Senin, 19 Januari 2015

Where will you stay?* #20


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Nagoya One di Batam, Kepulauan Riau

                Penampakan hotel ini dari luar terlihat cukup megah . Semacam hotel tua yang baru di renovasi. Masuk ke lobi dan lorong-lorong antar kamar, kelihatan baru dan bagus. Namun kesan bagus hanya cukup sampai di situ.

lobi hotel nagoya one batam
Lobi- Nagoya One Hotel, Batam

Kurang totalitas kalau saya bilang. Begitu masuk ke dalam kamar, ada bau yang menyeruak. Terlebih ketika saya masuk ke toiletnya. Seperti ada saluran yang bocor. Kakak saya yang menginap di kamar lain pun merasakan bau tak sedap yang sama.

                Tapi apa boleh dikata. Ongkos yang saya bayar hanya 300 ribu per malam, sudah termasuk makan pagi. Dari daftar situs pemesanan hotel, inilah hotel termurah yang saya temukan dengan jarak ke Nagoya Hills cukup dekat, sekitar 600 meter. Hotel ini menyediakan mobil shuttle gratis pada jam-jam tertentu menuju dan dari Nagoya Hills.

Sebenarnya ada cukup banyak hotel yang lebih dekat ke Nagoya Hills, sayang saya tak menemukan hotel itu di situs pemesanan online. Kalau kawan sudah pernah berkunjung ke Batam, pasti punya pengalaman bahwa yang termahal di kota ini adalah transportasi dalam kota. Tak ada taksi argo di sini.  Dahulu ada Taksi Blue Bird, tapi sepertinya sudah tak beroperasi lagi karena di boikot oleh sopir taksi abal-abal. Sebagai gambaran, jarak dekat yang jika menggunakan argo hanya sekitar 20 ribu, maka dengan naik taksi abal-abal di Batam, kawan bisa dikenakan 50 ribu.

Satu hal yang saya tangkap dari kesan saya berkunjung ke Batam: semua orang menginginkan keuntungan sebanyak-banyak dari pengunjung yang datang. Seolah semua pengunjung tersebut  datang membawa uang satu koper untuk dihabiskan semua di Batam. Maka ketimbang mempercayakan hotel yang akan saya inapi ke sopir taksi abal-abal, maka lebih baik saya memesan sendiri.

Beberapa hal yang saya perhatikan dari sarapan pagi standar di hotel berbintang dua : ada berbagai olahan telur, kue tradisional, sereal, coffee dan the, nasi goreng dan nasi putih, serta roti-rotian. Maka makan pagi di hotel ini di bawah standar rata-rata tersebut.

Ya kalau kawan hanya sekedar transit di Batam atau ada keperluan di sekitar Nagoya Hills, dengan memperhitungkan harga, bolehlah menginap di hotel  ini barang semalam.

hotel, batam, nagoya one
Kamar- Nagoya One Hotel, Batam

Kamar- Nagoya One Hotel, Batam


MY Hotel di Kuala Lumpur

Salah satu budget hotel yang terletak di Daerah Pudu, Kuala Lumpur.  Meski letaknya di tengah kota, , lokasi hotel ini tidak cukup bersahabat kalau kawan mengandalkan Light Rapid Transportation (LRT) selama berkunjung ke Kuala LUmpur. Untuk mencapai Halte terdekat yakni Halte Hang Tuah, butuh waktu sekitar 15 menit jalan kaki dengan peluh dan keringat bercucuran karena kontur jalan yang naik turun. Jarak yang kalau di Jakarta, pasti akan saya tempuh dengan naik ojek.

Ke Halte Pudu Raya pun, meski masih dalam satu kawasan pudu, sambil memanggul tas berat, akan membuat kaki hampir patah. Mungkin bagi backpacker dari Eropa yang terbiasa jalan kaki, bukan hal berat. Tapi kalau kawan yg berasal dari Indonesia, jika ke warung depan yg terletak di jalan besar saja sering naik motor sendiri atau ngojek, maka  letak hotel ini bisa dikatakan tidak strategis.

Satu pilihan trasnportasi lagi yakni: taksi. Ini juga menjadi hal yang tak mengenakkan di MY Hotel. Memang kemacetan di Kuala Lumpur bisa dikatakan nonsense kalau pembandingnya adalah kemacetan di Jakarta. Jalanan mulus, dan jarak antar tempat di pusat kota cukup dekat. Kawan paling hanya butuh 5-20 RM sekali naik taksi untuk bepergian di dalam kota. Sehingga banyak taksi yang menetapkan tarif tertentu dan menolak menggunakan argo.

hotel, MY, kuala lumpur
Kamar - MY Hotel, Kuala Lumpur




Nah di hotel ini ada banyak sopir taksi (non argo) yang nongkrong tepat di depan hotel. Jadi sepertinya ada kerjasama antara management hotel dan taksi tertentu. Sehingga kalau tamu hotel membutuhkan taksi, staf resepsionis tidak boleh menelpon taksi argo resmi.

Jika tak ingin menggunakan taksi yang nongkrong di depan MY Hotel, makan tamu hotel harus men-stop sendiri taksi yang lewat. Bikin ketar-ketir kan kalau kawan menanti taksi lewat, padahal harus sampai di suatu tempat tepat waktu. Seperti saya yang akan pulang naik pesawat pagi, sehingga  jam 05.30 harus sudah berangkat. Padahal di Kuala Lumpur jam segitu masih gelap. Sebenarnya di hotel ini ada layanan antar ke bandara sekitar 80RM, namun malam itu saat bernegosiasi dengan si sopir, doi beralasan karena terlalu pagi maka bayarannya naik menjadi 200RM. What? Itu namanya perampokan. Ya akhirnya saya harus bangun lebih pagi lagi dan meluangkan waktu menunggu taksi lewat di depan hotel.

Lainnya, tak ada masalah.  Staf yang cekatan dan ramah, kamar hotel bersih, baru, dan wangi. Satu hal yang longgar, hotel ini tak mempermasalahkan jumlah tamu yang masuk dalam satu kamar.




4 komentar:

Defa Ramadhani mengatakan...

terimakasih infonya :)

Fikri Maulana mengatakan...

Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

i Jeverson mengatakan...

hmm, kelihatannya nyaman tempatnya.
mungkin kalau suatu saat saya liburan ke batam, bisa nih nginep disini :)

i Jeverson mengatakan...

btw, followback blog dong :)