Jumat, 14 Agustus 2015

Produktif dalam Proses yang Tidak Produktif

Well, tahun 2015 ini memang target saya untuk melahirkan Laut ke dunia dan menjadi ibu. Dan insyaAllah harapan dan target ini bisa tercapai.

Tapi begitulah menjadi manusia produktif, dalam artian beranak pinak dan melahirkan satu manusia ke dunia ini, ternyata bukan hal mudah. Kehamilan, sebuah fase produktivitas itu sendiri, saya lewati dalam masa-masa yang sungguh tidak produktif.

 Di bulan pertama dan kedua, saya masih gagah perkasa, dengan frekuensi muntah hampir bisa dihitung dengan jari. Tapi jumawa terlalu dini memang berbahaya. Begitu memasuki bulan ketiga dan keempat saya terkulai lemah tak berdaya.  Hitungan muntah saya masih bisa dicatat dengan jari, tapi itu dalam sehari. Makan banyak, muntah sebagian. Telat makan, mual dan kerap diakhiri dengan muntah. Makan besar pun, harus berupa nasi. Biar ngemil sepanjang waktu, dan perut masih kenyang, tubuh tetap mengkategorikan sebagai belum makan. Saya harus makan nasi, tetap mual, dan hampir selalu diakhiri dengan muntah.
Bawaan aneh lainnya, saya gak bisa minum air putih. Saya harus air minum yang ada rasanya. Kalau sekali-sekali sih gak masalah.  Tapi kalau sepanjang hari sepanjang waktu, rasanya sungguh dehidrasi.
Bawaan-bawaan ini sungguh berkebalikan dengan kebiasaan saya minum banyak air putih, gampang haus, jarang ngemil, dan makan besar dalam jumlah banyak.

Apa yang begitu saya inginkan sepanjang 4 bulan pertama kehamilan? Makan nasi dalam jumlah banyak, nambah berkali-kali sampai kekenyangan, diiringi minum air putih dingin bergelas-gelas. Oh I Wish…. 
Sindrom keanehan pola makan ini bertambah parah memasuki bulan puasa. Alhamdulillah saya bisa menjalankan 24 hari puasa dari 29 hari puasa ramadhan  tahun ini. Tentu saja dengan perjuangan yang bikin keringat panas dingin. Tiada buka puasa yang saya lewati tanpa muntah. Pasti ada sedikit makanan yang keluar, entah itu cuma makan takjil ataupun makan besar. Ditambah menahan diri untuk berbuka puasa dengan air teh atau air jeruk hangat saja, karena kalau air dingin, muntahnya bisa bertubi-tubi.
Yang paling bikin gak kuat, menahan diri untuk tidak minum air putih. Yang namanya bumil pasti gampang berkeringat, ditambah sedang menjalankan puasa. Duh Gusti….  Satu-satunya air putih yang bisa saya toleransi cuma Aqua, itupun paling banyak setengah gelas.

Morning sickness? Tentu saja. Di 4 bulan pertama, saya gak bisa melakukan banyak kegiatan saat pagi hari. Setelah pukul 12 siang, baru kepusingan, dan kepeninangan serupa naik travel Samarinda-Balikpapan namun gak sampai-sampai, agak mereda.  Sungguh bulan-bulan yang benar-benar tidak produktif.
Untungnya (atau malah ruginya?), saya sudah gak kerja full time. Bulan April lalu, saya sempat kerja full time, namun hanya bertahan 3 hari saja sodara-sodara. Bukan apa-apa, jam kerja yang fleksibel, alias saya bisa masuk pagi pukul 07.30 -15.00 atau sore jam 15.00-22.00 ditambah masuk kerja Senin-Sabtu rasa-rasanya akan menghambat program hamil yang sedang dijalankan. Mengingat usia yang sudah 28 tahun, target punya 3 anak, sedangkan usia 35 tahun rencana sudah tutup pabrik, Maka akhirnya saya pilih kerja paruh waktu jadi staf pengajar di sebuah universitas antah berantah saja. Alhamdulillah gak perlu nunggu lama, bulan depannya saya positif hamil J

Sekarang sih sudah masuk trimester dua, sudah 21 minggu. Yang paling menyenangkan adalah saya sudah bisa minum air putih. Meski muntah-muntah masih menjadi rutinitas harian yang harus saya lewati.
 Namun rupanya, mengandung bayi itu menghadirkan gejal-gejala yang ibarat pepatah ‘Patah tumbuh hilang berganti’. Keluhan terbaru saya, kalau duduk atau berdiri agak lama, kaki terasa pegal dan bengkak,  dan kalau bangun tidur tangan terasa kram dan sulit digerakkan.

Minggu lalu saya jalan-jalan ke mall, sambil cari-cari sandal.  I end up dengan kaki pegal, bengkak, badan langsung meriang, dan batal beli sandal. Padahal durasi keliling-keliling nya gak nyampe satu jam. Rasanya pengen nangis mengingat dulunya saya terbilang tahan banting soal jalan-jalan. Mau jalan kaki seberapa jauh, naik motor, naik pesawat sehari dua kali, naik kereta semalaman dari kelas ekonomi hingga eksekutif, naik kapal laut, atau bergelantungan di metromini yang maha padat, Semua saya lewati dengan santai dan  tanpa keluhan.

Mengenalkan Laut kepada Laut sejak dini
Bulan lalu saya liburan ke Lombok. Sudah masuk trimester dua, dan dokter bilang kandungan saya oke. But I feel like this is like the hardest holiday. Selama hamil saya memang gampang banget masuk angin, bersendawa hampir sepanjang waktu. Ternyata pergi berlibur ke daerah pantai make it worse.  Saya masih excited banget ngeliat laut, tapi angin laut yang maha hebat membuat saya harus pake syal dan pakaian tebal kalau ke Pantai. Di Gili Trawangan saya sempat berenang di laut, cuma sebentar, tapi efeknya badan langsung panas, kepala pusing, saya masuk angin hebat, dan perut terasa kencang. Sebelum magrib, saya sudah kembali ke penginapan dan melewatkan sunset begitu saja. Malamnya saya paksain keluar buat cari makan, dan langsung pulang diiringi muntah-mutah dan perum kram.  Saya langsung minum obat demam dan vitamin C, lalu tidur hingga besok siang. Saya pun melewatkan sesi snorkeling karena masih takut naik kapal dalam durasi lama. Sisa liburan saya habiskan dengan selalu was-was kalau ke pantai. 

But then I look from the other side, barangkali kerentanan tubuh ini semacam peringatan dini agar saya gak pecicilan dan benar-benar menjaga kondisi tubuh. Ya keadaan tiap orang memang beda-beda. Mengingat riwayat keluarga, terutama kakak pertama yang keguguran sampai 8 kali, dan kakak saya yang nomor 3 keguguran 4 kali dan hingga kini belum punya keturunan, saya harus benar-benar hati-hati menjaga tubuh dan janin yang dikandung.

Dengan menyingkirkan segala keluhan-keluhan kehamilan, saya seharusnya bersyukur dengan kehamilan yang alhamdulillah berkembang baik dan sehat.


Yap…semoga seterusnya sehat Laut, Mama Laut, dan Papa laut :-*