Kamis, 02 Februari 2017

Ibu Rumah Tangga Harus Pelit Marah



Kenapa begitu mendengar kata ibu-ibu, stereotype yang terbayang adalah : galak, bawel, dan gampang marah ? . 

Barangkali, kelelahanlah yang gampang menyulut amarah tersebut. Sebagai perempuan yang kini dalam fase  hidup : menjadi ibu dengan balita aktif luar biasa, saya gak ada penyangkalan sama sekali.  Kelelahan itu hakiki.
Saat ini,  saya punya pekerjaan dan saya gak pakai asisten rumah tangga  Suami paling bisa bantu bersih-bersih di hari sabtu-minggu. Jadi variable suami saya hilangkan saja, karena tidak berpengaruh secara signifikan.
Terus kalau kelelahan,kenapa gak pake ART?. Saya punya beberapa alas an:  1. Susah nyari ART yang bagus. Mencari ART aja susah, apalagi mencari ART yang kredibel. Sudah sering saya dengar cerita majikan maka hati, dan saya belum sanggup mengalami sendiri. . 2. Rasanya privasi akan berkurang kalau ada orang lain yang tinggal di rumah sendiri. 3. Saya gak kerja full time.
Atas dasar pertimbangan untung rugi tersebut, sekarang saya memilih gak punya ART. Entah lain waktu.
Lalu bagaimana cara mengakali kehidupan saya agar berjalan baik-baik saja? Kalau kerja, anak saya titipkan ke tetangga dekat rumah. Kalau saya gak sempat masak, ya tinggal beli makan. Urusan bersih-bersih rumah tak terlalu menajdi masalah. Syukur, rumah saya kecil, nyapu semua ruangan paling membutuhkan waktu tidak lebih dari 15 menit. Saya mencuci baju sendiri dengan bantuan mesin cuci. Sedangkan setrikaan sebagian besar saya laundry kiloan.  

Tapi punya ART atau gak punya ART, bedanya gak terlalu signifikan. Karena porsi terbesar yang menghabiskan banyak energi dan waktu ya mengurus, membesarkan, dan mendidik anak. 

Kembali ke soal kemarahan. Marah itu membutuhkan energi. Padahal Uang dan energi yang saya miliki terbatas, sementara kebutuhan akan uang dan energi tak terbatas. Sehingga saya harus eman-eman.
Jadi belakangan saya merasa saya sedikit lebih sabar. Bukan karena belajar yoga. Bukan karena belajar tassawuf. Bukan karena rajin ikut pengajian. Bukan.
 Tapi karena saya pelit. Saya gak rela menghabiskan sebagian energi saya untuk marah-marah. Sebab ada buanyak hal lain yang perlu saya lakukan. 

 Apakah gampang? Gak juga sih. Karena semakin lelah seseorang, semakin gampang ia tersulut emosi, dan semakin habislah energi nya. 

Biasanya saya lihat trigger atau pencetusnya apa. Kalau ternyata hal-hal non-substantif dan atau  hal-hal yang saya marah pun tetap tidak bisa saya ubah. Lalu buat apa marah? 

Marah karena paslon dukunganna diejek. Apakah hal tersebut penting?

Jadi haters di sosmed. Apakah hal tersebut penting?

Anak hambur-hambur barang di rumah. Dua hari dua malam ngomel sama anak usia satu tahun paling Cuma dijawab dengan duu..duu..wa…wa…

Sebel sama tukang parker di Indomaret yang tiba-tiba muncul. 

Ngomel sama laki yang suka taruh baju sembarangan

Marah karena dikasih kembalian receh semua.

Marah sama toko antagonis di sinetron yang gak insaf-insaf

Marah  sama teman yang suka broadcast pesan 

Marah sama koneksi internet yang lambat. 

Dan serangkaian deretan trigger kemarahan yang gak berimplikasi banyak dalam hidup, tapi energi buat marahnya cukup menyita dan seharusnya bisa dialihdayakan ke hal-hal lain. 

pengelolaan kemarahan, manage anger, keep calm
Ibu-ibu harus pelit marah
Kalau saya terlanjur marah, hal yang selanjutnya bisa dipilih adalah reaksi dan durasi kemarahan. Apakah ngamuk, lempar-lempar barang, diam, atau ngomel-ngomel. Kalau ini sih menurut saya tergantung style masing-masing. 

Yang lebih gampang dikendalikan adalah durasi. Kalau saya sudah terlanjur marah, ya sudah selanjutnya saya akan berusaha mengalihkan perhatian. Alhamdulillah, saya memang orang yang gampang sekali terdistraksi. Ingatan memori jangka pendek saya jelek. Istilahnya, memakai kelemahan diri untuk hal-hal positif. 

Ya, saya bukan expert soal mengelola kemarahan sih.  Cuma kalau siapapun di dunia ini bisa mengajak orang lain untuk meminimalisir sampah yang dibuang, menjaga lingkungan, menghemat pemakaian bbm dan penggunaan listrik.  So, tak ada salahnya saya menulis tentang menghemat energi dan mengelola amarah
.
Agar tak ada lagi kasus: ibu-ibu salah rating, pengguna jalan lain yang kena semprot.

Agar gak ada stereotype lagi : ibu-ibu suka ngomel

Agar energi marah-marahnya bisa dialihadayakan dengan belajar menu resep-resep baru, menulis, ngurusin bisnis online, maskeran, bikin vlog,  membaca buku, mengaji, dan tentu saja bermain dan mengajari anak tentang banyak hal.

So… buibuk mari rapatkan barisan. Save our energy!. 

Semenit dua menit kemarahan juga sangat berharga. 

Demi generasi Indonesia yang  lebih berkualitas.

Cheers!

samarinda, Januari 2017