Minggu, 25 Januari 2015

Adaptation

Tak ada yang lebih menakutkan sekaligus menggairahkan selain sebuah perubahan besar dalam hidup.

Well, setelah lahir dan besar 17 tahun di Pulau Sumatra, merantau 10 tahun di Pulau Jawa, dan kini di awal tahun 2015, saatnya saya mencoba peruntungan  di Pulau Borneo.

Memiliki pengalaman beberapa kali untuk hidup dan memulai kehidupan yang benar-benar baru di suatu tempat yang juga baru, saya belajar cara cepat belajar menyesuaikan diri.

Begitulah, ibarah bunglon, maka saya adalah bunglon yang kaku. Hanya akan cepat menyesuaikan diri pada tempat yang saya anggap sesuai kriteria saya.

Berita buruknya lagi, saya tak punya cukup kekuatan untuk mengendalikan kemana takdir akan membawa saya. Maka saya harus mengaktifkan kepekaan semua sensor yang saya miliki untuk menyerap keadaan di lingkungan baru.

Memperhatikan cara bertutur, bahasa yang digunakan, pola interaksi, tingkat kesopanan, sampai pemilihan pakaian sehari-hari dari orang-orang yang saya temui. Saya tak suka orang-orang meluangkan waktu lebih banyak beberapa detik karena pakaian yang saya kenakan tak lazim dalam situasi tertentu.

Dan tentu saja beradaptasi secara geografis. Menghapal jalan dan memindainya dengan lebih teliti. Memperhatikan tiap-tiap bangunan dan toko.  Mana toko fotokopian dan alat tulis terdekat, paket pengiriman terdekat, rumah sakit terdekat, mall terdekat, pasar terdekat, bengkel terdekat, rumah makan, POM bensin, bank, hingga kantor-kantor pemerintahan.


Pun secara sosial saya memulai dari nol. Saya belum punya teman ‘main’. Selain beberapa kenalan lama yang belum sempat saya temui lagi hingga detik ini. Sehingga source informasi lingkungan baru pun terbatas. Apa yang terjadi kalau sumber yang kita miliki terbatas? Yap, tentu saja mengoptimalkan sekecil apapun informasi yang ada. Saya mengumpulkan, membaca, dan menganalisa lebih banyak dari apa yang saya lihat dan alami sendiri. 

Dan meski saya impulsif, but I’m a very well-organize person. Saya meletakkan barang-barang pada tempatnya, melakukan berbagai kegiatan dalam keadaan nyaman, punya target harian, to-do-list  yang saya patuhi, dan target-target besar dalam jangka panjang yang bisa saya usahakan jikalau hidup saya sudah berjalan normal. Sebagai gambaran, saya bahkan tidak bisa tidur dengan tenang jika kamar dalam keadaan berantakan. Makan demi hidup yang terus berkejaran dengan waktu dan target, proses adaptasi ini harus berjalan dengan metode akselerasi.


Then, wish me luck!

Samarinda, Januari 2015


1 komentar: