Sabtu, 23 April 2016

Pening di Penang dan Singapore

Perjalanan-perjalanan yang saya ceritakan dalam blog ini kebanyakan terlihat gampang, menyenangkan, impulsive, penuh kejadian tak terduga, tapi ujung-ujungnya happy ending. Yes! Im th lucky one, indeed.

Namun Untung dalam cerita Donald Bebek pun pernah mengalami ketidakberuntungan.  Apalagi saya yang bukan bernama untung.

Short trip gateaway saya ke Penang bisa dikatakan sebagai satu bab perjalanan saya yang penuh dengan ketidakberuntungan.

Niat saya ke Penang bermula setelah membaca artikel yang menggambarkan betapa nikmatnya duduk-duduk sambil ngopi di Penang.  Tidak hanya pria, perempuan pun bisa tergoda. Lalu saya tergoda.  Kenapa tak saya coba sendiri ngopi-ngopi cantik di Penang. Tentu lebih nikmat ketimbang hanya membaca dari sebuah tulisan.  

Awal trip sudah dimulai dengan kejadian gak enak. Dua teman membatalkan keberangkatan karena urusan kerjaan. Anggota rombongan tinggal saya dan seorang kawan.  Jadwal penerbangan pun berubah, seharusnya pagi, namun di-reschedule oleh maskapai menjadi sekitar jam 7 malam.

Saya tiba di Penang sudah hampir pukul 10 malam. Keteledoran pertama, salah masuk hostel. Rupanya di Love Lane -sebuah jalan dimana terdapat banyak hostel di Penang- ada dua hostel bernama mirip. Dengan langkah gontai saya dan kawan berjalan menuju hostel yang seharusnya.  Saya kemudian bertemu dengan  dua backpacker cewek dari Indonesia yang juga salah hostel. Namun mereka terbalik. Datang ke hostel yang sudah saya book. Padahal menginap di hostel pertama yang saya datangi.

Setelah check-in, saya keluar cari makan. Ketemu lagi dengan kedua backpacker tadi. Kami berkenalan singkat, lalu janjian besok mau jalan bareng.  Pulang makan, bukannya tidur, saya malah bergundah gulana bersama kawan saya  hingga baru tertidur hampir subuh. Maka janji jalan bareng dengan kenalan baru tersebut tinggal janji (yang sampai saat ini tak pernah lunas). Saya dan keman saya bangun kesiangan. Dan lalu sarapan sambil menyalahkan masing-masing. Kata teman saya, tercoreng sudah nama baik kami sebagai backpacker. Pelajaran pertama: jangan berjanji dengan orang yang baru dikenal.

 Tak punya rencana mau pergi kemana – lah wong tujuan awal Cuma ingin menikmati kopi, saya dan kawan  lalu menyewa sepeda motor. Berbekal brosur wisata gratis, kami menjelajahi beberapa tempat yang menjadi rekomendasi di brosur tersebut. Barangkali salah kami yang terlalu menggampangkan sesuatu. “Ini cuma Penang kawan, Cuma pulau kecil dan gak bakal tersesat”. Maka sepanjang siang itu saya luntang lantung berkeliling lebuh-sebutan jalan dalam bahasa melayu- dan menjelang sore ke Pantai Batu Ferringhi. Menuju pantai ini butuh waktu hampir 1,5 jam berkendara motor. Padahal saya dan kawan hanya berbekal peta dari brosur wisata dan mengikuti petunjuk arah di jalan. 

 Saat pulang, mungkin keberuntungan saya tertinggal di pantai. Saya sudah sampai di jalan utama dan tinggal mencari jalan Love Lane yang lebih cocok disebut gang karena kecil dan terselip. Memang, tadi malam  saya dan kawan yang tak pandai membaca peta ini, juga tak memperhatikan sekitar.  Semacam mengingat gedung atau warung  makan sebagai penanda. Mana pula ada banyak jalan satu arah. Bertanya ke mas-mas ginuk bermata sipit yang kebetulan stop di samping motor saya di lampu merah yang hanya menjawab dengan gelengan kepala. Untung pada putaran kelima kali di Jalan satu arah yang sama, saya melihat sebuah hotel besar. Dan samar-samar saya ingat tadi malam saya melihat gedung serupa saat menikmati nasi goreng di dekat hostel. Syukurlah, saya tak jadi mampir ke kantor polisi untuk bertanya.

fort cornwallis, penang, singapore, backpacker
Foto yang diambil dengan kamera pocket
pantai baru ferringhi, penang, pulau penang
Pantai Batu Ferringhi, Pulau Penang



Pukul 10 malam  hari itu juga, saya sudah terbang ke Singapore. Lagi-lagi ada perubahan jadwal penerbangan dari maskapai. Again, saya mengulangi keteledoran.

