan saya masih menyusui, jadi sering masih suka ngantuk. Belum lagi, suami saya berangkat kerja jam 6. Minimal harus memulai buka kunci rumah, nyiapin sarapan, matilkan lampu, dan sholat subuh. Semuanya menyita waktu. Belum kalau pagi, anak saya masih suka rewel dan nangis kalau ditinggal menyiapkan sarapan.

Ketika drama pagi-pagi sudah selesai, biasanya saya akan take a nap dulu, karena masih ngantuk dan kalau dipaksakan malah susah berkonsentrasi.

Anyway, tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat diri, karena saya mau mengembalikan lagi kebiasaan morning routine yang diisi dengan kegiatan produktif dan berpikir lebih banyak. Satu-satunya jalan, ya saya harus bangun lebih pagi. Bangun jam 4 subuh pada tiap hari kerja, target saya untuk Bulan Juli ini.
Tujuannya apa? Sebab saya mau me-maintenance tubuh dan pikiran agar gak tumpul. Bukankah hidup harus adan improvement? Setidaknya dalam hal kualitas.

Wish me luck, guys!  


Samarinda, Juli 2017

Rabu, 12 Juli 2017

Dua Mata Pisau Berbelanja Online

Dapatkah Kawan memberikan satu orang kenalan yang akrab dengan dunia internet namun belum pernah sekalipun  berbelanja online? .

Dunia terus berubah, Now, you can buy (almost) anything by online shopping.

Beberapa tahun lalu, berbelanja online terasa cukup menakutkan. Bagaimana kalau saya ditipu? Bagaimana mungkin mentransfer uang ke seseorang yang belum dikneal dan emngharapkan ia dapat mengirimkan barang ke alamat kita?.

Namun lama kelamaan, berbelanja online semakin jamak dilakukan.  
Awalnya terasa sangat menyenangkan, membantu, dan memuaskan.
Tapi kini, saya merasa sudah dalam fase kecanduan. Dua minggu kurir gak datang mengantarkan sesuatu ke rumah, rasanya ada yang hilang. Kalau bosan, jenuh atau saat senggang, saya akan membuka aplikasi belanja online, melihat-lihat dan akhirnya tergoda untuk berbelanja.  

Berbelanja online seolah menjadi candu

Sekarang saya berandai-andai, seandainya saya tidak memiliki akses untuk berbelanja online seperti 10 tahun yang lalu, barangkali saya tidak akan berbelanja sebanyak ini.

keep calm and stop online shopping
Keep Calm and Stop Shopping

Saya mencoba memilah variabel yang menyebabkan saya berbelanja online:
1.       Barangnya tidak dijual di kota tempat tinggal saya
2.       Baragnya ada dijual di sini, tetapi harga di toko online lebih murah
3.       Barangnya ada dijual di sini, tapi di toko online variasinya lebih banyak
4.       Barangkali barangnya ada dijual di sini, tapi saya tidak tahu belinya di toko mana.

Sedangkan dari segi urgensi kebutuhan, sebenarnya barang-barang yang saya beli bukanlah kebutuhan primer. Kalau tak saya beli, saya tak akan mati atau masih dapat saya beli barang substitusinya di sini.
Hanya sejenis: kosmetik, baju, tas, aksesoris elektronik, perlengkapan bayi, dan sebagainya. Barang-barang yang kalau tak saya beli pun, saya masih punya back-up barang serupa dengan manfaat sama.
Masalahnya, tiap minggu saya akan menksrining barang-barang apa saja yang saya ingin dan atau butuhkan.  Saya cari secara online , dan (pasti) dapat saya temukan.  Dengan harga yang tentu saja menggiurkan.  Dan akhirnya godaan berbelanja itu datang lagi.