Beberapa hari sebelum berangkat, saya ngobrol sama temen yang tinggal di Singapore.  Ada sedikit miskomunikasi, saya pikir kami akan  ketemu  di suatu tempat, dan dia gak bakal menjemput di bandara. Somehow, ternyata dia udah nungguin saya di bandara sejak pukul 9 malam. Turun dari pesawat saya tidak segera mengaktifkan handphone. Sudah sampai di hostel, hampir pukul 2 pagi, saya baru mengaktifkan handphone. Jelas teman saya sudah pulang ke apartemennya. Besok hari senin, dan tentu saja dia harus kerja. Teman saya mungkin kecewa, dan saya merasa sangat bersalah.

Tak cukup sampai di situ. Karena kelelahan, seperti biasa, saya dan kawan bangun kesiangan. Di sini lah bencana paling menyebalkan terjadi.  Pagi hari nya, saya gak menemukan kamera DSLR yang saya bawa. Entah hilang di hostel, entah ketinggalan di taksi dari bandara menuju hostel.  Saya meminta teman yang tinggal di Singapore-yang menjemput saya tengah malam ke bandara dan gagal bertemu- untuk menghubungi beberapa perusahaan taksi di Singapore. Hasilnya nihil. Ketika menghubungi pihak hostel untuk memeriksa CCTV di hostel, mereka bilang CCTV tersebut aturan dari  Pemerintah Singapore, dan hanya bisa diakses oleh petugas yang berwenang.

Maka hingga kini kamera DSLR –beserta foto-foto selama di Penang- hilang tak berbekas. Tak mau berlarut-larut dalam sedih, siang itu saya dan kawan tetap jalan-jalan –tanpa arah yan jelas- di Singapore. Mampir ke Singapore Art Museum –dengan membayar belasan SGD-, dan keluar dengan kepala lebih pusing karena tak satu pun karya seni mampu saya pahami. Meneruskan jalan-jalan dengan  MRT,  salah turun stasiun, kebingungan membeli tiket one way di vending machine, berhasil sampai ke area Marina Bay, kawan saya ingin foto berlatar patung singa- yang memuncratkan air dari mulutnya- yang sayangnya hanya bisa kami lihat dari kejauhan. Otak sudah konslet, saya dan kawan sudah tak mampu berpikir bagaimana caranya menuju patung singa yang ada di seberang teluk buatan, dan hanya dapat kami lihat dari kejauhan.

marina bay singapore,
Melihat patung singa mancur dari kejauhan, dan kami gak tahu caranya ke sana


Akhirnya saya dan kawan memutuskan pulang ke hostel, mengambil ransel yang kami titipkan, karena malam ini saya akan kembali ke Jakarta. Rupanya kesialan belum mau pergi. Atau barangkali liburan kali itu saya lupa membawa otak.  Saat berangkat dari hostel, saya tak memperhatikan pintu MRT mana yang saya masuki. Sehingga saat pulang, saya keluar di pintu MRT mana saja yang saya sukai (ini bukan tentang pintu surga untuk  perempuan sholehah ya).

singapore are museum, SAM,
Singapore Art Museum, dan saya gagal paham di tempat ini. 


Begitu keluar dari pintu MRT, saya tak menemukan dimana hostel saya. Ya jelas, karena saya keluar di pintu yang salah. Maka saya harus tersesat (lagi dan lagi).

Oh ya, kalau keluar negeri, kecuali saat umroh, saya  gak pernah beli nomor provider setempat. Sehingga kalau tidak dalam jangkauan wifi, saya adalah manusia dua dekade silam yang tanpa akses internet.

Bukannya kembali ke Stasiun MRT, dan mencari pintu keluar yang lain. Saya dan kawan malah meneruskan berjalan (yang ternyata arahnya menjauhi hostel). Herannya saya sama orang Singapore, saya bertanya hampir 3 orang, dan mereka gak tahu (atau mungkin malas mikir) Jalan Lavender- dimana hostel saya berada-, yang hanya berjarak satu blok.

Mau naik taksi takut diusir sopirnya karena terlalu dekat. Saya masih bisa mikir kalau hostel tersebut pasti sudah sangat dekat karena saya sudah turun di stasiun MRT yang benar. Namun butuh waktu lebih dari setengah jam saya keliling-keliling gak karuan sebelum akhirnya bertemu dengan seorang nenek –orang ke-4 yang saya tanyai-, dan nenek ini menunjukkan arah yang tepat menuju hostel.

Finally malam itu saya boarding dan kembali ke Jakarta. Gak sabar rasanya kembali ke Negara Indonesia tercinta, yang setidaknya kalau saya tersesat, masih bisa nanya tukang ojek mangkal, yang hapal sampai ke gang-gang tikus beserta rumah-rumahnya.

Oh ya, note to self : kalau liburan, otaknya jangan sampai ketinggalan!


Samarinda, April 2016. Ditulis berdasarkan pengalaman pada November 2012.